logo
Polemik SPMB Siak Hulu, DPRD Kampar Soroti Kinerja Disdikpora hingga Dugaan Inte Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Polda Riau Bongkar Modus Pengurangan Isi Truk Tangki BBM Bersubsidi, Tiga Orang Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Menhut Raja Juli Bungkam Soal Amplop Suhardiman, KPK Tegaskan Sudah Masuk Ranah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Menguat ke Rp17.888 per Dolar AS, Kekhawatiran Defisit APBN Mulai Mereda Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Dua Residivis Spesialis Bobol Ruko Kosong Ditangkap, Beraksi 12 Kali di Pekanbar Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kabar Baik untuk Petani Riau: Harga Sawit Naik, TBS Plasma Sentuh Rp3.930/Kg, Sw Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Sebulan Dua Korban Tewas, Kini Harimau Sumatera Nyaris Menerkam Pekerja Sawit di Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Diduga Mabuk, Pengendara Motor Tabrak Pemotor Lain di Jalan Tengku Bey Pekanbaru Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / KEUANGAN
Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Pasar Dibayangi Risiko Global dan Dalam Negeri
Ilustrasi. Rupiah terpuruk dan nyaris sentuh Rp18.000 per-Dolar AS.
Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Pasar Dibayangi Risiko Global dan Dalam Negeri
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
2 Juli 2026 | 17:09:21

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada penutupan perdagangan Kamis (2/7/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), dipicu kombinasi sentimen global dan meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi domestik.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp17.995 per dolar AS, melemah 43 poin atau 0,24 persen dibanding penutupan sehari sebelumnya di Rp17.952 per dolar AS.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah sepanjang perdagangan sempat tertekan hingga 50 poin sebelum akhirnya ditutup di level Rp17.995 per dolar AS.

Sementara itu, data Yahoo Finance mencatat rupiah berada di posisi Rp17.987 per dolar AS atau melemah 31 poin dari perdagangan sebelumnya. Adapun kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga menunjukkan pelemahan ke level Rp17.994 per dolar AS.

iklan-view

Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah dipengaruhi perkembangan terbaru pembicaraan tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran terkait keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Negosiasi yang berlangsung di Doha membahas kelancaran lalu lintas kapal serta pencairan dana milik Iran.

Meski arus pelayaran mulai pulih, ketegangan masih membayangi setelah kedua negara saling melancarkan serangan pada akhir pekan lalu. Iran juga tetap bersikeras memperoleh pengakuan internasional atas kendalinya di Selat Hormuz dan berencana memberlakukan bea masuk terhadap pengiriman mulai pertengahan Agustus.

Di sisi lain, pelaku pasar juga menanti rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, khususnya Nonfarm Payrolls (NFP), yang dinilai akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed). Saat ini, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September mencapai sekitar 67 persen.

Data ekonomi AS yang dirilis sebelumnya menunjukkan sinyal perlambatan. Kenaikan tenaga kerja sektor swasta versi ADP hanya mencapai 98 ribu pada Juni, lebih rendah dari ekspektasi 113 ribu. Sementara itu, indeks aktivitas manufaktur ISM juga turun menjadi 53,3 dari 54,0 pada bulan sebelumnya.

Tak hanya faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga datang dari dalam negeri. Ibrahim menilai kepercayaan investor terhadap Indonesia sedang menghadapi ujian setelah muncul berbagai sentimen negatif, mulai dari kasus korupsi bernilai besar, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal, defisit neraca perdagangan Mei, lonjakan inflasi, hingga penundaan pengumuman terkait pasar modal Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI.

Tekanan juga tercermin dari sektor manufaktur. Data S&P Global menunjukkan Purchasing Managers' Index (PMI) Indonesia turun ke level 46,9 pada Juni 2026. Angka tersebut menandakan aktivitas manufaktur masih berada di zona kontraksi dan menjadi penurunan terdalam dalam setahun.

Penurunan permintaan menyebabkan pesanan baru kembali menyusut dengan laju tercepat dalam satu tahun, sehingga volume produksi pabrik mengalami penurunan terbesar sejak April 2025.

Di saat bersamaan, lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings memperkirakan cadangan devisa Indonesia pada 2026 hanya mampu membiayai sekitar 4,9 bulan kebutuhan pembayaran eksternal berjalan, sedikit di bawah median negara berperingkat BBB yang mencapai lima bulan. Menurut Fitch, kondisi tersebut dipengaruhi kenaikan harga energi global, intervensi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah, serta pembayaran utang luar negeri.

