logo
● Bila Menemukan Tambang Diduga Ilegal di Riau, Begini Cara Lapor ke Dinas ESDM Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● BMKG Ingatkan Warga Soal Hujan Lebat dan Petir di Riau Hari Ini Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Dua Perempuan Diamankan di Kafe Dumai, Polisi Sita 8 Pil Ekstasi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Ribuan Warga Riau Terserang DBD, 23 Meninggal Dunia hingga Juli 2026 Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Razia Satpol PP di Jondul Pekanbaru, 15 Orang Diamankan dari Lima Rumah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Titik Api Karhutla Riau Nihil, OMC Terus Digencarkan untuk Cegah Api Kembali Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Saat Negara Berhemat, Mengapa Birokrasi Bertambah? Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Terseret Arus 459 Km dari Lokasi Tenggelam, Dua Korban KM Virgo Ditemukan di Suk Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / POLITIK
Anggota Komisi IX DPR-RI Maharani Dorong Penguatan Deteksi Dini TBC di Riau, Portable X-Ray Jadi Harapan Baru
Penyerahan bantuan Portable X-Ray kepada Pemerintah Provinsi Riau sebagai dukungan penguatan skrining dan deteksi dini TBC, Selasa (4/8/2026). (Foto: Ist)
Anggota Komisi IX DPR-RI Maharani Dorong Penguatan Deteksi Dini TBC di Riau, Portable X-Ray Jadi Harapan Baru
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: news | 10 Agustus 2026 | 20:39:17

PEKANBARU - Upaya menemukan kasus tuberkulosis (TBC) sejak dini di Provinsi Riau terus diperkuat. Langkah ini dinilai penting agar penderita bisa segera mendapatkan pengobatan sekaligus memutus rantai penularan di tengah masyarakat.

Anggota Komisi IX DPR RI dr. Maharani mendorong agar fasilitas dan peralatan deteksi TBC yang dimiliki Riau benar-benar dimanfaatkan untuk melakukan skrining secara aktif, tidak hanya menunggu masyarakat datang ke fasilitas kesehatan.

Dorongan tersebut disampaikan saat mendampingi Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin Paulus Okta dalam penyerahan bantuan 21 unit Portable X-Ray kepada Pemerintah Provinsi Riau di RSUD Arifin Achmad, Selasa (4/8/2026).

iklan-view

Menurut Maharani, TBC masih menjadi tantangan kesehatan yang membutuhkan kerja bersama. Pemerintah pusat dan daerah, tenaga kesehatan, dunia usaha hingga masyarakat harus bergerak dalam satu tujuan untuk mempercepat penemuan dan penanganan kasus.

"Deteksi dini menjadi salah satu kunci. Jangan sampai masyarakat baru datang ketika kondisinya sudah berat," ujarnya.

Ia mengapresiasi komitmen Pemprov Riau dalam memperkuat penanggulangan TBC, termasuk pengembangan Laboratorium BSL-2/BSL-2+ RSUD Arifin Achmad, pemanfaatan Portable X-Ray serta pengembangan metode diagnostik cepat berbasis NPOCT TB.

Namun, Maharani mengingatkan bahwa keberadaan peralatan harus diikuti dengan strategi penemuan kasus yang lebih aktif. Portable X-Ray, kata dia, dapat dimanfaatkan untuk menjangkau kelompok masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi, termasuk kawasan padat penduduk, wilayah industri, lembaga pemasyarakatan hingga daerah terpencil.

Dengan pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya menunggu datang ke rumah sakit atau puskesmas. Sebaliknya, layanan kesehatan dapat lebih aktif "menjemput" mereka yang berpotensi terpapar TBC.

Selain peralatan, Maharani menilai penguatan sumber daya manusia juga tidak kalah penting. Ketersediaan anggaran untuk pemeliharaan alat, penyediaan reagen dan logistik serta sistem monitoring yang berkelanjutan harus dipastikan agar bantuan yang diberikan dapat digunakan secara maksimal.

Sebagai anggota Komisi IX DPR RI, Maharani menegaskan akan terus mengawal kebutuhan Riau dalam penanggulangan TBC. Penguatan laboratorium BSL-2/BSL-2+, penyediaan reagen dan logistik TBC, penambahan Portable X-Ray serta peningkatan kapasitas tenaga kesehatan menjadi sejumlah kebutuhan yang akan diperjuangkan.

Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin Paulus Okta mengatakan percepatan penanganan TBC merupakan amanah Presiden Republik Indonesia dan Menteri Kesehatan. Karena itu, upaya eliminasi TBC membutuhkan kerja bersama dan langkah yang konsisten.

Plt Gubernur Riau SF Hariyanto menyambut baik dukungan pemerintah pusat tersebut. Bantuan 21 unit Portable X-Ray diharapkan dapat mempercepat penemuan kasus dan proses diagnosis TBC, termasuk menjangkau masyarakat hingga pelosok desa.

