logo
Pemko Pekanbaru Tegaskan Rumah Sakit Tak Boleh Bedakan Pasien BPJS dan Umum Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pemko Pekanbaru Buka Peluang Bangun Waste Station di Kampus UNRI Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kapal Berbendera Tanzania Disergap di Bengkalis, Diduga Bawa Lebih 2 Ton Methamp Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Penanganan Gempa NTT, Pemerintah Masih Mampu Belum Buka Bantuan Asing Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Gempa NTT Rusak 19.297 Rumah, Lebih dari 6.000 Bangunan Masuk Kategori Berat Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Desa Sungai Gantang Sukses Bentangkan Bendera 1.081 Meter di Jembatan Rumbai Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi 133 HGB Pedagang STC Dipersoalkan, Pemko Pekanbaru Didesak Buka Dasar Kebijakan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi DPRD Pekanbaru Soroti Data Desil Warga: Salah Klasifikasi Bisa Bikin Bantuan Ter Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / Internasional
Perang AS-Iran Kian Membara, Baku Tembak Pecah di Selat Hormuz, Trump Siapkan Serangan Besar
Pertempuran sengit pecah antara pasukan militer Amerika Serikat dengan pasukan Angkatan Laut Korps Garda Republik Iran (IRGC) di Selat Hormuz. (Foto: Reuters)
Perang AS-Iran Kian Membara, Baku Tembak Pecah di Selat Hormuz, Trump Siapkan Serangan Besar
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: news | 15 Juli 2026 | 18:51:00

JAKARTA - Konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran terus memasuki fase yang semakin berbahaya. Pertempuran bersenjata dilaporkan pecah di Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak paling strategis di dunia, sementara Presiden AS Donald Trump dikabarkan tengah menyiapkan opsi serangan militer yang jauh lebih besar terhadap Iran.

Televisi pemerintah Iran pada Rabu (15/7/2026) melaporkan bahwa pasukan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terlibat baku tembak dengan militer Amerika Serikat di perairan Selat Hormuz.

Otoritas Provinsi Hormozgan menyebut ledakan yang terdengar di Bandar Abbas, sejumlah kota pesisir, serta pulau-pulau di selatan Iran berasal dari bentrokan bersenjata di kawasan selat tersebut. Kantor Berita Mehr juga melaporkan suara ledakan di wilayah timur Sirik yang berkaitan dengan kontak senjata di perairan Teluk Persia.

iklan-view

Bentrokan ini terjadi di tengah gelombang serangan baru di sejumlah wilayah Iran selatan, menandai meningkatnya konfrontasi langsung antara Washington dan Teheran.

Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi telah melancarkan gelombang serangan terbaru terhadap sejumlah fasilitas militer Iran yang dituding menjadi basis peluncuran rudal anti-kapal, drone, dan berbagai sistem yang mengancam kapal-kapal di Selat Hormuz.

AS juga mengumumkan telah memberlakukan blokade laut terhadap kapal-kapal yang keluar masuk pelabuhan dan wilayah pesisir Iran sebagai bagian dari operasi militernya.

Situasi semakin memanas setelah media AS, Axios, melaporkan Presiden Donald Trump menggelar rapat darurat di Ruang Situasi Gedung Putih pada Selasa (14/7/2026) waktu setempat guna membahas rencana serangan militer besar-besaran terhadap Iran.

Menurut tiga sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, rapat difokuskan pada opsi menghantam target-target strategis di wilayah Iran, melampaui operasi militer yang saat ini berlangsung di sekitar Selat Hormuz.

Dalam pertemuan itu, Trump didampingi jajaran pejabat tinggi keamanan nasional, di antaranya Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, Direktur CIA John Ratcliffe, serta utusan Gedung Putih Steve Witkoff.

Pemerintah AS disebut tengah mempertimbangkan peningkatan tekanan militer untuk memaksa Teheran membuka kembali Selat Hormuz sekaligus menerima tuntutan Washington terkait program nuklir Iran. Namun, Gedung Putih menolak memberikan komentar resmi mengenai laporan tersebut.

Sementara itu, operasi militer AS memasuki hari keempat berturut-turut dengan sasaran utama sistem pertahanan udara, radar, rudal anti-kapal, serta lokasi peluncuran drone milik Iran guna melemahkan kemampuan Teheran mengancam jalur pelayaran internasional.

Iran tidak tinggal diam. Teheran dilaporkan terus meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain sebagai respons atas serangan Washington.

