
SIAK-Dua vial obat keras berlabel Fentanil Citrate dan Rocuronium Bromide ditemukan dekat tubuh dr Alex Kristo Lotis, dokter yang bertugas di RSUD Tengku Rafia Siak. Fentanil Citrate adalah obat obat pereda nyeri golongan opioid sintetik yang sangat kuat (50-100 kali lebih kuat dari morfin) sedangkan Rocuronium bromide termasuk dalam golongan agen penghambat neuromuskular nondepolarisasi (pelemas otot rangka) dan dikategorikan sebagai obat keras.
Kedua obat ini kemungkinan besar adala obat yang digunakan Dokter Alex dalam profesinya sebagai dokter Anestasi. Selain kedua vial obat ini, polisi juga mengamankan sejumlah barang milik korban, antara lain telepon genggam, kartu identitas, stetoskop, alat pengukur tekanan darah, alat pemeriksa gula darah, headset bluetooth dan uang tunai sebesar Rp861 ribu.
Sebelumnya, dokter Alex Kristo Lotis (30) yang bertugas di RSUD Tengku Rafian ini ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di area semak belukar di luar pagar RSUD Tengku Rafian Siak, Selasa (14/7/2026) sekitar pukul 11.30 WIB. Penemuan ini, dilakukan sejak Senin (13/7/2026) sore.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Riau, Kombes Hasyim Risahondua, mengatakan pencarian bermula ketika istri korban, Yulianti Marbun, yang juga berprofesi sebagai dokter, tidak dapat menghubungi suaminya sekitar pukul 17.30 WIB. Saat dihubungi, telepon genggam korban sudah dalam kondisi tidak aktif.

Merasa khawatir, Yulianti kemudian mencari keberadaan suaminya di lingkungan RSUD Tengku Rafian Siak dan menanyakan kepada rekan-rekan sesama dokter. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Pihak keluarga di Bagan Batu juga dihubungi, tetapi korban tetap tidak ditemukan.
Selanjutnya, keluarga bersama petugas keamanan rumah sakit menelusuri rekaman kamera pengawas (CCTV). Dari hasil pemeriksaan, korban terlihat berjalan seorang diri menuju pintu keluar di Pos Satpam RSUD Tengku Rafian Siak sebelum meninggalkan area rumah sakit.
Pencarian kembali dilakukan pada Selasa pagi dengan menyisir lokasi terakhir yang terekam kamera pengawas. Sekitar pukul 11.30 WIB, dua petugas keamanan bersama seorang sopir ambulans memeriksa area semak belukar di samping pagar rumah sakit.
Salah seorang petugas kemudian memanjat pagar dan menemukan korban dalam posisi terlentang di semak-semak. Lokasi penemuan berada sekitar lima meter dari luar pagar rumah sakit atau sekitar 30 meter dari tepi Jalan Raja Kecik. Di dekat jasad korban juga ditemukan tas sandang miliknya.
Setelah menerima laporan, Satreskrim Polres Siak langsung mengamankan lokasi dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Jenazah kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Pekanbaru untuk menjalani autopsi.
"Berdasarkan pemeriksaan awal di lokasi, belum ditemukan tanda-tanda kekerasan secara kasat mata pada tubuh korban. Penyebab kematian masih menunggu hasil autopsi dan pemeriksaan laboratorium forensik," ujar Hasyim.(*)






SIAK-Dua vial obat keras berlabel Fentanil Citrate dan Rocuronium Bromide ditemukan dekat tubuh dr Alex Kristo Lotis, dokter yang bertugas di RSUD Tengku Rafia Siak. Fentanil Citrate adalah obat obat pereda nyeri golongan opioid sintetik yang sangat kuat (50-100 kali lebih kuat dari morfin) sedangkan Rocuronium bromide termasuk dalam golongan agen penghambat neuromuskular nondepolarisasi (pelemas otot rangka) dan dikategorikan sebagai obat keras.
Kedua obat ini kemungkinan besar adala obat yang digunakan Dokter Alex dalam profesinya sebagai dokter Anestasi. Selain kedua vial obat ini, polisi juga mengamankan sejumlah barang milik korban, antara lain telepon genggam, kartu identitas, stetoskop, alat pengukur tekanan darah, alat pemeriksa gula darah, headset bluetooth dan uang tunai sebesar Rp861 ribu.
Sebelumnya, dokter Alex Kristo Lotis (30) yang bertugas di RSUD Tengku Rafian ini ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di area semak belukar di luar pagar RSUD Tengku Rafian Siak, Selasa (14/7/2026) sekitar pukul 11.30 WIB. Penemuan ini, dilakukan sejak Senin (13/7/2026) sore.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Riau, Kombes Hasyim Risahondua, mengatakan pencarian bermula ketika istri korban, Yulianti Marbun, yang juga berprofesi sebagai dokter, tidak dapat menghubungi suaminya sekitar pukul 17.30 WIB. Saat dihubungi, telepon genggam korban sudah dalam kondisi tidak aktif.
Merasa khawatir, Yulianti kemudian mencari keberadaan suaminya di lingkungan RSUD Tengku Rafian Siak dan menanyakan kepada rekan-rekan sesama dokter. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Pihak keluarga di Bagan Batu juga dihubungi, tetapi korban tetap tidak ditemukan.
Selanjutnya, keluarga bersama petugas keamanan rumah sakit menelusuri rekaman kamera pengawas (CCTV). Dari hasil pemeriksaan, korban terlihat berjalan seorang diri menuju pintu keluar di Pos Satpam RSUD Tengku Rafian Siak sebelum meninggalkan area rumah sakit.
Pencarian kembali dilakukan pada Selasa pagi dengan menyisir lokasi terakhir yang terekam kamera pengawas. Sekitar pukul 11.30 WIB, dua petugas keamanan bersama seorang sopir ambulans memeriksa area semak belukar di samping pagar rumah sakit.
Salah seorang petugas kemudian memanjat pagar dan menemukan korban dalam posisi terlentang di semak-semak. Lokasi penemuan berada sekitar lima meter dari luar pagar rumah sakit atau sekitar 30 meter dari tepi Jalan Raja Kecik. Di dekat jasad korban juga ditemukan tas sandang miliknya.
Setelah menerima laporan, Satreskrim Polres Siak langsung mengamankan lokasi dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Jenazah kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Pekanbaru untuk menjalani autopsi.
"Berdasarkan pemeriksaan awal di lokasi, belum ditemukan tanda-tanda kekerasan secara kasat mata pada tubuh korban. Penyebab kematian masih menunggu hasil autopsi dan pemeriksaan laboratorium forensik," ujar Hasyim.(*)