logo
Kanit Binmas Polsek Payung Sekaki Sambangi Kebun Daun Ubi Warga, Lahan Sempit Ja Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kabar dari Tanah Suci: Tangis Haru Jemaah Pecah Saat Dikunjungi Wawako Pekanbaru Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Bupati Afni Gandeng Eks Mendikbud Mohammad Nuh, Siak Bidik Universitas NU Pertam Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Aksi Begal Makin Brutal, Seorang Polisi Jadi Korban, Kapolda Keluarkan Perintah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi DJP Riau Sita 16 Aset Penunggak Pajak Senilai Rp2,95 Miliar di Pekanbaru, Kendar Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Tragis! Pelajar 13 Tahun Meregang Nyawa Usai Jatuh Saat Salip Dump Truck di Pala Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp20 Ribu, Buyback Ikut Melemah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Belasan Ribu Ijazah SMA-SMK Riau Mengendap di Sekolah, Kajian Ombudsman RI Temuk Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / Internasional
Pernyataan Pejabat Pentagon Bikin Heboh: Pertahanan AS Lemah, Mudah Ditembus Rudal Rusia dan China
Pentagon logo.
Pernyataan Pejabat Pentagon Bikin Heboh: Pertahanan AS Lemah, Mudah Ditembus Rudal Rusia dan China
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
29 April 2026 | 08:11:32

JAKARTA - Pejabat senior Pentagon memberikan pengakuan mengejutkan di hadapan para anggota parlemen bahwa Amerika Serikat saat ini tidak memiliki pertahanan yang mumpuni untuk melawan senjata hipersonik canggih milik Rusia dan China. 

Pernyataan ini menjadi peringatan keras bagi Washington mengenai kerentanan sistem keamanan nasional mereka terhadap teknologi rudal modern para rivalnya.

Mengutip Russia Today pada Selasa, (28/4/2026), Asisten Sekretaris Perang untuk Kebijakan Luar Angkasa, Marc Berkowitz, mengungkapkan dalam sidang komite angkatan bersenjata Senat pada hari Senin, (27/4/2026), bahwa sistem pertahanan tanah air saat ini sangat terbatas. Ia menyebut sistem yang ada sekarang hanya dirancang khusus untuk menghadapi serangan skala kecil dari "negara nakal".

"Negara ini akan menghadapi masalah serius melawan rudal balistik dan tidak memiliki pertahanan terhadap senjata hipersonik atau rudal jelajah saat ini," ujar Berkowitz seperti dikutip cnbcindonesia.

iklan-view

Kondisi tersebut membuat Pentagon mendesak percepatan pendanaan untuk program sistem pertahanan rudal "Golden Dome". Inisiatif ini sebelumnya telah diluncurkan oleh Presiden Donald Trump segera setelah menjabat pada Januari 2025 dengan tujuan memperluas kapabilitas pertahanan baik di darat maupun di luar angkasa.

Pemerintahan Trump mengusulkan investasi skala besar yang diperkirakan akan menelan biaya sekitar US$ 175 miliar (Rp 3.019,2 triliun) hingga US$ 185 miliar (Rp 3.191,8 triliun) selama satu dekade mendatang. Proyek ambisius ini diharapkan mampu menutup celah keamanan yang selama ini menjadi kekhawatiran militer Amerika Serikat.

Michael Guetlein, yang memimpin program Golden Dome di dalam Pasukan Ruang Angkasa AS (US Space Force), bersaksi bahwa baik China maupun Rusia terus memodernisasi persenjataan mereka secara masif. Ia memberikan perhatian khusus pada pengerahan kendaraan luncur hipersonik serta pengembangan rudal jelajah bertenaga nuklir Burevestnik oleh Rusia yang mampu bermanuver di atmosfer.

"Sistem ini dirancang untuk menantang kemampuan pelacakan dan keterlibatan sensor kami serta memastikan kapabilitas serangan yang responsif dan mampu bertahan," kata Guetlein.

Di sisi lain, Moskow menegaskan bahwa pengembangan senjata strategis ini merupakan respons atas langkah Amerika Serikat yang menarik diri dari Perjanjian Rudal Anti-Balistik (ABM) pada era Presiden George W. Bush. Meskipun Washington mengeklaim sistem perisainya hanya ditujukan untuk ancaman seperti Korea Utara atau Iran, Rusia tetap menganggapnya sebagai ancaman terhadap keseimbangan nuklir global.

