
KAMPAR - Senin malam, 10 Agustus 2026, menjadi malam yang sulit dilupakan bagi keluarga besar Pondok Pesantren Syekh Burhanuddin Kuntu, Desa Kuntu Darussalam, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Riau.
Api melahap komplek asrama putra. Dalam waktu singkat, sebanyak 290 kamar berukuran sekitar 2 x 2 meter yang selama ini menjadi tempat bernaung para santri berubah menjadi puing dan bara. Sebanyak 221 santri kehilangan tempat tinggalnya.
Namun, di balik musibah itu terselip satu kabar yang patut disyukuri. Tidak ada korban jiwa dalam kebakaran tersebut. Ketika api berkobar, para santri sedang mengikuti kegiatan di masjid sehingga luput dari bencana yang melanda tempat mereka beristirahat.

“Alhamdulillah, tidak ada korban jiwa dalam musibah ini. Saat kebakaran terjadi, para santri sedang melaksanakan kegiatan di masjid,” kata Pimpinan Pondok Pesantren Syekh Burhanuddin, Abuya Ahmad Junaidi, Rabu (12/8/2026) seperti dikutip dari mediacenter riau.
Kini, halaman pesantren yang biasanya dipenuhi aktivitas belajar dan mengaji menjadi ruang sementara bagi para santri. Tenda-tenda darurat didirikan sebagai tempat berlindung sembari menunggu proses pemulihan.
Bagi para santri, kehilangan kamar bukan sekadar kehilangan sebuah ruang berukuran dua meter kali dua meter. Di ruang sederhana itulah mereka menyimpan pakaian, beristirahat setelah seharian belajar, bercengkerama dengan teman-teman, dan menyiapkan diri untuk kembali mengikuti aktivitas pesantren keesokan harinya.
Kini semuanya berubah. Mereka harus berbagi ruang yang tersisa dan menyesuaikan diri dengan kehidupan baru setelah ratusan kamar tidak lagi bisa digunakan.
Pondok Pesantren Syekh Burhanuddin sendiri membina 786 santri, terdiri dari 443 santri laki-laki dan 343 santriwati. Di tengah keterbatasan fasilitas, kegiatan pendidikan dan keagamaan tetap harus berjalan.
Ketika Bantuan Datang
Di tengah kepedihan itu, bantuan mulai berdatangan. Pemerintah Kabupaten Kampar menyalurkan makanan siap saji, lauk-pauk, beras, kasur, selimut hingga pakaian layak pakai. Sebanyak 100 paket hygiene kit juga diberikan untuk membantu memenuhi kebutuhan pribadi para santri.
BPBD dan Dinas Sosial Kabupaten Kampar terus melakukan pendampingan untuk memastikan kebutuhan dasar para santri terpenuhi selama masa pemulihan.
Bupati Kampar Ahmad Yuzar mengatakan, hal paling penting setelah musibah adalah memastikan para santri tetap mendapatkan kebutuhan dasar dan dapat menjalankan aktivitas mereka.
“Yang terpenting saat ini adalah memastikan kebutuhan para santri terpenuhi,” ujarnya.
Bantuan itu mungkin tidak langsung menggantikan 290 kamar yang hilang. Namun, bagi para santri yang kini tidur dan beraktivitas dengan fasilitas terbatas, setiap paket makanan, kasur, selimut maupun pakaian memiliki arti yang besar.
Bukan hanya barang yang datang, tetapi juga pesan bahwa mereka tidak sendirian menghadapi musibah.
Dari Bantuan Menjadi Kebersamaan
Sehari setelah kebakaran, suasana berbeda terlihat di lingkungan pesantren. Personel Polsek Kampar Kiri datang bukan hanya membawa bantuan, tetapi juga membawa tenaga untuk ikut membersihkan sisa-sisa kebakaran.

Kapolsek Kampar Kiri Kompol Rusyandi Zuhri Siregar bersama jajaran menyerahkan bantuan berupa beras, telur, mi instan, teh, gula dan minyak goreng.
