logo
Blackout Sumatera, Ditlantas Polda Riau Siaga Penuh: Patroli Blue Light Ditingka Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Sumatera Blackout! Pekanbaru Gelap Gulita, Diduga Gangguan Jaringan 275 kV di Mu Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Nekat Haji Lewat Jalur Nonprosedural, 6 WNI Dicegah Berangkat di Bandara SSK II Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Tersungkur ke Rp17.673 per Dolar AS, Jadi Mata Uang Terlemah Sepekan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Ratusan Mahasiswa Demo Polda Riau, Desak Penindakan Mafia BBM Ilegal dan Copot K Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Polresta Pekanbaru Dalami Kasus Dugaan Pengeroyokan di SMK Pertanian, Pihak Seko Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Toko Elektronik Online Palsu Tipu Korban Rp154 Juta, Polresta Pekanbaru Bekuk Pe Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Trump dan Netanyahu Perang Mulut di Telepon Gara-gara AS Tunda Serangan Besar ke Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / Keuangan
Rupiah Terpuruk Rp17.668 per Dolar AS, Pasar Dibayangi Konflik Timur Tengah
Ilustrasi. Rupiah terpuruk lagi.
Rupiah Terpuruk Rp17.668 per Dolar AS, Pasar Dibayangi Konflik Timur Tengah
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
18 Mei 2026 | 19:49:53

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada penutupan perdagangan hari ini, Senin (18/5/2026). Mata uang Garuda terpuruk ke posisi Rp17.668 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.597 per dolar AS.

Pengamat ekonomi mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap inflasi AS yang didorong kenaikan harga minyak dunia.

Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan pasar.

“Prospek kebijakan moneter ketat The Fed semakin menguat. Harga energi yang tinggi memperlambat proses disinflasi dan membuat inflasi semakin menjauh dari target 2 persen The Fed,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Senin (18/5/2026).

iklan-view

Tekanan terhadap pasar keuangan global juga dipicu memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Upaya meredakan konflik AS-Israel dengan Iran dinilai mandek setelah pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah di Uni Emirat Arab (UEA) diserang.

Presiden AS Donald Trump bahkan disebut tengah mempertimbangkan opsi militer terhadap Iran. Sementara itu, pertemuan tingkat tinggi Trump dengan Presiden China Xi Jinping pekan lalu belum menghasilkan sinyal positif untuk meredakan konflik kawasan.

Dilansir dari suarasurabaya.net, situasi tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap potensi eskalasi perang di Timur Tengah. Pemerintah UEA juga tengah menyelidiki sumber serangan terhadap fasilitas nuklir Barakah dan menegaskan memiliki hak untuk merespons aksi yang disebut sebagai serangan teroris itu.

Dari dalam negeri, pelaku pasar turut menyoroti pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang menyebut masyarakat desa tidak menggunakan dolar AS sehingga pelemahan rupiah dinilai tidak terlalu berdampak langsung bagi mereka.

Sementara itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari yang sama juga tercatat melemah ke level Rp17.666 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.496 per dolar AS. (ssn)

Home / Ekonomi
Rupiah Terpuruk Rp17.668 per Dolar AS, Pasar Dibayangi Konflik Timur Tengah
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
Rubrik: ekonomi | 18 Mei 2026 | 19:49:53
Rupiah Terpuruk Rp17.668 per Dolar AS, Pasar Dibayangi Konflik Timur Tengah
Ilustrasi. Rupiah terpuruk lagi.

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada penutupan perdagangan hari ini, Senin (18/5/2026). Mata uang Garuda terpuruk ke posisi Rp17.668 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.597 per dolar AS.

Pengamat ekonomi mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap inflasi AS yang didorong kenaikan harga minyak dunia.

Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan pasar.

“Prospek kebijakan moneter ketat The Fed semakin menguat. Harga energi yang tinggi memperlambat proses disinflasi dan membuat inflasi semakin menjauh dari target 2 persen The Fed,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Senin (18/5/2026).

Tekanan terhadap pasar keuangan global juga dipicu memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Upaya meredakan konflik AS-Israel dengan Iran dinilai mandek setelah pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah di Uni Emirat Arab (UEA) diserang.

Presiden AS Donald Trump bahkan disebut tengah mempertimbangkan opsi militer terhadap Iran. Sementara itu, pertemuan tingkat tinggi Trump dengan Presiden China Xi Jinping pekan lalu belum menghasilkan sinyal positif untuk meredakan konflik kawasan.

Dilansir dari suarasurabaya.net, situasi tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap potensi eskalasi perang di Timur Tengah. Pemerintah UEA juga tengah menyelidiki sumber serangan terhadap fasilitas nuklir Barakah dan menegaskan memiliki hak untuk merespons aksi yang disebut sebagai serangan teroris itu.

Dari dalam negeri, pelaku pasar turut menyoroti pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang menyebut masyarakat desa tidak menggunakan dolar AS sehingga pelemahan rupiah dinilai tidak terlalu berdampak langsung bagi mereka.

Sementara itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari yang sama juga tercatat melemah ke level Rp17.666 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.496 per dolar AS. (ssn)