
PEKANBARU - Komjen Pol Suyudi Ario Seto kini berada dalam perhatian publik setelah Presiden Prabowo Subianto mengajukannya sebagai calon tunggal Kapolri. Jika mendapat persetujuan DPR, Suyudi akan menggantikan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo sebagai orang nomor satu di Korps Bhayangkara.
Nama Suyudi sebenarnya bukan pendatang baru di jajaran elite Polri. Sebagian besar kariernya dihabiskan di lapangan, terutama dalam bidang reserse. Dari Jakarta, ia kemudian dipercaya memimpin sejumlah kepolisian daerah sebelum mendapat tugas sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN).

Suyudi merupakan lulusan Akademi Kepolisian 1994. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia meniti karier di lingkungan Polda Metro Jaya. Penugasan di bidang reserse menjadi bagian yang cukup dominan dalam perjalanan awalnya.
Ia pernah menangani perkara kriminal sebagai Kasat Reskrim di sejumlah wilayah hukum Jakarta. Jabatan sebagai Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan dan Jakarta Barat kemudian disusul posisi Kasubdit Ranmor Ditreskrimum Polda Metro Jaya.
Pengalaman di lapangan itu berjalan beriringan dengan penugasan sebagai pemimpin kewilayahan. Suyudi pernah menjadi Kapolsek Metro Tanah Abang dan Kapolsek Metro Penjaringan.
Setelah itu, tanggung jawab yang diberikan kepadanya semakin besar. Ia dipercaya menjadi Kapolres Majalengka, kemudian Kapolres Bogor dan Kapolresta Bogor Kota. Ia kembali ke Jakarta sebagai Kapolres Metro Jakarta Pusat.
Karier Suyudi kemudian tidak hanya berkutat pada persoalan keamanan di tingkat kewilayahan. Ia masuk ke lingkungan Bareskrim Polri dan mendapat sejumlah posisi yang berkaitan dengan penanganan tindak pidana.
Di Bareskrim, Suyudi pernah menjabat Wakil Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus dan Wakil Direktur Tindak Pidana Siber.
Pada 2019, ia dipercaya memimpin Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya. Pengalaman di bidang reserse tersebut menjadi salah satu bekal ketika ia kemudian mendapat posisi pimpinan yang lebih tinggi.
Pada 2023, Suyudi ditunjuk sebagai Wakapolda Metro Jaya. Setahun berselang, ia mendapat kepercayaan menjadi Kapolda Banten.
Jabatan sebagai Kapolda Banten menjadi salah satu penanda bahwa kariernya telah masuk ke jajaran perwira tinggi yang mendapat kepercayaan memimpin kepolisian daerah.
Namun, penugasan Suyudi kemudian bergeser ke isu yang berbeda dari pekerjaan kepolisian pada umumnya.
Pada 25 Agustus 2025, Presiden Prabowo melantiknya sebagai Kepala BNN. Ia menggantikan Komjen Pol Marthinus Hukom.
Sebagai Kepala BNN, Suyudi menghadapi persoalan yang tidak kalah kompleks. Peredaran narkotika tidak hanya menyangkut penindakan terhadap pelaku, tetapi juga jaringan lintas wilayah dan lintas negara, pencegahan, serta rehabilitasi bagi penyalah guna.
Beberapa pekan setelah dilantik, pangkat Suyudi dinaikkan dari Inspektur Jenderal menjadi Komisaris Jenderal. Korps Raport kenaikan pangkat itu dipimpin Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo pada 12 September 2025.
Di BNN, Suyudi beberapa kali tampil dalam agenda pemberantasan jaringan narkotika sekaligus kampanye pencegahan. Pada Januari 2026, ia memperoleh gelar Doktor Kehormatan bidang Ilmu Hukum dari Universitas Tarumanagara.
Dalam orasi ilmiahnya, Suyudi mengangkat persoalan narkotika dari perspektif hukum, keamanan, dan masa depan generasi muda. BNN menyebut pendekatan yang dibawa Suyudi tidak hanya menitikberatkan pada pemberantasan, tetapi juga pencegahan dan rehabilitasi.
Salah satu penindakan besar yang berlangsung pada masa kepemimpinannya terjadi pada Agustus 2026. BNN bersama Bea Cukai Karimun dan Polda Kepulauan Riau menggagalkan penyelundupan 2,6 ton narkotika cair di perairan Kepulauan Riau.
Di sisi pencegahan, Suyudi juga mendorong program yang menyasar anak dan generasi muda. Pada September 2026, ia menerima penghargaan sebagai Tokoh Anti Narkoba 2026 atas kiprahnya dalam upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika.
Sebelumnya, pada November 2025, ia menerima penghargaan Detikcom Awards 2025 sebagai Tokoh Penggerak Masyarakat dan Generasi Muda Bersih Narkoba.
Setelah lebih dari setahun memimpin BNN, nama Suyudi kembali ke lingkungan Polri dengan posisi yang jauh lebih tinggi.
Presiden Prabowo mengajukan Suyudi sebagai calon tunggal Kapolri melalui surat yang disampaikan kepada DPR. Pengajuan itu menempatkannya sebagai kandidat yang akan menjalani uji kelayakan dan kepatutan di parlemen.
Bagi Suyudi, proses tersebut membawa kembali dirinya ke institusi tempat ia menghabiskan sebagian besar kariernya.
Tiga puluh dua tahun setelah lulus dari Akpol, perwira yang memulai kariernya di dunia reserse itu kini berada di depan pintu jabatan tertinggi di kepolisian.
