logo
Rupiah Pagi Ini Melorot ke Rp18.000 per dollar Amerika Serikat, Dampak Gubernur Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Besok Pembacaan Duplik, Kasus Dugaan Korupsi Abdul Wahid Masuki Babak Akhir Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Satres Narkoba Polresta Pekanbaru Tangkap Pengedar Narkoba di Sukajadi, Sita 24, Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi BMKG Pantau Tiga Hotspot di Riau, Hujan Ringan Masih Guyur Sejumlah Daerah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi BREAKING NEWS: Gubernur BI Perry Warjiyo Mengundurkan Diri, Destry Damayanti Pim Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Ratusan Tokoh Lima Daerah Gelar Musyawarah di Dumai, Bahas Pembentukan Provinsi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pejabat Pemko Pekanbaru Berkinerja Buruk Siap Diganti, Agung Nugroho Terapkan Ev Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pets Day Out 2026 Pekanbaru Jadi Magnet Pecinta Satwa, Edukasi Reptil hingga Vak Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Lingkungan / Pekanbaru
Konflik Manusia dan Harimau di Pelalawan, Pemprov Riau Keluarkan Imbauan Untuk Warga
Tim BKSDA Riau memasang kandang jebak atau box trap di lokasi serangan harimau sumatera yang menewaskan pekerja Hutan Tanaman Industri (HTI) di camp TPK PT Madukoro Lestari Estate Tasik Desa Sungai Ara, Kecamatan Pelalawan, Pelalawan pada Jumat (10/7/2026) lalu. (Foto: Dok. BBKSDA Riau)
Konflik Manusia dan Harimau di Pelalawan, Pemprov Riau Keluarkan Imbauan Untuk Warga
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: yob ayrus
19 Juli 2026 | 15:23:07

PEKANBARU-Pemerintah Provinsi Riau meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di kawasan hutan dan perkebunan setelah kembali terjadi konflik antara manusia dan Harimau Sumatera di sejumlah wilayah. Imbauan ini disampaikan sebagai langkah mitigasi guna mencegah bertambahnya korban sekaligus menjaga kelestarian satwa yang dilindungi tersebut.

Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Syahrial Abdi mengatakan, masyarakat yang bekerja di kebun, kawasan hutan maupun wilayah yang selama ini menjadi habitat atau jalur lintasan Harimau Sumatera diminta lebih berhati-hati dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

"Kami mengimbau masyarakat agar selalu waspada saat beraktivitas di kawasan hutan dan perkebunan. Sebisa mungkin jangan bekerja sendirian, apalagi hingga malam hari. Keselamatan harus menjadi prioritas," kata Syahrial Abdi, Minggu (19/7/2026).

Menurutnya, aktivitas di kawasan yang berpotensi menjadi habitat satwa liar sebaiknya dilakukan secara berkelompok. Cara ini dinilai dapat mengurangi risiko apabila sewaktu-waktu terjadi pertemuan dengan Harimau Sumatera.

iklan-view

Selain tidak bekerja seorang diri, masyarakat juga diminta menghindari aktivitas pada malam hari karena waktu tersebut merupakan periode ketika satwa liar lebih aktif bergerak di dalam kawasan hutan maupun perkebunan.

Syahrial menegaskan bahwa masyarakat harus memahami cara bertindak apabila berhadapan langsung dengan Harimau Sumatera. Kepanikan justru dapat memperbesar risiko terjadinya serangan.

"Kalau bertemu harimau, jangan panik. Jangan mendekati atau mengganggunya. Mundurlah secara perlahan sambil tetap mengawasi keberadaan satwa tersebut. Yang paling penting, jangan mencoba menangkap ataupun membunuhnya," ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa Harimau Sumatera merupakan satwa yang dilindungi oleh undang-undang sehingga segala bentuk tindakan yang mengancam kelangsungan hidupnya harus dihindari.

Menurut Syahrial, keberadaan Harimau Sumatera memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Karena itu, upaya perlindungan satwa tersebut harus berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap keselamatan masyarakat.

"Harimau juga makhluk hidup yang berhak hidup di habitatnya. Karena itu jangan diganggu, apalagi dibunuh. Mari kita sama-sama menjaga kelestarian satwa yang menjadi kebanggaan Indonesia ini," tegasnya.