Meningkatnya eskalasi ini terjadi meski sebelumnya kedua negara sempat menyepakati nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan untuk meredakan konflik dan membuka jalan menuju perdamaian. Namun, kesepakatan tersebut kini praktis kehilangan daya, setelah kedua pihak kembali saling melancarkan serangan.

Konflik yang kini berpusat di Selat Hormuz memicu kekhawatiran dunia. Selain berpotensi memperluas perang di kawasan Timur Tengah, gangguan terhadap jalur yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia itu juga dikhawatirkan memicu lonjakan harga energi dan mengguncang perekonomian global. (**)

sumber: cnnindonesia

Home / News
Perang AS-Iran Kian Membara, Baku Tembak Pecah di Selat Hormuz, Trump Siapkan Serangan Besar
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: news | 15 Juli 2026 | 18:51:00
Perang AS-Iran Kian Membara, Baku Tembak Pecah di Selat Hormuz, Trump Siapkan Serangan Besar
Pertempuran sengit pecah antara pasukan militer Amerika Serikat dengan pasukan Angkatan Laut Korps Garda Republik Iran (IRGC) di Selat Hormuz. (Foto: Reuters)

JAKARTA - Konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran terus memasuki fase yang semakin berbahaya. Pertempuran bersenjata dilaporkan pecah di Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak paling strategis di dunia, sementara Presiden AS Donald Trump dikabarkan tengah menyiapkan opsi serangan militer yang jauh lebih besar terhadap Iran.

Televisi pemerintah Iran pada Rabu (15/7/2026) melaporkan bahwa pasukan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terlibat baku tembak dengan militer Amerika Serikat di perairan Selat Hormuz.

Otoritas Provinsi Hormozgan menyebut ledakan yang terdengar di Bandar Abbas, sejumlah kota pesisir, serta pulau-pulau di selatan Iran berasal dari bentrokan bersenjata di kawasan selat tersebut. Kantor Berita Mehr juga melaporkan suara ledakan di wilayah timur Sirik yang berkaitan dengan kontak senjata di perairan Teluk Persia.

Bentrokan ini terjadi di tengah gelombang serangan baru di sejumlah wilayah Iran selatan, menandai meningkatnya konfrontasi langsung antara Washington dan Teheran.

Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi telah melancarkan gelombang serangan terbaru terhadap sejumlah fasilitas militer Iran yang dituding menjadi basis peluncuran rudal anti-kapal, drone, dan berbagai sistem yang mengancam kapal-kapal di Selat Hormuz.

AS juga mengumumkan telah memberlakukan blokade laut terhadap kapal-kapal yang keluar masuk pelabuhan dan wilayah pesisir Iran sebagai bagian dari operasi militernya.

Situasi semakin memanas setelah media AS, Axios, melaporkan Presiden Donald Trump menggelar rapat darurat di Ruang Situasi Gedung Putih pada Selasa (14/7/2026) waktu setempat guna membahas rencana serangan militer besar-besaran terhadap Iran.

Menurut tiga sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, rapat difokuskan pada opsi menghantam target-target strategis di wilayah Iran, melampaui operasi militer yang saat ini berlangsung di sekitar Selat Hormuz.

Dalam pertemuan itu, Trump didampingi jajaran pejabat tinggi keamanan nasional, di antaranya Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, Direktur CIA John Ratcliffe, serta utusan Gedung Putih Steve Witkoff.

Pemerintah AS disebut tengah mempertimbangkan peningkatan tekanan militer untuk memaksa Teheran membuka kembali Selat Hormuz sekaligus menerima tuntutan Washington terkait program nuklir Iran. Namun, Gedung Putih menolak memberikan komentar resmi mengenai laporan tersebut.

Sementara itu, operasi militer AS memasuki hari keempat berturut-turut dengan sasaran utama sistem pertahanan udara, radar, rudal anti-kapal, serta lokasi peluncuran drone milik Iran guna melemahkan kemampuan Teheran mengancam jalur pelayaran internasional.

Iran tidak tinggal diam. Teheran dilaporkan terus meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain sebagai respons atas serangan Washington.

Meningkatnya eskalasi ini terjadi meski sebelumnya kedua negara sempat menyepakati nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan untuk meredakan konflik dan membuka jalan menuju perdamaian. Namun, kesepakatan tersebut kini praktis kehilangan daya, setelah kedua pihak kembali saling melancarkan serangan.

Konflik yang kini berpusat di Selat Hormuz memicu kekhawatiran dunia. Selain berpotensi memperluas perang di kawasan Timur Tengah, gangguan terhadap jalur yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia itu juga dikhawatirkan memicu lonjakan harga energi dan mengguncang perekonomian global. (**)

sumber: cnnindonesia