logo
Perang AS-Iran Pecah Lagi, Kedua Negara Saling Serang usai Gencatan Senjata Runt Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi PIALA DUNIA 2026: Wakil Asia Terbelah, Mesir Lolos, Spanyol dan Prancis Perkasa Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Tanggapi Harapan DPRD Riau, Fazar Muhardi: Kita Sedang Jalankan Program Kerja 10 Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Update Harga Emas Antam Sabtu 27 Juni 2026: Naik Rp5.000, Buyback Tembus Rp2,378 Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi BMKG Pantau 17 Hotspot di Riau, Rohil dan Inhu Jadi Wilayah Terbanyak Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Efisiensi Anggaran MBG Jadi Sentimen Positif, Rupiah Berbalik Menguat di Akhir P Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Riau Kebut Penerbitan IPR, 34 Wilayah Pertambangan Rakyat di Kuansing Segera Dil Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pria Tewas Tergantung di Garuda Sakti Teridentifikasi, Polisi Temukan Banyak Kem Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / Pelalawan
Banjir Rendam Pangkalan Kerinci, Warga Soroti Parit yang Menyempit
Ketinggian air di pemukiman rumah warga mencapai 30 centimeter. (Foto: Dikky Kinoy)
Banjir Rendam Pangkalan Kerinci, Warga Soroti Parit yang Menyempit
Editor: Yob Ayrus | Penulis: dikky kinoy
24 Juni 2026 | 13:29:40

PELALAWAN-Hujan deras yang mengguyur Kota Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Rabu (24/6/2026), menyebabkan banjir di sejumlah kawasan permukiman dan ruas jalan. Perumahan PGRI di RW 11 menjadi salah satu wilayah yang terdampak, meski kawasan tersebut selama ini dikenal jarang mengalami genangan.

Banjir mulai menggenangi rumah warga sejak pagi hari. Di RT 06 Perumahan PGRI, ketinggian air dilaporkan mencapai 20 hingga 30 sentimeter. Air tidak hanya menggenangi halaman rumah, tetapi juga masuk ke teras hingga ruang tamu warga.

Kondisi itu membuat warga harus memindahkan barang-barang elektronik dan perabot rumah tangga ke tempat yang lebih aman untuk menghindari kerusakan akibat rendaman air.

Ketua RT 06 Perumahan PGRI, Joko Sarifudin, mengatakan banjir kali ini menjadi peristiwa yang tidak biasa bagi lingkungan mereka. Menurutnya, selama bertahun-tahun kawasan tersebut relatif aman dari genangan meski hujan turun dengan intensitas tinggi.

iklan-view

"Ini pertama kalinya air masuk sampai ke dalam rumah warga. Biasanya tidak pernah seperti ini," kata Joko.

Ia menilai, banjir terjadi karena kapasitas saluran pembuangan air tidak lagi mampu menampung debit air yang datang dari kawasan sekitar, khususnya dari arah BTN lama.

Menurut Joko, kondisi parit yang mengalami pendangkalan dan penyempitan membuat aliran air tidak berjalan normal. Akibatnya, saat hujan deras turun, air meluap ke badan jalan dan masuk ke kawasan permukiman.

"Sudah lama parit ini tidak dibersihkan. Air dari BTN lama cukup besar, sementara saluran yang ada semakin sempit. Akhirnya meluap ke mana-mana," ujarnya.

Pantauan di lapangan menunjukkan genangan tidak hanya terjadi di lingkungan perumahan. Sejumlah ruas jalan di dalam Kota Pangkalan Kerinci juga terendam sehingga mengganggu aktivitas masyarakat dan pengguna jalan.

Hingga siang hari, genangan masih terlihat di beberapa titik. Warga tampak berupaya mempercepat surutnya air dengan membersihkan saluran yang tersumbat sampah dan endapan lumpur di sekitar rumah masing-masing.

Peristiwa ini kembali memunculkan keluhan warga terkait kondisi drainase perkotaan yang dinilai belum mendapat penanganan maksimal. Mereka menilai saluran induk yang menjadi jalur pembuangan utama air hujan membutuhkan normalisasi agar kapasitasnya kembali optimal.

Warga RW 11 berharap pemerintah daerah segera melakukan pengerukan dan pembersihan parit yang selama ini menjadi titik krusial aliran air. Jika tidak segera ditangani, mereka khawatir banjir akan menjadi kejadian rutin setiap kali hujan deras mengguyur wilayah tersebut.

Joko meminta Dinas PUPR dan BPBD Kabupaten Pelalawan turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi saluran yang mengalami penyempitan.

Menurutnya, penanganan darurat saja tidak cukup karena akar persoalan berada pada kapasitas drainase yang terus berkurang akibat sedimentasi.

"Kalau hanya ditangani saat banjir datang, masalahnya tidak akan selesai. Yang dibutuhkan adalah normalisasi parit supaya aliran air lancar kembali," katanya.

