logo
Blackout Sumatera, Ditlantas Polda Riau Siaga Penuh: Patroli Blue Light Ditingka Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Sumatera Blackout! Pekanbaru Gelap Gulita, Diduga Gangguan Jaringan 275 kV di Mu Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Nekat Haji Lewat Jalur Nonprosedural, 6 WNI Dicegah Berangkat di Bandara SSK II Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Tersungkur ke Rp17.673 per Dolar AS, Jadi Mata Uang Terlemah Sepekan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Ratusan Mahasiswa Demo Polda Riau, Desak Penindakan Mafia BBM Ilegal dan Copot K Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Polresta Pekanbaru Dalami Kasus Dugaan Pengeroyokan di SMK Pertanian, Pihak Seko Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Toko Elektronik Online Palsu Tipu Korban Rp154 Juta, Polresta Pekanbaru Bekuk Pe Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Trump dan Netanyahu Perang Mulut di Telepon Gara-gara AS Tunda Serangan Besar ke Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / BUDAYA

Para pegiat budaya Inhil usai diskusi bertema “Pelestarian dan Dokumentasi Sastra Lisan Dodoi Anakku Sayang Masyarakat Melayu Indragiri Hilir” yang digelar di wilayah Concong Luar, Inhil. (Foto: Harezia)
"Dodoi Anakku Sayang" Terancam Punah, Pegiat Budaya Inhil Bergerak Selamatkan Warisan Melayu
Editor: Arya Mahendra | Penulis: harezia rayhan fadhli
20 Mei 2026 | 14:20:38

INHIL – Upaya menyelamatkan warisan budaya Melayu terus dilakukan para pegiat budaya di Kabupaten Indragiri Hilir. Salah satunya melalui diskusi bertema “Pelestarian dan Dokumentasi Sastra Lisan Dodoi Anakku Sayang Masyarakat Melayu Indragiri Hilir” yang digelar di wilayah Concong Luar beberapa waktu yang lalu.

Kegiatan ini menjadi langkah penting dalam mendokumentasikan tradisi lisan Melayu yang mulai jarang dilantunkan di tengah masyarakat. Dodoi Anakku Sayang selama ini dikenal sebagai nyanyian pengantar tidur anak yang diwariskan secara turun-temurun dalam keluarga Melayu.

Dalam diskusi tersebut hadir sejumlah maestro pelantun Dodoi Anakku Sayang, yakni Anita Thorsia, Suryanti, dan Maimunah. Turut hadir Ketua Penanggung Jawab Program, Redovan Jamil, S.Pd., M.Pd., yang menyoroti pentingnya menjaga tradisi lisan sebagai bagian dari identitas budaya Melayu.

Menurut Redovan, Dodoi Anakku Sayang bukan sekadar lagu nina bobo. Di dalam setiap baitnya tersimpan doa, kasih sayang, nasihat, hingga nilai religius yang ditanamkan orang tua kepada anak sejak usia dini.

iklan-view

“Dulu masyarakat Melayu mendidik anak melalui syair, pantun, dan nyanyian yang penuh pesan moral. Namun sekarang, penutur dan pelantun Dodoi Anakku Sayang semakin sulit ditemukan. Karena itu, pelestarian dan dokumentasi menjadi langkah yang mendesak,” ujarnya.

Ia menambahkan, tradisi tersebut juga memiliki fungsi emosional karena menjadi media kedekatan antara ibu dan anak. Selain itu, nilai spiritual dan pendidikan yang terkandung di dalamnya dinilai sangat relevan untuk diwariskan kepada generasi muda.

Redovan berharap, ke depan Dodoi Anakku Sayang dapat diusulkan sebagai Warisan Budaya Takbenda agar memperoleh pengakuan lebih luas sekaligus memperkuat identitas budaya Melayu Indragiri Hilir.

Apresiasi terhadap kegiatan itu juga datang dari Camat Concong, Ahmad Bahrin, S.KM., M.H. Ia mengaku memiliki kedekatan emosional dengan nyanyian tersebut karena pernah didodoi oleh orang tuanya saat kecil.

“Saya masih ingat beberapa bait dan nadanya. Tradisi seperti ini jangan sampai hilang karena merupakan bagian dari jati diri masyarakat Melayu,” katanya.

Senada dengan itu, Lurah Concong Luar, Muchlis, S.E., menilai pelestarian sastra lisan daerah perlu terus digencarkan. Menurutnya, Kecamatan Concong masih memiliki banyak tradisi budaya yang harus dijaga, seperti manongkah kerang hingga tepung tawar.

Secara ilmiah, Dodoi Anakku Sayang merupakan bagian dari tradisi lisan Melayu yang hidup melalui ingatan kolektif masyarakat. Nyanyian ini memiliki ciri khas berupa irama monoton, pengulangan bunyi dan kata, serta struktur lirik yang fleksibel sehingga memungkinkan variasi dalam setiap pelantunan.

Bahasa yang digunakan umumnya berasal dari dialek Melayu setempat, menjadikan nyanyian ini sebagai representasi identitas lokal masyarakat Melayu Indragiri Hilir.

