logo
Polres Pelalawan Gerebek Judi Sabung Ayam: 39 Orang Diamankan, Pemilik Lapak Dit Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Enam Dokter Magang Meninggal, 10.564 Peserta Internsip Bakal Jalani MCU dan Skri Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi DKPP Hukum Anggota KPU RI dan KPU Jabar, Penggunaan Helikopter Dinilai Langgar E Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Mulai 30 Juli, Akses Keluar Tol Pekanbaru–Dumai Dialihkan, Pengendara Diminta Le Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pajero Sport Istri Kedua Suhardiman Disita KPK, Penyidik Dalami Lelang Jabatan h Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Sempat Tembus Rp18.100 per Dolar AS, Rupiah Ditutup Menguat Jelang Keputusan The Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Teror Monyet Liar di Inhil: 7 Warga Luka-Luka Diserang Hingga Harus Dilarikan ke Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Uji Kekuatan Runway Bandara SSK II, Jam Operasional Berubah Sampai 11 Agustus Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / Pekanbaru
Mahasiswa FISIP UNRI Ajarkan Ecoprint ke Anak Tobekgodang, Kreativitas dan Edukasi Lingkungan Tumbuh Bersama
Mahasiswa Fisip Unri bersama anak-anak Tobekgadang larut dalam suasana bahagia. (Foto: Istimewa)
Mahasiswa FISIP UNRI Ajarkan Ecoprint ke Anak Tobekgodang, Kreativitas dan Edukasi Lingkungan Tumbuh Bersama
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: ferdi mahdavikia
28 Juli 2026 | 11:43:25

PEKANBARU-Sebanyak 12 mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Riau (UNRI) mengajak puluhan anak di Kelurahan Tobekgodang mengenal seni ecoprint, melalui kelas kreatif yang memanfaatkan daun dan bunga sebagai pewarna alami pada tas kain.

Program ini tidak hanya mengembangkan kreativitas anak, tetapi juga memperkenalkan pentingnya menjaga lingkungan melalui pemanfaatan bahan-bahan alami di sekitar.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program FISIP Berdampak untuk Negeri (FBN) tersebut dilaksanakan di RT 03 RW 06, Kelurahan Tobekgodang, Pekanbaru, Sabtu (25/7/2026) dengan melibatkan 20 peserta anak-anak dari lingkungan setempat.

Sejak awal kegiatan, mahasiswa berupaya menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Peserta diajak mengikuti sesi perkenalan dan permainan sederhana untuk membangun kedekatan sekaligus meningkatkan rasa percaya diri sebelum memasuki materi utama.

iklan-view

Pemateri kegiatan, Dewi Revayanti mengatakan, pendekatan tersebut sengaja dilakukan agar anak-anak lebih nyaman selama mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran.

"Kami ingin anak-anak merasa nyaman terlebih dahulu sehingga mereka lebih percaya diri dan antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan," ujarnya.

Memasuki sesi utama, peserta diperkenalkan pada teknik ecoprint, yaitu metode menghias kain menggunakan pigmen alami dari daun dan bunga. Mahasiswa menjelaskan proses pembuatan secara sederhana agar mudah dipahami oleh anak-anak.

Setelah mendapatkan penjelasan, setiap peserta memilih sendiri berbagai jenis daun sesuai bentuk dan tekstur yang diinginkan untuk dijadikan motif pada tas kain yang telah disiapkan.

Mahasiswa kemudian mendampingi peserta mulai dari menyusun daun di atas kain hingga proses pemukulan sehingga warna alami dari daun berpindah ke permukaan tas.

Pendampingan dilakukan secara langsung di setiap tahapan sehingga seluruh peserta dapat mengikuti proses dengan baik.

Hasilnya, setiap anak berhasil menghasilkan tas ecoprint dengan motif yang berbeda-beda. Perbedaan bentuk daun dan kreativitas masing-masing peserta membuat setiap karya memiliki karakter yang unik.

Selain menghasilkan karya seni, kegiatan tersebut juga menjadi media pembelajaran mengenai pemanfaatan sumber daya alam secara bijak. Anak-anak dikenalkan bahwa daun dan bunga yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar dapat dimanfaatkan menjadi karya kreatif yang memiliki nilai estetika sekaligus ramah lingkungan.

