
BUKITTINGGI - Kepanikan menyelimuti warga di kawasan Ngarai Sianok, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, saat Sungai Sianok tiba-tiba meluap pada Jumat (24/7/2026) dini hari. Tanpa didahului hujan, air bercampur lumpur menerjang permukiman dan merendam delapan rumah, satu mushala, serta tiga warung milik warga.
Di tengah kepanikan itu, aksi cepat para pemuda yang sedang berpatroli ronda malam menjadi penyelamat bagi sejumlah warga. Salah satunya Erna (50), yang mengaku baru menyadari banjir setelah dibangunkan.
"Kalau tidak ada yang membangunkan, mungkin saya direndam banjir. Kami keluar lewat pintu belakang untuk menyelamatkan diri," tutur Erna.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Bukittinggi, Zulhendri, menjelaskan luapan sungai bukan disebabkan hujan, melainkan jebolnya sumbatan aliran air yang sebelumnya tertutup material longsoran dinding Ngarai Sianok di bagian hulu, tepatnya di Guguak Randah, Kabupaten Agam.

Akibat peristiwa tersebut, sebanyak 11 kepala keluarga terdampak. Lumpur memenuhi rumah-rumah warga dan menutup akses jalan di sepanjang bibir Ngarai Sianok, kawasan Kayu Kubu, Kecamatan Guguak Panjang, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Agam.
Meski air sempat mencapai ketinggian sekitar satu meter pada awal kejadian, BPBD memastikan tidak ada korban jiwa.
Petugas gabungan dari BPBD, TNI, Polri, bersama masyarakat langsung bergotong royong membersihkan material lumpur yang menutupi rumah dan jalan agar aktivitas warga dapat kembali normal.
Bagi Erna, banjir kali ini menjadi pengingat bahwa ancaman serupa masih membayangi warga yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Sianok. Ia berharap pemerintah segera melakukan langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Menurutnya, pengerukan dasar sungai yang biasanya dilakukan setiap enam bulan sudah sekitar satu tahun tidak dilaksanakan. Selain itu, warga juga meminta perbaikan tanggul agar mampu menahan luapan air ketika debit sungai meningkat.
Peristiwa ini bukan yang pertama. Pada Juni 2024, Sungai Sianok juga pernah meluap tanpa didahului hujan. Saat itu, pemerintah telah mengimbau warga yang tinggal di kawasan tersebut untuk direlokasi karena wilayah tersebut merupakan kawasan penyangga (buffer zone) yang rawan bencana. (**/ntr)






BUKITTINGGI - Kepanikan menyelimuti warga di kawasan Ngarai Sianok, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, saat Sungai Sianok tiba-tiba meluap pada Jumat (24/7/2026) dini hari. Tanpa didahului hujan, air bercampur lumpur menerjang permukiman dan merendam delapan rumah, satu mushala, serta tiga warung milik warga.
Di tengah kepanikan itu, aksi cepat para pemuda yang sedang berpatroli ronda malam menjadi penyelamat bagi sejumlah warga. Salah satunya Erna (50), yang mengaku baru menyadari banjir setelah dibangunkan.
"Kalau tidak ada yang membangunkan, mungkin saya direndam banjir. Kami keluar lewat pintu belakang untuk menyelamatkan diri," tutur Erna.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Bukittinggi, Zulhendri, menjelaskan luapan sungai bukan disebabkan hujan, melainkan jebolnya sumbatan aliran air yang sebelumnya tertutup material longsoran dinding Ngarai Sianok di bagian hulu, tepatnya di Guguak Randah, Kabupaten Agam.
Akibat peristiwa tersebut, sebanyak 11 kepala keluarga terdampak. Lumpur memenuhi rumah-rumah warga dan menutup akses jalan di sepanjang bibir Ngarai Sianok, kawasan Kayu Kubu, Kecamatan Guguak Panjang, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Agam.
Meski air sempat mencapai ketinggian sekitar satu meter pada awal kejadian, BPBD memastikan tidak ada korban jiwa.
Petugas gabungan dari BPBD, TNI, Polri, bersama masyarakat langsung bergotong royong membersihkan material lumpur yang menutupi rumah dan jalan agar aktivitas warga dapat kembali normal.
Bagi Erna, banjir kali ini menjadi pengingat bahwa ancaman serupa masih membayangi warga yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Sianok. Ia berharap pemerintah segera melakukan langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Menurutnya, pengerukan dasar sungai yang biasanya dilakukan setiap enam bulan sudah sekitar satu tahun tidak dilaksanakan. Selain itu, warga juga meminta perbaikan tanggul agar mampu menahan luapan air ketika debit sungai meningkat.
Peristiwa ini bukan yang pertama. Pada Juni 2024, Sungai Sianok juga pernah meluap tanpa didahului hujan. Saat itu, pemerintah telah mengimbau warga yang tinggal di kawasan tersebut untuk direlokasi karena wilayah tersebut merupakan kawasan penyangga (buffer zone) yang rawan bencana. (**/ntr)