
JAKARTA - Konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran terus memasuki fase yang semakin berbahaya. Pertempuran bersenjata dilaporkan pecah di Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak paling strategis di dunia, sementara Presiden AS Donald Trump dikabarkan tengah menyiapkan opsi serangan militer yang jauh lebih besar terhadap Iran.
Televisi pemerintah Iran pada Rabu (15/7/2026) melaporkan bahwa pasukan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terlibat baku tembak dengan militer Amerika Serikat di perairan Selat Hormuz.
Otoritas Provinsi Hormozgan menyebut ledakan yang terdengar di Bandar Abbas, sejumlah kota pesisir, serta pulau-pulau di selatan Iran berasal dari bentrokan bersenjata di kawasan selat tersebut. Kantor Berita Mehr juga melaporkan suara ledakan di wilayah timur Sirik yang berkaitan dengan kontak senjata di perairan Teluk Persia.
Bentrokan ini terjadi di tengah gelombang serangan baru di sejumlah wilayah Iran selatan, menandai meningkatnya konfrontasi langsung antara Washington dan Teheran.

Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi telah melancarkan gelombang serangan terbaru terhadap sejumlah fasilitas militer Iran yang dituding menjadi basis peluncuran rudal anti-kapal, drone, dan berbagai sistem yang mengancam kapal-kapal di Selat Hormuz.
AS juga mengumumkan telah memberlakukan blokade laut terhadap kapal-kapal yang keluar masuk pelabuhan dan wilayah pesisir Iran sebagai bagian dari operasi militernya.
Situasi semakin memanas setelah media AS, Axios, melaporkan Presiden Donald Trump menggelar rapat darurat di Ruang Situasi Gedung Putih pada Selasa (14/7/2026) waktu setempat guna membahas rencana serangan militer besar-besaran terhadap Iran.
Menurut tiga sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, rapat difokuskan pada opsi menghantam target-target strategis di wilayah Iran, melampaui operasi militer yang saat ini berlangsung di sekitar Selat Hormuz.
Dalam pertemuan itu, Trump didampingi jajaran pejabat tinggi keamanan nasional, di antaranya Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, Direktur CIA John Ratcliffe, serta utusan Gedung Putih Steve Witkoff.
Pemerintah AS disebut tengah mempertimbangkan peningkatan tekanan militer untuk memaksa Teheran membuka kembali Selat Hormuz sekaligus menerima tuntutan Washington terkait program nuklir Iran. Namun, Gedung Putih menolak memberikan komentar resmi mengenai laporan tersebut.
Sementara itu, operasi militer AS memasuki hari keempat berturut-turut dengan sasaran utama sistem pertahanan udara, radar, rudal anti-kapal, serta lokasi peluncuran drone milik Iran guna melemahkan kemampuan Teheran mengancam jalur pelayaran internasional.
Iran tidak tinggal diam. Teheran dilaporkan terus meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain sebagai respons atas serangan Washington.
Meningkatnya eskalasi ini terjadi meski sebelumnya kedua negara sempat menyepakati nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan untuk meredakan konflik dan membuka jalan menuju perdamaian. Namun, kesepakatan tersebut kini praktis kehilangan daya, setelah kedua pihak kembali saling melancarkan serangan.
Konflik yang kini berpusat di Selat Hormuz memicu kekhawatiran dunia. Selain berpotensi memperluas perang di kawasan Timur Tengah, gangguan terhadap jalur yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia itu juga dikhawatirkan memicu lonjakan harga energi dan mengguncang perekonomian global. (**)
sumber: cnnindonesia






JAKARTA - Konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran terus memasuki fase yang semakin berbahaya. Pertempuran bersenjata dilaporkan pecah di Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak paling strategis di dunia, sementara Presiden AS Donald Trump dikabarkan tengah menyiapkan opsi serangan militer yang jauh lebih besar terhadap Iran.
Televisi pemerintah Iran pada Rabu (15/7/2026) melaporkan bahwa pasukan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terlibat baku tembak dengan militer Amerika Serikat di perairan Selat Hormuz.
Otoritas Provinsi Hormozgan menyebut ledakan yang terdengar di Bandar Abbas, sejumlah kota pesisir, serta pulau-pulau di selatan Iran berasal dari bentrokan bersenjata di kawasan selat tersebut. Kantor Berita Mehr juga melaporkan suara ledakan di wilayah timur Sirik yang berkaitan dengan kontak senjata di perairan Teluk Persia.
Bentrokan ini terjadi di tengah gelombang serangan baru di sejumlah wilayah Iran selatan, menandai meningkatnya konfrontasi langsung antara Washington dan Teheran.
Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi telah melancarkan gelombang serangan terbaru terhadap sejumlah fasilitas militer Iran yang dituding menjadi basis peluncuran rudal anti-kapal, drone, dan berbagai sistem yang mengancam kapal-kapal di Selat Hormuz.
AS juga mengumumkan telah memberlakukan blokade laut terhadap kapal-kapal yang keluar masuk pelabuhan dan wilayah pesisir Iran sebagai bagian dari operasi militernya.
Situasi semakin memanas setelah media AS, Axios, melaporkan Presiden Donald Trump menggelar rapat darurat di Ruang Situasi Gedung Putih pada Selasa (14/7/2026) waktu setempat guna membahas rencana serangan militer besar-besaran terhadap Iran.
Menurut tiga sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, rapat difokuskan pada opsi menghantam target-target strategis di wilayah Iran, melampaui operasi militer yang saat ini berlangsung di sekitar Selat Hormuz.
Dalam pertemuan itu, Trump didampingi jajaran pejabat tinggi keamanan nasional, di antaranya Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, Direktur CIA John Ratcliffe, serta utusan Gedung Putih Steve Witkoff.
Pemerintah AS disebut tengah mempertimbangkan peningkatan tekanan militer untuk memaksa Teheran membuka kembali Selat Hormuz sekaligus menerima tuntutan Washington terkait program nuklir Iran. Namun, Gedung Putih menolak memberikan komentar resmi mengenai laporan tersebut.
Sementara itu, operasi militer AS memasuki hari keempat berturut-turut dengan sasaran utama sistem pertahanan udara, radar, rudal anti-kapal, serta lokasi peluncuran drone milik Iran guna melemahkan kemampuan Teheran mengancam jalur pelayaran internasional.
Iran tidak tinggal diam. Teheran dilaporkan terus meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain sebagai respons atas serangan Washington.
Meningkatnya eskalasi ini terjadi meski sebelumnya kedua negara sempat menyepakati nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan untuk meredakan konflik dan membuka jalan menuju perdamaian. Namun, kesepakatan tersebut kini praktis kehilangan daya, setelah kedua pihak kembali saling melancarkan serangan.
Konflik yang kini berpusat di Selat Hormuz memicu kekhawatiran dunia. Selain berpotensi memperluas perang di kawasan Timur Tengah, gangguan terhadap jalur yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia itu juga dikhawatirkan memicu lonjakan harga energi dan mengguncang perekonomian global. (**)
sumber: cnnindonesia