
PEKANBARU – OpenAI dan Meta mulai membawa persaingan kecerdasan buatan ke arah yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kedua perusahaan teknologi tersebut tidak hanya mengembangkan sistem yang bisa menjawab pertanyaan, tetapi juga menyiapkan agen AI yang dapat menjadi pendamping digital dan membantu pengguna menjalankan berbagai tugas.
Langkah itu menunjukkan perubahan besar dalam cara perusahaan teknologi melihat masa depan AI. Jika selama ini chatbot digunakan ketika manusia memberikan pertanyaan atau perintah, generasi baru agen AI dirancang untuk bekerja lebih lama, memahami kebutuhan pengguna, dan membantu menyelesaikan pekerjaan secara lebih proaktif.

Dalam laporan yang diterbitkan The Verge, Rabu (30/9/2026), jurnalis Hayden Field menyebut OpenAI dan Meta tengah mengambil jalur yang hampir serupa. Keduanya mencoba membiasakan masyarakat menggunakan agen AI terlebih dahulu sebelum membawa teknologi tersebut ke perangkat khusus.
OpenAI memperkenalkan platform agen bernama "Dots" dalam ajang DevDay 2026. CEO OpenAI Sam Altman menggambarkannya sebagai pembantu yang selalu tersedia dan dapat menerima pekerjaan dalam skala besar, kemudian membantu pengguna menyelesaikannya dari waktu ke waktu.
Dots juga dirancang untuk semakin mengenal penggunanya. Dengan demikian, hubungan antara manusia dan AI tidak lagi berhenti pada satu percakapan. Sistem tersebut diharapkan dapat memahami konteks pekerjaan dan kebutuhan pengguna dalam jangka panjang.
The Verge melaporkan, OpenAI bahkan melihat kemungkinan Dots menjadi salah satu cara utama masyarakat berinteraksi dengan ChatGPT. Kepala produk inti OpenAI, Thibault Sottiaux, mengatakan interaksi dengan agen AI nantinya dapat berlangsung melalui berbagai saluran, termasuk email, pesan, hingga panggilan telepon.
Meta mengambil langkah yang lebih jauh dengan menghubungkan agen AI miliknya, "Muse", dengan perangkat fisik.
Perusahaan yang dipimpin Mark Zuckerberg itu menyiapkan perangkat bernama "Muse Charm". Bentuknya menyerupai gantungan kunci dengan layar kecil yang menampilkan karakter Muse. Perangkat tersebut dirancang agar pengguna dapat berbicara dengan Muse dan memperlihatkan kondisi di sekitarnya tanpa harus membuka ponsel.
Zuckerberg bahkan menggambarkan perangkat tersebut seperti Tamagotchi, mainan digital populer yang pernah menjadi fenomena pada akhir 1990-an. Bedanya, Muse Charm membawa kemampuan AI yang jauh lebih kompleks.
The Verge menyebut Meta menargetkan perangkat tersebut meluncur sebelum musim belanja akhir tahun 2026. Sementara itu, perangkat AI buatan OpenAI yang dikembangkan bersama mantan desainer Apple, Jony Ive, diperkirakan baru akan tersedia paling cepat pada Februari 2027.
Langkah tersebut menarik karena sejumlah perangkat AI sebelumnya justru gagal memenuhi harapan. Produk seperti Humane AI Pin dan Friend mendapat kritik karena dianggap belum memberikan alasan kuat bagi konsumen untuk meninggalkan ponsel.
OpenAI dan Meta tampaknya mengambil pelajaran dari kegagalan tersebut. Mereka tidak langsung memaksa konsumen membeli perangkat baru. Sebaliknya, kedua perusahaan lebih dahulu mencoba membuat masyarakat terbiasa dengan agen AI melalui perangkat yang sudah digunakan sehari-hari.
Jika pengguna akhirnya merasa membutuhkan agen tersebut, perangkat khusus akan menjadi langkah berikutnya.
