logo
DPD Riau Tunggu Putusan Pusat Terkait Perselisihan Iwan Fatah-Eet Indra Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Polsek Ukui Amankan Pelaku Pencurian Motor, Yamaha Jupiter Disembunyikan di Sema Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Serangan Tanker di Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Polres Pelalawan Bongkar Jaringan Sabu di Pangkalan Lesung, 29 Paket Disita Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi BMKG Catat 7 Hotspot di Riau Meski Hujan Masih Mengguyur Sejumlah Daerah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Gagal Lolos X-Ray di Bandara Pekanbaru, Kurir Asal Aceh Ditangkap Bawa 2 Kilogra Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Usai Diperiksa 13 Jam, Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung dan Dititipkan d Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Lahan Sudah Masuk Proyek Flyover, Warga Simpang Baru Belum Terima Ganti Rugi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / KEUANGAN
Rupiah Ditutup Menguat 0,10 Persen ke Rp18.091 per Dolar AS, Investor Cermati Ketegangan Selat Hormuz
Rupiah menguat tipis petang ini.
Rupiah Ditutup Menguat 0,10 Persen ke Rp18.091 per Dolar AS, Investor Cermati Ketegangan Selat Hormuz
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
14 Juli 2026 | 16:31:19

JAKARTA – Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (14/7/2026). Mata uang Garuda naik 18 poin atau 0,10 persen ke level Rp18.091 per dolar AS, ditopang sentimen positif dari keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia.

Penguatan rupiah terjadi di tengah pergerakan mata uang global yang cenderung bervariasi. Di kawasan Asia, yuan China, yen Jepang, won Korea Selatan, dan dolar Singapura sama-sama menguat terhadap dolar AS. Sebaliknya, peso Filipina, ringgit Malaysia, dan dolar Hong Kong masih berada di zona merah.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan keputusan S&P mempertahankan peringkat kredit Indonesia menjadi katalis positif yang menopang pergerakan rupiah.

Meski demikian, menurutnya, penguatan rupiah masih terbatas karena pasar tetap dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman sekaligus mengerek harga minyak dunia hingga mendekati US$80 per barel.

iklan-view

Sementara itu, analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan eksternal masih berpotensi membatasi ruang penguatan rupiah. Pasar mencermati kebijakan Presiden AS Donald Trump yang kembali memberlakukan blokade angkatan laut terhadap Iran serta rencana pengenaan biaya sebesar 20 persen bagi kargo yang melintasi Selat Hormuz untuk menutup biaya pengamanan.

Militer AS dilaporkan mulai menerapkan blokade tersebut pada Selasa dengan menargetkan lalu lintas kapal yang terkait Iran, sementara kapal-kapal komersial netral tetap diizinkan melintas.

Kekhawatiran investor semakin meningkat setelah Iran melancarkan serangan drone terhadap aset militer AS di Kuwait, menyerang sebuah kapal di Selat Hormuz menggunakan rudal jelajah, serta muncul laporan dua kapal tanker Uni Emirat Arab diserang di perairan Oman.

Memanasnya kembali konflik AS-Iran memicu kekhawatiran terganggunya pasokan energi global. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, sehingga setiap eskalasi di kawasan tersebut berpotensi memperkuat dolar AS dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan, termasuk nilai tukar rupiah. (**)

Sumber: CNNIndonesia

Home / Ekonomi
Rupiah Ditutup Menguat 0,10 Persen ke Rp18.091 per Dolar AS, Investor Cermati Ketegangan Selat Hormuz
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
Rubrik: ekonomi | 14 Juli 2026 | 16:31:19
Rupiah Ditutup Menguat 0,10 Persen ke Rp18.091 per Dolar AS, Investor Cermati Ketegangan Selat Hormuz
Rupiah menguat tipis petang ini.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (14/7/2026). Mata uang Garuda naik 18 poin atau 0,10 persen ke level Rp18.091 per dolar AS, ditopang sentimen positif dari keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia.

Penguatan rupiah terjadi di tengah pergerakan mata uang global yang cenderung bervariasi. Di kawasan Asia, yuan China, yen Jepang, won Korea Selatan, dan dolar Singapura sama-sama menguat terhadap dolar AS. Sebaliknya, peso Filipina, ringgit Malaysia, dan dolar Hong Kong masih berada di zona merah.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan keputusan S&P mempertahankan peringkat kredit Indonesia menjadi katalis positif yang menopang pergerakan rupiah.

Meski demikian, menurutnya, penguatan rupiah masih terbatas karena pasar tetap dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman sekaligus mengerek harga minyak dunia hingga mendekati US$80 per barel.

Sementara itu, analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan eksternal masih berpotensi membatasi ruang penguatan rupiah. Pasar mencermati kebijakan Presiden AS Donald Trump yang kembali memberlakukan blokade angkatan laut terhadap Iran serta rencana pengenaan biaya sebesar 20 persen bagi kargo yang melintasi Selat Hormuz untuk menutup biaya pengamanan.

Militer AS dilaporkan mulai menerapkan blokade tersebut pada Selasa dengan menargetkan lalu lintas kapal yang terkait Iran, sementara kapal-kapal komersial netral tetap diizinkan melintas.

Kekhawatiran investor semakin meningkat setelah Iran melancarkan serangan drone terhadap aset militer AS di Kuwait, menyerang sebuah kapal di Selat Hormuz menggunakan rudal jelajah, serta muncul laporan dua kapal tanker Uni Emirat Arab diserang di perairan Oman.

Memanasnya kembali konflik AS-Iran memicu kekhawatiran terganggunya pasokan energi global. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, sehingga setiap eskalasi di kawasan tersebut berpotensi memperkuat dolar AS dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan, termasuk nilai tukar rupiah. (**)

Sumber: CNNIndonesia