Tak hanya itu, Dodoi Anakku Sayang juga sarat nilai religiusitas melalui doa-doa kebaikan, zikir, dan pesan moral keislaman. Karena itulah, tradisi ini dipandang bukan hanya sebagai lagu pengantar tidur, tetapi juga media pembentukan karakter dan pewarisan nilai budaya.

Diskusi tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pelestarian sastra lisan bukan hanya menjaga sebuah lagu lama, melainkan merawat ingatan kolektif, nilai, dan marwah budaya Melayu agar tetap hidup di tengah arus modernisasi. (are)

Home / News
"Dodoi Anakku Sayang" Terancam Punah, Pegiat Budaya Inhil Bergerak Selamatkan Warisan Melayu
Editor: Arya Mahendra | Penulis: harezia rayhan fadhli
Rubrik: news | 20 Mei 2026 | 14:20:38
"Dodoi Anakku Sayang" Terancam Punah, Pegiat Budaya Inhil Bergerak Selamatkan Warisan Melayu
Para pegiat budaya Inhil usai diskusi bertema “Pelestarian dan Dokumentasi Sastra Lisan Dodoi Anakku Sayang Masyarakat Melayu Indragiri Hilir” yang digelar di wilayah Concong Luar, Inhil. (Foto: Harezia)

INHIL – Upaya menyelamatkan warisan budaya Melayu terus dilakukan para pegiat budaya di Kabupaten Indragiri Hilir. Salah satunya melalui diskusi bertema “Pelestarian dan Dokumentasi Sastra Lisan Dodoi Anakku Sayang Masyarakat Melayu Indragiri Hilir” yang digelar di wilayah Concong Luar beberapa waktu yang lalu.

Kegiatan ini menjadi langkah penting dalam mendokumentasikan tradisi lisan Melayu yang mulai jarang dilantunkan di tengah masyarakat. Dodoi Anakku Sayang selama ini dikenal sebagai nyanyian pengantar tidur anak yang diwariskan secara turun-temurun dalam keluarga Melayu.

Dalam diskusi tersebut hadir sejumlah maestro pelantun Dodoi Anakku Sayang, yakni Anita Thorsia, Suryanti, dan Maimunah. Turut hadir Ketua Penanggung Jawab Program, Redovan Jamil, S.Pd., M.Pd., yang menyoroti pentingnya menjaga tradisi lisan sebagai bagian dari identitas budaya Melayu.

Menurut Redovan, Dodoi Anakku Sayang bukan sekadar lagu nina bobo. Di dalam setiap baitnya tersimpan doa, kasih sayang, nasihat, hingga nilai religius yang ditanamkan orang tua kepada anak sejak usia dini.

“Dulu masyarakat Melayu mendidik anak melalui syair, pantun, dan nyanyian yang penuh pesan moral. Namun sekarang, penutur dan pelantun Dodoi Anakku Sayang semakin sulit ditemukan. Karena itu, pelestarian dan dokumentasi menjadi langkah yang mendesak,” ujarnya.

Ia menambahkan, tradisi tersebut juga memiliki fungsi emosional karena menjadi media kedekatan antara ibu dan anak. Selain itu, nilai spiritual dan pendidikan yang terkandung di dalamnya dinilai sangat relevan untuk diwariskan kepada generasi muda.

Redovan berharap, ke depan Dodoi Anakku Sayang dapat diusulkan sebagai Warisan Budaya Takbenda agar memperoleh pengakuan lebih luas sekaligus memperkuat identitas budaya Melayu Indragiri Hilir.

Apresiasi terhadap kegiatan itu juga datang dari Camat Concong, Ahmad Bahrin, S.KM., M.H. Ia mengaku memiliki kedekatan emosional dengan nyanyian tersebut karena pernah didodoi oleh orang tuanya saat kecil.

“Saya masih ingat beberapa bait dan nadanya. Tradisi seperti ini jangan sampai hilang karena merupakan bagian dari jati diri masyarakat Melayu,” katanya.

Senada dengan itu, Lurah Concong Luar, Muchlis, S.E., menilai pelestarian sastra lisan daerah perlu terus digencarkan. Menurutnya, Kecamatan Concong masih memiliki banyak tradisi budaya yang harus dijaga, seperti manongkah kerang hingga tepung tawar.

Secara ilmiah, Dodoi Anakku Sayang merupakan bagian dari tradisi lisan Melayu yang hidup melalui ingatan kolektif masyarakat. Nyanyian ini memiliki ciri khas berupa irama monoton, pengulangan bunyi dan kata, serta struktur lirik yang fleksibel sehingga memungkinkan variasi dalam setiap pelantunan.

Bahasa yang digunakan umumnya berasal dari dialek Melayu setempat, menjadikan nyanyian ini sebagai representasi identitas lokal masyarakat Melayu Indragiri Hilir.

Tak hanya itu, Dodoi Anakku Sayang juga sarat nilai religiusitas melalui doa-doa kebaikan, zikir, dan pesan moral keislaman. Karena itulah, tradisi ini dipandang bukan hanya sebagai lagu pengantar tidur, tetapi juga media pembentukan karakter dan pewarisan nilai budaya.

Diskusi tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pelestarian sastra lisan bukan hanya menjaga sebuah lagu lama, melainkan merawat ingatan kolektif, nilai, dan marwah budaya Melayu agar tetap hidup di tengah arus modernisasi. (are)