logo
DPD Riau Tunggu Putusan Pusat Terkait Perselisihan Iwan Fatah-Eet Indra Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Polsek Ukui Amankan Pelaku Pencurian Motor, Yamaha Jupiter Disembunyikan di Sema Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Serangan Tanker di Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Polres Pelalawan Bongkar Jaringan Sabu di Pangkalan Lesung, 29 Paket Disita Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi BMKG Catat 7 Hotspot di Riau Meski Hujan Masih Mengguyur Sejumlah Daerah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Gagal Lolos X-Ray di Bandara Pekanbaru, Kurir Asal Aceh Ditangkap Bawa 2 Kilogra Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Usai Diperiksa 13 Jam, Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung dan Dititipkan d Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Lahan Sudah Masuk Proyek Flyover, Warga Simpang Baru Belum Terima Ganti Rugi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / KEUANGAN
Rupiah Melemah ke Rp17.930 per Dolar AS di Awal Pekan, Konflik Timur Tengah dan The Fed Jadi Sorotan Pasar
Ilustrasi. Rupiah kembali ditutup melemah di awal pekan.
Rupiah Melemah ke Rp17.930 per Dolar AS di Awal Pekan, Konflik Timur Tengah dan The Fed Jadi Sorotan Pasar
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
20 Juli 2026 | 17:00:26

JAKARTA - Laju penguatan rupiah hanya bertahan sehari. Memasuki perdagangan awal pekan, Senin (20/7/2026), mata uang Garuda kembali berada di bawah tekanan dan ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup turun 0,25% ke level Rp17.930 per dolar AS. Sejak awal perdagangan, tekanan sudah terlihat setelah rupiah dibuka melemah 0,42% di posisi Rp17.960/US$, bahkan sempat menyentuh level terendah harian di Rp17.990/US$ sebelum akhirnya memangkas sebagian kerugiannya menjelang penutupan.

Pergerakan ini berbalik arah dibandingkan perdagangan sebelumnya. Pada Jumat (17/7/2026), rupiah sempat menguat signifikan 0,53% hingga ditutup di level Rp17.885 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) relatif stabil di kisaran 100,765 pada pukul 15.00 WIB, mencerminkan masih kuatnya permintaan terhadap mata uang Negeri Paman Sam.

iklan-view

Tekanan terhadap rupiah datang dari meningkatnya ketidakpastian global. Memanasnya konflik di Timur Tengah kembali memicu sikap hati-hati investor dan mendorong kenaikan harga minyak dunia. Situasi tersebut membuat dolar AS tetap menjadi aset lindung nilai (safe haven) pilihan, sehingga ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menjadi semakin terbatas.

Di sisi lain, pelaku pasar juga masih mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang The Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga pada rapat 29 Juli mendatang mencapai 85,6%, naik tajam dibandingkan sekitar 61,5% sebulan sebelumnya.

Meski demikian, arah kebijakan bank sentral AS belum sepenuhnya jelas. Presiden The Fed Cleveland, Beth Hammack, pekan lalu menyatakan suku bunga masih berpotensi dinaikkan apabila tekanan inflasi tetap tinggi. Pandangan tersebut menambah dinamika menjelang rapat The Fed, yang diperkirakan akan diwarnai perbedaan pendapat di kalangan para pejabat bank sentral.

Dari dalam negeri, perhatian pasar kini tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan digelar pada Rabu (22/7/2026). Investor menanti keputusan terbaru mengenai suku bunga acuan di tengah upaya BI menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Sejak Mei 2026, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan secara agresif dengan total 100 basis poin. Kenaikan terakhir sebesar 25 basis poin dilakukan pada 18 Juni 2026, setelah sebelumnya BI menggelar rapat di luar jadwal pada 9 Juni sebagai respons terhadap tekanan yang terus membayangi nilai tukar rupiah. (**)

sumber: cnbc indonesia

Home / Ekonomi
Rupiah Melemah ke Rp17.930 per Dolar AS di Awal Pekan, Konflik Timur Tengah dan The Fed Jadi Sorotan Pasar
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
Rubrik: ekonomi | 20 Juli 2026 | 17:00:26
Rupiah Melemah ke Rp17.930 per Dolar AS di Awal Pekan, Konflik Timur Tengah dan The Fed Jadi Sorotan Pasar
Ilustrasi. Rupiah kembali ditutup melemah di awal pekan.

JAKARTA - Laju penguatan rupiah hanya bertahan sehari. Memasuki perdagangan awal pekan, Senin (20/7/2026), mata uang Garuda kembali berada di bawah tekanan dan ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup turun 0,25% ke level Rp17.930 per dolar AS. Sejak awal perdagangan, tekanan sudah terlihat setelah rupiah dibuka melemah 0,42% di posisi Rp17.960/US$, bahkan sempat menyentuh level terendah harian di Rp17.990/US$ sebelum akhirnya memangkas sebagian kerugiannya menjelang penutupan.

Pergerakan ini berbalik arah dibandingkan perdagangan sebelumnya. Pada Jumat (17/7/2026), rupiah sempat menguat signifikan 0,53% hingga ditutup di level Rp17.885 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) relatif stabil di kisaran 100,765 pada pukul 15.00 WIB, mencerminkan masih kuatnya permintaan terhadap mata uang Negeri Paman Sam.

Tekanan terhadap rupiah datang dari meningkatnya ketidakpastian global. Memanasnya konflik di Timur Tengah kembali memicu sikap hati-hati investor dan mendorong kenaikan harga minyak dunia. Situasi tersebut membuat dolar AS tetap menjadi aset lindung nilai (safe haven) pilihan, sehingga ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menjadi semakin terbatas.

Di sisi lain, pelaku pasar juga masih mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang The Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga pada rapat 29 Juli mendatang mencapai 85,6%, naik tajam dibandingkan sekitar 61,5% sebulan sebelumnya.

Meski demikian, arah kebijakan bank sentral AS belum sepenuhnya jelas. Presiden The Fed Cleveland, Beth Hammack, pekan lalu menyatakan suku bunga masih berpotensi dinaikkan apabila tekanan inflasi tetap tinggi. Pandangan tersebut menambah dinamika menjelang rapat The Fed, yang diperkirakan akan diwarnai perbedaan pendapat di kalangan para pejabat bank sentral.

Dari dalam negeri, perhatian pasar kini tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan digelar pada Rabu (22/7/2026). Investor menanti keputusan terbaru mengenai suku bunga acuan di tengah upaya BI menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Sejak Mei 2026, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan secara agresif dengan total 100 basis poin. Kenaikan terakhir sebesar 25 basis poin dilakukan pada 18 Juni 2026, setelah sebelumnya BI menggelar rapat di luar jadwal pada 9 Juni sebagai respons terhadap tekanan yang terus membayangi nilai tukar rupiah. (**)

sumber: cnbc indonesia