logo
Pemko Pekanbaru Tegaskan Rumah Sakit Tak Boleh Bedakan Pasien BPJS dan Umum Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pemko Pekanbaru Buka Peluang Bangun Waste Station di Kampus UNRI Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kapal Berbendera Tanzania Disergap di Bengkalis, Diduga Bawa Lebih 2 Ton Methamp Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Penanganan Gempa NTT, Pemerintah Masih Mampu Belum Buka Bantuan Asing Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Gempa NTT Rusak 19.297 Rumah, Lebih dari 6.000 Bangunan Masuk Kategori Berat Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Desa Sungai Gantang Sukses Bentangkan Bendera 1.081 Meter di Jembatan Rumbai Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi 133 HGB Pedagang STC Dipersoalkan, Pemko Pekanbaru Didesak Buka Dasar Kebijakan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi DPRD Pekanbaru Soroti Data Desil Warga: Salah Klasifikasi Bisa Bikin Bantuan Ter Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Lingkungan / Pekanbaru
Konflik Manusia dan Harimau di Pelalawan, Pemprov Riau Keluarkan Imbauan Untuk Warga
Tim BKSDA Riau memasang kandang jebak atau box trap di lokasi serangan harimau sumatera yang menewaskan pekerja Hutan Tanaman Industri (HTI) di camp TPK PT Madukoro Lestari Estate Tasik Desa Sungai Ara, Kecamatan Pelalawan, Pelalawan pada Jumat (10/7/2026) lalu. (Foto: Dok. BBKSDA Riau)
Konflik Manusia dan Harimau di Pelalawan, Pemprov Riau Keluarkan Imbauan Untuk Warga
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: yob ayrus
Rubrik: lingkungan | 19 Juli 2026 | 15:23:07

PEKANBARU-Pemerintah Provinsi Riau meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di kawasan hutan dan perkebunan setelah kembali terjadi konflik antara manusia dan Harimau Sumatera di sejumlah wilayah. Imbauan ini disampaikan sebagai langkah mitigasi guna mencegah bertambahnya korban sekaligus menjaga kelestarian satwa yang dilindungi tersebut.

Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Syahrial Abdi mengatakan, masyarakat yang bekerja di kebun, kawasan hutan maupun wilayah yang selama ini menjadi habitat atau jalur lintasan Harimau Sumatera diminta lebih berhati-hati dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

"Kami mengimbau masyarakat agar selalu waspada saat beraktivitas di kawasan hutan dan perkebunan. Sebisa mungkin jangan bekerja sendirian, apalagi hingga malam hari. Keselamatan harus menjadi prioritas," kata Syahrial Abdi, Minggu (19/7/2026).

Menurutnya, aktivitas di kawasan yang berpotensi menjadi habitat satwa liar sebaiknya dilakukan secara berkelompok. Cara ini dinilai dapat mengurangi risiko apabila sewaktu-waktu terjadi pertemuan dengan Harimau Sumatera.

Selain tidak bekerja seorang diri, masyarakat juga diminta menghindari aktivitas pada malam hari karena waktu tersebut merupakan periode ketika satwa liar lebih aktif bergerak di dalam kawasan hutan maupun perkebunan.

Syahrial menegaskan bahwa masyarakat harus memahami cara bertindak apabila berhadapan langsung dengan Harimau Sumatera. Kepanikan justru dapat memperbesar risiko terjadinya serangan.

"Kalau bertemu harimau, jangan panik. Jangan mendekati atau mengganggunya. Mundurlah secara perlahan sambil tetap mengawasi keberadaan satwa tersebut. Yang paling penting, jangan mencoba menangkap ataupun membunuhnya," ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa Harimau Sumatera merupakan satwa yang dilindungi oleh undang-undang sehingga segala bentuk tindakan yang mengancam kelangsungan hidupnya harus dihindari.

Menurut Syahrial, keberadaan Harimau Sumatera memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Karena itu, upaya perlindungan satwa tersebut harus berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap keselamatan masyarakat.

"Harimau juga makhluk hidup yang berhak hidup di habitatnya. Karena itu jangan diganggu, apalagi dibunuh. Mari kita sama-sama menjaga kelestarian satwa yang menjadi kebanggaan Indonesia ini," tegasnya.