Strategi ini juga memperlihatkan bahwa persaingan AI mulai bergeser. Perusahaan tidak lagi hanya berlomba menciptakan model dengan kemampuan menjawab pertanyaan yang lebih baik. Mereka mulai berebut posisi sebagai pintu utama manusia untuk menjalankan berbagai aktivitas digital.
Bayangkan ketika seseorang tidak lagi perlu membuka banyak aplikasi untuk mengirim pesan, mencari informasi, mengatur jadwal atau menyelesaikan pekerjaan. Semua aktivitas itu cukup diberikan kepada satu agen yang memahami kebutuhan penggunanya.
Namun, semakin besar kemampuan yang diberikan kepada AI, semakin besar pula persoalan yang harus diselesaikan.
The Verge mencatat, Muse telah menghadapi sejumlah persoalan dalam tahap awal penggunaannya, sementara demonstrasi Dots di acara OpenAI juga tidak sepenuhnya berjalan mulus. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa teknologi ini masih memiliki pekerjaan rumah sebelum benar-benar dapat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Tantangan terbesar OpenAI dan Meta akhirnya bukan sekadar membuat AI semakin pintar. Mereka harus membuat masyarakat percaya bahwa agen tersebut dapat diandalkan, aman, dan mampu bertindak tanpa menimbulkan masalah baru.
Jika berhasil, perubahan yang terjadi bisa jauh lebih besar daripada sekadar munculnya chatbot baru.
AI tidak lagi hanya berada di dalam layar. Ia bisa hadir sebagai pendamping yang selalu tersedia, mengenal kebiasaan penggunanya, menerima pekerjaan, dan membantu mengambil tindakan.
Persaingan OpenAI dan Meta kini bukan lagi sekadar tentang siapa yang memiliki AI paling pintar.
Mereka sedang berlomba menentukan "bagaimana manusia akan berinteraksi dengan AI pada masa depan.". (*)




PEKANBARU – OpenAI dan Meta mulai membawa persaingan kecerdasan buatan ke arah yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kedua perusahaan teknologi tersebut tidak hanya mengembangkan sistem yang bisa menjawab pertanyaan, tetapi juga menyiapkan agen AI yang dapat menjadi pendamping digital dan membantu pengguna menjalankan berbagai tugas.
Langkah itu menunjukkan perubahan besar dalam cara perusahaan teknologi melihat masa depan AI. Jika selama ini chatbot digunakan ketika manusia memberikan pertanyaan atau perintah, generasi baru agen AI dirancang untuk bekerja lebih lama, memahami kebutuhan pengguna, dan membantu menyelesaikan pekerjaan secara lebih proaktif.
Dalam laporan yang diterbitkan The Verge, Rabu (30/9/2026), jurnalis Hayden Field menyebut OpenAI dan Meta tengah mengambil jalur yang hampir serupa. Keduanya mencoba membiasakan masyarakat menggunakan agen AI terlebih dahulu sebelum membawa teknologi tersebut ke perangkat khusus.
OpenAI memperkenalkan platform agen bernama "Dots" dalam ajang DevDay 2026. CEO OpenAI Sam Altman menggambarkannya sebagai pembantu yang selalu tersedia dan dapat menerima pekerjaan dalam skala besar, kemudian membantu pengguna menyelesaikannya dari waktu ke waktu.
Dots juga dirancang untuk semakin mengenal penggunanya. Dengan demikian, hubungan antara manusia dan AI tidak lagi berhenti pada satu percakapan. Sistem tersebut diharapkan dapat memahami konteks pekerjaan dan kebutuhan pengguna dalam jangka panjang.
The Verge melaporkan, OpenAI bahkan melihat kemungkinan Dots menjadi salah satu cara utama masyarakat berinteraksi dengan ChatGPT. Kepala produk inti OpenAI, Thibault Sottiaux, mengatakan interaksi dengan agen AI nantinya dapat berlangsung melalui berbagai saluran, termasuk email, pesan, hingga panggilan telepon.
