logo
Rupiah Pagi Ini Melorot ke Rp18.000 per dollar Amerika Serikat, Dampak Gubernur Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Besok Pembacaan Duplik, Kasus Dugaan Korupsi Abdul Wahid Masuki Babak Akhir Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Satres Narkoba Polresta Pekanbaru Tangkap Pengedar Narkoba di Sukajadi, Sita 24, Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi BMKG Pantau Tiga Hotspot di Riau, Hujan Ringan Masih Guyur Sejumlah Daerah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi BREAKING NEWS: Gubernur BI Perry Warjiyo Mengundurkan Diri, Destry Damayanti Pim Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Ratusan Tokoh Lima Daerah Gelar Musyawarah di Dumai, Bahas Pembentukan Provinsi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pejabat Pemko Pekanbaru Berkinerja Buruk Siap Diganti, Agung Nugroho Terapkan Ev Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pets Day Out 2026 Pekanbaru Jadi Magnet Pecinta Satwa, Edukasi Reptil hingga Vak Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / Pekanbaru
Pemko Pekanbaru Perluas Waste Station, Sampah Rumah Tangga Kini Bernilai Ekonomi
Pemko Pekanbaru memperkuat upaya pengurangan volume sampah dengan mengembangkan program Waste Station atau bank sampah modern. (Foto: Wahyu Falatehan)
Pemko Pekanbaru Perluas Waste Station, Sampah Rumah Tangga Kini Bernilai Ekonomi
Editor: Yob Ayrus | Penulis: wahyu falatehan
16 Juli 2026 | 13:13:13

PEKANBARU-Pemerintah Kota Pekanbaru memperkuat upaya pengurangan volume sampah dengan mengembangkan program Waste Station atau bank sampah modern. Program ini tidak hanya ditujukan untuk menekan jumlah sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari sampah rumah tangga yang masih memiliki nilai jual.

Sebagai bagian dari pengembangan program tersebut, Pemko Pekanbaru berencana membangun lima Waste Station baru di sejumlah lokasi strategis. Penambahan fasilitas ini diharapkan mempermudah masyarakat menyalurkan sampah nonorganik sekaligus memperluas budaya memilah sampah sejak dari rumah.

Saat ini, dua Waste Station telah beroperasi, masing-masing berada di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Putri Kaca Mayang di Jalan Jenderal Sudirman dan RTH Tunjuk Ajar Integritas di Jalan Ahmad Yani.

iklan-view

Keberadaan fasilitas tersebut menjadi salah satu strategi pemerintah dalam membangun sistem pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular, di mana sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, tetapi sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali melalui proses daur ulang.

Waste Station berfungsi sebagai pusat pengumpulan, pemilahan, dan pengolahan sampah yang masih memiliki nilai ekonomi. Masyarakat dapat membawa berbagai jenis sampah yang dapat didaur ulang untuk ditimbang sebelum dikonversi menjadi poin yang nantinya dapat dicairkan menjadi uang.

Dalam mekanisme pelayanan, warga terlebih dahulu diminta mengunduh dan memiliki aplikasi Rekosistem. Setelah proses registrasi selesai, sampah yang dibawa akan dipilah berdasarkan jenisnya kemudian ditimbang oleh petugas.

Nilai hasil penjualan sampah secara otomatis masuk ke akun pengguna dalam bentuk poin pada aplikasi tersebut. Sistem digital ini diterapkan untuk memudahkan pencatatan transaksi sekaligus meningkatkan transparansi dalam pengelolaan bank sampah.

Adapun harga pembelian sampah disesuaikan dengan jenis materialnya. Minyak jelantah dibeli sebesar Rp6.000 per kilogram, limbah elektronik Rp1.500 per kilogram, botol bekas Rp1.500 per kilogram, kardus Rp600 per kilogram, serta kertas buku Rp150 per kilogram.

Beragam jenis sampah lain yang memenuhi kriteria juga dapat diterima untuk didaur ulang sesuai ketentuan yang berlaku.

Bagi sebagian warga, keberadaan Waste Station mulai memberikan manfaat langsung terhadap pengelolaan sampah rumah tangga sekaligus menambah pemasukan.

Salah seorang warga Pekanbaru, Dina, mengaku kini tidak lagi membuang begitu saja sampah plastik maupun barang bekas yang masih memiliki nilai jual.

"Kami ibu rumah tangga ini sangat terbantu dengan program dari Wali Kota ini," ujarnya.

Menurut Dina, sejak Waste Station beroperasi, ia mulai mengumpulkan sampah plastik, kardus, hingga buku bekas untuk dijual dibandingkan dibuang ke tempat sampah.