Namun, setelah bantuan diserahkan, mereka tidak langsung meninggalkan pesantren. Seragam kepolisian berpadu dengan pakaian para santri. Tangan-tangan yang biasanya memegang buku, pena dan kitab, hari itu ikut mengangkat puing.
Material yang hangus dipindahkan. Sisa-sisa bangunan dibersihkan. Area yang sebelumnya dipenuhi reruntuhan perlahan ditata kembali.Tidak ada sekat antara polisi, pengelola pesantren dan para santri. Semuanya bekerja dalam satu irama: membersihkan luka yang ditinggalkan api.
Bagi Kompol Rusyandi, kehadiran polisi di tengah masyarakat tidak berhenti pada pemberian bantuan.
“Kami tidak berhenti pada penyaluran bantuan logistik. Jajaran kepolisian bersama para santri langsung bergotong royong membersihkan area,” katanya.
Gotong royong itu menjadi pemandangan sederhana, tetapi bermakna. Di tengah puing-puing bangunan yang terbakar, muncul energi lain yang justru menghangatkan suasana: kepedulian.
Yang Terbakar Hanya Asrama
Kebakaran memang menghanguskan ratusan kamar. Tetapi api tidak berhasil membakar semangat para santri untuk kembali belajar dan mengaji.
Mereka kini harus menjalani hari-hari dengan tempat tinggal sementara. Ada ruang yang harus dibagi, ada kebutuhan yang harus dipenuhi, dan ada pekerjaan besar yang menanti untuk menghadirkan kembali asrama yang layak.
Bagi keluarga besar Pondok Pesantren Syekh Burhanuddin, perjalanan pemulihan tentu tidak akan selesai dalam sehari. Puing-puing bisa dibersihkan. Bangunan bisa dibangun kembali. Kamar-kamar yang hilang suatu saat dapat berdiri lagi.
Namun, yang paling penting adalah memastikan para santri tetap memiliki tempat untuk belajar, beribadah dan menatap masa depan. Sebab pada akhirnya, yang terbakar malam itu hanyalah bangunan. Semangat untuk menuntut ilmu, kebersamaan dan harapan para santri tidak ikut menjadi abu. (*)


KAMPAR - Senin malam, 10 Agustus 2026, menjadi malam yang sulit dilupakan bagi keluarga besar Pondok Pesantren Syekh Burhanuddin Kuntu, Desa Kuntu Darussalam, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Riau.
Api melahap komplek asrama putra. Dalam waktu singkat, sebanyak 290 kamar berukuran sekitar 2 x 2 meter yang selama ini menjadi tempat bernaung para santri berubah menjadi puing dan bara. Sebanyak 221 santri kehilangan tempat tinggalnya.
Namun, di balik musibah itu terselip satu kabar yang patut disyukuri. Tidak ada korban jiwa dalam kebakaran tersebut. Ketika api berkobar, para santri sedang mengikuti kegiatan di masjid sehingga luput dari bencana yang melanda tempat mereka beristirahat.
“Alhamdulillah, tidak ada korban jiwa dalam musibah ini. Saat kebakaran terjadi, para santri sedang melaksanakan kegiatan di masjid,” kata Pimpinan Pondok Pesantren Syekh Burhanuddin, Abuya Ahmad Junaidi, Rabu (12/8/2026) seperti dikutip dari mediacenter riau.
Kini, halaman pesantren yang biasanya dipenuhi aktivitas belajar dan mengaji menjadi ruang sementara bagi para santri. Tenda-tenda darurat didirikan sebagai tempat berlindung sembari menunggu proses pemulihan.
Bagi para santri, kehilangan kamar bukan sekadar kehilangan sebuah ruang berukuran dua meter kali dua meter. Di ruang sederhana itulah mereka menyimpan pakaian, beristirahat setelah seharian belajar, bercengkerama dengan teman-teman, dan menyiapkan diri untuk kembali mengikuti aktivitas pesantren keesokan harinya.
Kini semuanya berubah. Mereka harus berbagi ruang yang tersisa dan menyesuaikan diri dengan kehidupan baru setelah ratusan kamar tidak lagi bisa digunakan.
