
PEKANBARU– Sejumlah penerbangan menuju Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru mengalami gangguan pada Sabtu (13/6/2026) pagi akibat kabut tebal yang menurunkan jarak pandang secara signifikan. Kondisi tersebut menyebabkan satu pesawat harus dialihkan ke bandara lain, sementara beberapa penerbangan lainnya tertunda mendarat.
Executive General Manager (EGM) Bandara SSK II Pekanbaru, Achmad, mengatakan jarak pandang mendatar (visibility) pada pagi hari hanya mencapai sekitar 1,5 kilometer. Kondisi itu dipicu oleh fenomena cuaca permukaan berupa mist atau halimun yang umum terjadi saat tingkat kelembapan udara tinggi.
"Jarak pandang mendatar terbatas hanya 1,5 kilometer. Hal ini disebabkan oleh adanya fenomena cuaca permukaan berupa BR atau mist (halimun). Kondisi ini cukup sering terjadi di Pekanbaru pada pagi hari akibat tingginya kelembapan udara," kata Achmad, Sabtu.
Akibat keterbatasan jarak pandang tersebut, sejumlah maskapai harus melakukan penyesuaian operasional demi menjaga keselamatan penerbangan.

Penerbangan Lion Air JT 292 rute Jakarta (CGK)–Pekanbaru (PKU) menjadi salah satu yang terdampak paling signifikan. Pesawat tersebut tidak dapat langsung mendarat di Bandara SSK II dan harus dialihkan (divert) ke Bandara Internasional Minangkabau, Padang.
Meski demikian, kondisi tersebut hanya berlangsung sementara. Setelah cuaca membaik, pesawat yang sempat dialihkan itu dijadwalkan kembali melanjutkan penerbangan menuju Pekanbaru.
"Untuk Lion Air JT 292 yang sempat divert ke Padang, saat ini sudah boarding untuk terbang menuju Pekanbaru," ujar Achmad.
Selain Lion Air, penerbangan Citilink rute Jakarta–Pekanbaru dan AirAsia rute Kuala Lumpur–Pekanbaru juga mengalami keterlambatan pendaratan. Kedua pesawat tersebut sempat melakukan holding atau menunggu di udara di atas wilayah Pekanbaru sambil menantikan kondisi cuaca yang lebih aman untuk melakukan pendekatan ke landasan.
Menurut Achmad, langkah holding dilakukan sebagai prosedur standar penerbangan ketika kondisi cuaca belum memenuhi persyaratan keselamatan untuk pendaratan.
"Untuk Citilink dari Jakarta dan AirAsia dari Kuala Lumpur sempat holding di atas Kota Pekanbaru. Namun saat ini keduanya sudah berhasil mendarat dengan aman," jelasnya.
Gangguan operasional akibat cuaca tersebut berlangsung pada jam-jam awal aktivitas penerbangan di Bandara SSK II. Namun, seiring meningkatnya intensitas cahaya matahari dan berkurangnya kelembapan udara, kondisi kabut mulai menghilang sehingga jarak pandang kembali normal.
Perbaikan cuaca tersebut memungkinkan aktivitas penerbangan kembali berjalan sebagaimana mestinya tanpa hambatan berarti.
"Saat ini jarak pandang sudah bagus dan aktivitas penerbangan kembali normal," kata Achmad.
Berdampak Terhadap Penumpang
Gangguan cuaca yang terjadi pada pagi hari menyebabkan sebagian penumpang mengalami keterlambatan kedatangan. Namun hingga siang hari tidak terdapat laporan pembatalan penerbangan akibat fenomena tersebut.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa faktor cuaca masih menjadi salah satu tantangan utama dalam operasional penerbangan, terutama di wilayah dengan tingkat kelembapan udara tinggi seperti Pekanbaru. Meski demikian, penerapan prosedur keselamatan seperti holding dan pengalihan penerbangan dilakukan untuk memastikan keamanan penumpang dan awak pesawat tetap terjaga.