Ia mengatakan telah beberapa kali memanfaatkan fasilitas tersebut dan memperoleh tambahan pendapatan.

"Ini yang ketiga saya menjual sampah ke sini. Kemarin dapat uang Rp16 ribu, terus Rp13 ribu, sekarang ini belum tahu," katanya.

Sementara itu, petugas Waste Station, Arvan Mulkhan Nuansa, menjelaskan bahwa program tersebut bertujuan membangun kepedulian masyarakat terhadap lingkungan melalui kebiasaan memilah sampah.

Menurutnya, tidak semua sampah dapat diterima. Waste Station hanya menerima jenis sampah tertentu yang masih dapat dimanfaatkan kembali.

"Kriteria sampahnya ada beberapa macam, seperti minyak goreng bekas, karton, kertas, botol kaca, dan botol keras," jelas Arvan.

Ia menambahkan, setiap transaksi yang dilakukan masyarakat akan tercatat melalui aplikasi sehingga pengguna memperoleh poin sesuai berat dan jenis sampah yang diserahkan.

Poin tersebut kemudian dapat ditukarkan menjadi uang sehingga memberikan insentif ekonomi bagi warga yang aktif memilah sampah.

Rencana penambahan lima Waste Station baru dinilai menjadi langkah penting dalam memperluas jangkauan layanan pengelolaan sampah di Pekanbaru. Dengan semakin banyak titik pelayanan, masyarakat tidak perlu menempuh jarak jauh untuk menyalurkan sampah yang masih memiliki nilai ekonomi.

Selain mendukung pengurangan sampah yang berakhir di TPA, program ini juga diharapkan mampu meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menerapkan pola hidup ramah lingkungan.

Pengelolaan sampah berbasis pemilahan dari sumber dinilai menjadi salah satu kunci mengurangi beban TPA yang selama ini menghadapi peningkatan volume sampah setiap hari. Melalui Waste Station, sampah yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah dapat kembali masuk ke rantai daur ulang sehingga memiliki nilai tambah.

Bagi masyarakat, manfaatnya tidak hanya dirasakan dalam bentuk lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga peluang memperoleh tambahan penghasilan dari sampah rumah tangga yang selama ini sering dianggap tidak bernilai.

Dengan rencana ekspansi fasilitas tersebut, Pemko Pekanbaru berharap sistem pengelolaan sampah berbasis daur ulang dapat semakin kuat sekaligus mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju budaya memilah sampah sejak dari rumah. Langkah ini menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk menciptakan kota yang lebih bersih, mengurangi ketergantungan pada TPA, serta memaksimalkan potensi ekonomi dari sampah yang masih dapat dimanfaatkan kembali. (why)

Home / News
Pemko Pekanbaru Perluas Waste Station, Sampah Rumah Tangga Kini Bernilai Ekonomi
Editor: Yob Ayrus | Penulis: wahyu falatehan
Rubrik: news | 16 Juli 2026 | 13:13:13
Pemko Pekanbaru Perluas Waste Station, Sampah Rumah Tangga Kini Bernilai Ekonomi
Pemko Pekanbaru memperkuat upaya pengurangan volume sampah dengan mengembangkan program Waste Station atau bank sampah modern. (Foto: Wahyu Falatehan)

PEKANBARU-Pemerintah Kota Pekanbaru memperkuat upaya pengurangan volume sampah dengan mengembangkan program Waste Station atau bank sampah modern. Program ini tidak hanya ditujukan untuk menekan jumlah sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari sampah rumah tangga yang masih memiliki nilai jual.

Sebagai bagian dari pengembangan program tersebut, Pemko Pekanbaru berencana membangun lima Waste Station baru di sejumlah lokasi strategis. Penambahan fasilitas ini diharapkan mempermudah masyarakat menyalurkan sampah nonorganik sekaligus memperluas budaya memilah sampah sejak dari rumah.

Saat ini, dua Waste Station telah beroperasi, masing-masing berada di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Putri Kaca Mayang di Jalan Jenderal Sudirman dan RTH Tunjuk Ajar Integritas di Jalan Ahmad Yani.

Keberadaan fasilitas tersebut menjadi salah satu strategi pemerintah dalam membangun sistem pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular, di mana sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, tetapi sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali melalui proses daur ulang.

