logo
Pengunduran Diri Gubernur BI Picu Sentimen Negatif, Rupiah Terkapar ke Rp18.009 Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kebakaran Hebat di Sukajadi, Api Lahap Dua Lantai Ruko Bahan Bangunan, 2 Warga L Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Ditangkap Polsek Sungai Apit, Tangan Terborgol Pengedar Sabu Kabur Masuk Kebun S Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi "Buk Bupati, Bilo Ngonten?" Sindiran Warga Siak Viral, Jalan Sungai Rawa Rusak P Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Teror Harimau Lumpuhkan Aktivitas Warga Inhil, Sekolah Ditutup dan Belajar Diali Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kejati Periksa Sejumlah Saksi dan Sita Dokumen dalam Kasus Smart Board Disdik Ri Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Anggaran Setda Pekanbaru Rp170 Miliar, Hearing DPRD Batal Plh Setdako tak Hadir Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Remaja SMP 14 Tahun di Pelalawan Dibawa Kabur, Pacarnya Ditahan Polisi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / Indragiri Hilir
Harga Kelapa Inhil Anjlok Jadi Rp1.800/Kg, Petani Desak Pemerintah Tetapkan Standar Harga
Petani kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir mengeluhkan penurunan harga. (Foto: Ade Prasetia)
Harga Kelapa Inhil Anjlok Jadi Rp1.800/Kg, Petani Desak Pemerintah Tetapkan Standar Harga
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: ade prasetia
27 Juli 2026 | 14:56:27

PEKANBARU-Harga kelapa bulat di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau terus mengalami penurunan tajam dalam beberapa pekan terakhir. Harga yang sebelumnya sekitar Rp2.700 per kilogram, kini turun menjadi Rp2.200 per kilogram, bahkan sempat menyentuh Rp1.800 per kilogram di tingkat petani.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran, karena berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat yang mayoritas bergantung pada sektor perkebunan kelapa.

Penurunan harga dipicu melimpahnya hasil panen kelapa di daerah yang terjadi bersamaan dengan melemahnya permintaan pasar ekspor. Ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan membuat harga jual di tingkat petani terus tertekan.

Kabupaten Indragiri Hilir selama ini dikenal sebagai salah satu sentra kelapa terbesar di Indonesia. Lebih dari 80 persen masyarakatnya menggantungkan mata pencaharian pada sektor perkebunan kelapa, sehingga fluktuasi harga komoditas tersebut memiliki dampak luas terhadap aktivitas ekonomi daerah.

iklan-view

Turunnya harga kelapa tidak hanya mengurangi pendapatan petani, tetapi juga memengaruhi kemampuan masyarakat memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga.

Kondisi itu semakin berat, karena terjadi bersamaan dengan dimulainya tahun ajaran baru sekolah yang membutuhkan biaya pendidikan cukup besar, termasuk bagi keluarga yang memiliki anak di perguruan tinggi.

Sejumlah petani mengaku, pendapatan yang diperoleh dari hasil panen kini tidak lagi sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk perawatan kebun maupun kebutuhan hidup sehari-hari. Mereka berharap, pemerintah segera mengambil langkah konkret agar harga kelapa tidak terus merosot.

Norman, salah seorang petani kelapa di Indragiri Hilir mengatakan, penurunan harga sangat dirasakan masyarakat karena sebagian besar penduduk menggantungkan hidup dari komoditas tersebut.

Menurutnya, kondisi ini membuat banyak keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan ekonomi, terutama menjelang pembayaran biaya sekolah dan kuliah anak-anak mereka.

Selain petani, para penampung kelapa juga ikut terdampak akibat melemahnya harga jual. Untuk mengurangi kerugian, sebagian penampung mulai mengubah strategi usaha dengan mengolah kelapa menjadi kopra cungkil mentah yang memiliki nilai jual lebih baik dibanding menjual kelapa bulat secara langsung.

Muhammad Suderi, penampung kelapa di Inhil menyebut adanya penurunan harga kelapa. (Foto: Ade Prasetia)

Muhammad Suderi, seorang penampung kelapa menjelaskan, pengolahan hasil kelapa menjadi produk turunan menjadi salah satu cara agar usaha tetap berjalan di tengah penurunan harga bahan baku.

"Selain memproduksi kopra, limbah tempurung kelapa juga dimanfaatkan menjadi arang briket dan karbon. Produk tersebut kemudian dipasarkan ke berbagai daerah, antara lain Jawa Tengah, Jakarta dan Batam," ujar Suderi kepada PekanbaruTv.Com, Senin (27/7/2026).

