
PEKANBARU - Matahari baru saja tenggelam ketika pelataran Masjid Agung An Nur mulai dipenuhi lautan manusia berbaju putih. Satu per satu mereka datang membawa sajadah, Al-Qur'an, dan harapan. Tidak ada gegap gempita pesta ulang tahun kota. Tidak ada pesta kembang api. Yang terdengar justru sapaan hangat, lantunan zikir, lalu ayat-ayat suci yang perlahan memenuhi langit Pekanbaru.
Malam itu, Sabtu (4/7/2026), Hari Jadi ke-242 Kota Pekanbaru ditutup dengan cara yang berbeda. Ribuan aparatur sipil negara (ASN), PPPK, tenaga non-ASN, hingga masyarakat umum memilih merayakannya dengan membaca Surah Al-Mulk bersama-sama di halaman Masjid Agung An Nur.
Ketika imam memulai bacaan, ribuan suara menyatu. Tidak ada lagi perbedaan jabatan, pangkat, ataupun status. Yang tersisa hanyalah hamba-hamba yang sama-sama menadahkan doa kepada Sang Pencipta.

Jumlah peserta yang hadir bahkan melampaui perkiraan panitia. Sebanyak 9.184 ASN tercatat mengikuti pembacaan Surah Al-Mulk secara serentak. Angka itu jauh di atas target awal sebanyak 5.000 peserta dan mengantarkan Pemerintah Kota Pekanbaru meraih penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai pembacaan Surah Al-Mulk oleh ASN terbanyak di Indonesia.
Namun malam itu, rekor seolah hanya menjadi pelengkap.
Yang paling terasa justru suasana kebersamaan yang begitu hangat. Anak-anak duduk bersisian dengan orang tua. Para kepala organisasi perangkat daerah, camat, lurah, hingga pegawai biasa larut dalam lantunan ayat yang sama. Di bawah cahaya lampu Masjid An Nur, ribuan suara mengalun serempak, menciptakan pemandangan yang jarang terlihat dalam perayaan ulang tahun sebuah kota.

Perwakilan MURI, Andre Purwandono, menyebut apa yang terjadi malam itu sebagai peristiwa luar biasa. Ia berharap penghargaan tersebut bukan sekadar menjadi catatan prestasi, melainkan menjadi ikhtiar agar Pekanbaru terus tumbuh menjadi kota yang lebih maju, aman, dan sejahtera.
Bagi Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho, penghargaan itu memang membanggakan. Namun, yang lebih penting adalah pesan yang ingin ditinggalkan melalui peringatan hari jadi kota tahun ini.
Alih-alih menggelar banyak seremoni yang menguras anggaran, Pemerintah Kota memilih menghadirkan kegiatan yang menguatkan nilai-nilai keagamaan dan kebersamaan. Bahkan, ide pembacaan Surah Al-Mulk secara massal itu, kata Agung, datang dari sang istri, Sulastri.
Menurutnya, Surah Al-Mulk mengingatkan bahwa seluruh kekuasaan hanyalah milik Allah SWT. Jabatan yang diemban setiap pemimpin maupun ASN bukanlah kebanggaan yang abadi, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan melalui pelayanan kepada masyarakat.
Karena itu, ia mengajak seluruh ASN menjadikan malam tersebut sebagai momentum untuk memperbaiki diri, memperkuat keimanan, dan menghadirkan pelayanan publik yang lebih baik.
Tak lupa, doa juga dipanjatkan untuk Kota Pekanbaru. Agar dijauhkan dari berbagai bencana, cuaca ekstrem, dan terus diberi keberkahan sehingga masyarakatnya hidup semakin sejahtera.
Menjelang akhir acara, Ustaz Das'ad Latif naik ke atas panggung. Tausiah yang disampaikannya menambah kehangatan malam itu. Ketika ia mengajak seluruh jemaah berselawat, pelataran Masjid Agung An Nur kembali bergemuruh oleh ribuan suara yang bersahut-sahutan.
Malam pun kian larut. Rekor MURI telah resmi tercipta. Tetapi mungkin, yang akan lebih lama dikenang bukanlah angka 9.184 itu.
Melainkan momen ketika ribuan orang memilih merayakan hari lahir kotanya dengan merendahkan hati, menengadahkan tangan, dan menitipkan harapan kepada langit.
Sebab, dari Masjid Agung An Nur malam itu, Pekanbaru tidak hanya mencatat sebuah rekor nasional. Kota ini juga menegaskan bahwa sebuah perayaan dapat menjadi lebih bermakna ketika dirangkai dengan doa, kebersamaan, dan tekad untuk terus melayani. (**)







