logo
● PT AIP Komitmen Rp57 Miliar untuk Kebun Masyarakat, Empat Kampung Siak Menanti R Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Gedung BWSS III Mulai Dirobohkan, Pemprov Riau Buka Jalan Alternatif Cut Nyak Di Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Polres Dumai Gerebek Tiga Titik Rawan Narkoba: 12 Orang Diamankan, 11 Positif Sa Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Azis Subekti Desak Bongkar Aktor di Balik Perambahan Tesso Nilo, Penegakan Hukum Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Dari Polemik Ijazah Gibran: Putusan Mengakhiri Perkara, Siapa Memulihkan Keperca Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Dramatis! PSPS Pekanbaru Tekuk PSMS Medan 2-1, Dua Pemain Pengganti Jadi Pahlawa Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Kualitas Udara Membaik, Siswa di Pekanbaru Kembali Belajar Tatap Muka Mulai Seni Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● UPDATE: Panama Tetapkan Darurat Nasional, Gempa Dahsyat Rusak 426 Rumah dan 419 Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Opini / OPINI
Demokrasi Setelah Kemenangan: Saatnya Tim Sukses dan Pemimpin Duduk di Meja yang Sama
Foto: Ilustrasi AI
Demokrasi Setelah Kemenangan: Saatnya Tim Sukses dan Pemimpin Duduk di Meja yang Sama
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: opini | 13 September 2026 | 14:22:09

DEMOKRASI SETELAH KEMENANGAN: SAATNYA TIM SUKSES DAN PEMIMPIN DUDUK DI MEJA YANG SAMA

OLEH: MAAL ABRAR

SETIAP kali pesta demokrasi berakhir, sesungguhnya sebuah babak baru sedang dimulai. Namun yang sering terjadi, perhatian publik lebih banyak tertuju pada siapa yang menang dan siapa yang kalah, sementara pertanyaan yang jauh lebih penting jarang diajukan: siapa yang akan membantu menyelesaikan persoalan rakyat setelah kemenangan itu diraih?

iklan-view

Hari ini, dari tingkat nasional hingga daerah, kita mendengar keluhan yang hampir serupa. Pemerintah berbicara tentang efisiensi. Kepala daerah berbicara tentang keterbatasan fiskal. Belanja pegawai yang terus meningkat menyempitkan ruang pembangunan. Kebutuhan masyarakat semakin besar, sementara kemampuan anggaran tidak selalu mampu mengimbanginya.

Kondisi ini bukan sekadar persoalan angka dalam dokumen keuangan negara. Di baliknya terdapat harapan masyarakat yang belum terpenuhi, jalan yang belum diperbaiki, sekolah yang masih membutuhkan perhatian, petani yang membutuhkan kepastian, pelaku usaha yang mencari peluang, serta generasi muda yang menunggu ruang untuk berkembang.

Di tengah realitas tersebut, saya sering bertanya dalam hati: ke mana perginya ribuan bahkan jutaan orang yang dahulu berjuang memenangkan para pemimpin itu? 

Bukankah mereka adalah orang-orang yang paling yakin terhadap gagasan perubahan yang ditawarkan? Bukankah mereka yang dahulu rela mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan hubungan sosial demi memperjuangkan kemenangan seseorang? 

Mengapa setelah kemenangan diraih, sebagian besar energi itu seolah menghilang?

Pertanyaan ini penting karena demokrasi yang sehat tidak berhenti pada pemungutan suara. Demokrasi sejatinya adalah proses gotong royong berkelanjutan antara pemimpin dan rakyat untuk menyelesaikan persoalan bersama.

Sayangnya, dalam praktik politik kita, hubungan antara tim sukses dan kandidat sering kali dibangun di atas ekspektasi yang tidak sehat.

Sebagian tim sukses berharap memperoleh proyek. Sebagian berharap mendapatkan jabatan. Sebagian berharap memperoleh akses terhadap kekuasaan.

Di sisi lain, tidak sedikit kandidat yang secara sadar maupun tidak sadar membangun harapan-harapan tersebut selama masa kampanye. Akibatnya, ketika pemilihan selesai dan harapan itu tidak terpenuhi, lahirlah kekecewaan.

Kekecewaan yang perlahan berubah menjadi jarak. Jarak yang kemudian berubah menjadi kritik..Dan tidak jarang berubah menjadi permusuhan politik.

