
JAKARTA – Politik Inggris kembali diguncang. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer resmi mengundurkan diri dari jabatan pemimpin Partai Buruh pada Senin (22/6/2026), keputusan yang secara otomatis mengakhiri masa jabatannya sebagai perdana menteri.
Pengunduran diri Starmer menambah daftar panjang pergantian pemimpin di Inggris. Ia menjadi perdana menteri keempat yang lengser dalam kurun lima tahun terakhir, sekaligus meninggalkan Downing Street hanya sehari menjelang peringatan 10 tahun referendum Brexit pada 23 Juni.
Dalam sistem politik Inggris, jabatan perdana menteri dipegang oleh pemimpin partai yang menguasai mayoritas kursi di parlemen. Karena itu, mundurnya Starmer dari pucuk pimpinan Partai Buruh otomatis membuatnya kehilangan kursi kepala pemerintahan.
Dalam pidato perpisahannya di Downing Street, Starmer mengaku keputusan tersebut diambil setelah mendengar aspirasi dan penilaian dari internal partainya.

Ia menyebut dua tahun memimpin pemerintahan sebagai salah satu pencapaian terbesar dalam hidupnya, terutama karena berhasil membawa Partai Buruh kembali berkuasa setelah 14 tahun berada di luar pemerintahan.
Namun, Starmer mengakui bahwa dinamika politik telah berubah.
"Pertanyaan yang kini dihadapi partai bukan lagi siapa yang mampu membawa Partai Buruh kembali berkuasa. Pertanyaan yang muncul sekarang adalah apakah saya masih orang yang tepat untuk memimpin menuju pemilu berikutnya," kata Starmer.
Menurutnya, jawaban yang disampaikan mayoritas anggota parlemen Partai Buruh sudah cukup jelas. Karena itu, ia memilih menerima keputusan tersebut dan mundur demi kepentingan partai serta negara.
"Saya selalu berusaha menempatkan kepentingan negara di atas segalanya. Karena itu saya memutuskan mengundurkan diri sebagai pemimpin Partai Buruh," ujarnya.
Tertekan dari Dalam Partai
Keputusan Starmer mundur tidak datang secara tiba-tiba. Dalam beberapa bulan terakhir, ia menghadapi tekanan yang semakin besar dari internal Partai Buruh akibat merosotnya tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahannya.
Situasi semakin sulit setelah kemenangan telak Andy Burnham dalam pemilu sela di daerah pemilihan Makerfield, Inggris barat laut. Hasil tersebut dianggap sebagai sinyal kuat bahwa akar rumput Partai Buruh menginginkan perubahan arah kepemimpinan.
Sejumlah tokoh senior partai, termasuk Menteri Luar Negeri Yvette Cooper, dilaporkan mulai mendorong pergantian kepemimpinan setelah kemenangan Burnham tersebut.
Posisi Starmer juga sempat terguncang oleh kontroversi yang menyeret nama Duta Besar Inggris untuk Amerika Serikat, Peter Mandelson. Penunjukan Mandelson oleh Starmer menuai kritik karena namanya pernah muncul dalam dokumen terkait kasus Jeffrey Epstein.
Andy Burnham Muncul Sebagai Favorit
Mundurnya Starmer membuka jalan bagi Andy Burnham untuk menjadi kandidat terkuat pengganti pemimpin Partai Buruh.
Burnham, yang saat ini menjabat Wali Kota Greater Manchester, telah lama dianggap sebagai salah satu figur paling populer di partai. Dalam pidato kemenangan pemilu sela, ia bahkan menyebut Partai Buruh sedang berada di "kesempatan terakhir untuk berubah."
Jika berhasil memenangkan kontestasi kepemimpinan partai, Burnham berpeluang besar langsung menjadi perdana menteri karena Partai Buruh masih menguasai mayoritas kursi di parlemen.
Mantan menteri era Tony Blair dan Gordon Brown itu juga dinilai berhasil memperkuat posisinya setelah mengalahkan kandidat Reform UK, partai populis sayap kanan pimpinan Nigel Farage yang menjadi motor utama Brexit.
Kemenangan Burnham semakin signifikan karena terjadi di wilayah yang sebelumnya menunjukkan dukungan kuat kepada Reform UK dalam pemilu lokal.
Popularitas Starmer Terjun Bebas
Survei terbaru menunjukkan tingkat popularitas Starmer berada di titik rendah. Data YouGov mencatat hanya sekitar 19 persen warga Inggris yang masih memiliki pandangan positif terhadap dirinya.
Angka tersebut menempatkannya di luar jajaran tokoh paling populer Partai Buruh dan memperkuat spekulasi bahwa pergantian kepemimpinan hanya tinggal menunggu waktu.