Meta mengambil langkah yang lebih jauh dengan menghubungkan agen AI miliknya, "Muse", dengan perangkat fisik.
Perusahaan yang dipimpin Mark Zuckerberg itu menyiapkan perangkat bernama "Muse Charm". Bentuknya menyerupai gantungan kunci dengan layar kecil yang menampilkan karakter Muse. Perangkat tersebut dirancang agar pengguna dapat berbicara dengan Muse dan memperlihatkan kondisi di sekitarnya tanpa harus membuka ponsel.
Zuckerberg bahkan menggambarkan perangkat tersebut seperti Tamagotchi, mainan digital populer yang pernah menjadi fenomena pada akhir 1990-an. Bedanya, Muse Charm membawa kemampuan AI yang jauh lebih kompleks.
The Verge menyebut Meta menargetkan perangkat tersebut meluncur sebelum musim belanja akhir tahun 2026. Sementara itu, perangkat AI buatan OpenAI yang dikembangkan bersama mantan desainer Apple, Jony Ive, diperkirakan baru akan tersedia paling cepat pada Februari 2027.
Langkah tersebut menarik karena sejumlah perangkat AI sebelumnya justru gagal memenuhi harapan. Produk seperti Humane AI Pin dan Friend mendapat kritik karena dianggap belum memberikan alasan kuat bagi konsumen untuk meninggalkan ponsel.
OpenAI dan Meta tampaknya mengambil pelajaran dari kegagalan tersebut. Mereka tidak langsung memaksa konsumen membeli perangkat baru. Sebaliknya, kedua perusahaan lebih dahulu mencoba membuat masyarakat terbiasa dengan agen AI melalui perangkat yang sudah digunakan sehari-hari.
Jika pengguna akhirnya merasa membutuhkan agen tersebut, perangkat khusus akan menjadi langkah berikutnya.
Strategi ini juga memperlihatkan bahwa persaingan AI mulai bergeser. Perusahaan tidak lagi hanya berlomba menciptakan model dengan kemampuan menjawab pertanyaan yang lebih baik. Mereka mulai berebut posisi sebagai pintu utama manusia untuk menjalankan berbagai aktivitas digital.
Bayangkan ketika seseorang tidak lagi perlu membuka banyak aplikasi untuk mengirim pesan, mencari informasi, mengatur jadwal atau menyelesaikan pekerjaan. Semua aktivitas itu cukup diberikan kepada satu agen yang memahami kebutuhan penggunanya.
Namun, semakin besar kemampuan yang diberikan kepada AI, semakin besar pula persoalan yang harus diselesaikan.
The Verge mencatat, Muse telah menghadapi sejumlah persoalan dalam tahap awal penggunaannya, sementara demonstrasi Dots di acara OpenAI juga tidak sepenuhnya berjalan mulus. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa teknologi ini masih memiliki pekerjaan rumah sebelum benar-benar dapat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Tantangan terbesar OpenAI dan Meta akhirnya bukan sekadar membuat AI semakin pintar. Mereka harus membuat masyarakat percaya bahwa agen tersebut dapat diandalkan, aman, dan mampu bertindak tanpa menimbulkan masalah baru.
Jika berhasil, perubahan yang terjadi bisa jauh lebih besar daripada sekadar munculnya chatbot baru.
AI tidak lagi hanya berada di dalam layar. Ia bisa hadir sebagai pendamping yang selalu tersedia, mengenal kebiasaan penggunanya, menerima pekerjaan, dan membantu mengambil tindakan.
Persaingan OpenAI dan Meta kini bukan lagi sekadar tentang siapa yang memiliki AI paling pintar.
Mereka sedang berlomba menentukan "bagaimana manusia akan berinteraksi dengan AI pada masa depan.". (*)