Pemprov Riau juga meminta masyarakat segera melapor apabila menemukan jejak, melihat kemunculan, atau mengetahui keberadaan Harimau Sumatera di sekitar permukiman, kebun maupun lokasi aktivitas warga.

Laporan tersebut dapat disampaikan kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, pemerintah desa, pemerintah daerah maupun aparat berwenang agar penanganan dapat dilakukan sesuai prosedur.

"Kami berharap masyarakat tidak bertindak sendiri. Segera laporkan kepada petugas agar langkah mitigasi dapat dilakukan dengan cepat dan tepat, sehingga keselamatan masyarakat maupun kelestarian satwa sama-sama terjaga," kata Syahrial.

Imbauan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya perhatian terhadap konflik manusia dan Harimau Sumatera di Riau dalam beberapa waktu terakhir.

Serangkaian insiden di Kabupaten Pelalawan yang menyebabkan korban jiwa kembali menjadi pengingat bahwa interaksi antara manusia dan satwa liar masih menjadi tantangan serius, terutama di wilayah yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan.

Sebelumnya, konflik serupa juga pernah terjadi di kawasan Teluk Lanus, Kabupaten Siak. Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa potensi kemunculan Harimau Sumatera masih cukup tinggi di sejumlah daerah yang berdekatan dengan habitat alaminya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena selain mengancam keselamatan masyarakat, konflik berkepanjangan juga berpotensi membahayakan kelestarian Harimau Sumatera yang populasinya terus menghadapi tekanan akibat berkurangnya habitat.

Pemprov Riau menilai upaya mitigasi menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko konflik. Edukasi kepada masyarakat mengenai prosedur keselamatan, pelaporan cepat kepada petugas, hingga menjaga kawasan habitat satwa liar menjadi bagian dari strategi yang terus didorong.

Syahrial menegaskan, penyelesaian konflik manusia dan Harimau Sumatera tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah. Dibutuhkan peran aktif masyarakat untuk mematuhi imbauan keselamatan serta mendukung upaya konservasi yang dilakukan instansi terkait.

"Kita semua memiliki tanggung jawab menjaga keselamatan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian Harimau Sumatera. Yang paling penting menjadi perhatian kita bersama adalah melestarikan ekosistem lingkungan dan keberlangsungan hidup satwa yang dilindungi," ujarnya.

Melalui peningkatan kewaspadaan dan pelaporan yang cepat kepada petugas, Pemprov Riau berharap potensi konflik dapat ditekan sehingga keselamatan masyarakat tetap terjaga tanpa mengorbankan kelestarian Harimau Sumatera sebagai salah satu satwa endemik Indonesia yang dilindungi. (tpc)

Konflik Manusia dan Harimau di Pelalawan, Pemprov Riau Keluarkan Imbauan Untuk Warga
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: yob ayrus
Rubrik: lingkungan | 19 Juli 2026 | 15:23:07
Konflik Manusia dan Harimau di Pelalawan, Pemprov Riau Keluarkan Imbauan Untuk Warga
Tim BKSDA Riau memasang kandang jebak atau box trap di lokasi serangan harimau sumatera yang menewaskan pekerja Hutan Tanaman Industri (HTI) di camp TPK PT Madukoro Lestari Estate Tasik Desa Sungai Ara, Kecamatan Pelalawan, Pelalawan pada Jumat (10/7/2026) lalu. (Foto: Dok. BBKSDA Riau)

PEKANBARU-Pemerintah Provinsi Riau meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di kawasan hutan dan perkebunan setelah kembali terjadi konflik antara manusia dan Harimau Sumatera di sejumlah wilayah. Imbauan ini disampaikan sebagai langkah mitigasi guna mencegah bertambahnya korban sekaligus menjaga kelestarian satwa yang dilindungi tersebut.

Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Syahrial Abdi mengatakan, masyarakat yang bekerja di kebun, kawasan hutan maupun wilayah yang selama ini menjadi habitat atau jalur lintasan Harimau Sumatera diminta lebih berhati-hati dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

"Kami mengimbau masyarakat agar selalu waspada saat beraktivitas di kawasan hutan dan perkebunan. Sebisa mungkin jangan bekerja sendirian, apalagi hingga malam hari. Keselamatan harus menjadi prioritas," kata Syahrial Abdi, Minggu (19/7/2026).