Pondok Pesantren Syekh Burhanuddin sendiri membina 786 santri, terdiri dari 443 santri laki-laki dan 343 santriwati. Di tengah keterbatasan fasilitas, kegiatan pendidikan dan keagamaan tetap harus berjalan.
Ketika Bantuan Datang
Di tengah kepedihan itu, bantuan mulai berdatangan. Pemerintah Kabupaten Kampar menyalurkan makanan siap saji, lauk-pauk, beras, kasur, selimut hingga pakaian layak pakai. Sebanyak 100 paket hygiene kit juga diberikan untuk membantu memenuhi kebutuhan pribadi para santri.
BPBD dan Dinas Sosial Kabupaten Kampar terus melakukan pendampingan untuk memastikan kebutuhan dasar para santri terpenuhi selama masa pemulihan.
Bupati Kampar Ahmad Yuzar mengatakan, hal paling penting setelah musibah adalah memastikan para santri tetap mendapatkan kebutuhan dasar dan dapat menjalankan aktivitas mereka.
“Yang terpenting saat ini adalah memastikan kebutuhan para santri terpenuhi,” ujarnya.
Bantuan itu mungkin tidak langsung menggantikan 290 kamar yang hilang. Namun, bagi para santri yang kini tidur dan beraktivitas dengan fasilitas terbatas, setiap paket makanan, kasur, selimut maupun pakaian memiliki arti yang besar.
Bukan hanya barang yang datang, tetapi juga pesan bahwa mereka tidak sendirian menghadapi musibah.
Dari Bantuan Menjadi Kebersamaan
Sehari setelah kebakaran, suasana berbeda terlihat di lingkungan pesantren. Personel Polsek Kampar Kiri datang bukan hanya membawa bantuan, tetapi juga membawa tenaga untuk ikut membersihkan sisa-sisa kebakaran.

Kapolsek Kampar Kiri Kompol Rusyandi Zuhri Siregar bersama jajaran menyerahkan bantuan berupa beras, telur, mi instan, teh, gula dan minyak goreng.
Namun, setelah bantuan diserahkan, mereka tidak langsung meninggalkan pesantren. Seragam kepolisian berpadu dengan pakaian para santri. Tangan-tangan yang biasanya memegang buku, pena dan kitab, hari itu ikut mengangkat puing.
Material yang hangus dipindahkan. Sisa-sisa bangunan dibersihkan. Area yang sebelumnya dipenuhi reruntuhan perlahan ditata kembali.Tidak ada sekat antara polisi, pengelola pesantren dan para santri. Semuanya bekerja dalam satu irama: membersihkan luka yang ditinggalkan api.
Bagi Kompol Rusyandi, kehadiran polisi di tengah masyarakat tidak berhenti pada pemberian bantuan.
“Kami tidak berhenti pada penyaluran bantuan logistik. Jajaran kepolisian bersama para santri langsung bergotong royong membersihkan area,” katanya.
Gotong royong itu menjadi pemandangan sederhana, tetapi bermakna. Di tengah puing-puing bangunan yang terbakar, muncul energi lain yang justru menghangatkan suasana: kepedulian.
Yang Terbakar Hanya Asrama
Kebakaran memang menghanguskan ratusan kamar. Tetapi api tidak berhasil membakar semangat para santri untuk kembali belajar dan mengaji.
Mereka kini harus menjalani hari-hari dengan tempat tinggal sementara. Ada ruang yang harus dibagi, ada kebutuhan yang harus dipenuhi, dan ada pekerjaan besar yang menanti untuk menghadirkan kembali asrama yang layak.
Bagi keluarga besar Pondok Pesantren Syekh Burhanuddin, perjalanan pemulihan tentu tidak akan selesai dalam sehari. Puing-puing bisa dibersihkan. Bangunan bisa dibangun kembali. Kamar-kamar yang hilang suatu saat dapat berdiri lagi.
Namun, yang paling penting adalah memastikan para santri tetap memiliki tempat untuk belajar, beribadah dan menatap masa depan. Sebab pada akhirnya, yang terbakar malam itu hanyalah bangunan. Semangat untuk menuntut ilmu, kebersamaan dan harapan para santri tidak ikut menjadi abu. (*)