logo
DPD Riau Tunggu Putusan Pusat Terkait Perselisihan Iwan Fatah-Eet Indra Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Polsek Ukui Amankan Pelaku Pencurian Motor, Yamaha Jupiter Disembunyikan di Sema Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Serangan Tanker di Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Polres Pelalawan Bongkar Jaringan Sabu di Pangkalan Lesung, 29 Paket Disita Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi BMKG Catat 7 Hotspot di Riau Meski Hujan Masih Mengguyur Sejumlah Daerah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Gagal Lolos X-Ray di Bandara Pekanbaru, Kurir Asal Aceh Ditangkap Bawa 2 Kilogra Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Usai Diperiksa 13 Jam, Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung dan Dititipkan d Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Lahan Sudah Masuk Proyek Flyover, Warga Simpang Baru Belum Terima Ganti Rugi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / INTERNASIONAL
 Serangan Tanker di Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia
selat hormuz pengawalan kapal tanker oleh kapal berbendara iran
Serangan Tanker di Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia
Editor: Ridho Haztil | Penulis: raka sagara
25 Juli 2026 | 15:00:08

JAKARTA-Memanasnya konflik di sejumlah kawasan strategis kembali mengguncang rantai pasok energi global. Serangan terhadap kapal-kapal tanker di jalur pelayaran utama seperti Selat Hormuz, Teluk Persia, hingga Laut Merah meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap keamanan distribusi minyak dunia.

Ketegangan yang melibatkan Iran, kelompok Houthi di Yaman, serta konflik berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina membuat jalur perdagangan energi internasional berada di bawah tekanan. Kondisi ini memicu volatilitas harga minyak dan meningkatkan risiko gangguan pasokan ke berbagai negara pengimpor.

Dalam beberapa pekan terakhir, Iran disebut meningkatkan aktivitas terhadap kapal-kapal tanker di sekitar Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi tersibuk di dunia. Di saat yang sama, kelompok Houthi mengintensifkan serangan di Laut Merah, termasuk terhadap kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan Arab Saudi setelah menyatakan embargo maritim.

Data Organisasi Maritim Internasional (IMO) menunjukkan sejak 1 Maret telah terjadi puluhan insiden terhadap kapal dagang di kawasan Teluk Persia, Selat Hormuz, dan Teluk Oman. Serangan-serangan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 17 awak kapal dan menyebabkan puluhan pelaut lainnya mengalami luka-luka.

iklan-view

Chief Executive Officer Marisks, Dimitris Maniatis, menilai tekanan yang dilakukan Iran dan Houthi memberikan dampak besar terhadap kepentingan Amerika Serikat, perusahaan energi, serta Arab Saudi. Meski demikian, menurutnya, upaya tersebut belum mampu menghentikan arus ekspor minyak secara menyeluruh.

Di kawasan Eropa Timur, konflik Rusia-Ukraina turut memperburuk situasi. Ukraina mengklaim telah melancarkan serangan terhadap lebih dari 150 kapal tanker, kapal kargo, dan armada logistik yang disebut memiliki keterkaitan dengan jaringan pengiriman minyak Rusia di Laut Azov dan Laut Hitam.

Tekanan dari berbagai konflik tersebut mendorong harga minyak mentah Brent sempat menembus level US$100 per barel pada perdagangan Kamis (23/7). Kenaikan itu mencerminkan tingginya kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan terganggunya pasokan energi global.

Kepala Strategi Komoditas Global Helima Croft mengatakan pasar minyak saat ini menghadapi tekanan dari berbagai arah. Selain ancaman terhadap jalur pelayaran, pembatasan ekspor Rusia serta kerusakan fasilitas kilang akibat serangan Ukraina turut mempersempit pasokan produk energi dunia. Menurutnya, situasi tersebut berpotensi menjaga harga minyak tetap tinggi apabila konflik di berbagai kawasan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. 

Home / News
Serangan Tanker di Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia
Editor: Ridho Haztil | Penulis: raka sagara
Rubrik: news | 25 Juli 2026 | 15:00:08
 Serangan Tanker di Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia
selat hormuz pengawalan kapal tanker oleh kapal berbendara iran

JAKARTA-Memanasnya konflik di sejumlah kawasan strategis kembali mengguncang rantai pasok energi global. Serangan terhadap kapal-kapal tanker di jalur pelayaran utama seperti Selat Hormuz, Teluk Persia, hingga Laut Merah meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap keamanan distribusi minyak dunia.

Ketegangan yang melibatkan Iran, kelompok Houthi di Yaman, serta konflik berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina membuat jalur perdagangan energi internasional berada di bawah tekanan. Kondisi ini memicu volatilitas harga minyak dan meningkatkan risiko gangguan pasokan ke berbagai negara pengimpor.

Dalam beberapa pekan terakhir, Iran disebut meningkatkan aktivitas terhadap kapal-kapal tanker di sekitar Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi tersibuk di dunia. Di saat yang sama, kelompok Houthi mengintensifkan serangan di Laut Merah, termasuk terhadap kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan Arab Saudi setelah menyatakan embargo maritim.

Data Organisasi Maritim Internasional (IMO) menunjukkan sejak 1 Maret telah terjadi puluhan insiden terhadap kapal dagang di kawasan Teluk Persia, Selat Hormuz, dan Teluk Oman. Serangan-serangan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 17 awak kapal dan menyebabkan puluhan pelaut lainnya mengalami luka-luka.

Chief Executive Officer Marisks, Dimitris Maniatis, menilai tekanan yang dilakukan Iran dan Houthi memberikan dampak besar terhadap kepentingan Amerika Serikat, perusahaan energi, serta Arab Saudi. Meski demikian, menurutnya, upaya tersebut belum mampu menghentikan arus ekspor minyak secara menyeluruh.

Di kawasan Eropa Timur, konflik Rusia-Ukraina turut memperburuk situasi. Ukraina mengklaim telah melancarkan serangan terhadap lebih dari 150 kapal tanker, kapal kargo, dan armada logistik yang disebut memiliki keterkaitan dengan jaringan pengiriman minyak Rusia di Laut Azov dan Laut Hitam.

Tekanan dari berbagai konflik tersebut mendorong harga minyak mentah Brent sempat menembus level US$100 per barel pada perdagangan Kamis (23/7). Kenaikan itu mencerminkan tingginya kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan terganggunya pasokan energi global.

Kepala Strategi Komoditas Global Helima Croft mengatakan pasar minyak saat ini menghadapi tekanan dari berbagai arah. Selain ancaman terhadap jalur pelayaran, pembatasan ekspor Rusia serta kerusakan fasilitas kilang akibat serangan Ukraina turut mempersempit pasokan produk energi dunia. Menurutnya, situasi tersebut berpotensi menjaga harga minyak tetap tinggi apabila konflik di berbagai kawasan belum menunjukkan tanda-tanda mereda.