logo
● Niat Beli Minuman Berujung Pencurian, Perkara Dua Pria di Pekanbaru Dihentikan L Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● SEMMI Riau Demo Kejati, Desak Dugaan Penyimpangan Dana Desa Balam Jaya Rohil Diu Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Rupiah Perkasa di Penghujung Pekan, Ditutup Rp17.882 per Dolar AS Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● BGS Berakhir, Pemko Pekanbaru Siapkan Skema Sewa untuk Pedagang STC Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● BGN Pangkas Kuota Penerima MBG Maksimal 3.000 Per Dapur untuk Cegah Keracunan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Polisi Buru IB, Diduga Pemasok 122 Pil Ekstasi ke Jaringan Pekanbaru-Kampar Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Wamendagri Bima Arya Tegaskan Pentingnya Mitigasi Bencana dan Kualitas SDM Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Tiga Anggota DPRD dari Gerindra Terseret Kasus Narkoba di Surabaya Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / KEUANGAN
Sempat Ambruk ke Rp18.031, Rupiah Berbalik dan Ditutup Rp17.981 Per-Dolar AS
Ilustrasi rupiah. (Foto: AI/Pekanbarutv)
Sempat Ambruk ke Rp18.031, Rupiah Berbalik dan Ditutup Rp17.981 Per-Dolar AS
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 29 September 2026 | 17:25:56

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (29/9/2026). Rupiah sempat menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS sebelum akhirnya memperkecil pelemahan dan ditutup di level Rp17.981 per dolar AS.

Di pasar spot, rupiah sempat tertekan hingga menyentuh level Rp18.031 per dolar AS. Posisi tersebut menjadi titik terlemah rupiah sepanjang perdagangan hari ini.

Namun, tekanan mulai mereda menjelang penutupan. Rupiah akhirnya mengakhiri perdagangan di Rp17.981 per dolar AS, melemah tipis 0,02 persen atau tiga poin dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya di Rp17.978 per dolar AS.

iklan-view

Dengan demikian, meski sempat berada di atas Rp18.000 hampir sepanjang sesi perdagangan, rupiah mampu kembali bertahan di bawah level psikologis tersebut pada akhir perdagangan.

Tekanan terhadap rupiah berlangsung di tengah meningkatnya tekanan global terhadap mata uang negara berkembang. Reuters melaporkan rupiah menembus Rp18.000 untuk pertama kalinya sejak awal Agustus, antara lain di tengah kenaikan imbal hasil obligasi AS serta meningkatnya harga minyak dunia yang memperkuat daya tarik dolar AS.

Bank Indonesia juga menyatakan tetap melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengelola volatilitas nilai tukar.

Sementara itu, pergerakan mata uang Asia pada perdagangan sore berlangsung beragam. Dolar Taiwan tercatat menjadi salah satu mata uang yang mengalami pelemahan terdalam, disusul dolar Singapura dan peso Filipina.

Baht Thailand dan rupee India juga berada di zona merah, sementara yen Jepang melemah tipis.

Di sisi lain, yuan China tercatat menguat sekitar 0,11 persen. Won Korea Selatan naik 0,08 persen dan ringgit Malaysia menguat 0,07 persen. Dolar Hong Kong juga bergerak positif meski tipis.

Data Bank Indonesia pada 29 September 2026 menunjukkan kurs transaksi USD berada pada kisaran Rp18.054,83 untuk kurs jual dan Rp17.875,17 untuk kurs beli.

Pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya masih akan menjadi perhatian pasar, terutama setelah mata uang Garuda kembali menguji sekaligus menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan hari ini. (*)

Tags: rupiah
Home / Ekonomi
Sempat Ambruk ke Rp18.031, Rupiah Berbalik dan Ditutup Rp17.981 Per-Dolar AS
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 29 September 2026 | 17:25:56
Sempat Ambruk ke Rp18.031, Rupiah Berbalik dan Ditutup Rp17.981 Per-Dolar AS
Ilustrasi rupiah. (Foto: AI/Pekanbarutv)

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (29/9/2026). Rupiah sempat menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS sebelum akhirnya memperkecil pelemahan dan ditutup di level Rp17.981 per dolar AS.

Di pasar spot, rupiah sempat tertekan hingga menyentuh level Rp18.031 per dolar AS. Posisi tersebut menjadi titik terlemah rupiah sepanjang perdagangan hari ini.

Namun, tekanan mulai mereda menjelang penutupan. Rupiah akhirnya mengakhiri perdagangan di Rp17.981 per dolar AS, melemah tipis 0,02 persen atau tiga poin dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya di Rp17.978 per dolar AS.

Dengan demikian, meski sempat berada di atas Rp18.000 hampir sepanjang sesi perdagangan, rupiah mampu kembali bertahan di bawah level psikologis tersebut pada akhir perdagangan.

Tekanan terhadap rupiah berlangsung di tengah meningkatnya tekanan global terhadap mata uang negara berkembang. Reuters melaporkan rupiah menembus Rp18.000 untuk pertama kalinya sejak awal Agustus, antara lain di tengah kenaikan imbal hasil obligasi AS serta meningkatnya harga minyak dunia yang memperkuat daya tarik dolar AS.

Bank Indonesia juga menyatakan tetap melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengelola volatilitas nilai tukar.

Sementara itu, pergerakan mata uang Asia pada perdagangan sore berlangsung beragam. Dolar Taiwan tercatat menjadi salah satu mata uang yang mengalami pelemahan terdalam, disusul dolar Singapura dan peso Filipina.

Baht Thailand dan rupee India juga berada di zona merah, sementara yen Jepang melemah tipis.

Di sisi lain, yuan China tercatat menguat sekitar 0,11 persen. Won Korea Selatan naik 0,08 persen dan ringgit Malaysia menguat 0,07 persen. Dolar Hong Kong juga bergerak positif meski tipis.

Data Bank Indonesia pada 29 September 2026 menunjukkan kurs transaksi USD berada pada kisaran Rp18.054,83 untuk kurs jual dan Rp17.875,17 untuk kurs beli.

Pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya masih akan menjadi perhatian pasar, terutama setelah mata uang Garuda kembali menguji sekaligus menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan hari ini. (*)

Tags: rupiah