
JAKARTA - Nilai tukar rupiah berhasil mengakhiri perdagangan Kamis (6/8/2026) di zona hijau. Penguatan mata uang Garuda ditopang kombinasi sentimen global yang mulai mereda, terutama terkait Selat Hormuz, serta data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melampaui ekspektasi pasar.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat ke level Rp17.923 per dolar Amerika Serikat (AS). Posisi tersebut menguat 10 poin atau sekitar 0,06 persen dibanding penutupan sehari sebelumnya di level Rp17.933 per dolar AS.
Sementara itu, data Yahoo Finance mencatat rupiah berada di level Rp17.915 per dolar AS, menguat 17 poin atau 0,09 persen dari posisi sebelumnya di Rp17.932 per dolar AS.

Adapun kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di level Rp17.919 per dolar AS, lebih baik dibanding posisi sebelumnya yang berada di kisaran Rp17.937 per dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penguatan rupiah dipicu meningkatnya optimisme bahwa ketegangan di kawasan Timur Tengah mulai mereda. Harapan dibukanya kembali Selat Hormuz membuat harga minyak dunia terkoreksi cukup tajam sehingga mengurangi tekanan terhadap negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia.
Sejak awal pekan, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) telah turun dari sekitar 86 dolar AS per barel menjadi sekitar 74,60 dolar AS per barel.
"Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS di tengah penurunan harga minyak mentah dunia akibat meningkatnya optimisme bahwa Selat Hormuz akan segera dibuka kembali," ujar Lukman.
Optimisme tersebut muncul setelah Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyatakan AS dan Iran berpeluang mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz sehingga kebebasan pelayaran kapal-kapal komersial dapat dipulihkan.
Dalam skema tersebut, Iran disebut akan tetap memperoleh hak menarik tarif atas penggunaan jalur perairan strategis tersebut, sementara kebebasan navigasi internasional tetap dijamin.
Selain faktor global, sentimen domestik juga menjadi penopang pergerakan rupiah. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal II 2026, melampaui proyeksi pasar yang berada di kisaran 5,1 persen.
Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga konstan tercatat mencapai Rp3.576,2 triliun, meningkat dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp3.396,6 triliun.
Menurut Lukman, capaian tersebut memberikan sinyal positif bagi perekonomian nasional, meski masih diperlukan dukungan dari faktor eksternal agar tren penguatan rupiah dapat berlanjut.
Ia menilai apabila harga minyak dunia terus bergerak turun, tekanan terhadap fiskal pemerintah maupun nilai tukar rupiah akan semakin berkurang. Kondisi tersebut pada akhirnya berpotensi menciptakan ruang yang lebih besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa waktu ke depan. (**/mtv)



JAKARTA - Nilai tukar rupiah berhasil mengakhiri perdagangan Kamis (6/8/2026) di zona hijau. Penguatan mata uang Garuda ditopang kombinasi sentimen global yang mulai mereda, terutama terkait Selat Hormuz, serta data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melampaui ekspektasi pasar.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat ke level Rp17.923 per dolar Amerika Serikat (AS). Posisi tersebut menguat 10 poin atau sekitar 0,06 persen dibanding penutupan sehari sebelumnya di level Rp17.933 per dolar AS.
Sementara itu, data Yahoo Finance mencatat rupiah berada di level Rp17.915 per dolar AS, menguat 17 poin atau 0,09 persen dari posisi sebelumnya di Rp17.932 per dolar AS.
Adapun kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di level Rp17.919 per dolar AS, lebih baik dibanding posisi sebelumnya yang berada di kisaran Rp17.937 per dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penguatan rupiah dipicu meningkatnya optimisme bahwa ketegangan di kawasan Timur Tengah mulai mereda. Harapan dibukanya kembali Selat Hormuz membuat harga minyak dunia terkoreksi cukup tajam sehingga mengurangi tekanan terhadap negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia.
Sejak awal pekan, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) telah turun dari sekitar 86 dolar AS per barel menjadi sekitar 74,60 dolar AS per barel.
"Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS di tengah penurunan harga minyak mentah dunia akibat meningkatnya optimisme bahwa Selat Hormuz akan segera dibuka kembali," ujar Lukman.
Optimisme tersebut muncul setelah Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyatakan AS dan Iran berpeluang mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz sehingga kebebasan pelayaran kapal-kapal komersial dapat dipulihkan.
Dalam skema tersebut, Iran disebut akan tetap memperoleh hak menarik tarif atas penggunaan jalur perairan strategis tersebut, sementara kebebasan navigasi internasional tetap dijamin.
Selain faktor global, sentimen domestik juga menjadi penopang pergerakan rupiah. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal II 2026, melampaui proyeksi pasar yang berada di kisaran 5,1 persen.
Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga konstan tercatat mencapai Rp3.576,2 triliun, meningkat dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp3.396,6 triliun.
Menurut Lukman, capaian tersebut memberikan sinyal positif bagi perekonomian nasional, meski masih diperlukan dukungan dari faktor eksternal agar tren penguatan rupiah dapat berlanjut.
Ia menilai apabila harga minyak dunia terus bergerak turun, tekanan terhadap fiskal pemerintah maupun nilai tukar rupiah akan semakin berkurang. Kondisi tersebut pada akhirnya berpotensi menciptakan ruang yang lebih besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa waktu ke depan. (**/mtv)