Bagi warga, banjir yang kini mulai menjangkau kawasan yang sebelumnya aman menjadi peringatan bahwa persoalan drainase di Pangkalan Kerinci memerlukan perhatian serius. Selain mengancam rumah dan harta benda masyarakat, genangan yang berulang berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi, pendidikan, dan mobilitas warga.

Masyarakat berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret melalui pembersihan dan normalisasi parit induk sehingga risiko banjir dapat ditekan, terutama saat curah hujan tinggi melanda Pangkalan Kerinci. (dik)

Home / News
Banjir Rendam Pangkalan Kerinci, Warga Soroti Parit yang Menyempit
Editor: Yob Ayrus | Penulis: dikky kinoy
Rubrik: news | 24 Juni 2026 | 13:29:40
Banjir Rendam Pangkalan Kerinci, Warga Soroti Parit yang Menyempit
Ketinggian air di pemukiman rumah warga mencapai 30 centimeter. (Foto: Dikky Kinoy)

PELALAWAN-Hujan deras yang mengguyur Kota Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Rabu (24/6/2026), menyebabkan banjir di sejumlah kawasan permukiman dan ruas jalan. Perumahan PGRI di RW 11 menjadi salah satu wilayah yang terdampak, meski kawasan tersebut selama ini dikenal jarang mengalami genangan.

Banjir mulai menggenangi rumah warga sejak pagi hari. Di RT 06 Perumahan PGRI, ketinggian air dilaporkan mencapai 20 hingga 30 sentimeter. Air tidak hanya menggenangi halaman rumah, tetapi juga masuk ke teras hingga ruang tamu warga.

Kondisi itu membuat warga harus memindahkan barang-barang elektronik dan perabot rumah tangga ke tempat yang lebih aman untuk menghindari kerusakan akibat rendaman air.

Ketua RT 06 Perumahan PGRI, Joko Sarifudin, mengatakan banjir kali ini menjadi peristiwa yang tidak biasa bagi lingkungan mereka. Menurutnya, selama bertahun-tahun kawasan tersebut relatif aman dari genangan meski hujan turun dengan intensitas tinggi.

"Ini pertama kalinya air masuk sampai ke dalam rumah warga. Biasanya tidak pernah seperti ini," kata Joko.

Ia menilai, banjir terjadi karena kapasitas saluran pembuangan air tidak lagi mampu menampung debit air yang datang dari kawasan sekitar, khususnya dari arah BTN lama.

Menurut Joko, kondisi parit yang mengalami pendangkalan dan penyempitan membuat aliran air tidak berjalan normal. Akibatnya, saat hujan deras turun, air meluap ke badan jalan dan masuk ke kawasan permukiman.

"Sudah lama parit ini tidak dibersihkan. Air dari BTN lama cukup besar, sementara saluran yang ada semakin sempit. Akhirnya meluap ke mana-mana," ujarnya.

Pantauan di lapangan menunjukkan genangan tidak hanya terjadi di lingkungan perumahan. Sejumlah ruas jalan di dalam Kota Pangkalan Kerinci juga terendam sehingga mengganggu aktivitas masyarakat dan pengguna jalan.

Hingga siang hari, genangan masih terlihat di beberapa titik. Warga tampak berupaya mempercepat surutnya air dengan membersihkan saluran yang tersumbat sampah dan endapan lumpur di sekitar rumah masing-masing.

Peristiwa ini kembali memunculkan keluhan warga terkait kondisi drainase perkotaan yang dinilai belum mendapat penanganan maksimal. Mereka menilai saluran induk yang menjadi jalur pembuangan utama air hujan membutuhkan normalisasi agar kapasitasnya kembali optimal.

Warga RW 11 berharap pemerintah daerah segera melakukan pengerukan dan pembersihan parit yang selama ini menjadi titik krusial aliran air. Jika tidak segera ditangani, mereka khawatir banjir akan menjadi kejadian rutin setiap kali hujan deras mengguyur wilayah tersebut.

Joko meminta Dinas PUPR dan BPBD Kabupaten Pelalawan turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi saluran yang mengalami penyempitan.

Menurutnya, penanganan darurat saja tidak cukup karena akar persoalan berada pada kapasitas drainase yang terus berkurang akibat sedimentasi.

"Kalau hanya ditangani saat banjir datang, masalahnya tidak akan selesai. Yang dibutuhkan adalah normalisasi parit supaya aliran air lancar kembali," katanya.

Bagi warga, banjir yang kini mulai menjangkau kawasan yang sebelumnya aman menjadi peringatan bahwa persoalan drainase di Pangkalan Kerinci memerlukan perhatian serius. Selain mengancam rumah dan harta benda masyarakat, genangan yang berulang berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi, pendidikan, dan mobilitas warga.

Masyarakat berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret melalui pembersihan dan normalisasi parit induk sehingga risiko banjir dapat ditekan, terutama saat curah hujan tinggi melanda Pangkalan Kerinci. (dik)