Pemprov Riau juga meminta masyarakat segera melapor apabila menemukan jejak, melihat kemunculan, atau mengetahui keberadaan Harimau Sumatera di sekitar permukiman, kebun maupun lokasi aktivitas warga.

Laporan tersebut dapat disampaikan kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, pemerintah desa, pemerintah daerah maupun aparat berwenang agar penanganan dapat dilakukan sesuai prosedur.

"Kami berharap masyarakat tidak bertindak sendiri. Segera laporkan kepada petugas agar langkah mitigasi dapat dilakukan dengan cepat dan tepat, sehingga keselamatan masyarakat maupun kelestarian satwa sama-sama terjaga," kata Syahrial.

Imbauan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya perhatian terhadap konflik manusia dan Harimau Sumatera di Riau dalam beberapa waktu terakhir.

Serangkaian insiden di Kabupaten Pelalawan yang menyebabkan korban jiwa kembali menjadi pengingat bahwa interaksi antara manusia dan satwa liar masih menjadi tantangan serius, terutama di wilayah yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan.

Sebelumnya, konflik serupa juga pernah terjadi di kawasan Teluk Lanus, Kabupaten Siak. Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa potensi kemunculan Harimau Sumatera masih cukup tinggi di sejumlah daerah yang berdekatan dengan habitat alaminya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena selain mengancam keselamatan masyarakat, konflik berkepanjangan juga berpotensi membahayakan kelestarian Harimau Sumatera yang populasinya terus menghadapi tekanan akibat berkurangnya habitat.

Pemprov Riau menilai upaya mitigasi menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko konflik. Edukasi kepada masyarakat mengenai prosedur keselamatan, pelaporan cepat kepada petugas, hingga menjaga kawasan habitat satwa liar menjadi bagian dari strategi yang terus didorong.

Syahrial menegaskan, penyelesaian konflik manusia dan Harimau Sumatera tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah. Dibutuhkan peran aktif masyarakat untuk mematuhi imbauan keselamatan serta mendukung upaya konservasi yang dilakukan instansi terkait.

"Kita semua memiliki tanggung jawab menjaga keselamatan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian Harimau Sumatera. Yang paling penting menjadi perhatian kita bersama adalah melestarikan ekosistem lingkungan dan keberlangsungan hidup satwa yang dilindungi," ujarnya.

Melalui peningkatan kewaspadaan dan pelaporan yang cepat kepada petugas, Pemprov Riau berharap potensi konflik dapat ditekan sehingga keselamatan masyarakat tetap terjaga tanpa mengorbankan kelestarian Harimau Sumatera sebagai salah satu satwa endemik Indonesia yang dilindungi. (tpc)

Konflik Manusia dan Harimau di Pelalawan, Pemprov Riau Keluarkan Imbauan Untuk Warga
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: yob ayrus
Rubrik: lingkungan | 19 Juli 2026 | 15:23:07
Konflik Manusia dan Harimau di Pelalawan, Pemprov Riau Keluarkan Imbauan Untuk Warga
Tim BKSDA Riau memasang kandang jebak atau box trap di lokasi serangan harimau sumatera yang menewaskan pekerja Hutan Tanaman Industri (HTI) di camp TPK PT Madukoro Lestari Estate Tasik Desa Sungai Ara, Kecamatan Pelalawan, Pelalawan pada Jumat (10/7/2026) lalu. (Foto: Dok. BBKSDA Riau)

PEKANBARU-Pemerintah Provinsi Riau meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di kawasan hutan dan perkebunan setelah kembali terjadi konflik antara manusia dan Harimau Sumatera di sejumlah wilayah. Imbauan ini disampaikan sebagai langkah mitigasi guna mencegah bertambahnya korban sekaligus menjaga kelestarian satwa yang dilindungi tersebut.

Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Syahrial Abdi mengatakan, masyarakat yang bekerja di kebun, kawasan hutan maupun wilayah yang selama ini menjadi habitat atau jalur lintasan Harimau Sumatera diminta lebih berhati-hati dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

"Kami mengimbau masyarakat agar selalu waspada saat beraktivitas di kawasan hutan dan perkebunan. Sebisa mungkin jangan bekerja sendirian, apalagi hingga malam hari. Keselamatan harus menjadi prioritas," kata Syahrial Abdi, Minggu (19/7/2026).