Padahal jika ditelaah lebih dalam, kondisi ini merupakan kerugian besar bagi bangsa. Energi yang semestinya digunakan untuk membangun justru habis untuk saling menyalahkan.

Padahal Indonesia tidak kekurangan orang yang mampu mengkritik. Yang sering kita kekurangan adalah orang yang bersedia bertahan untuk ikut mencari solusi.

Dalam perspektif ilmu sosial, Robert Putnam menyebut adanya social capital atau modal sosial. Modal sosial bukan berupa uang, gedung, atau aset fisik lainnya. Modal sosial adalah jaringan kepercayaan, hubungan antarmanusia, serta kemampuan untuk bekerja sama demi tujuan bersama.

Sesungguhnya tim sukses adalah salah satu bentuk modal sosial terbesar yang dimiliki demokrasi. Mereka mengenal masyarakat. Mereka memahami persoalan di lapangan. Mereka mengetahui denyut kehidupan rakyat. Mereka memiliki jaringan hingga ke tingkat paling bawah. Mereka mampu menggerakkan orang.

Bayangkan apabila energi sebesar itu tidak berhenti setelah pemilu selesai. Bayangkan apabila para relawan, tim sukses, akademisi, tokoh masyarakat, pelaku usaha, dan komunitas tetap berkumpul secara berkala untuk memikirkan solusi atas persoalan daerah.

Mungkin kita akan menemukan lebih banyak inovasi dibandingkan keluhan. Lebih banyak kolaborasi dibandingkan konflik. Lebih banyak harapan dibandingkan kekecewaan.

Namun harapan tersebut tidak akan terwujud apabila pihak yang menang justru menutup diri setelah memperoleh kekuasaan. Inilah sisi lain yang juga perlu dikritisi.

Tidak sedikit pemimpin yang saat kampanye begitu dekat dengan masyarakat, tetapi setelah menjabat menjadi sulit dijangkau.

Saat membutuhkan dukungan, pintu terbuka lebar. Namun setelah memperoleh kekuasaan, ruang dialog perlahan menyempit. Padahal kepemimpinan yang kuat bukanlah kepemimpinan yang dikelilingi oleh pujian.

Kepemimpinan yang kuat adalah kepemimpinan yang berani mendengar. Mendengar kritik tanpa merasa terancam. Mendengar saran tanpa merasa direndahkan. Mendengar suara rakyat tanpa kehilangan wibawa.

Dalam teori kepemimpinan modern, pemimpin yang efektif bukanlah mereka yang selalu memiliki jawaban, melainkan mereka yang mampu mengumpulkan sebanyak mungkin gagasan untuk menemukan jawaban terbaik.

Karena itu, membuka diri bukan berarti membagi-bagikan jabatan atau proyek. Membuka diri adalah menyediakan ruang bagi pikiran-pikiran baik untuk tumbuh.

Sebab dalam kondisi keterbatasan anggaran seperti sekarang, sering kali solusi terbaik lahir bukan dari uang yang besar, melainkan dari gagasan yang tepat. Pada akhirnya, bangsa ini perlu membangun budaya politik yang lebih dewasa.

Budaya yang tidak memandang kemenangan sebagai akhir perjuangan. Budaya yang tidak mengukur keberhasilan dari seberapa banyak posisi yang diperoleh. Budaya yang menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan kelompok.

Kita perlu menyadari bahwa tidak ada satu pun pemimpin yang berhasil berjalan sendirian. Sebagaimana tidak ada satu pun manusia yang berhasil tanpa bantuan orang lain.

Mungkin ada doa seorang ibu yang mengiringinya. Mungkin ada relawan yang mengetuk pintu rumah warga hingga larut malam. Mungkin ada sahabat yang mempertaruhkan reputasinya. Mungkin ada masyarakat kecil yang menyisihkan waktu untuk memberikan dukungan.

Karena itu, kemenangan politik sesungguhnya bukan milik seorang individu. Ia adalah hasil gotong royong banyak orang yang percaya pada sebuah harapan. Dan jika kemenangan itu lahir dari gotong royong, maka pembangunan setelahnya juga harus dilakukan dengan semangat yang sama.

Sebab sejarah tidak akan mengingat berapa besar anggaran yang pernah dikelola seorang pemimpin..Sejarah juga tidak akan mengingat berapa banyak baliho yang pernah dipasang oleh tim sukses.

