
JAKARTA - Rupiah kembali berada di bawah tekanan pada penutupan perdagangan Selasa (28/7/2026). Mata uang Garuda melemah 0,34 persen ke level Rp18.067 per dolar Amerika Serikat (AS), sekaligus memperpanjang tren pelemahan selama empat hari berturut-turut.
Tekanan terhadap rupiah dinilai masih dipengaruhi sentimen negatif yang muncul setelah pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. Keputusan yang diumumkan secara mendadak itu memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap kesinambungan kebijakan moneter dan independensi bank sentral.
Menurut laporan Bloomberg Technoz, di kawasan Asia, rupiah bahkan menjadi mata uang dengan kinerja terburuk pada perdagangan hari ini. Pelemahan juga dialami sejumlah mata uang lain seperti dolar Taiwan, dolar Singapura, ringgit Malaysia, yuan China, yuan offshore, dan yen Jepang.
Sebaliknya, won Korea Selatan mencatat penguatan, diikuti rupee India, peso Filipina, serta dolar Hong Kong.

Menariknya, pelemahan mata uang Asia kali ini bukan dipicu oleh penguatan dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) justru turun tipis 0,02 persen ke level 101,51, meski masih bertahan di level yang relatif tinggi. Sementara itu, harga minyak dunia juga bergerak melemah dan berada di kisaran US$85,61 per barel pada pukul 15.15 WIB.
Khusus di Indonesia, perhatian investor masih tertuju pada dinamika di Bank Indonesia. Pengunduran diri Perry Warjiyo di tengah masa jabatannya memunculkan ketidakpastian baru di pasar keuangan.
Investor kini menanti kejelasan mengenai sosok pengganti serta arah kebijakan moneter BI ke depan, mengingat kredibilitas dan independensi bank sentral merupakan faktor penting dalam menjaga kepercayaan terhadap aset-aset Indonesia. (**)






JAKARTA - Rupiah kembali berada di bawah tekanan pada penutupan perdagangan Selasa (28/7/2026). Mata uang Garuda melemah 0,34 persen ke level Rp18.067 per dolar Amerika Serikat (AS), sekaligus memperpanjang tren pelemahan selama empat hari berturut-turut.
Tekanan terhadap rupiah dinilai masih dipengaruhi sentimen negatif yang muncul setelah pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. Keputusan yang diumumkan secara mendadak itu memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap kesinambungan kebijakan moneter dan independensi bank sentral.
Menurut laporan Bloomberg Technoz, di kawasan Asia, rupiah bahkan menjadi mata uang dengan kinerja terburuk pada perdagangan hari ini. Pelemahan juga dialami sejumlah mata uang lain seperti dolar Taiwan, dolar Singapura, ringgit Malaysia, yuan China, yuan offshore, dan yen Jepang.
Sebaliknya, won Korea Selatan mencatat penguatan, diikuti rupee India, peso Filipina, serta dolar Hong Kong.
Menariknya, pelemahan mata uang Asia kali ini bukan dipicu oleh penguatan dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) justru turun tipis 0,02 persen ke level 101,51, meski masih bertahan di level yang relatif tinggi. Sementara itu, harga minyak dunia juga bergerak melemah dan berada di kisaran US$85,61 per barel pada pukul 15.15 WIB.
Khusus di Indonesia, perhatian investor masih tertuju pada dinamika di Bank Indonesia. Pengunduran diri Perry Warjiyo di tengah masa jabatannya memunculkan ketidakpastian baru di pasar keuangan.
Investor kini menanti kejelasan mengenai sosok pengganti serta arah kebijakan moneter BI ke depan, mengingat kredibilitas dan independensi bank sentral merupakan faktor penting dalam menjaga kepercayaan terhadap aset-aset Indonesia. (**)