
PEKANBARU - Nilai tukar rupiah melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Rabu (5/8/2026). Mata uang Garuda ditutup menguat 94 poin atau 0,52 persen ke level Rp17.933 per dolar Amerika Serikat (AS), sekaligus memperpanjang penguatan yang telah terlihat sejak awal sesi perdagangan.
Di pasar spot, rupiah dibuka pada level Rp17.972 per dolar AS, lebih kuat dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya yang berada di Rp18.027 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah didorong oleh membaiknya sentimen pasar global setelah muncul perkembangan positif terkait upaya perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat. Optimisme tersebut turut menekan harga minyak dunia sehingga meningkatkan minat investor terhadap aset di negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Pelaku pasar juga tengah mencermati sejumlah data ekonomi dari Amerika Serikat maupun Indonesia yang akan menjadi acuan arah pergerakan pasar keuangan dalam beberapa hari ke depan," ujarnya.
Sentimen positif muncul setelah Qatar menyampaikan bahwa para mediator telah mencatat kemajuan dalam upaya mengakhiri konflik di kawasan Timur Tengah. Harapan tercapainya solusi diplomatik mendorong harga minyak mentah dunia melemah.
Harga minyak Brent bahkan ditutup di bawah level 80 dolar AS per barel pada Selasa (4/8/2026), menjadi yang terendah sejak pertengahan Juli 2026.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyebut proses perundingan dengan Iran telah dimulai dan menyatakan Teheran memiliki "kesempatan terakhir" untuk mencapai kesepakatan. Namun, pemerintah Iran membantah klaim tersebut dan menegaskan hingga kini belum ada negosiasi resmi yang berlangsung.
Selain isu geopolitik, perhatian investor kini tertuju pada sejumlah data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dinilai akan memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Fed.
Pasar menunggu rilis data ADP Employment Change pada Rabu malam, disusul laporan Nonfarm Payrolls (NFP) pada Jumat. Survei ADP memperkirakan sektor swasta AS hanya mampu menambah sekitar 70.000 tenaga kerja sepanjang Juli 2026, lebih rendah dibandingkan 98.000 pekerjaan yang tercipta pada Juni lalu.
Apabila realisasi data lebih lemah dari perkiraan, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed diperkirakan akan semakin menurun. Kondisi tersebut berpotensi memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk terus menguat.
Dari dalam negeri, sentimen pasar turut ditopang oleh data pertumbuhan ekonomi Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi nasional tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year on year/YoY) pada kuartal II-2026.
Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.552,1 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan tercatat sebesar Rp3.576,2 triliun.
Meski masih berada di atas level 5 persen, laju pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen. Perlambatan dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari tingginya biaya produksi akibat gejolak global, kebijakan moneter yang ketat, hingga ketidakpastian fiskal.
Sementara itu, BPS juga melaporkan Indonesia mengalami deflasi bulanan sebesar 0,14 persen pada Juli 2026. Kendati demikian, inflasi tahunan masih terjaga di level 2,88 persen.
Penurunan harga sejumlah komoditas pangan dinilai mampu meredam tekanan inflasi musiman yang biasanya muncul akibat meningkatnya biaya pendidikan pada awal tahun ajaran baru. Kondisi tersebut turut memberikan sinyal positif bagi daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi domestik. (**/kpc)




PEKANBARU - Nilai tukar rupiah melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Rabu (5/8/2026). Mata uang Garuda ditutup menguat 94 poin atau 0,52 persen ke level Rp17.933 per dolar Amerika Serikat (AS), sekaligus memperpanjang penguatan yang telah terlihat sejak awal sesi perdagangan.
Di pasar spot, rupiah dibuka pada level Rp17.972 per dolar AS, lebih kuat dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya yang berada di Rp18.027 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah didorong oleh membaiknya sentimen pasar global setelah muncul perkembangan positif terkait upaya perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat. Optimisme tersebut turut menekan harga minyak dunia sehingga meningkatkan minat investor terhadap aset di negara berkembang, termasuk Indonesia.
"Pelaku pasar juga tengah mencermati sejumlah data ekonomi dari Amerika Serikat maupun Indonesia yang akan menjadi acuan arah pergerakan pasar keuangan dalam beberapa hari ke depan," ujarnya.
Sentimen positif muncul setelah Qatar menyampaikan bahwa para mediator telah mencatat kemajuan dalam upaya mengakhiri konflik di kawasan Timur Tengah. Harapan tercapainya solusi diplomatik mendorong harga minyak mentah dunia melemah.
Harga minyak Brent bahkan ditutup di bawah level 80 dolar AS per barel pada Selasa (4/8/2026), menjadi yang terendah sejak pertengahan Juli 2026.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyebut proses perundingan dengan Iran telah dimulai dan menyatakan Teheran memiliki "kesempatan terakhir" untuk mencapai kesepakatan. Namun, pemerintah Iran membantah klaim tersebut dan menegaskan hingga kini belum ada negosiasi resmi yang berlangsung.
Selain isu geopolitik, perhatian investor kini tertuju pada sejumlah data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dinilai akan memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Fed.
Pasar menunggu rilis data ADP Employment Change pada Rabu malam, disusul laporan Nonfarm Payrolls (NFP) pada Jumat. Survei ADP memperkirakan sektor swasta AS hanya mampu menambah sekitar 70.000 tenaga kerja sepanjang Juli 2026, lebih rendah dibandingkan 98.000 pekerjaan yang tercipta pada Juni lalu.
Apabila realisasi data lebih lemah dari perkiraan, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed diperkirakan akan semakin menurun. Kondisi tersebut berpotensi memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk terus menguat.
Dari dalam negeri, sentimen pasar turut ditopang oleh data pertumbuhan ekonomi Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi nasional tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year on year/YoY) pada kuartal II-2026.
Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.552,1 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan tercatat sebesar Rp3.576,2 triliun.
Meski masih berada di atas level 5 persen, laju pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen. Perlambatan dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari tingginya biaya produksi akibat gejolak global, kebijakan moneter yang ketat, hingga ketidakpastian fiskal.
Sementara itu, BPS juga melaporkan Indonesia mengalami deflasi bulanan sebesar 0,14 persen pada Juli 2026. Kendati demikian, inflasi tahunan masih terjaga di level 2,88 persen.
Penurunan harga sejumlah komoditas pangan dinilai mampu meredam tekanan inflasi musiman yang biasanya muncul akibat meningkatnya biaya pendidikan pada awal tahun ajaran baru. Kondisi tersebut turut memberikan sinyal positif bagi daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi domestik. (**/kpc)