
JAKARTA – Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (14/7/2026). Mata uang Garuda naik 18 poin atau 0,10 persen ke level Rp18.091 per dolar AS, ditopang sentimen positif dari keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia.
Penguatan rupiah terjadi di tengah pergerakan mata uang global yang cenderung bervariasi. Di kawasan Asia, yuan China, yen Jepang, won Korea Selatan, dan dolar Singapura sama-sama menguat terhadap dolar AS. Sebaliknya, peso Filipina, ringgit Malaysia, dan dolar Hong Kong masih berada di zona merah.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan keputusan S&P mempertahankan peringkat kredit Indonesia menjadi katalis positif yang menopang pergerakan rupiah.
Meski demikian, menurutnya, penguatan rupiah masih terbatas karena pasar tetap dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman sekaligus mengerek harga minyak dunia hingga mendekati US$80 per barel.

Sementara itu, analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan eksternal masih berpotensi membatasi ruang penguatan rupiah. Pasar mencermati kebijakan Presiden AS Donald Trump yang kembali memberlakukan blokade angkatan laut terhadap Iran serta rencana pengenaan biaya sebesar 20 persen bagi kargo yang melintasi Selat Hormuz untuk menutup biaya pengamanan.
Militer AS dilaporkan mulai menerapkan blokade tersebut pada Selasa dengan menargetkan lalu lintas kapal yang terkait Iran, sementara kapal-kapal komersial netral tetap diizinkan melintas.
Kekhawatiran investor semakin meningkat setelah Iran melancarkan serangan drone terhadap aset militer AS di Kuwait, menyerang sebuah kapal di Selat Hormuz menggunakan rudal jelajah, serta muncul laporan dua kapal tanker Uni Emirat Arab diserang di perairan Oman.
Memanasnya kembali konflik AS-Iran memicu kekhawatiran terganggunya pasokan energi global. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, sehingga setiap eskalasi di kawasan tersebut berpotensi memperkuat dolar AS dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan, termasuk nilai tukar rupiah. (**)
Sumber: CNNIndonesia






JAKARTA – Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (14/7/2026). Mata uang Garuda naik 18 poin atau 0,10 persen ke level Rp18.091 per dolar AS, ditopang sentimen positif dari keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia.
Penguatan rupiah terjadi di tengah pergerakan mata uang global yang cenderung bervariasi. Di kawasan Asia, yuan China, yen Jepang, won Korea Selatan, dan dolar Singapura sama-sama menguat terhadap dolar AS. Sebaliknya, peso Filipina, ringgit Malaysia, dan dolar Hong Kong masih berada di zona merah.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan keputusan S&P mempertahankan peringkat kredit Indonesia menjadi katalis positif yang menopang pergerakan rupiah.
Meski demikian, menurutnya, penguatan rupiah masih terbatas karena pasar tetap dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman sekaligus mengerek harga minyak dunia hingga mendekati US$80 per barel.
Sementara itu, analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan eksternal masih berpotensi membatasi ruang penguatan rupiah. Pasar mencermati kebijakan Presiden AS Donald Trump yang kembali memberlakukan blokade angkatan laut terhadap Iran serta rencana pengenaan biaya sebesar 20 persen bagi kargo yang melintasi Selat Hormuz untuk menutup biaya pengamanan.
Militer AS dilaporkan mulai menerapkan blokade tersebut pada Selasa dengan menargetkan lalu lintas kapal yang terkait Iran, sementara kapal-kapal komersial netral tetap diizinkan melintas.
Kekhawatiran investor semakin meningkat setelah Iran melancarkan serangan drone terhadap aset militer AS di Kuwait, menyerang sebuah kapal di Selat Hormuz menggunakan rudal jelajah, serta muncul laporan dua kapal tanker Uni Emirat Arab diserang di perairan Oman.
Memanasnya kembali konflik AS-Iran memicu kekhawatiran terganggunya pasokan energi global. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, sehingga setiap eskalasi di kawasan tersebut berpotensi memperkuat dolar AS dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan, termasuk nilai tukar rupiah. (**)
Sumber: CNNIndonesia