Menurutnya, aktivitas di kawasan yang berpotensi menjadi habitat satwa liar sebaiknya dilakukan secara berkelompok. Cara ini dinilai dapat mengurangi risiko apabila sewaktu-waktu terjadi pertemuan dengan Harimau Sumatera.

Selain tidak bekerja seorang diri, masyarakat juga diminta menghindari aktivitas pada malam hari karena waktu tersebut merupakan periode ketika satwa liar lebih aktif bergerak di dalam kawasan hutan maupun perkebunan.

Syahrial menegaskan bahwa masyarakat harus memahami cara bertindak apabila berhadapan langsung dengan Harimau Sumatera. Kepanikan justru dapat memperbesar risiko terjadinya serangan.

"Kalau bertemu harimau, jangan panik. Jangan mendekati atau mengganggunya. Mundurlah secara perlahan sambil tetap mengawasi keberadaan satwa tersebut. Yang paling penting, jangan mencoba menangkap ataupun membunuhnya," ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa Harimau Sumatera merupakan satwa yang dilindungi oleh undang-undang sehingga segala bentuk tindakan yang mengancam kelangsungan hidupnya harus dihindari.

Menurut Syahrial, keberadaan Harimau Sumatera memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Karena itu, upaya perlindungan satwa tersebut harus berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap keselamatan masyarakat.

"Harimau juga makhluk hidup yang berhak hidup di habitatnya. Karena itu jangan diganggu, apalagi dibunuh. Mari kita sama-sama menjaga kelestarian satwa yang menjadi kebanggaan Indonesia ini," tegasnya.

Pemprov Riau juga meminta masyarakat segera melapor apabila menemukan jejak, melihat kemunculan, atau mengetahui keberadaan Harimau Sumatera di sekitar permukiman, kebun maupun lokasi aktivitas warga.

Laporan tersebut dapat disampaikan kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, pemerintah desa, pemerintah daerah maupun aparat berwenang agar penanganan dapat dilakukan sesuai prosedur.

"Kami berharap masyarakat tidak bertindak sendiri. Segera laporkan kepada petugas agar langkah mitigasi dapat dilakukan dengan cepat dan tepat, sehingga keselamatan masyarakat maupun kelestarian satwa sama-sama terjaga," kata Syahrial.

Imbauan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya perhatian terhadap konflik manusia dan Harimau Sumatera di Riau dalam beberapa waktu terakhir.

Serangkaian insiden di Kabupaten Pelalawan yang menyebabkan korban jiwa kembali menjadi pengingat bahwa interaksi antara manusia dan satwa liar masih menjadi tantangan serius, terutama di wilayah yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan.

Sebelumnya, konflik serupa juga pernah terjadi di kawasan Teluk Lanus, Kabupaten Siak. Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa potensi kemunculan Harimau Sumatera masih cukup tinggi di sejumlah daerah yang berdekatan dengan habitat alaminya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena selain mengancam keselamatan masyarakat, konflik berkepanjangan juga berpotensi membahayakan kelestarian Harimau Sumatera yang populasinya terus menghadapi tekanan akibat berkurangnya habitat.

Pemprov Riau menilai upaya mitigasi menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko konflik. Edukasi kepada masyarakat mengenai prosedur keselamatan, pelaporan cepat kepada petugas, hingga menjaga kawasan habitat satwa liar menjadi bagian dari strategi yang terus didorong.

Syahrial menegaskan, penyelesaian konflik manusia dan Harimau Sumatera tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah. Dibutuhkan peran aktif masyarakat untuk mematuhi imbauan keselamatan serta mendukung upaya konservasi yang dilakukan instansi terkait.

"Kita semua memiliki tanggung jawab menjaga keselamatan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian Harimau Sumatera. Yang paling penting menjadi perhatian kita bersama adalah melestarikan ekosistem lingkungan dan keberlangsungan hidup satwa yang dilindungi," ujarnya.

Melalui peningkatan kewaspadaan dan pelaporan yang cepat kepada petugas, Pemprov Riau berharap potensi konflik dapat ditekan sehingga keselamatan masyarakat tetap terjaga tanpa mengorbankan kelestarian Harimau Sumatera sebagai salah satu satwa endemik Indonesia yang dilindungi. (tpc)