logo
Terungkap! Napi Kabur dari Lapas Pekanbaru Diduga "Otak" Penyelundupan Sabu ke B Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pengunduran Diri Gubernur BI Picu Sentimen Negatif, Rupiah Terkapar ke Rp18.009 Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kebakaran Hebat di Sukajadi, Api Lahap Dua Lantai Ruko Bahan Bangunan, 2 Warga L Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Ditangkap Polsek Sungai Apit, Tangan Terborgol Pengedar Sabu Kabur Masuk Kebun S Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi "Buk Bupati, Bilo Ngonten?" Sindiran Warga Siak Viral, Jalan Sungai Rawa Rusak P Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Teror Harimau Lumpuhkan Aktivitas Warga Inhil, Sekolah Ditutup dan Belajar Diali Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kejati Periksa Sejumlah Saksi dan Sita Dokumen dalam Kasus Smart Board Disdik Ri Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Anggaran Setda Pekanbaru Rp170 Miliar, Hearing DPRD Batal Plh Setdako tak Hadir Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / KEUANGAN
Pengunduran Diri Gubernur BI Picu Sentimen Negatif, Rupiah Terkapar ke Rp18.009 per Dolar AS
Ilustrasi. Rupiah terkapar ke Rp18.000 per-dolar AS
Pengunduran Diri Gubernur BI Picu Sentimen Negatif, Rupiah Terkapar ke Rp18.009 per Dolar AS
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
27 Juli 2026 | 17:23:09

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali berada di zona merah pada penutupan perdagangan Senin (27/7/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah 46 poin atau 0,26 persen ke level Rp18.009 per dolar Amerika Serikat (AS), di tengah respons negatif pasar terhadap pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo.

Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai mundurnya Perry Warjiyo menjadi salah satu sentimen yang memengaruhi psikologi pelaku pasar. Di saat yang sama, rupiah juga masih dibayangi tekanan eksternal, mulai dari ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah hingga ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat.

"Pengunduran diri tersebut bersamaan dengan rupiah yang masih berada pada tren pelemahan dan tensi geopolitik yang terus memanas di Timur Tengah," ujar Ibrahim.

Menurutnya, pasar juga mencermati kondisi fiskal Indonesia, termasuk rasio utang pemerintah yang kini berada di kisaran 40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Meski demikian, Ibrahim menegaskan besaran rasio utang tidak bisa dijadikan satu-satunya indikator untuk menilai kesehatan fiskal nasional.

iklan-view

Ia menjelaskan, ukuran yang lebih penting adalah kemampuan pemerintah memenuhi kewajiban pembayaran pokok utang dan bunga terhadap pendapatan negara. Indikator tersebut dinilai lebih mencerminkan kapasitas riil pemerintah dalam menjaga keberlanjutan fiskal.

Dari sisi global, ketegangan geopolitik masih menjadi perhatian investor. Amerika Serikat dilaporkan menghentikan sementara serangan terhadap Iran guna memberi ruang bagi jalur diplomasi. Sebagai balasan, Teheran juga disebut menunda serangan selama gencatan tersebut tetap berlangsung.

Meski demikian, pelaku pasar belum sepenuhnya tenang. Gangguan distribusi minyak dunia masih membayangi setelah arus pelayaran di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb melambat akibat meningkatnya risiko keamanan di kawasan tersebut.

Di sisi lain, investor juga menunggu arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar masih melihat peluang sebesar 78 persen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada September. Sementara itu, dalam pertemuan 28–29 Juli mendatang, bank sentral AS diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga acuannya.

Kombinasi sentimen domestik akibat pengunduran diri Gubernur BI dan tekanan eksternal tersebut membuat rupiah kembali tertekan hingga ditutup di atas level psikologis Rp18.000 per dolar AS. (**/ipc)

Home / Ekonomi
Pengunduran Diri Gubernur BI Picu Sentimen Negatif, Rupiah Terkapar ke Rp18.009 per Dolar AS
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
Rubrik: ekonomi | 27 Juli 2026 | 17:23:09
Pengunduran Diri Gubernur BI Picu Sentimen Negatif, Rupiah Terkapar ke Rp18.009 per Dolar AS
Ilustrasi. Rupiah terkapar ke Rp18.000 per-dolar AS

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali berada di zona merah pada penutupan perdagangan Senin (27/7/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah 46 poin atau 0,26 persen ke level Rp18.009 per dolar Amerika Serikat (AS), di tengah respons negatif pasar terhadap pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo.

Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai mundurnya Perry Warjiyo menjadi salah satu sentimen yang memengaruhi psikologi pelaku pasar. Di saat yang sama, rupiah juga masih dibayangi tekanan eksternal, mulai dari ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah hingga ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat.

"Pengunduran diri tersebut bersamaan dengan rupiah yang masih berada pada tren pelemahan dan tensi geopolitik yang terus memanas di Timur Tengah," ujar Ibrahim.

Menurutnya, pasar juga mencermati kondisi fiskal Indonesia, termasuk rasio utang pemerintah yang kini berada di kisaran 40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Meski demikian, Ibrahim menegaskan besaran rasio utang tidak bisa dijadikan satu-satunya indikator untuk menilai kesehatan fiskal nasional.

Ia menjelaskan, ukuran yang lebih penting adalah kemampuan pemerintah memenuhi kewajiban pembayaran pokok utang dan bunga terhadap pendapatan negara. Indikator tersebut dinilai lebih mencerminkan kapasitas riil pemerintah dalam menjaga keberlanjutan fiskal.

Dari sisi global, ketegangan geopolitik masih menjadi perhatian investor. Amerika Serikat dilaporkan menghentikan sementara serangan terhadap Iran guna memberi ruang bagi jalur diplomasi. Sebagai balasan, Teheran juga disebut menunda serangan selama gencatan tersebut tetap berlangsung.

Meski demikian, pelaku pasar belum sepenuhnya tenang. Gangguan distribusi minyak dunia masih membayangi setelah arus pelayaran di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb melambat akibat meningkatnya risiko keamanan di kawasan tersebut.

Di sisi lain, investor juga menunggu arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar masih melihat peluang sebesar 78 persen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada September. Sementara itu, dalam pertemuan 28–29 Juli mendatang, bank sentral AS diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga acuannya.

Kombinasi sentimen domestik akibat pengunduran diri Gubernur BI dan tekanan eksternal tersebut membuat rupiah kembali tertekan hingga ditutup di atas level psikologis Rp18.000 per dolar AS. (**/ipc)