Langkah itu dinilai mampu memberikan tambahan nilai ekonomi, sekaligus mengurangi limbah hasil produksi. Namun, para pelaku usaha menilai upaya tersebut belum cukup untuk mengatasi persoalan utama, yakni rendahnya harga kelapa di tingkat petani.

Petani dan penampung menilai diperlukan kebijakan pemerintah yang mampu memberikan kepastian harga sehingga gejolak pasar tidak selalu berdampak langsung terhadap pendapatan masyarakat.

Mereka berharap, pemerintah dapat menerapkan mekanisme penetapan harga standar sebagaimana yang telah diberlakukan pada komoditas kelapa sawit. Dengan adanya harga acuan, petani diharapkan memperoleh perlindungan ketika harga pasar mengalami penurunan drastis.

Selain itu, pemerintah juga diminta mempercepat pengembangan industri hilir kelapa di Indragiri Hilir. Selama ini sebagian besar hasil produksi masih dijual dalam bentuk bahan baku sehingga nilai tambah ekonomi dinikmati di luar daerah.

Pengembangan industri pengolahan dinilai dapat membuka lapangan kerja baru, meningkatkan nilai jual hasil panen, sekaligus memperkuat daya saing komoditas kelapa asal Riau di pasar nasional maupun internasional.

Hilirisasi juga diyakini mampu menciptakan rantai ekonomi baru melalui pengolahan berbagai produk turunan seperti minyak kelapa, santan, kopra, karbon aktif, arang briket, hingga produk pangan dan kosmetik berbahan dasar kelapa.

Dengan meningkatnya kapasitas industri pengolahan di daerah, ketergantungan terhadap pasar ekspor bahan mentah diharapkan dapat berkurang sehingga fluktuasi harga global tidak terlalu memengaruhi pendapatan petani.

Anjloknya harga kelapa di Indragiri Hilir menjadi perhatian karena menyangkut keberlangsungan ekonomi ribuan keluarga yang bergantung pada sektor perkebunan.

Para petani berharap, pemerintah segera menghadirkan kebijakan yang mampu menjaga stabilitas harga sekaligus mempercepat hilirisasi agar komoditas unggulan daerah tersebut memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat.

Apabila harga terus berada di level rendah tanpa adanya intervensi kebijakan, daya beli masyarakat berpotensi melemah, aktivitas ekonomi daerah melambat, dan kesejahteraan petani semakin tertekan. Karena itu, penetapan harga acuan serta pengembangan industri hilir dinilai menjadi dua langkah penting untuk menjaga keberlanjutan sektor perkelapaan di Indragiri Hilir. (ade)

Home / Ekonomi
Harga Kelapa Inhil Anjlok Jadi Rp1.800/Kg, Petani Desak Pemerintah Tetapkan Standar Harga
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: ade prasetia
Rubrik: ekonomi | 27 Juli 2026 | 14:56:27
Harga Kelapa Inhil Anjlok Jadi Rp1.800/Kg, Petani Desak Pemerintah Tetapkan Standar Harga
Petani kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir mengeluhkan penurunan harga. (Foto: Ade Prasetia)

PEKANBARU-Harga kelapa bulat di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau terus mengalami penurunan tajam dalam beberapa pekan terakhir. Harga yang sebelumnya sekitar Rp2.700 per kilogram, kini turun menjadi Rp2.200 per kilogram, bahkan sempat menyentuh Rp1.800 per kilogram di tingkat petani.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran, karena berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat yang mayoritas bergantung pada sektor perkebunan kelapa.

Penurunan harga dipicu melimpahnya hasil panen kelapa di daerah yang terjadi bersamaan dengan melemahnya permintaan pasar ekspor. Ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan membuat harga jual di tingkat petani terus tertekan.

Kabupaten Indragiri Hilir selama ini dikenal sebagai salah satu sentra kelapa terbesar di Indonesia. Lebih dari 80 persen masyarakatnya menggantungkan mata pencaharian pada sektor perkebunan kelapa, sehingga fluktuasi harga komoditas tersebut memiliki dampak luas terhadap aktivitas ekonomi daerah.

Turunnya harga kelapa tidak hanya mengurangi pendapatan petani, tetapi juga memengaruhi kemampuan masyarakat memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga.