Dengan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan Jumat (3/7/2026) masih akan berfluktuasi dengan kecenderungan melemah.

"Untuk perdagangan besok, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.990 hingga Rp18.050 per dolar AS dengan potensi ditutup kembali melemah," ujar Ibrahim. (**)

sumber: metrotvnews

Home / Ekonomi
Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Pasar Dibayangi Risiko Global dan Dalam Negeri
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
Rubrik: ekonomi | 2 Juli 2026 | 17:09:21
Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Pasar Dibayangi Risiko Global dan Dalam Negeri
Ilustrasi. Rupiah terpuruk dan nyaris sentuh Rp18.000 per-Dolar AS.

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada penutupan perdagangan Kamis (2/7/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), dipicu kombinasi sentimen global dan meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi domestik.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp17.995 per dolar AS, melemah 43 poin atau 0,24 persen dibanding penutupan sehari sebelumnya di Rp17.952 per dolar AS.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah sepanjang perdagangan sempat tertekan hingga 50 poin sebelum akhirnya ditutup di level Rp17.995 per dolar AS.

Sementara itu, data Yahoo Finance mencatat rupiah berada di posisi Rp17.987 per dolar AS atau melemah 31 poin dari perdagangan sebelumnya. Adapun kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga menunjukkan pelemahan ke level Rp17.994 per dolar AS.

Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah dipengaruhi perkembangan terbaru pembicaraan tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran terkait keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Negosiasi yang berlangsung di Doha membahas kelancaran lalu lintas kapal serta pencairan dana milik Iran.

Meski arus pelayaran mulai pulih, ketegangan masih membayangi setelah kedua negara saling melancarkan serangan pada akhir pekan lalu. Iran juga tetap bersikeras memperoleh pengakuan internasional atas kendalinya di Selat Hormuz dan berencana memberlakukan bea masuk terhadap pengiriman mulai pertengahan Agustus.

Di sisi lain, pelaku pasar juga menanti rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, khususnya Nonfarm Payrolls (NFP), yang dinilai akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed). Saat ini, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September mencapai sekitar 67 persen.

Data ekonomi AS yang dirilis sebelumnya menunjukkan sinyal perlambatan. Kenaikan tenaga kerja sektor swasta versi ADP hanya mencapai 98 ribu pada Juni, lebih rendah dari ekspektasi 113 ribu. Sementara itu, indeks aktivitas manufaktur ISM juga turun menjadi 53,3 dari 54,0 pada bulan sebelumnya.

Tak hanya faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga datang dari dalam negeri. Ibrahim menilai kepercayaan investor terhadap Indonesia sedang menghadapi ujian setelah muncul berbagai sentimen negatif, mulai dari kasus korupsi bernilai besar, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal, defisit neraca perdagangan Mei, lonjakan inflasi, hingga penundaan pengumuman terkait pasar modal Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI.

Tekanan juga tercermin dari sektor manufaktur. Data S&P Global menunjukkan Purchasing Managers' Index (PMI) Indonesia turun ke level 46,9 pada Juni 2026. Angka tersebut menandakan aktivitas manufaktur masih berada di zona kontraksi dan menjadi penurunan terdalam dalam setahun.

Penurunan permintaan menyebabkan pesanan baru kembali menyusut dengan laju tercepat dalam satu tahun, sehingga volume produksi pabrik mengalami penurunan terbesar sejak April 2025.

Di saat bersamaan, lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings memperkirakan cadangan devisa Indonesia pada 2026 hanya mampu membiayai sekitar 4,9 bulan kebutuhan pembayaran eksternal berjalan, sedikit di bawah median negara berperingkat BBB yang mencapai lima bulan. Menurut Fitch, kondisi tersebut dipengaruhi kenaikan harga energi global, intervensi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah, serta pembayaran utang luar negeri.

Dengan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan Jumat (3/7/2026) masih akan berfluktuasi dengan kecenderungan melemah.

"Untuk perdagangan besok, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.990 hingga Rp18.050 per dolar AS dengan potensi ditutup kembali melemah," ujar Ibrahim. (**)

sumber: metrotvnews