logo
Bongkar Atap Rumah Warga Tengah Malam, Dua Maling di Pekanbaru Diciduk Polisi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Saat Ratusan Santri Syekh Burhanuddin Kehilangan Asrama, Tenda Darurat dan Ulura Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Anjlok Lagi! Ditutup Rp17.877 per Dolar AS, Sentimen Global dan Ekonomi D Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Demo AMUK di Kantor Gubernur Berujung Bentrok, Mahasiswa Desak Pemprov Riau Penu Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Hotspot Riau Melonjak Drastis Lima Kali Lipat: Petang Ini Terpantau 123 Titik, F Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Diduga Gunakan Ijazah Palsu, Oknum Kasi di Dispar Riau Dilaporkan LBH ke Polisi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi WhatsApp Tak Bisa Dipakai, Diblokir atau Diambil Alih? Ini Cara Membedakannya Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Dana Rp18,9 Triliun Cair untuk 546 Pemda, Komisi II Minta TKD 2027 Dievaluasi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / POLITIK
Anggota Komisi IX DPR-RI Maharani Dorong Penguatan Deteksi Dini TBC di Riau, Portable X-Ray Jadi Harapan Baru
Penyerahan bantuan Portable X-Ray kepada Pemerintah Provinsi Riau sebagai dukungan penguatan skrining dan deteksi dini TBC, Selasa (4/8/2026). (Foto: Ist)
Anggota Komisi IX DPR-RI Maharani Dorong Penguatan Deteksi Dini TBC di Riau, Portable X-Ray Jadi Harapan Baru
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
10 Agustus 2026 | 20:39:17

PEKANBARU - Upaya menemukan kasus tuberkulosis (TBC) sejak dini di Provinsi Riau terus diperkuat. Langkah ini dinilai penting agar penderita bisa segera mendapatkan pengobatan sekaligus memutus rantai penularan di tengah masyarakat.

Anggota Komisi IX DPR RI dr. Maharani mendorong agar fasilitas dan peralatan deteksi TBC yang dimiliki Riau benar-benar dimanfaatkan untuk melakukan skrining secara aktif, tidak hanya menunggu masyarakat datang ke fasilitas kesehatan.

Dorongan tersebut disampaikan saat mendampingi Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin Paulus Okta dalam penyerahan bantuan 21 unit Portable X-Ray kepada Pemerintah Provinsi Riau di RSUD Arifin Achmad, Selasa (4/8/2026).

iklan-view

Menurut Maharani, TBC masih menjadi tantangan kesehatan yang membutuhkan kerja bersama. Pemerintah pusat dan daerah, tenaga kesehatan, dunia usaha hingga masyarakat harus bergerak dalam satu tujuan untuk mempercepat penemuan dan penanganan kasus.

"Deteksi dini menjadi salah satu kunci. Jangan sampai masyarakat baru datang ketika kondisinya sudah berat," ujarnya.

Ia mengapresiasi komitmen Pemprov Riau dalam memperkuat penanggulangan TBC, termasuk pengembangan Laboratorium BSL-2/BSL-2+ RSUD Arifin Achmad, pemanfaatan Portable X-Ray serta pengembangan metode diagnostik cepat berbasis NPOCT TB.

Namun, Maharani mengingatkan bahwa keberadaan peralatan harus diikuti dengan strategi penemuan kasus yang lebih aktif. Portable X-Ray, kata dia, dapat dimanfaatkan untuk menjangkau kelompok masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi, termasuk kawasan padat penduduk, wilayah industri, lembaga pemasyarakatan hingga daerah terpencil.

Dengan pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya menunggu datang ke rumah sakit atau puskesmas. Sebaliknya, layanan kesehatan dapat lebih aktif "menjemput" mereka yang berpotensi terpapar TBC.

Selain peralatan, Maharani menilai penguatan sumber daya manusia juga tidak kalah penting. Ketersediaan anggaran untuk pemeliharaan alat, penyediaan reagen dan logistik serta sistem monitoring yang berkelanjutan harus dipastikan agar bantuan yang diberikan dapat digunakan secara maksimal.

Sebagai anggota Komisi IX DPR RI, Maharani menegaskan akan terus mengawal kebutuhan Riau dalam penanggulangan TBC. Penguatan laboratorium BSL-2/BSL-2+, penyediaan reagen dan logistik TBC, penambahan Portable X-Ray serta peningkatan kapasitas tenaga kesehatan menjadi sejumlah kebutuhan yang akan diperjuangkan.

Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin Paulus Okta mengatakan percepatan penanganan TBC merupakan amanah Presiden Republik Indonesia dan Menteri Kesehatan. Karena itu, upaya eliminasi TBC membutuhkan kerja bersama dan langkah yang konsisten.

Plt Gubernur Riau SF Hariyanto menyambut baik dukungan pemerintah pusat tersebut. Bantuan 21 unit Portable X-Ray diharapkan dapat mempercepat penemuan kasus dan proses diagnosis TBC, termasuk menjangkau masyarakat hingga pelosok desa.

