logo
DPD Riau Tunggu Putusan Pusat Terkait Perselisihan Iwan Fatah-Eet Indra Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Polsek Ukui Amankan Pelaku Pencurian Motor, Yamaha Jupiter Disembunyikan di Sema Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Serangan Tanker di Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Polres Pelalawan Bongkar Jaringan Sabu di Pangkalan Lesung, 29 Paket Disita Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi BMKG Catat 7 Hotspot di Riau Meski Hujan Masih Mengguyur Sejumlah Daerah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Gagal Lolos X-Ray di Bandara Pekanbaru, Kurir Asal Aceh Ditangkap Bawa 2 Kilogra Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Usai Diperiksa 13 Jam, Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung dan Dititipkan d Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Lahan Sudah Masuk Proyek Flyover, Warga Simpang Baru Belum Terima Ganti Rugi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / BUKITTINGGI
Tengah Malam Sungai Meluap Tanpa Hujan, Warga Ngarai Sianok Berlarian Selamatkan Diri dari Banjir
Banjir bercampur lumpur di Kayu Kubu, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat karena luapan air sungai Ngarai Sianok yang tiba-tiba meluap tanpa kondisi hujan. (Foto: Antara)
Tengah Malam Sungai Meluap Tanpa Hujan, Warga Ngarai Sianok Berlarian Selamatkan Diri dari Banjir
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
24 Juli 2026 | 18:39:51

BUKITTINGGI - Kepanikan menyelimuti warga di kawasan Ngarai Sianok, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, saat Sungai Sianok tiba-tiba meluap pada Jumat (24/7/2026) dini hari. Tanpa didahului hujan, air bercampur lumpur menerjang permukiman dan merendam delapan rumah, satu mushala, serta tiga warung milik warga.

Di tengah kepanikan itu, aksi cepat para pemuda yang sedang berpatroli ronda malam menjadi penyelamat bagi sejumlah warga. Salah satunya Erna (50), yang mengaku baru menyadari banjir setelah dibangunkan.

"Kalau tidak ada yang membangunkan, mungkin saya direndam banjir. Kami keluar lewat pintu belakang untuk menyelamatkan diri," tutur Erna.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Bukittinggi, Zulhendri, menjelaskan luapan sungai bukan disebabkan hujan, melainkan jebolnya sumbatan aliran air yang sebelumnya tertutup material longsoran dinding Ngarai Sianok di bagian hulu, tepatnya di Guguak Randah, Kabupaten Agam.

iklan-view

Akibat peristiwa tersebut, sebanyak 11 kepala keluarga terdampak. Lumpur memenuhi rumah-rumah warga dan menutup akses jalan di sepanjang bibir Ngarai Sianok, kawasan Kayu Kubu, Kecamatan Guguak Panjang, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Agam.

Meski air sempat mencapai ketinggian sekitar satu meter pada awal kejadian, BPBD memastikan tidak ada korban jiwa.

Petugas gabungan dari BPBD, TNI, Polri, bersama masyarakat langsung bergotong royong membersihkan material lumpur yang menutupi rumah dan jalan agar aktivitas warga dapat kembali normal.

Bagi Erna, banjir kali ini menjadi pengingat bahwa ancaman serupa masih membayangi warga yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Sianok. Ia berharap pemerintah segera melakukan langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terus berulang.

Menurutnya, pengerukan dasar sungai yang biasanya dilakukan setiap enam bulan sudah sekitar satu tahun tidak dilaksanakan. Selain itu, warga juga meminta perbaikan tanggul agar mampu menahan luapan air ketika debit sungai meningkat.

Peristiwa ini bukan yang pertama. Pada Juni 2024, Sungai Sianok juga pernah meluap tanpa didahului hujan. Saat itu, pemerintah telah mengimbau warga yang tinggal di kawasan tersebut untuk direlokasi karena wilayah tersebut merupakan kawasan penyangga (buffer zone) yang rawan bencana. (**/ntr)

Home / News
Tengah Malam Sungai Meluap Tanpa Hujan, Warga Ngarai Sianok Berlarian Selamatkan Diri dari Banjir
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
Rubrik: news | 24 Juli 2026 | 18:39:51
Tengah Malam Sungai Meluap Tanpa Hujan, Warga Ngarai Sianok Berlarian Selamatkan Diri dari Banjir
Banjir bercampur lumpur di Kayu Kubu, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat karena luapan air sungai Ngarai Sianok yang tiba-tiba meluap tanpa kondisi hujan. (Foto: Antara)

BUKITTINGGI - Kepanikan menyelimuti warga di kawasan Ngarai Sianok, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, saat Sungai Sianok tiba-tiba meluap pada Jumat (24/7/2026) dini hari. Tanpa didahului hujan, air bercampur lumpur menerjang permukiman dan merendam delapan rumah, satu mushala, serta tiga warung milik warga.

Di tengah kepanikan itu, aksi cepat para pemuda yang sedang berpatroli ronda malam menjadi penyelamat bagi sejumlah warga. Salah satunya Erna (50), yang mengaku baru menyadari banjir setelah dibangunkan.

"Kalau tidak ada yang membangunkan, mungkin saya direndam banjir. Kami keluar lewat pintu belakang untuk menyelamatkan diri," tutur Erna.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Bukittinggi, Zulhendri, menjelaskan luapan sungai bukan disebabkan hujan, melainkan jebolnya sumbatan aliran air yang sebelumnya tertutup material longsoran dinding Ngarai Sianok di bagian hulu, tepatnya di Guguak Randah, Kabupaten Agam.

Akibat peristiwa tersebut, sebanyak 11 kepala keluarga terdampak. Lumpur memenuhi rumah-rumah warga dan menutup akses jalan di sepanjang bibir Ngarai Sianok, kawasan Kayu Kubu, Kecamatan Guguak Panjang, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Agam.

Meski air sempat mencapai ketinggian sekitar satu meter pada awal kejadian, BPBD memastikan tidak ada korban jiwa.

Petugas gabungan dari BPBD, TNI, Polri, bersama masyarakat langsung bergotong royong membersihkan material lumpur yang menutupi rumah dan jalan agar aktivitas warga dapat kembali normal.

Bagi Erna, banjir kali ini menjadi pengingat bahwa ancaman serupa masih membayangi warga yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Sianok. Ia berharap pemerintah segera melakukan langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terus berulang.

Menurutnya, pengerukan dasar sungai yang biasanya dilakukan setiap enam bulan sudah sekitar satu tahun tidak dilaksanakan. Selain itu, warga juga meminta perbaikan tanggul agar mampu menahan luapan air ketika debit sungai meningkat.

Peristiwa ini bukan yang pertama. Pada Juni 2024, Sungai Sianok juga pernah meluap tanpa didahului hujan. Saat itu, pemerintah telah mengimbau warga yang tinggal di kawasan tersebut untuk direlokasi karena wilayah tersebut merupakan kawasan penyangga (buffer zone) yang rawan bencana. (**/ntr)