Kini, perhatian publik Inggris tertuju pada proses pemilihan pemimpin baru Partai Buruh yang akan menentukan siapa penghuni berikutnya Downing Street dan arah politik Inggris pasca-Starmer. (**)
Sumber: CNNIndonesia





JAKARTA – Politik Inggris kembali diguncang. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer resmi mengundurkan diri dari jabatan pemimpin Partai Buruh pada Senin (22/6/2026), keputusan yang secara otomatis mengakhiri masa jabatannya sebagai perdana menteri.
Pengunduran diri Starmer menambah daftar panjang pergantian pemimpin di Inggris. Ia menjadi perdana menteri keempat yang lengser dalam kurun lima tahun terakhir, sekaligus meninggalkan Downing Street hanya sehari menjelang peringatan 10 tahun referendum Brexit pada 23 Juni.
Dalam sistem politik Inggris, jabatan perdana menteri dipegang oleh pemimpin partai yang menguasai mayoritas kursi di parlemen. Karena itu, mundurnya Starmer dari pucuk pimpinan Partai Buruh otomatis membuatnya kehilangan kursi kepala pemerintahan.
Dalam pidato perpisahannya di Downing Street, Starmer mengaku keputusan tersebut diambil setelah mendengar aspirasi dan penilaian dari internal partainya.
Ia menyebut dua tahun memimpin pemerintahan sebagai salah satu pencapaian terbesar dalam hidupnya, terutama karena berhasil membawa Partai Buruh kembali berkuasa setelah 14 tahun berada di luar pemerintahan.
Namun, Starmer mengakui bahwa dinamika politik telah berubah.
"Pertanyaan yang kini dihadapi partai bukan lagi siapa yang mampu membawa Partai Buruh kembali berkuasa. Pertanyaan yang muncul sekarang adalah apakah saya masih orang yang tepat untuk memimpin menuju pemilu berikutnya," kata Starmer.
Menurutnya, jawaban yang disampaikan mayoritas anggota parlemen Partai Buruh sudah cukup jelas. Karena itu, ia memilih menerima keputusan tersebut dan mundur demi kepentingan partai serta negara.
"Saya selalu berusaha menempatkan kepentingan negara di atas segalanya. Karena itu saya memutuskan mengundurkan diri sebagai pemimpin Partai Buruh," ujarnya.
Tertekan dari Dalam Partai
Keputusan Starmer mundur tidak datang secara tiba-tiba. Dalam beberapa bulan terakhir, ia menghadapi tekanan yang semakin besar dari internal Partai Buruh akibat merosotnya tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahannya.
Situasi semakin sulit setelah kemenangan telak Andy Burnham dalam pemilu sela di daerah pemilihan Makerfield, Inggris barat laut. Hasil tersebut dianggap sebagai sinyal kuat bahwa akar rumput Partai Buruh menginginkan perubahan arah kepemimpinan.
Sejumlah tokoh senior partai, termasuk Menteri Luar Negeri Yvette Cooper, dilaporkan mulai mendorong pergantian kepemimpinan setelah kemenangan Burnham tersebut.
Posisi Starmer juga sempat terguncang oleh kontroversi yang menyeret nama Duta Besar Inggris untuk Amerika Serikat, Peter Mandelson. Penunjukan Mandelson oleh Starmer menuai kritik karena namanya pernah muncul dalam dokumen terkait kasus Jeffrey Epstein.
Andy Burnham Muncul Sebagai Favorit
Mundurnya Starmer membuka jalan bagi Andy Burnham untuk menjadi kandidat terkuat pengganti pemimpin Partai Buruh.
Burnham, yang saat ini menjabat Wali Kota Greater Manchester, telah lama dianggap sebagai salah satu figur paling populer di partai. Dalam pidato kemenangan pemilu sela, ia bahkan menyebut Partai Buruh sedang berada di "kesempatan terakhir untuk berubah."
Jika berhasil memenangkan kontestasi kepemimpinan partai, Burnham berpeluang besar langsung menjadi perdana menteri karena Partai Buruh masih menguasai mayoritas kursi di parlemen.
Mantan menteri era Tony Blair dan Gordon Brown itu juga dinilai berhasil memperkuat posisinya setelah mengalahkan kandidat Reform UK, partai populis sayap kanan pimpinan Nigel Farage yang menjadi motor utama Brexit.
Kemenangan Burnham semakin signifikan karena terjadi di wilayah yang sebelumnya menunjukkan dukungan kuat kepada Reform UK dalam pemilu lokal.
Popularitas Starmer Terjun Bebas
Survei terbaru menunjukkan tingkat popularitas Starmer berada di titik rendah. Data YouGov mencatat hanya sekitar 19 persen warga Inggris yang masih memiliki pandangan positif terhadap dirinya.
Angka tersebut menempatkannya di luar jajaran tokoh paling populer Partai Buruh dan memperkuat spekulasi bahwa pergantian kepemimpinan hanya tinggal menunggu waktu.
Kini, perhatian publik Inggris tertuju pada proses pemilihan pemimpin baru Partai Buruh yang akan menentukan siapa penghuni berikutnya Downing Street dan arah politik Inggris pasca-Starmer. (**)
Sumber: CNNIndonesia