Bagi Riau, penguatan deteksi dini bukan sekadar menambah fasilitas kesehatan. Lebih dari itu, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan semakin banyak penderita TBC ditemukan lebih cepat, mendapatkan pengobatan tepat waktu dan terbebas dari ancaman penyakit yang dapat menular kepada orang-orang di sekitarnya.

Sinergi antara pemerintah pusat, Pemprov Riau, tenaga kesehatan dan masyarakat pun menjadi modal penting untuk mengejar target Indonesia Bebas Tuberkulosis pada 2030. (**/rls)

Home / News
Anggota Komisi IX DPR-RI Maharani Dorong Penguatan Deteksi Dini TBC di Riau, Portable X-Ray Jadi Harapan Baru
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
Rubrik: news | 10 Agustus 2026 | 20:39:17
Anggota Komisi IX DPR-RI Maharani Dorong Penguatan Deteksi Dini TBC di Riau, Portable X-Ray Jadi Harapan Baru
Penyerahan bantuan Portable X-Ray kepada Pemerintah Provinsi Riau sebagai dukungan penguatan skrining dan deteksi dini TBC, Selasa (4/8/2026). (Foto: Ist)

PEKANBARU - Upaya menemukan kasus tuberkulosis (TBC) sejak dini di Provinsi Riau terus diperkuat. Langkah ini dinilai penting agar penderita bisa segera mendapatkan pengobatan sekaligus memutus rantai penularan di tengah masyarakat.

Anggota Komisi IX DPR RI dr. Maharani mendorong agar fasilitas dan peralatan deteksi TBC yang dimiliki Riau benar-benar dimanfaatkan untuk melakukan skrining secara aktif, tidak hanya menunggu masyarakat datang ke fasilitas kesehatan.

Dorongan tersebut disampaikan saat mendampingi Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin Paulus Okta dalam penyerahan bantuan 21 unit Portable X-Ray kepada Pemerintah Provinsi Riau di RSUD Arifin Achmad, Selasa (4/8/2026).

Menurut Maharani, TBC masih menjadi tantangan kesehatan yang membutuhkan kerja bersama. Pemerintah pusat dan daerah, tenaga kesehatan, dunia usaha hingga masyarakat harus bergerak dalam satu tujuan untuk mempercepat penemuan dan penanganan kasus.

"Deteksi dini menjadi salah satu kunci. Jangan sampai masyarakat baru datang ketika kondisinya sudah berat," ujarnya.

Ia mengapresiasi komitmen Pemprov Riau dalam memperkuat penanggulangan TBC, termasuk pengembangan Laboratorium BSL-2/BSL-2+ RSUD Arifin Achmad, pemanfaatan Portable X-Ray serta pengembangan metode diagnostik cepat berbasis NPOCT TB.

Namun, Maharani mengingatkan bahwa keberadaan peralatan harus diikuti dengan strategi penemuan kasus yang lebih aktif. Portable X-Ray, kata dia, dapat dimanfaatkan untuk menjangkau kelompok masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi, termasuk kawasan padat penduduk, wilayah industri, lembaga pemasyarakatan hingga daerah terpencil.

Dengan pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya menunggu datang ke rumah sakit atau puskesmas. Sebaliknya, layanan kesehatan dapat lebih aktif "menjemput" mereka yang berpotensi terpapar TBC.

Selain peralatan, Maharani menilai penguatan sumber daya manusia juga tidak kalah penting. Ketersediaan anggaran untuk pemeliharaan alat, penyediaan reagen dan logistik serta sistem monitoring yang berkelanjutan harus dipastikan agar bantuan yang diberikan dapat digunakan secara maksimal.

Sebagai anggota Komisi IX DPR RI, Maharani menegaskan akan terus mengawal kebutuhan Riau dalam penanggulangan TBC. Penguatan laboratorium BSL-2/BSL-2+, penyediaan reagen dan logistik TBC, penambahan Portable X-Ray serta peningkatan kapasitas tenaga kesehatan menjadi sejumlah kebutuhan yang akan diperjuangkan.

Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin Paulus Okta mengatakan percepatan penanganan TBC merupakan amanah Presiden Republik Indonesia dan Menteri Kesehatan. Karena itu, upaya eliminasi TBC membutuhkan kerja bersama dan langkah yang konsisten.

Plt Gubernur Riau SF Hariyanto menyambut baik dukungan pemerintah pusat tersebut. Bantuan 21 unit Portable X-Ray diharapkan dapat mempercepat penemuan kasus dan proses diagnosis TBC, termasuk menjangkau masyarakat hingga pelosok desa.

Bagi Riau, penguatan deteksi dini bukan sekadar menambah fasilitas kesehatan. Lebih dari itu, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan semakin banyak penderita TBC ditemukan lebih cepat, mendapatkan pengobatan tepat waktu dan terbebas dari ancaman penyakit yang dapat menular kepada orang-orang di sekitarnya.

Sinergi antara pemerintah pusat, Pemprov Riau, tenaga kesehatan dan masyarakat pun menjadi modal penting untuk mengejar target Indonesia Bebas Tuberkulosis pada 2030. (**/rls)