Tekanan terhadap sistem pertahanan Amerika Serikat kian terasa seiring berkecamuknya perang AS-Israel melawan Iran. Laporan internal menunjukkan bahwa stok rudal pencegat untuk sistem THAAD dan Patriot telah terkuras habis dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dipulihkan kembali ke level aman. (cnbc)

Home / News
Pernyataan Pejabat Pentagon Bikin Heboh: Pertahanan AS Lemah, Mudah Ditembus Rudal Rusia dan China
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
Rubrik: news | 29 April 2026 | 08:11:32
Pernyataan Pejabat Pentagon Bikin Heboh: Pertahanan AS Lemah, Mudah Ditembus Rudal Rusia dan China
Pentagon logo.

JAKARTA - Pejabat senior Pentagon memberikan pengakuan mengejutkan di hadapan para anggota parlemen bahwa Amerika Serikat saat ini tidak memiliki pertahanan yang mumpuni untuk melawan senjata hipersonik canggih milik Rusia dan China. 

Pernyataan ini menjadi peringatan keras bagi Washington mengenai kerentanan sistem keamanan nasional mereka terhadap teknologi rudal modern para rivalnya.

Mengutip Russia Today pada Selasa, (28/4/2026), Asisten Sekretaris Perang untuk Kebijakan Luar Angkasa, Marc Berkowitz, mengungkapkan dalam sidang komite angkatan bersenjata Senat pada hari Senin, (27/4/2026), bahwa sistem pertahanan tanah air saat ini sangat terbatas. Ia menyebut sistem yang ada sekarang hanya dirancang khusus untuk menghadapi serangan skala kecil dari "negara nakal".

"Negara ini akan menghadapi masalah serius melawan rudal balistik dan tidak memiliki pertahanan terhadap senjata hipersonik atau rudal jelajah saat ini," ujar Berkowitz seperti dikutip cnbcindonesia.

Kondisi tersebut membuat Pentagon mendesak percepatan pendanaan untuk program sistem pertahanan rudal "Golden Dome". Inisiatif ini sebelumnya telah diluncurkan oleh Presiden Donald Trump segera setelah menjabat pada Januari 2025 dengan tujuan memperluas kapabilitas pertahanan baik di darat maupun di luar angkasa.

Pemerintahan Trump mengusulkan investasi skala besar yang diperkirakan akan menelan biaya sekitar US$ 175 miliar (Rp 3.019,2 triliun) hingga US$ 185 miliar (Rp 3.191,8 triliun) selama satu dekade mendatang. Proyek ambisius ini diharapkan mampu menutup celah keamanan yang selama ini menjadi kekhawatiran militer Amerika Serikat.

Michael Guetlein, yang memimpin program Golden Dome di dalam Pasukan Ruang Angkasa AS (US Space Force), bersaksi bahwa baik China maupun Rusia terus memodernisasi persenjataan mereka secara masif. Ia memberikan perhatian khusus pada pengerahan kendaraan luncur hipersonik serta pengembangan rudal jelajah bertenaga nuklir Burevestnik oleh Rusia yang mampu bermanuver di atmosfer.

"Sistem ini dirancang untuk menantang kemampuan pelacakan dan keterlibatan sensor kami serta memastikan kapabilitas serangan yang responsif dan mampu bertahan," kata Guetlein.

Di sisi lain, Moskow menegaskan bahwa pengembangan senjata strategis ini merupakan respons atas langkah Amerika Serikat yang menarik diri dari Perjanjian Rudal Anti-Balistik (ABM) pada era Presiden George W. Bush. Meskipun Washington mengeklaim sistem perisainya hanya ditujukan untuk ancaman seperti Korea Utara atau Iran, Rusia tetap menganggapnya sebagai ancaman terhadap keseimbangan nuklir global.

Tekanan terhadap sistem pertahanan Amerika Serikat kian terasa seiring berkecamuknya perang AS-Israel melawan Iran. Laporan internal menunjukkan bahwa stok rudal pencegat untuk sistem THAAD dan Patriot telah terkuras habis dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dipulihkan kembali ke level aman. (cnbc)