Kondisi itu semakin berat, karena terjadi bersamaan dengan dimulainya tahun ajaran baru sekolah yang membutuhkan biaya pendidikan cukup besar, termasuk bagi keluarga yang memiliki anak di perguruan tinggi.

Sejumlah petani mengaku, pendapatan yang diperoleh dari hasil panen kini tidak lagi sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk perawatan kebun maupun kebutuhan hidup sehari-hari. Mereka berharap, pemerintah segera mengambil langkah konkret agar harga kelapa tidak terus merosot.

Norman, salah seorang petani kelapa di Indragiri Hilir mengatakan, penurunan harga sangat dirasakan masyarakat karena sebagian besar penduduk menggantungkan hidup dari komoditas tersebut.

Menurutnya, kondisi ini membuat banyak keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan ekonomi, terutama menjelang pembayaran biaya sekolah dan kuliah anak-anak mereka.

Selain petani, para penampung kelapa juga ikut terdampak akibat melemahnya harga jual. Untuk mengurangi kerugian, sebagian penampung mulai mengubah strategi usaha dengan mengolah kelapa menjadi kopra cungkil mentah yang memiliki nilai jual lebih baik dibanding menjual kelapa bulat secara langsung.

Muhammad Suderi, penampung kelapa di Inhil menyebut adanya penurunan harga kelapa. (Foto: Ade Prasetia)

Muhammad Suderi, seorang penampung kelapa menjelaskan, pengolahan hasil kelapa menjadi produk turunan menjadi salah satu cara agar usaha tetap berjalan di tengah penurunan harga bahan baku.

"Selain memproduksi kopra, limbah tempurung kelapa juga dimanfaatkan menjadi arang briket dan karbon. Produk tersebut kemudian dipasarkan ke berbagai daerah, antara lain Jawa Tengah, Jakarta dan Batam," ujar Suderi kepada PekanbaruTv.Com, Senin (27/7/2026).

Langkah itu dinilai mampu memberikan tambahan nilai ekonomi, sekaligus mengurangi limbah hasil produksi. Namun, para pelaku usaha menilai upaya tersebut belum cukup untuk mengatasi persoalan utama, yakni rendahnya harga kelapa di tingkat petani.

Petani dan penampung menilai diperlukan kebijakan pemerintah yang mampu memberikan kepastian harga sehingga gejolak pasar tidak selalu berdampak langsung terhadap pendapatan masyarakat.

Mereka berharap, pemerintah dapat menerapkan mekanisme penetapan harga standar sebagaimana yang telah diberlakukan pada komoditas kelapa sawit. Dengan adanya harga acuan, petani diharapkan memperoleh perlindungan ketika harga pasar mengalami penurunan drastis.

Selain itu, pemerintah juga diminta mempercepat pengembangan industri hilir kelapa di Indragiri Hilir. Selama ini sebagian besar hasil produksi masih dijual dalam bentuk bahan baku sehingga nilai tambah ekonomi dinikmati di luar daerah.

Pengembangan industri pengolahan dinilai dapat membuka lapangan kerja baru, meningkatkan nilai jual hasil panen, sekaligus memperkuat daya saing komoditas kelapa asal Riau di pasar nasional maupun internasional.

Hilirisasi juga diyakini mampu menciptakan rantai ekonomi baru melalui pengolahan berbagai produk turunan seperti minyak kelapa, santan, kopra, karbon aktif, arang briket, hingga produk pangan dan kosmetik berbahan dasar kelapa.

Dengan meningkatnya kapasitas industri pengolahan di daerah, ketergantungan terhadap pasar ekspor bahan mentah diharapkan dapat berkurang sehingga fluktuasi harga global tidak terlalu memengaruhi pendapatan petani.

Anjloknya harga kelapa di Indragiri Hilir menjadi perhatian karena menyangkut keberlangsungan ekonomi ribuan keluarga yang bergantung pada sektor perkebunan.

Para petani berharap, pemerintah segera menghadirkan kebijakan yang mampu menjaga stabilitas harga sekaligus mempercepat hilirisasi agar komoditas unggulan daerah tersebut memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat.

Apabila harga terus berada di level rendah tanpa adanya intervensi kebijakan, daya beli masyarakat berpotensi melemah, aktivitas ekonomi daerah melambat, dan kesejahteraan petani semakin tertekan. Karena itu, penetapan harga acuan serta pengembangan industri hilir dinilai menjadi dua langkah penting untuk menjaga keberlanjutan sektor perkelapaan di Indragiri Hilir. (ade)