Bagi Riau, penguatan deteksi dini bukan sekadar menambah fasilitas kesehatan. Lebih dari itu, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan semakin banyak penderita TBC ditemukan lebih cepat, mendapatkan pengobatan tepat waktu dan terbebas dari ancaman penyakit yang dapat menular kepada orang-orang di sekitarnya.

Sinergi antara pemerintah pusat, Pemprov Riau, tenaga kesehatan dan masyarakat pun menjadi modal penting untuk mengejar target Indonesia Bebas Tuberkulosis pada 2030. (**/rls)

Home / News
Anggota Komisi IX DPR-RI Maharani Dorong Penguatan Deteksi Dini TBC di Riau, Portable X-Ray Jadi Harapan Baru
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: news | 10 Agustus 2026 | 20:39:17
Anggota Komisi IX DPR-RI Maharani Dorong Penguatan Deteksi Dini TBC di Riau, Portable X-Ray Jadi Harapan Baru
Penyerahan bantuan Portable X-Ray kepada Pemerintah Provinsi Riau sebagai dukungan penguatan skrining dan deteksi dini TBC, Selasa (4/8/2026). (Foto: Ist)

PEKANBARU - Upaya menemukan kasus tuberkulosis (TBC) sejak dini di Provinsi Riau terus diperkuat. Langkah ini dinilai penting agar penderita bisa segera mendapatkan pengobatan sekaligus memutus rantai penularan di tengah masyarakat.

Anggota Komisi IX DPR RI dr. Maharani mendorong agar fasilitas dan peralatan deteksi TBC yang dimiliki Riau benar-benar dimanfaatkan untuk melakukan skrining secara aktif, tidak hanya menunggu masyarakat datang ke fasilitas kesehatan.

Dorongan tersebut disampaikan saat mendampingi Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin Paulus Okta dalam penyerahan bantuan 21 unit Portable X-Ray kepada Pemerintah Provinsi Riau di RSUD Arifin Achmad, Selasa (4/8/2026).

Menurut Maharani, TBC masih menjadi tantangan kesehatan yang membutuhkan kerja bersama. Pemerintah pusat dan daerah, tenaga kesehatan, dunia usaha hingga masyarakat harus bergerak dalam satu tujuan untuk mempercepat penemuan dan penanganan kasus.

"Deteksi dini menjadi salah satu kunci. Jangan sampai masyarakat baru datang ketika kondisinya sudah berat," ujarnya.

Ia mengapresiasi komitmen Pemprov Riau dalam memperkuat penanggulangan TBC, termasuk pengembangan Laboratorium BSL-2/BSL-2+ RSUD Arifin Achmad, pemanfaatan Portable X-Ray serta pengembangan metode diagnostik cepat berbasis NPOCT TB.

Namun, Maharani mengingatkan bahwa keberadaan peralatan harus diikuti dengan strategi penemuan kasus yang lebih aktif. Portable X-Ray, kata dia, dapat dimanfaatkan untuk menjangkau kelompok masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi, termasuk kawasan padat penduduk, wilayah industri, lembaga pemasyarakatan hingga daerah terpencil.

Dengan pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya menunggu datang ke rumah sakit atau puskesmas. Sebaliknya, layanan kesehatan dapat lebih aktif "menjemput" mereka yang berpotensi terpapar TBC.

Selain peralatan, Maharani menilai penguatan sumber daya manusia juga tidak kalah penting. Ketersediaan anggaran untuk pemeliharaan alat, penyediaan reagen dan logistik serta sistem monitoring yang berkelanjutan harus dipastikan agar bantuan yang diberikan dapat digunakan secara maksimal.

Sebagai anggota Komisi IX DPR RI, Maharani menegaskan akan terus mengawal kebutuhan Riau dalam penanggulangan TBC. Penguatan laboratorium BSL-2/BSL-2+, penyediaan reagen dan logistik TBC, penambahan Portable X-Ray serta peningkatan kapasitas tenaga kesehatan menjadi sejumlah kebutuhan yang akan diperjuangkan.

Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin Paulus Okta mengatakan percepatan penanganan TBC merupakan amanah Presiden Republik Indonesia dan Menteri Kesehatan. Karena itu, upaya eliminasi TBC membutuhkan kerja bersama dan langkah yang konsisten.

Plt Gubernur Riau SF Hariyanto menyambut baik dukungan pemerintah pusat tersebut. Bantuan 21 unit Portable X-Ray diharapkan dapat mempercepat penemuan kasus dan proses diagnosis TBC, termasuk menjangkau masyarakat hingga pelosok desa.

Bagi Riau, penguatan deteksi dini bukan sekadar menambah fasilitas kesehatan. Lebih dari itu, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan semakin banyak penderita TBC ditemukan lebih cepat, mendapatkan pengobatan tepat waktu dan terbebas dari ancaman penyakit yang dapat menular kepada orang-orang di sekitarnya.

Sinergi antara pemerintah pusat, Pemprov Riau, tenaga kesehatan dan masyarakat pun menjadi modal penting untuk mengejar target Indonesia Bebas Tuberkulosis pada 2030. (**/rls)