logo
Blackout Sumatera, Ditlantas Polda Riau Siaga Penuh: Patroli Blue Light Ditingka Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Sumatera Blackout! Pekanbaru Gelap Gulita, Diduga Gangguan Jaringan 275 kV di Mu Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Nekat Haji Lewat Jalur Nonprosedural, 6 WNI Dicegah Berangkat di Bandara SSK II Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Tersungkur ke Rp17.673 per Dolar AS, Jadi Mata Uang Terlemah Sepekan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Ratusan Mahasiswa Demo Polda Riau, Desak Penindakan Mafia BBM Ilegal dan Copot K Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Polresta Pekanbaru Dalami Kasus Dugaan Pengeroyokan di SMK Pertanian, Pihak Seko Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Toko Elektronik Online Palsu Tipu Korban Rp154 Juta, Polresta Pekanbaru Bekuk Pe Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Trump dan Netanyahu Perang Mulut di Telepon Gara-gara AS Tunda Serangan Besar ke Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / Keuangan
Rupiah Melemah Tajam di Awal Perdagangan, Dekati Titik Terlemah Sepanjang Sejarah
Ilustrasi. Pagi ini, Selasa (19/5/2026), rupiah kembali melemah bahkan mendekati titik terendah sepanjang sejarah.
Rupiah Melemah Tajam di Awal Perdagangan, Dekati Titik Terlemah Sepanjang Sejarah
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
19 Mei 2026 | 09:39:43

JAKARTA — Tekanan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin berat pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Mata uang Garuda bahkan kembali menembus level psikologis baru dan mendekati titik terlemah sepanjang sejarah.

Berdasarkan data Refinitiv hingga pukul 09.13 WIB, rupiah tercatat melemah 0,34 persen ke posisi Rp17.700 per dolar AS.

Pelemahan tersebut sudah terlihat sejak awal perdagangan. Saat pembukaan pasar pagi, rupiah berada di level Rp17.650 per dolar AS atau turun sekitar 0,06 persen dibanding perdagangan sebelumnya.

Menariknya, tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah pelemahan indeks dolar AS (DXY). Indeks dolar tercatat turun 0,11 persen ke level 99,094. Kondisi ini menunjukkan tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi sentimen domestik dan kekhawatiran pasar terhadap dinamika global.

iklan-view

Pelaku pasar saat ini masih mencermati sejumlah faktor penting, mulai dari pelaksanaan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang dimulai hari ini hingga perkembangan harga minyak dunia dan memanasnya konflik Iran di kawasan Timur Tengah.

Kombinasi sentimen eksternal dan ketidakpastian pasar dinilai membuat tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek. (cnbc)

Home / Ekonomi
Rupiah Melemah Tajam di Awal Perdagangan, Dekati Titik Terlemah Sepanjang Sejarah
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
Rubrik: ekonomi | 19 Mei 2026 | 09:39:43
Rupiah Melemah Tajam di Awal Perdagangan, Dekati Titik Terlemah Sepanjang Sejarah
Ilustrasi. Pagi ini, Selasa (19/5/2026), rupiah kembali melemah bahkan mendekati titik terendah sepanjang sejarah.

JAKARTA — Tekanan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin berat pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Mata uang Garuda bahkan kembali menembus level psikologis baru dan mendekati titik terlemah sepanjang sejarah.

Berdasarkan data Refinitiv hingga pukul 09.13 WIB, rupiah tercatat melemah 0,34 persen ke posisi Rp17.700 per dolar AS.

Pelemahan tersebut sudah terlihat sejak awal perdagangan. Saat pembukaan pasar pagi, rupiah berada di level Rp17.650 per dolar AS atau turun sekitar 0,06 persen dibanding perdagangan sebelumnya.

Menariknya, tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah pelemahan indeks dolar AS (DXY). Indeks dolar tercatat turun 0,11 persen ke level 99,094. Kondisi ini menunjukkan tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi sentimen domestik dan kekhawatiran pasar terhadap dinamika global.

Pelaku pasar saat ini masih mencermati sejumlah faktor penting, mulai dari pelaksanaan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang dimulai hari ini hingga perkembangan harga minyak dunia dan memanasnya konflik Iran di kawasan Timur Tengah.

Kombinasi sentimen eksternal dan ketidakpastian pasar dinilai membuat tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek. (cnbc)