Pendekatan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini melalui pengalaman belajar yang sederhana dan menyenangkan.

Suasana kelas semakin hidup ketika mahasiswa mengajak peserta mengikuti sesi ice breaking menggunakan permainan tradisional Melayu, yakni Tamtam Buku dan Lu Lu Cina Buta.

Permainan dipandu oleh Lucy Syahfiya yang menjelaskan bahwa aktivitas tersebut dipilih bukan sekadar sebagai hiburan, tetapi juga memiliki nilai edukatif.

"Permainan ini tidak hanya menghadirkan suasana yang menyenangkan, tetapi juga melatih kerja sama, konsentrasi, sportivitas, sekaligus memperkenalkan kembali permainan tradisional kepada anak-anak," katanya.

Melalui permainan tradisional tersebut, peserta tidak hanya berinteraksi dengan teman sebaya, tetapi juga memperoleh pengalaman mengenal budaya lokal yang mulai jarang dimainkan oleh generasi muda.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama dan pembagian makanan ringan. Seluruh peserta membawa pulang tas hasil karya mereka sebagai bentuk apresiasi sekaligus kenang-kenangan dari kelas kreatif tersebut.

Ketua RT 03 RW 06 Kelurahan Tobekgodang, Yasmaweli, mengapresiasi inisiatif mahasiswa FISIP Universitas Riau yang menghadirkan kegiatan edukatif bagi anak-anak di wilayahnya.

Menurutnya, kegiatan semacam ini memberikan manfaat langsung bagi masyarakat karena mampu menghadirkan ruang belajar yang kreatif di lingkungan permukiman.

"Kelas kreatif ini sangat baik. Kalau memungkinkan, ke depan bisa juga diadakan kegiatan serupa untuk ibu-ibu di lingkungan kami," ujarnya.

Antusiasme peserta juga terlihat setelah kegiatan berakhir. Sejumlah anak menuliskan kesan mereka dengan kata-kata seperti "seru" dan "senang", serta berharap kegiatan serupa dapat kembali dilaksanakan.

Ketua Tim FBN Kelurahan Tobekgodang, Yosivera Munthe, berharap kelas kreatif tersebut mampu memberikan pengalaman belajar yang berkesan sekaligus mempererat hubungan mahasiswa dengan masyarakat.

"Kami berharap kegiatan ini tidak hanya memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi anak-anak, tetapi juga menumbuhkan kreativitas, kepedulian terhadap lingkungan, serta kecintaan terhadap budaya lokal melalui aktivitas yang sederhana namun bermakna," ujarnya.

Program FISIP Berdampak untuk Negeri (FBN) merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat. Melalui program ini, mahasiswa FISIP Universitas Riau menghadirkan berbagai kegiatan berbasis pemberdayaan masyarakat yang dirancang agar manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh warga.

Kelas kreatif ecoprint di Tobekgodang menjadi salah satu contoh bagaimana pengabdian masyarakat tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga membangun kreativitas, kesadaran lingkungan, serta pelestarian budaya lokal sejak usia dini. Pendekatan ini diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk memanfaatkan potensi lingkungan sekitar menjadi aktivitas yang bernilai edukatif sekaligus produktif. (fer)

Home / News
Mahasiswa FISIP UNRI Ajarkan Ecoprint ke Anak Tobekgodang, Kreativitas dan Edukasi Lingkungan Tumbuh Bersama
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: ferdi mahdavikia
Rubrik: news | 28 Juli 2026 | 11:43:25
Mahasiswa FISIP UNRI Ajarkan Ecoprint ke Anak Tobekgodang, Kreativitas dan Edukasi Lingkungan Tumbuh Bersama
Mahasiswa Fisip Unri bersama anak-anak Tobekgadang larut dalam suasana bahagia. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU-Sebanyak 12 mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Riau (UNRI) mengajak puluhan anak di Kelurahan Tobekgodang mengenal seni ecoprint, melalui kelas kreatif yang memanfaatkan daun dan bunga sebagai pewarna alami pada tas kain.

