
JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali menorehkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (3/8/2026). Mata uang Garuda berhasil memperpanjang tren positifnya dengan mencatat penguatan selama dua hari perdagangan berturut-turut.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,06 persen ke level Rp17.980 per dolar AS. Meski penguatannya tidak sebesar saat pembukaan perdagangan, rupiah tetap mampu bertahan di zona hijau hingga akhir sesi.
Pada awal perdagangan, rupiah sempat melonjak 0,22 persen ke posisi Rp17.950 per dolar AS. Namun, tekanan pasar membuat penguatannya menyusut sekitar 30 poin menjelang penutupan. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp17.950 hingga Rp17.995 per dolar AS dan sempat mendekati kembali level psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Kinerja positif ini melanjutkan penguatan pada perdagangan sebelumnya, Jumat (31/7/2026), saat rupiah ditutup menguat 0,47 persen di level Rp17.990 per dolar AS.
Di sisi eksternal, penguatan rupiah didukung oleh melemahnya dolar AS. Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat turun 0,12 persen ke level 99,793 pada pukul 15.00 WIB.
Tekanan terhadap dolar dipicu oleh intervensi bersama pemerintah Jepang dan Amerika Serikat di pasar valuta asing untuk menopang nilai tukar yen. Langkah tersebut membuat yen menguat sekaligus menyeret DXY kembali berada di bawah level psikologis 100. Bahkan, sepanjang pekan lalu indeks dolar AS telah terkoreksi lebih dari 1,5 persen.
Sementara dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada rilis data inflasi Juli 2026 dan neraca perdagangan Indonesia yang menjadi indikator penting bagi arah kebijakan ekonomi nasional.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami deflasi sebesar 0,14 persen secara bulanan pada Juli 2026, berbalik dari inflasi 0,44 persen pada Juni.
Secara tahunan, inflasi juga melandai menjadi 2,88 persen dari sebelumnya 3,34 persen. Capaian tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi pasar yang memperkirakan inflasi bulanan sebesar 0,11 persen dan inflasi tahunan sekitar 3,2 persen.
Meski demikian, sentimen positif dari data inflasi belum sepenuhnya mampu mengangkat rupiah lebih tinggi. Pasalnya, neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan defisit.
Padahal, nilai ekspor pada Juni 2026 tumbuh 8,8 persen secara tahunan setelah sebelumnya mengalami kontraksi 5,73 persen pada Mei. Namun, peningkatan ekspor tersebut belum cukup untuk mengembalikan neraca perdagangan ke zona surplus.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membatasi ruang penguatan rupiah pada perdagangan hari ini.
Ke depan, perkembangan inflasi dan neraca perdagangan diperkirakan akan menjadi pertimbangan penting bagi Bank Indonesia dalam menentukan arah kebijakan moneter. Selain itu, bank sentral juga akan terus mencermati stabilitas nilai tukar rupiah, dinamika ekonomi global, serta arus modal asing sebelum memutuskan langkah terkait suku bunga. (cnbc)




JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali menorehkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (3/8/2026). Mata uang Garuda berhasil memperpanjang tren positifnya dengan mencatat penguatan selama dua hari perdagangan berturut-turut.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,06 persen ke level Rp17.980 per dolar AS. Meski penguatannya tidak sebesar saat pembukaan perdagangan, rupiah tetap mampu bertahan di zona hijau hingga akhir sesi.
Pada awal perdagangan, rupiah sempat melonjak 0,22 persen ke posisi Rp17.950 per dolar AS. Namun, tekanan pasar membuat penguatannya menyusut sekitar 30 poin menjelang penutupan. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp17.950 hingga Rp17.995 per dolar AS dan sempat mendekati kembali level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Kinerja positif ini melanjutkan penguatan pada perdagangan sebelumnya, Jumat (31/7/2026), saat rupiah ditutup menguat 0,47 persen di level Rp17.990 per dolar AS.
Di sisi eksternal, penguatan rupiah didukung oleh melemahnya dolar AS. Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat turun 0,12 persen ke level 99,793 pada pukul 15.00 WIB.
Tekanan terhadap dolar dipicu oleh intervensi bersama pemerintah Jepang dan Amerika Serikat di pasar valuta asing untuk menopang nilai tukar yen. Langkah tersebut membuat yen menguat sekaligus menyeret DXY kembali berada di bawah level psikologis 100. Bahkan, sepanjang pekan lalu indeks dolar AS telah terkoreksi lebih dari 1,5 persen.
Sementara dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada rilis data inflasi Juli 2026 dan neraca perdagangan Indonesia yang menjadi indikator penting bagi arah kebijakan ekonomi nasional.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami deflasi sebesar 0,14 persen secara bulanan pada Juli 2026, berbalik dari inflasi 0,44 persen pada Juni.
Secara tahunan, inflasi juga melandai menjadi 2,88 persen dari sebelumnya 3,34 persen. Capaian tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi pasar yang memperkirakan inflasi bulanan sebesar 0,11 persen dan inflasi tahunan sekitar 3,2 persen.
Meski demikian, sentimen positif dari data inflasi belum sepenuhnya mampu mengangkat rupiah lebih tinggi. Pasalnya, neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan defisit.
Padahal, nilai ekspor pada Juni 2026 tumbuh 8,8 persen secara tahunan setelah sebelumnya mengalami kontraksi 5,73 persen pada Mei. Namun, peningkatan ekspor tersebut belum cukup untuk mengembalikan neraca perdagangan ke zona surplus.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membatasi ruang penguatan rupiah pada perdagangan hari ini.
Ke depan, perkembangan inflasi dan neraca perdagangan diperkirakan akan menjadi pertimbangan penting bagi Bank Indonesia dalam menentukan arah kebijakan moneter. Selain itu, bank sentral juga akan terus mencermati stabilitas nilai tukar rupiah, dinamika ekonomi global, serta arus modal asing sebelum memutuskan langkah terkait suku bunga. (cnbc)