Bandara SSK II memastikan seluruh operasional penerbangan saat ini telah kembali normal dan maskapai melanjutkan jadwal penerbangan sesuai kondisi cuaca yang telah membaik. (rac)





PEKANBARU– Sejumlah penerbangan menuju Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru mengalami gangguan pada Sabtu (13/6/2026) pagi akibat kabut tebal yang menurunkan jarak pandang secara signifikan. Kondisi tersebut menyebabkan satu pesawat harus dialihkan ke bandara lain, sementara beberapa penerbangan lainnya tertunda mendarat.
Executive General Manager (EGM) Bandara SSK II Pekanbaru, Achmad, mengatakan jarak pandang mendatar (visibility) pada pagi hari hanya mencapai sekitar 1,5 kilometer. Kondisi itu dipicu oleh fenomena cuaca permukaan berupa mist atau halimun yang umum terjadi saat tingkat kelembapan udara tinggi.
"Jarak pandang mendatar terbatas hanya 1,5 kilometer. Hal ini disebabkan oleh adanya fenomena cuaca permukaan berupa BR atau mist (halimun). Kondisi ini cukup sering terjadi di Pekanbaru pada pagi hari akibat tingginya kelembapan udara," kata Achmad, Sabtu.
Akibat keterbatasan jarak pandang tersebut, sejumlah maskapai harus melakukan penyesuaian operasional demi menjaga keselamatan penerbangan.
Penerbangan Lion Air JT 292 rute Jakarta (CGK)–Pekanbaru (PKU) menjadi salah satu yang terdampak paling signifikan. Pesawat tersebut tidak dapat langsung mendarat di Bandara SSK II dan harus dialihkan (divert) ke Bandara Internasional Minangkabau, Padang.
Meski demikian, kondisi tersebut hanya berlangsung sementara. Setelah cuaca membaik, pesawat yang sempat dialihkan itu dijadwalkan kembali melanjutkan penerbangan menuju Pekanbaru.
"Untuk Lion Air JT 292 yang sempat divert ke Padang, saat ini sudah boarding untuk terbang menuju Pekanbaru," ujar Achmad.
Selain Lion Air, penerbangan Citilink rute Jakarta–Pekanbaru dan AirAsia rute Kuala Lumpur–Pekanbaru juga mengalami keterlambatan pendaratan. Kedua pesawat tersebut sempat melakukan holding atau menunggu di udara di atas wilayah Pekanbaru sambil menantikan kondisi cuaca yang lebih aman untuk melakukan pendekatan ke landasan.
Menurut Achmad, langkah holding dilakukan sebagai prosedur standar penerbangan ketika kondisi cuaca belum memenuhi persyaratan keselamatan untuk pendaratan.
"Untuk Citilink dari Jakarta dan AirAsia dari Kuala Lumpur sempat holding di atas Kota Pekanbaru. Namun saat ini keduanya sudah berhasil mendarat dengan aman," jelasnya.
Gangguan operasional akibat cuaca tersebut berlangsung pada jam-jam awal aktivitas penerbangan di Bandara SSK II. Namun, seiring meningkatnya intensitas cahaya matahari dan berkurangnya kelembapan udara, kondisi kabut mulai menghilang sehingga jarak pandang kembali normal.
Perbaikan cuaca tersebut memungkinkan aktivitas penerbangan kembali berjalan sebagaimana mestinya tanpa hambatan berarti.
"Saat ini jarak pandang sudah bagus dan aktivitas penerbangan kembali normal," kata Achmad.
Berdampak Terhadap Penumpang
Gangguan cuaca yang terjadi pada pagi hari menyebabkan sebagian penumpang mengalami keterlambatan kedatangan. Namun hingga siang hari tidak terdapat laporan pembatalan penerbangan akibat fenomena tersebut.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa faktor cuaca masih menjadi salah satu tantangan utama dalam operasional penerbangan, terutama di wilayah dengan tingkat kelembapan udara tinggi seperti Pekanbaru. Meski demikian, penerapan prosedur keselamatan seperti holding dan pengalihan penerbangan dilakukan untuk memastikan keamanan penumpang dan awak pesawat tetap terjaga.
Bandara SSK II memastikan seluruh operasional penerbangan saat ini telah kembali normal dan maskapai melanjutkan jadwal penerbangan sesuai kondisi cuaca yang telah membaik. (rac)