Tetapi sejarah akan selalu mengingat satu hal: Apakah setelah kemenangan diraih, mereka tetap duduk bersama untuk memikirkan nasib rakyat, atau justru saling meninggalkan ketika kekuasaan telah didapatkan.

Di situlah kualitas sesungguhnya dari demokrasi diuji. Bukan pada hari pencoblosan. Melainkan pada hari-hari setelah kemenangan. (*)

Penulis: Dosen Fisip Universitas Persada Bunda Indonesia  (UPBI), Pengamat Kebijakan Publik.

Tags: opini
Home / Opini
Demokrasi Setelah Kemenangan: Saatnya Tim Sukses dan Pemimpin Duduk di Meja yang Sama
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: opini | 13 September 2026 | 14:22:09
Demokrasi Setelah Kemenangan: Saatnya Tim Sukses dan Pemimpin Duduk di Meja yang Sama
Foto: Ilustrasi AI

DEMOKRASI SETELAH KEMENANGAN: SAATNYA TIM SUKSES DAN PEMIMPIN DUDUK DI MEJA YANG SAMA

OLEH: MAAL ABRAR

SETIAP kali pesta demokrasi berakhir, sesungguhnya sebuah babak baru sedang dimulai. Namun yang sering terjadi, perhatian publik lebih banyak tertuju pada siapa yang menang dan siapa yang kalah, sementara pertanyaan yang jauh lebih penting jarang diajukan: siapa yang akan membantu menyelesaikan persoalan rakyat setelah kemenangan itu diraih?

Hari ini, dari tingkat nasional hingga daerah, kita mendengar keluhan yang hampir serupa. Pemerintah berbicara tentang efisiensi. Kepala daerah berbicara tentang keterbatasan fiskal. Belanja pegawai yang terus meningkat menyempitkan ruang pembangunan. Kebutuhan masyarakat semakin besar, sementara kemampuan anggaran tidak selalu mampu mengimbanginya.

Kondisi ini bukan sekadar persoalan angka dalam dokumen keuangan negara. Di baliknya terdapat harapan masyarakat yang belum terpenuhi, jalan yang belum diperbaiki, sekolah yang masih membutuhkan perhatian, petani yang membutuhkan kepastian, pelaku usaha yang mencari peluang, serta generasi muda yang menunggu ruang untuk berkembang.

Di tengah realitas tersebut, saya sering bertanya dalam hati: ke mana perginya ribuan bahkan jutaan orang yang dahulu berjuang memenangkan para pemimpin itu? 

Bukankah mereka adalah orang-orang yang paling yakin terhadap gagasan perubahan yang ditawarkan? Bukankah mereka yang dahulu rela mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan hubungan sosial demi memperjuangkan kemenangan seseorang? 

Mengapa setelah kemenangan diraih, sebagian besar energi itu seolah menghilang?

Pertanyaan ini penting karena demokrasi yang sehat tidak berhenti pada pemungutan suara. Demokrasi sejatinya adalah proses gotong royong berkelanjutan antara pemimpin dan rakyat untuk menyelesaikan persoalan bersama.

Sayangnya, dalam praktik politik kita, hubungan antara tim sukses dan kandidat sering kali dibangun di atas ekspektasi yang tidak sehat.

Sebagian tim sukses berharap memperoleh proyek. Sebagian berharap mendapatkan jabatan. Sebagian berharap memperoleh akses terhadap kekuasaan.

Di sisi lain, tidak sedikit kandidat yang secara sadar maupun tidak sadar membangun harapan-harapan tersebut selama masa kampanye. Akibatnya, ketika pemilihan selesai dan harapan itu tidak terpenuhi, lahirlah kekecewaan.

Kekecewaan yang perlahan berubah menjadi jarak. Jarak yang kemudian berubah menjadi kritik..Dan tidak jarang berubah menjadi permusuhan politik.

Padahal jika ditelaah lebih dalam, kondisi ini merupakan kerugian besar bagi bangsa. Energi yang semestinya digunakan untuk membangun justru habis untuk saling menyalahkan.

Padahal Indonesia tidak kekurangan orang yang mampu mengkritik. Yang sering kita kekurangan adalah orang yang bersedia bertahan untuk ikut mencari solusi.

Dalam perspektif ilmu sosial, Robert Putnam menyebut adanya social capital atau modal sosial. Modal sosial bukan berupa uang, gedung, atau aset fisik lainnya. Modal sosial adalah jaringan kepercayaan, hubungan antarmanusia, serta kemampuan untuk bekerja sama demi tujuan bersama.