Menurutnya, aktivitas di kawasan yang berpotensi menjadi habitat satwa liar sebaiknya dilakukan secara berkelompok. Cara ini dinilai dapat mengurangi risiko apabila sewaktu-waktu terjadi pertemuan dengan Harimau Sumatera.

Selain tidak bekerja seorang diri, masyarakat juga diminta menghindari aktivitas pada malam hari karena waktu tersebut merupakan periode ketika satwa liar lebih aktif bergerak di dalam kawasan hutan maupun perkebunan.

Syahrial menegaskan bahwa masyarakat harus memahami cara bertindak apabila berhadapan langsung dengan Harimau Sumatera. Kepanikan justru dapat memperbesar risiko terjadinya serangan.

"Kalau bertemu harimau, jangan panik. Jangan mendekati atau mengganggunya. Mundurlah secara perlahan sambil tetap mengawasi keberadaan satwa tersebut. Yang paling penting, jangan mencoba menangkap ataupun membunuhnya," ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa Harimau Sumatera merupakan satwa yang dilindungi oleh undang-undang sehingga segala bentuk tindakan yang mengancam kelangsungan hidupnya harus dihindari.

Menurut Syahrial, keberadaan Harimau Sumatera memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Karena itu, upaya perlindungan satwa tersebut harus berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap keselamatan masyarakat.

"Harimau juga makhluk hidup yang berhak hidup di habitatnya. Karena itu jangan diganggu, apalagi dibunuh. Mari kita sama-sama menjaga kelestarian satwa yang menjadi kebanggaan Indonesia ini," tegasnya.

Pemprov Riau juga meminta masyarakat segera melapor apabila menemukan jejak, melihat kemunculan, atau mengetahui keberadaan Harimau Sumatera di sekitar permukiman, kebun maupun lokasi aktivitas warga.

Laporan tersebut dapat disampaikan kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, pemerintah desa, pemerintah daerah maupun aparat berwenang agar penanganan dapat dilakukan sesuai prosedur.

"Kami berharap masyarakat tidak bertindak sendiri. Segera laporkan kepada petugas agar langkah mitigasi dapat dilakukan dengan cepat dan tepat, sehingga keselamatan masyarakat maupun kelestarian satwa sama-sama terjaga," kata Syahrial.

Imbauan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya perhatian terhadap konflik manusia dan Harimau Sumatera di Riau dalam beberapa waktu terakhir.

Serangkaian insiden di Kabupaten Pelalawan yang menyebabkan korban jiwa kembali menjadi pengingat bahwa interaksi antara manusia dan satwa liar masih menjadi tantangan serius, terutama di wilayah yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan.

Sebelumnya, konflik serupa juga pernah terjadi di kawasan Teluk Lanus, Kabupaten Siak. Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa potensi kemunculan Harimau Sumatera masih cukup tinggi di sejumlah daerah yang berdekatan dengan habitat alaminya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena selain mengancam keselamatan masyarakat, konflik berkepanjangan juga berpotensi membahayakan kelestarian Harimau Sumatera yang populasinya terus menghadapi tekanan akibat berkurangnya habitat.

Pemprov Riau menilai upaya mitigasi menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko konflik. Edukasi kepada masyarakat mengenai prosedur keselamatan, pelaporan cepat kepada petugas, hingga menjaga kawasan habitat satwa liar menjadi bagian dari strategi yang terus didorong.

Syahrial menegaskan, penyelesaian konflik manusia dan Harimau Sumatera tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah. Dibutuhkan peran aktif masyarakat untuk mematuhi imbauan keselamatan serta mendukung upaya konservasi yang dilakukan instansi terkait.

"Kita semua memiliki tanggung jawab menjaga keselamatan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian Harimau Sumatera. Yang paling penting menjadi perhatian kita bersama adalah melestarikan ekosistem lingkungan dan keberlangsungan hidup satwa yang dilindungi," ujarnya.

Melalui peningkatan kewaspadaan dan pelaporan yang cepat kepada petugas, Pemprov Riau berharap potensi konflik dapat ditekan sehingga keselamatan masyarakat tetap terjaga tanpa mengorbankan kelestarian Harimau Sumatera sebagai salah satu satwa endemik Indonesia yang dilindungi. (tpc)