
JAKARTA - Laju penguatan rupiah hanya bertahan sehari. Memasuki perdagangan awal pekan, Senin (20/7/2026), mata uang Garuda kembali berada di bawah tekanan dan ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup turun 0,25% ke level Rp17.930 per dolar AS. Sejak awal perdagangan, tekanan sudah terlihat setelah rupiah dibuka melemah 0,42% di posisi Rp17.960/US$, bahkan sempat menyentuh level terendah harian di Rp17.990/US$ sebelum akhirnya memangkas sebagian kerugiannya menjelang penutupan.
Pergerakan ini berbalik arah dibandingkan perdagangan sebelumnya. Pada Jumat (17/7/2026), rupiah sempat menguat signifikan 0,53% hingga ditutup di level Rp17.885 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) relatif stabil di kisaran 100,765 pada pukul 15.00 WIB, mencerminkan masih kuatnya permintaan terhadap mata uang Negeri Paman Sam.

Tekanan terhadap rupiah datang dari meningkatnya ketidakpastian global. Memanasnya konflik di Timur Tengah kembali memicu sikap hati-hati investor dan mendorong kenaikan harga minyak dunia. Situasi tersebut membuat dolar AS tetap menjadi aset lindung nilai (safe haven) pilihan, sehingga ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menjadi semakin terbatas.
Di sisi lain, pelaku pasar juga masih mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang The Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga pada rapat 29 Juli mendatang mencapai 85,6%, naik tajam dibandingkan sekitar 61,5% sebulan sebelumnya.
Meski demikian, arah kebijakan bank sentral AS belum sepenuhnya jelas. Presiden The Fed Cleveland, Beth Hammack, pekan lalu menyatakan suku bunga masih berpotensi dinaikkan apabila tekanan inflasi tetap tinggi. Pandangan tersebut menambah dinamika menjelang rapat The Fed, yang diperkirakan akan diwarnai perbedaan pendapat di kalangan para pejabat bank sentral.
Dari dalam negeri, perhatian pasar kini tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan digelar pada Rabu (22/7/2026). Investor menanti keputusan terbaru mengenai suku bunga acuan di tengah upaya BI menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Sejak Mei 2026, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan secara agresif dengan total 100 basis poin. Kenaikan terakhir sebesar 25 basis poin dilakukan pada 18 Juni 2026, setelah sebelumnya BI menggelar rapat di luar jadwal pada 9 Juni sebagai respons terhadap tekanan yang terus membayangi nilai tukar rupiah. (**)
sumber: cnbc indonesia






JAKARTA - Laju penguatan rupiah hanya bertahan sehari. Memasuki perdagangan awal pekan, Senin (20/7/2026), mata uang Garuda kembali berada di bawah tekanan dan ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup turun 0,25% ke level Rp17.930 per dolar AS. Sejak awal perdagangan, tekanan sudah terlihat setelah rupiah dibuka melemah 0,42% di posisi Rp17.960/US$, bahkan sempat menyentuh level terendah harian di Rp17.990/US$ sebelum akhirnya memangkas sebagian kerugiannya menjelang penutupan.
Pergerakan ini berbalik arah dibandingkan perdagangan sebelumnya. Pada Jumat (17/7/2026), rupiah sempat menguat signifikan 0,53% hingga ditutup di level Rp17.885 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) relatif stabil di kisaran 100,765 pada pukul 15.00 WIB, mencerminkan masih kuatnya permintaan terhadap mata uang Negeri Paman Sam.
Tekanan terhadap rupiah datang dari meningkatnya ketidakpastian global. Memanasnya konflik di Timur Tengah kembali memicu sikap hati-hati investor dan mendorong kenaikan harga minyak dunia. Situasi tersebut membuat dolar AS tetap menjadi aset lindung nilai (safe haven) pilihan, sehingga ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menjadi semakin terbatas.
Di sisi lain, pelaku pasar juga masih mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang The Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga pada rapat 29 Juli mendatang mencapai 85,6%, naik tajam dibandingkan sekitar 61,5% sebulan sebelumnya.
Meski demikian, arah kebijakan bank sentral AS belum sepenuhnya jelas. Presiden The Fed Cleveland, Beth Hammack, pekan lalu menyatakan suku bunga masih berpotensi dinaikkan apabila tekanan inflasi tetap tinggi. Pandangan tersebut menambah dinamika menjelang rapat The Fed, yang diperkirakan akan diwarnai perbedaan pendapat di kalangan para pejabat bank sentral.
Dari dalam negeri, perhatian pasar kini tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan digelar pada Rabu (22/7/2026). Investor menanti keputusan terbaru mengenai suku bunga acuan di tengah upaya BI menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Sejak Mei 2026, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan secara agresif dengan total 100 basis poin. Kenaikan terakhir sebesar 25 basis poin dilakukan pada 18 Juni 2026, setelah sebelumnya BI menggelar rapat di luar jadwal pada 9 Juni sebagai respons terhadap tekanan yang terus membayangi nilai tukar rupiah. (**)
sumber: cnbc indonesia