
JAKARTA - Nilai tukar rupiah (IDR) kembali merosot ke zona merah. Saat pembukaan perdagangan Selasa (12/5/2026), rupiah melemah 75 poin (0,43%) ke level Rp17.489 per dolar AS atau nyaris menembus level psikologis Rp17.500. Pada penutupan sebelumnya, rupiah bertengger di level Rp17.414.
Dikutip dari MarketScreener, Selasa (12/5/2026) rupiah melemah terhadap dolar AS saat pasar memperhatikan diskusi de-eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang tidak menunjukkan tanda-tanda kemajuan.
Perkembangan tersebut mendorong kenaikan harga minyak dan membuat investor khawatir bahwa suku bunga akan tetap tinggi untuk mengatasi tekanan inflasi.
Pasar mata uang relatif tenang di awal sesi Asia, dengan fokus beralih ke kunjungan Trump ke China akhir pekan ini. Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga berada di Asia untuk pertemuan di Jepang dan Korea Selatan.
Yen Jepang terakhir berada di 157,30 per dolar AS, karena para pedagang menunggu komentar dari Bessent tentang yen dan kebijakan moneter Jepang.
Sedangkan dolar Australia turun 0,14% menjadi US$ 0,724 per dolar AS menjelang pengumuman anggaran federal.
Euro terakhir diperdagangkan pada US$ 1,1775 per dolar AS, sementara poundsterling Inggris berada di US$ 1,3602.
Ahli strategi mata uang di OCBC, Christopher Wong mengatakan penolakan Trump terhadap tanggapan Iran terhadap proposal perdamaian AS telah membuat pasar tetap waspada dan membantu menstabilkan dolar.
“Namun, penguatan USD masih terkendali, menunjukkan bahwa pasar belum menganggap berita terbaru sebagai guncangan penghindaran risiko sepenuhnya,” kata Wong, seraya mencatat bahwa kegagalan formal dalam diskusi diplomatik atau eskalasi militer baru dapat menimbulkan reaksi yang lebih besar. (inv)
JAKARTA - Nilai tukar rupiah (IDR) kembali merosot ke zona merah. Saat pembukaan perdagangan Selasa (12/5/2026), rupiah melemah 75 poin (0,43%) ke level Rp17.489 per dolar AS atau nyaris menembus level psikologis Rp17.500. Pada penutupan sebelumnya, rupiah bertengger di level Rp17.414.
Dikutip dari MarketScreener, Selasa (12/5/2026) rupiah melemah terhadap dolar AS saat pasar memperhatikan diskusi de-eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang tidak menunjukkan tanda-tanda kemajuan.
Perkembangan tersebut mendorong kenaikan harga minyak dan membuat investor khawatir bahwa suku bunga akan tetap tinggi untuk mengatasi tekanan inflasi.
Pasar mata uang relatif tenang di awal sesi Asia, dengan fokus beralih ke kunjungan Trump ke China akhir pekan ini. Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga berada di Asia untuk pertemuan di Jepang dan Korea Selatan.
Yen Jepang terakhir berada di 157,30 per dolar AS, karena para pedagang menunggu komentar dari Bessent tentang yen dan kebijakan moneter Jepang.
Sedangkan dolar Australia turun 0,14% menjadi US$ 0,724 per dolar AS menjelang pengumuman anggaran federal.
Euro terakhir diperdagangkan pada US$ 1,1775 per dolar AS, sementara poundsterling Inggris berada di US$ 1,3602.
Ahli strategi mata uang di OCBC, Christopher Wong mengatakan penolakan Trump terhadap tanggapan Iran terhadap proposal perdamaian AS telah membuat pasar tetap waspada dan membantu menstabilkan dolar.
“Namun, penguatan USD masih terkendali, menunjukkan bahwa pasar belum menganggap berita terbaru sebagai guncangan penghindaran risiko sepenuhnya,” kata Wong, seraya mencatat bahwa kegagalan formal dalam diskusi diplomatik atau eskalasi militer baru dapat menimbulkan reaksi yang lebih besar. (inv)