
JAKARTA — Konflik di Timur Tengah kembali memanas. Setelah Iran meluncurkan rentetan rudal ke wilayah Israel pada Minggu (7/6/2026), militer Israel membalas dengan serangan udara yang menghantam sejumlah wilayah strategis di Iran pada Senin (8/6/2026) pagi.
Televisi pemerintah Iran melaporkan ledakan terdengar di sedikitnya tiga kota besar, yakni Teheran, Tabriz, dan Isfahan. Laporan tersebut disiarkan melalui kanal resmi media pemerintah Iran di Telegram.
"Beberapa ledakan terdengar di Teheran, Tabriz, dan Isfahan," demikian laporan yang dikutip AFP.

Di saat yang hampir bersamaan, militer Israel mengonfirmasi bahwa Angkatan Udara mereka telah melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer di wilayah barat dan tengah Iran.
"Beberapa waktu yang lalu, Angkatan Udara Israel menyerang sasaran militer milik rezim teror Iran di Iran barat dan tengah," demikian pernyataan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melalui Telegram.
Serangan balasan Israel itu terjadi hanya sehari setelah Iran menembakkan sejumlah rudal ke wilayah Israel. Aksi Teheran tersebut menandai semakin rapuhnya upaya perdamaian yang selama beberapa bulan terakhir diupayakan berbagai pihak.
Sebelum serangan rudal diluncurkan, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menuduh Amerika Serikat dan sekutunya telah merusak komitmen damai yang sebelumnya disepakati. Dalam unggahannya di platform X, Ghalibaf menyebut blokade angkatan laut AS serta dugaan pelanggaran kesepakatan terkait Lebanon sebagai pemicu runtuhnya gencatan senjata.
Ia bahkan memperingatkan bahwa pangkalan militer AS dan aset-aset sekutunya di kawasan Timur Tengah dapat menjadi target serangan.
"Aktivitas militer di Lebanon dan blokade AS yang terus berlanjut membuat pangkalan dan aset Amerika serta rezim di kawasan tersebut menjadi sasaran yang sah," tulis Ghalibaf.
Pernyataan serupa juga disampaikan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Dalam keterangannya kepada media internasional, IRGC menegaskan bahwa serangan rudal yang diluncurkan pada Minggu malam masih berada dalam kerangka kesepakatan yang selama ini berlaku.
"Gencatan senjata tersebut bersyarat di semua lini," tulis IRGC.
Pasukan elite Iran itu juga memperingatkan bahwa serangan yang dilakukan baru sebatas peringatan awal dan dapat ditingkatkan apabila kembali terjadi tindakan yang dianggap sebagai agresi terhadap Iran.
"Operasi malam ini adalah sebuah peringatan, dan jika agresi terulang kembali, respons yang diberikan akan lebih luas," tegas IRGC.
Situasi yang terus memburuk memicu kekhawatiran internasional. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menilai peluncuran rudal Iran hanya akan memperumit jalur diplomasi yang sedang berlangsung.
"Tentu saja tidak akan membantu negosiasi," kata Trump kepada Fox News.
Ketegangan terbaru ini semakin memperbesar risiko konflik terbuka yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. Di tengah upaya diplomasi yang masih berjalan, saling serang antara Iran dan Israel menunjukkan bahwa gencatan senjata yang selama ini dijaga berada di ambang kehancuran. (cnbc)


JAKARTA — Konflik di Timur Tengah kembali memanas. Setelah Iran meluncurkan rentetan rudal ke wilayah Israel pada Minggu (7/6/2026), militer Israel membalas dengan serangan udara yang menghantam sejumlah wilayah strategis di Iran pada Senin (8/6/2026) pagi.
Televisi pemerintah Iran melaporkan ledakan terdengar di sedikitnya tiga kota besar, yakni Teheran, Tabriz, dan Isfahan. Laporan tersebut disiarkan melalui kanal resmi media pemerintah Iran di Telegram.
"Beberapa ledakan terdengar di Teheran, Tabriz, dan Isfahan," demikian laporan yang dikutip AFP.
Di saat yang hampir bersamaan, militer Israel mengonfirmasi bahwa Angkatan Udara mereka telah melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer di wilayah barat dan tengah Iran.
"Beberapa waktu yang lalu, Angkatan Udara Israel menyerang sasaran militer milik rezim teror Iran di Iran barat dan tengah," demikian pernyataan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melalui Telegram.
Serangan balasan Israel itu terjadi hanya sehari setelah Iran menembakkan sejumlah rudal ke wilayah Israel. Aksi Teheran tersebut menandai semakin rapuhnya upaya perdamaian yang selama beberapa bulan terakhir diupayakan berbagai pihak.
Sebelum serangan rudal diluncurkan, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menuduh Amerika Serikat dan sekutunya telah merusak komitmen damai yang sebelumnya disepakati. Dalam unggahannya di platform X, Ghalibaf menyebut blokade angkatan laut AS serta dugaan pelanggaran kesepakatan terkait Lebanon sebagai pemicu runtuhnya gencatan senjata.
Ia bahkan memperingatkan bahwa pangkalan militer AS dan aset-aset sekutunya di kawasan Timur Tengah dapat menjadi target serangan.
"Aktivitas militer di Lebanon dan blokade AS yang terus berlanjut membuat pangkalan dan aset Amerika serta rezim di kawasan tersebut menjadi sasaran yang sah," tulis Ghalibaf.
Pernyataan serupa juga disampaikan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Dalam keterangannya kepada media internasional, IRGC menegaskan bahwa serangan rudal yang diluncurkan pada Minggu malam masih berada dalam kerangka kesepakatan yang selama ini berlaku.
"Gencatan senjata tersebut bersyarat di semua lini," tulis IRGC.
Pasukan elite Iran itu juga memperingatkan bahwa serangan yang dilakukan baru sebatas peringatan awal dan dapat ditingkatkan apabila kembali terjadi tindakan yang dianggap sebagai agresi terhadap Iran.
"Operasi malam ini adalah sebuah peringatan, dan jika agresi terulang kembali, respons yang diberikan akan lebih luas," tegas IRGC.
Situasi yang terus memburuk memicu kekhawatiran internasional. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menilai peluncuran rudal Iran hanya akan memperumit jalur diplomasi yang sedang berlangsung.
"Tentu saja tidak akan membantu negosiasi," kata Trump kepada Fox News.
Ketegangan terbaru ini semakin memperbesar risiko konflik terbuka yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. Di tengah upaya diplomasi yang masih berjalan, saling serang antara Iran dan Israel menunjukkan bahwa gencatan senjata yang selama ini dijaga berada di ambang kehancuran. (cnbc)