Waste Station berfungsi sebagai pusat pengumpulan, pemilahan, dan pengolahan sampah yang masih memiliki nilai ekonomi. Masyarakat dapat membawa berbagai jenis sampah yang dapat didaur ulang untuk ditimbang sebelum dikonversi menjadi poin yang nantinya dapat dicairkan menjadi uang.

Dalam mekanisme pelayanan, warga terlebih dahulu diminta mengunduh dan memiliki aplikasi Rekosistem. Setelah proses registrasi selesai, sampah yang dibawa akan dipilah berdasarkan jenisnya kemudian ditimbang oleh petugas.

Nilai hasil penjualan sampah secara otomatis masuk ke akun pengguna dalam bentuk poin pada aplikasi tersebut. Sistem digital ini diterapkan untuk memudahkan pencatatan transaksi sekaligus meningkatkan transparansi dalam pengelolaan bank sampah.

Adapun harga pembelian sampah disesuaikan dengan jenis materialnya. Minyak jelantah dibeli sebesar Rp6.000 per kilogram, limbah elektronik Rp1.500 per kilogram, botol bekas Rp1.500 per kilogram, kardus Rp600 per kilogram, serta kertas buku Rp150 per kilogram.

Beragam jenis sampah lain yang memenuhi kriteria juga dapat diterima untuk didaur ulang sesuai ketentuan yang berlaku.

Bagi sebagian warga, keberadaan Waste Station mulai memberikan manfaat langsung terhadap pengelolaan sampah rumah tangga sekaligus menambah pemasukan.

Salah seorang warga Pekanbaru, Dina, mengaku kini tidak lagi membuang begitu saja sampah plastik maupun barang bekas yang masih memiliki nilai jual.

"Kami ibu rumah tangga ini sangat terbantu dengan program dari Wali Kota ini," ujarnya.

Menurut Dina, sejak Waste Station beroperasi, ia mulai mengumpulkan sampah plastik, kardus, hingga buku bekas untuk dijual dibandingkan dibuang ke tempat sampah.

Ia mengatakan telah beberapa kali memanfaatkan fasilitas tersebut dan memperoleh tambahan pendapatan.

"Ini yang ketiga saya menjual sampah ke sini. Kemarin dapat uang Rp16 ribu, terus Rp13 ribu, sekarang ini belum tahu," katanya.

Sementara itu, petugas Waste Station, Arvan Mulkhan Nuansa, menjelaskan bahwa program tersebut bertujuan membangun kepedulian masyarakat terhadap lingkungan melalui kebiasaan memilah sampah.

Menurutnya, tidak semua sampah dapat diterima. Waste Station hanya menerima jenis sampah tertentu yang masih dapat dimanfaatkan kembali.

"Kriteria sampahnya ada beberapa macam, seperti minyak goreng bekas, karton, kertas, botol kaca, dan botol keras," jelas Arvan.

Ia menambahkan, setiap transaksi yang dilakukan masyarakat akan tercatat melalui aplikasi sehingga pengguna memperoleh poin sesuai berat dan jenis sampah yang diserahkan.

Poin tersebut kemudian dapat ditukarkan menjadi uang sehingga memberikan insentif ekonomi bagi warga yang aktif memilah sampah.

Rencana penambahan lima Waste Station baru dinilai menjadi langkah penting dalam memperluas jangkauan layanan pengelolaan sampah di Pekanbaru. Dengan semakin banyak titik pelayanan, masyarakat tidak perlu menempuh jarak jauh untuk menyalurkan sampah yang masih memiliki nilai ekonomi.

Selain mendukung pengurangan sampah yang berakhir di TPA, program ini juga diharapkan mampu meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menerapkan pola hidup ramah lingkungan.

Pengelolaan sampah berbasis pemilahan dari sumber dinilai menjadi salah satu kunci mengurangi beban TPA yang selama ini menghadapi peningkatan volume sampah setiap hari. Melalui Waste Station, sampah yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah dapat kembali masuk ke rantai daur ulang sehingga memiliki nilai tambah.

Bagi masyarakat, manfaatnya tidak hanya dirasakan dalam bentuk lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga peluang memperoleh tambahan penghasilan dari sampah rumah tangga yang selama ini sering dianggap tidak bernilai.

Dengan rencana ekspansi fasilitas tersebut, Pemko Pekanbaru berharap sistem pengelolaan sampah berbasis daur ulang dapat semakin kuat sekaligus mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju budaya memilah sampah sejak dari rumah. Langkah ini menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk menciptakan kota yang lebih bersih, mengurangi ketergantungan pada TPA, serta memaksimalkan potensi ekonomi dari sampah yang masih dapat dimanfaatkan kembali. (why)