Namun, pintu itu belum sepenuhnya terbuka. Keputusan akhirnya masih berada dalam proses di DPR. (*)




PEKANBARU - Komjen Pol Suyudi Ario Seto kini berada dalam perhatian publik setelah Presiden Prabowo Subianto mengajukannya sebagai calon tunggal Kapolri. Jika mendapat persetujuan DPR, Suyudi akan menggantikan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo sebagai orang nomor satu di Korps Bhayangkara.
Nama Suyudi sebenarnya bukan pendatang baru di jajaran elite Polri. Sebagian besar kariernya dihabiskan di lapangan, terutama dalam bidang reserse. Dari Jakarta, ia kemudian dipercaya memimpin sejumlah kepolisian daerah sebelum mendapat tugas sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN).
Suyudi merupakan lulusan Akademi Kepolisian 1994. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia meniti karier di lingkungan Polda Metro Jaya. Penugasan di bidang reserse menjadi bagian yang cukup dominan dalam perjalanan awalnya.
Ia pernah menangani perkara kriminal sebagai Kasat Reskrim di sejumlah wilayah hukum Jakarta. Jabatan sebagai Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan dan Jakarta Barat kemudian disusul posisi Kasubdit Ranmor Ditreskrimum Polda Metro Jaya.
Pengalaman di lapangan itu berjalan beriringan dengan penugasan sebagai pemimpin kewilayahan. Suyudi pernah menjadi Kapolsek Metro Tanah Abang dan Kapolsek Metro Penjaringan.
Setelah itu, tanggung jawab yang diberikan kepadanya semakin besar. Ia dipercaya menjadi Kapolres Majalengka, kemudian Kapolres Bogor dan Kapolresta Bogor Kota. Ia kembali ke Jakarta sebagai Kapolres Metro Jakarta Pusat.
Karier Suyudi kemudian tidak hanya berkutat pada persoalan keamanan di tingkat kewilayahan. Ia masuk ke lingkungan Bareskrim Polri dan mendapat sejumlah posisi yang berkaitan dengan penanganan tindak pidana.
Di Bareskrim, Suyudi pernah menjabat Wakil Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus dan Wakil Direktur Tindak Pidana Siber.
Pada 2019, ia dipercaya memimpin Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya. Pengalaman di bidang reserse tersebut menjadi salah satu bekal ketika ia kemudian mendapat posisi pimpinan yang lebih tinggi.
Pada 2023, Suyudi ditunjuk sebagai Wakapolda Metro Jaya. Setahun berselang, ia mendapat kepercayaan menjadi Kapolda Banten.
Jabatan sebagai Kapolda Banten menjadi salah satu penanda bahwa kariernya telah masuk ke jajaran perwira tinggi yang mendapat kepercayaan memimpin kepolisian daerah.
Namun, penugasan Suyudi kemudian bergeser ke isu yang berbeda dari pekerjaan kepolisian pada umumnya.
Pada 25 Agustus 2025, Presiden Prabowo melantiknya sebagai Kepala BNN. Ia menggantikan Komjen Pol Marthinus Hukom.
Sebagai Kepala BNN, Suyudi menghadapi persoalan yang tidak kalah kompleks. Peredaran narkotika tidak hanya menyangkut penindakan terhadap pelaku, tetapi juga jaringan lintas wilayah dan lintas negara, pencegahan, serta rehabilitasi bagi penyalah guna.
Beberapa pekan setelah dilantik, pangkat Suyudi dinaikkan dari Inspektur Jenderal menjadi Komisaris Jenderal. Korps Raport kenaikan pangkat itu dipimpin Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo pada 12 September 2025.
Di BNN, Suyudi beberapa kali tampil dalam agenda pemberantasan jaringan narkotika sekaligus kampanye pencegahan. Pada Januari 2026, ia memperoleh gelar Doktor Kehormatan bidang Ilmu Hukum dari Universitas Tarumanagara.
Dalam orasi ilmiahnya, Suyudi mengangkat persoalan narkotika dari perspektif hukum, keamanan, dan masa depan generasi muda. BNN menyebut pendekatan yang dibawa Suyudi tidak hanya menitikberatkan pada pemberantasan, tetapi juga pencegahan dan rehabilitasi.
Salah satu penindakan besar yang berlangsung pada masa kepemimpinannya terjadi pada Agustus 2026. BNN bersama Bea Cukai Karimun dan Polda Kepulauan Riau menggagalkan penyelundupan 2,6 ton narkotika cair di perairan Kepulauan Riau.
Di sisi pencegahan, Suyudi juga mendorong program yang menyasar anak dan generasi muda. Pada September 2026, ia menerima penghargaan sebagai Tokoh Anti Narkoba 2026 atas kiprahnya dalam upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika.
Sebelumnya, pada November 2025, ia menerima penghargaan Detikcom Awards 2025 sebagai Tokoh Penggerak Masyarakat dan Generasi Muda Bersih Narkoba.
Setelah lebih dari setahun memimpin BNN, nama Suyudi kembali ke lingkungan Polri dengan posisi yang jauh lebih tinggi.
Presiden Prabowo mengajukan Suyudi sebagai calon tunggal Kapolri melalui surat yang disampaikan kepada DPR. Pengajuan itu menempatkannya sebagai kandidat yang akan menjalani uji kelayakan dan kepatutan di parlemen.
Bagi Suyudi, proses tersebut membawa kembali dirinya ke institusi tempat ia menghabiskan sebagian besar kariernya.
Tiga puluh dua tahun setelah lulus dari Akpol, perwira yang memulai kariernya di dunia reserse itu kini berada di depan pintu jabatan tertinggi di kepolisian.
Namun, pintu itu belum sepenuhnya terbuka. Keputusan akhirnya masih berada dalam proses di DPR. (*)