Sesungguhnya tim sukses adalah salah satu bentuk modal sosial terbesar yang dimiliki demokrasi. Mereka mengenal masyarakat. Mereka memahami persoalan di lapangan. Mereka mengetahui denyut kehidupan rakyat. Mereka memiliki jaringan hingga ke tingkat paling bawah. Mereka mampu menggerakkan orang.

Bayangkan apabila energi sebesar itu tidak berhenti setelah pemilu selesai. Bayangkan apabila para relawan, tim sukses, akademisi, tokoh masyarakat, pelaku usaha, dan komunitas tetap berkumpul secara berkala untuk memikirkan solusi atas persoalan daerah.

Mungkin kita akan menemukan lebih banyak inovasi dibandingkan keluhan. Lebih banyak kolaborasi dibandingkan konflik. Lebih banyak harapan dibandingkan kekecewaan.

Namun harapan tersebut tidak akan terwujud apabila pihak yang menang justru menutup diri setelah memperoleh kekuasaan. Inilah sisi lain yang juga perlu dikritisi.

Tidak sedikit pemimpin yang saat kampanye begitu dekat dengan masyarakat, tetapi setelah menjabat menjadi sulit dijangkau.

Saat membutuhkan dukungan, pintu terbuka lebar. Namun setelah memperoleh kekuasaan, ruang dialog perlahan menyempit. Padahal kepemimpinan yang kuat bukanlah kepemimpinan yang dikelilingi oleh pujian.

Kepemimpinan yang kuat adalah kepemimpinan yang berani mendengar. Mendengar kritik tanpa merasa terancam. Mendengar saran tanpa merasa direndahkan. Mendengar suara rakyat tanpa kehilangan wibawa.

Dalam teori kepemimpinan modern, pemimpin yang efektif bukanlah mereka yang selalu memiliki jawaban, melainkan mereka yang mampu mengumpulkan sebanyak mungkin gagasan untuk menemukan jawaban terbaik.

Karena itu, membuka diri bukan berarti membagi-bagikan jabatan atau proyek. Membuka diri adalah menyediakan ruang bagi pikiran-pikiran baik untuk tumbuh.

Sebab dalam kondisi keterbatasan anggaran seperti sekarang, sering kali solusi terbaik lahir bukan dari uang yang besar, melainkan dari gagasan yang tepat. Pada akhirnya, bangsa ini perlu membangun budaya politik yang lebih dewasa.

Budaya yang tidak memandang kemenangan sebagai akhir perjuangan. Budaya yang tidak mengukur keberhasilan dari seberapa banyak posisi yang diperoleh. Budaya yang menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan kelompok.

Kita perlu menyadari bahwa tidak ada satu pun pemimpin yang berhasil berjalan sendirian. Sebagaimana tidak ada satu pun manusia yang berhasil tanpa bantuan orang lain.

Mungkin ada doa seorang ibu yang mengiringinya. Mungkin ada relawan yang mengetuk pintu rumah warga hingga larut malam. Mungkin ada sahabat yang mempertaruhkan reputasinya. Mungkin ada masyarakat kecil yang menyisihkan waktu untuk memberikan dukungan.

Karena itu, kemenangan politik sesungguhnya bukan milik seorang individu. Ia adalah hasil gotong royong banyak orang yang percaya pada sebuah harapan. Dan jika kemenangan itu lahir dari gotong royong, maka pembangunan setelahnya juga harus dilakukan dengan semangat yang sama.

Sebab sejarah tidak akan mengingat berapa besar anggaran yang pernah dikelola seorang pemimpin..Sejarah juga tidak akan mengingat berapa banyak baliho yang pernah dipasang oleh tim sukses.

Tetapi sejarah akan selalu mengingat satu hal: Apakah setelah kemenangan diraih, mereka tetap duduk bersama untuk memikirkan nasib rakyat, atau justru saling meninggalkan ketika kekuasaan telah didapatkan.

Di situlah kualitas sesungguhnya dari demokrasi diuji. Bukan pada hari pencoblosan. Melainkan pada hari-hari setelah kemenangan. (*)

Penulis: Dosen Fisip Universitas Persada Bunda Indonesia  (UPBI), Pengamat Kebijakan Publik.

Tags: opini