
JAKARTA - Nilai tukar rupiah berhasil bangkit dan ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (29/7/2026), setelah sempat tertekan hingga menyentuh level psikologis Rp18.100 per dolar AS di awal perdagangan.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup terapresiasi 0,06 persen ke posisi Rp18.045 per dolar AS. Penguatan ini sekaligus mengakhiri tren pelemahan yang telah berlangsung selama empat hari perdagangan berturut-turut.
Sejak pembukaan pasar, pergerakan rupiah sempat berada di bawah tekanan. Pada pukul 09.02 WIB, mata uang Garuda melemah 0,25 persen ke level Rp18.100 per dolar AS. Namun, tekanan tersebut berangsur mereda hingga rupiah berbalik menguat dan menutup perdagangan sekitar 55 poin lebih baik dibandingkan posisi pembukaan.
Penguatan rupiah terjadi di tengah melemahnya indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama dunia. Hingga pukul 15.00 WIB, DXY tercatat turun 0,12 persen ke level 101,291, lebih dalam dibandingkan pelemahan tipis pada sesi pagi.

Sentimen pasar dipengaruhi oleh sikap hati-hati para pelaku pasar menjelang pengumuman hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) atau komite penentu kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed).
Meski dolar AS masih memperoleh dukungan dari tingginya permintaan aset aman akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, penguatan mata uang tersebut mulai kehilangan momentum menjelang keputusan suku bunga The Fed yang akan diumumkan pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari WIB.
Pasar saat ini memperkirakan terdapat peluang sekitar 33 persen bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Selain keputusan suku bunga, investor juga akan mencermati pernyataan resmi bank sentral AS guna mencari petunjuk arah kebijakan moneter dalam beberapa bulan ke depan.
Di sisi domestik, Bank Indonesia (BI) kembali menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global dan masa transisi kepemimpinan bank sentral.
Direktur Eksekutif Senior sekaligus Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar merupakan fondasi penting untuk menjaga inflasi sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
"Di tengah ketidakpastian global yang tinggi, stabilisasi nilai tukar rupiah terus diperkuat sehingga konsisten mendukung pencapaian sasaran inflasi dan mendorong kegiatan ekonomi," ujar Erwin.
Menurutnya, upaya menjaga stabilitas rupiah tidak hanya dilakukan melalui kebijakan suku bunga, tetapi juga dengan mengoptimalkan berbagai instrumen moneter. BI terus memperkuat strategi triple intervention di pasar valuta asing, baik melalui pasar spot, Non Deliverable Forward (NDF), maupun Domestic Non Deliverable Forward (DNDF).
Selain itu, optimalisasi instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), fasilitas swap, serta instrumen lindung nilai DNDF juga terus dilakukan guna menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus menarik aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.
BI juga memastikan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan tetap terjaga. Penerbitan SRBI akan disesuaikan dengan kebutuhan pengelolaan likuiditas, sekaligus diarahkan untuk memperkuat daya tarik investasi portofolio asing di Indonesia. (**/cnbc)






JAKARTA - Nilai tukar rupiah berhasil bangkit dan ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (29/7/2026), setelah sempat tertekan hingga menyentuh level psikologis Rp18.100 per dolar AS di awal perdagangan.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup terapresiasi 0,06 persen ke posisi Rp18.045 per dolar AS. Penguatan ini sekaligus mengakhiri tren pelemahan yang telah berlangsung selama empat hari perdagangan berturut-turut.
Sejak pembukaan pasar, pergerakan rupiah sempat berada di bawah tekanan. Pada pukul 09.02 WIB, mata uang Garuda melemah 0,25 persen ke level Rp18.100 per dolar AS. Namun, tekanan tersebut berangsur mereda hingga rupiah berbalik menguat dan menutup perdagangan sekitar 55 poin lebih baik dibandingkan posisi pembukaan.
Penguatan rupiah terjadi di tengah melemahnya indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama dunia. Hingga pukul 15.00 WIB, DXY tercatat turun 0,12 persen ke level 101,291, lebih dalam dibandingkan pelemahan tipis pada sesi pagi.
Sentimen pasar dipengaruhi oleh sikap hati-hati para pelaku pasar menjelang pengumuman hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) atau komite penentu kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed).
Meski dolar AS masih memperoleh dukungan dari tingginya permintaan aset aman akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, penguatan mata uang tersebut mulai kehilangan momentum menjelang keputusan suku bunga The Fed yang akan diumumkan pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari WIB.
Pasar saat ini memperkirakan terdapat peluang sekitar 33 persen bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Selain keputusan suku bunga, investor juga akan mencermati pernyataan resmi bank sentral AS guna mencari petunjuk arah kebijakan moneter dalam beberapa bulan ke depan.
Di sisi domestik, Bank Indonesia (BI) kembali menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global dan masa transisi kepemimpinan bank sentral.
Direktur Eksekutif Senior sekaligus Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar merupakan fondasi penting untuk menjaga inflasi sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
"Di tengah ketidakpastian global yang tinggi, stabilisasi nilai tukar rupiah terus diperkuat sehingga konsisten mendukung pencapaian sasaran inflasi dan mendorong kegiatan ekonomi," ujar Erwin.
Menurutnya, upaya menjaga stabilitas rupiah tidak hanya dilakukan melalui kebijakan suku bunga, tetapi juga dengan mengoptimalkan berbagai instrumen moneter. BI terus memperkuat strategi triple intervention di pasar valuta asing, baik melalui pasar spot, Non Deliverable Forward (NDF), maupun Domestic Non Deliverable Forward (DNDF).
Selain itu, optimalisasi instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), fasilitas swap, serta instrumen lindung nilai DNDF juga terus dilakukan guna menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus menarik aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.
BI juga memastikan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan tetap terjaga. Penerbitan SRBI akan disesuaikan dengan kebutuhan pengelolaan likuiditas, sekaligus diarahkan untuk memperkuat daya tarik investasi portofolio asing di Indonesia. (**/cnbc)