PEKANBARU - Matahari baru saja tenggelam ketika pelataran Masjid Agung An Nur mulai dipenuhi lautan manusia berbaju putih. Satu per satu mereka datang membawa sajadah, Al-Qur'an, dan harapan. Tidak ada gegap gempita pesta ulang tahun kota. Tidak ada pesta kembang api. Yang terdengar justru sapaan hangat, lantunan zikir, lalu ayat-ayat suci yang perlahan memenuhi langit Pekanbaru.
Malam itu, Sabtu (4/7/2026), Hari Jadi ke-242 Kota Pekanbaru ditutup dengan cara yang berbeda. Ribuan aparatur sipil negara (ASN), PPPK, tenaga non-ASN, hingga masyarakat umum memilih merayakannya dengan membaca Surah Al-Mulk bersama-sama di halaman Masjid Agung An Nur.
Ketika imam memulai bacaan, ribuan suara menyatu. Tidak ada lagi perbedaan jabatan, pangkat, ataupun status. Yang tersisa hanyalah hamba-hamba yang sama-sama menadahkan doa kepada Sang Pencipta.
Jumlah peserta yang hadir bahkan melampaui perkiraan panitia. Sebanyak 9.184 ASN tercatat mengikuti pembacaan Surah Al-Mulk secara serentak. Angka itu jauh di atas target awal sebanyak 5.000 peserta dan mengantarkan Pemerintah Kota Pekanbaru meraih penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai pembacaan Surah Al-Mulk oleh ASN terbanyak di Indonesia.
Namun malam itu, rekor seolah hanya menjadi pelengkap.
Yang paling terasa justru suasana kebersamaan yang begitu hangat. Anak-anak duduk bersisian dengan orang tua. Para kepala organisasi perangkat daerah, camat, lurah, hingga pegawai biasa larut dalam lantunan ayat yang sama. Di bawah cahaya lampu Masjid An Nur, ribuan suara mengalun serempak, menciptakan pemandangan yang jarang terlihat dalam perayaan ulang tahun sebuah kota.

Perwakilan MURI, Andre Purwandono, menyebut apa yang terjadi malam itu sebagai peristiwa luar biasa. Ia berharap penghargaan tersebut bukan sekadar menjadi catatan prestasi, melainkan menjadi ikhtiar agar Pekanbaru terus tumbuh menjadi kota yang lebih maju, aman, dan sejahtera.
Bagi Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho, penghargaan itu memang membanggakan. Namun, yang lebih penting adalah pesan yang ingin ditinggalkan melalui peringatan hari jadi kota tahun ini.
Alih-alih menggelar banyak seremoni yang menguras anggaran, Pemerintah Kota memilih menghadirkan kegiatan yang menguatkan nilai-nilai keagamaan dan kebersamaan. Bahkan, ide pembacaan Surah Al-Mulk secara massal itu, kata Agung, datang dari sang istri, Sulastri.
Menurutnya, Surah Al-Mulk mengingatkan bahwa seluruh kekuasaan hanyalah milik Allah SWT. Jabatan yang diemban setiap pemimpin maupun ASN bukanlah kebanggaan yang abadi, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan melalui pelayanan kepada masyarakat.
Karena itu, ia mengajak seluruh ASN menjadikan malam tersebut sebagai momentum untuk memperbaiki diri, memperkuat keimanan, dan menghadirkan pelayanan publik yang lebih baik.
Tak lupa, doa juga dipanjatkan untuk Kota Pekanbaru. Agar dijauhkan dari berbagai bencana, cuaca ekstrem, dan terus diberi keberkahan sehingga masyarakatnya hidup semakin sejahtera.
Menjelang akhir acara, Ustaz Das'ad Latif naik ke atas panggung. Tausiah yang disampaikannya menambah kehangatan malam itu. Ketika ia mengajak seluruh jemaah berselawat, pelataran Masjid Agung An Nur kembali bergemuruh oleh ribuan suara yang bersahut-sahutan.
Malam pun kian larut. Rekor MURI telah resmi tercipta. Tetapi mungkin, yang akan lebih lama dikenang bukanlah angka 9.184 itu.
Melainkan momen ketika ribuan orang memilih merayakan hari lahir kotanya dengan merendahkan hati, menengadahkan tangan, dan menitipkan harapan kepada langit.
Sebab, dari Masjid Agung An Nur malam itu, Pekanbaru tidak hanya mencatat sebuah rekor nasional. Kota ini juga menegaskan bahwa sebuah perayaan dapat menjadi lebih bermakna ketika dirangkai dengan doa, kebersamaan, dan tekad untuk terus melayani. (**)