Program ini tidak hanya mengembangkan kreativitas anak, tetapi juga memperkenalkan pentingnya menjaga lingkungan melalui pemanfaatan bahan-bahan alami di sekitar.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program FISIP Berdampak untuk Negeri (FBN) tersebut dilaksanakan di RT 03 RW 06, Kelurahan Tobekgodang, Pekanbaru, Sabtu (25/7/2026) dengan melibatkan 20 peserta anak-anak dari lingkungan setempat.

Sejak awal kegiatan, mahasiswa berupaya menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Peserta diajak mengikuti sesi perkenalan dan permainan sederhana untuk membangun kedekatan sekaligus meningkatkan rasa percaya diri sebelum memasuki materi utama.

Pemateri kegiatan, Dewi Revayanti mengatakan, pendekatan tersebut sengaja dilakukan agar anak-anak lebih nyaman selama mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran.

"Kami ingin anak-anak merasa nyaman terlebih dahulu sehingga mereka lebih percaya diri dan antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan," ujarnya.

Memasuki sesi utama, peserta diperkenalkan pada teknik ecoprint, yaitu metode menghias kain menggunakan pigmen alami dari daun dan bunga. Mahasiswa menjelaskan proses pembuatan secara sederhana agar mudah dipahami oleh anak-anak.

Setelah mendapatkan penjelasan, setiap peserta memilih sendiri berbagai jenis daun sesuai bentuk dan tekstur yang diinginkan untuk dijadikan motif pada tas kain yang telah disiapkan.

Mahasiswa kemudian mendampingi peserta mulai dari menyusun daun di atas kain hingga proses pemukulan sehingga warna alami dari daun berpindah ke permukaan tas.

Pendampingan dilakukan secara langsung di setiap tahapan sehingga seluruh peserta dapat mengikuti proses dengan baik.

Hasilnya, setiap anak berhasil menghasilkan tas ecoprint dengan motif yang berbeda-beda. Perbedaan bentuk daun dan kreativitas masing-masing peserta membuat setiap karya memiliki karakter yang unik.

Selain menghasilkan karya seni, kegiatan tersebut juga menjadi media pembelajaran mengenai pemanfaatan sumber daya alam secara bijak. Anak-anak dikenalkan bahwa daun dan bunga yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar dapat dimanfaatkan menjadi karya kreatif yang memiliki nilai estetika sekaligus ramah lingkungan.

Pendekatan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini melalui pengalaman belajar yang sederhana dan menyenangkan.

Suasana kelas semakin hidup ketika mahasiswa mengajak peserta mengikuti sesi ice breaking menggunakan permainan tradisional Melayu, yakni Tamtam Buku dan Lu Lu Cina Buta.

Permainan dipandu oleh Lucy Syahfiya yang menjelaskan bahwa aktivitas tersebut dipilih bukan sekadar sebagai hiburan, tetapi juga memiliki nilai edukatif.

"Permainan ini tidak hanya menghadirkan suasana yang menyenangkan, tetapi juga melatih kerja sama, konsentrasi, sportivitas, sekaligus memperkenalkan kembali permainan tradisional kepada anak-anak," katanya.

Melalui permainan tradisional tersebut, peserta tidak hanya berinteraksi dengan teman sebaya, tetapi juga memperoleh pengalaman mengenal budaya lokal yang mulai jarang dimainkan oleh generasi muda.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama dan pembagian makanan ringan. Seluruh peserta membawa pulang tas hasil karya mereka sebagai bentuk apresiasi sekaligus kenang-kenangan dari kelas kreatif tersebut.

Ketua RT 03 RW 06 Kelurahan Tobekgodang, Yasmaweli, mengapresiasi inisiatif mahasiswa FISIP Universitas Riau yang menghadirkan kegiatan edukatif bagi anak-anak di wilayahnya.

Menurutnya, kegiatan semacam ini memberikan manfaat langsung bagi masyarakat karena mampu menghadirkan ruang belajar yang kreatif di lingkungan permukiman.

"Kelas kreatif ini sangat baik. Kalau memungkinkan, ke depan bisa juga diadakan kegiatan serupa untuk ibu-ibu di lingkungan kami," ujarnya.

Antusiasme peserta juga terlihat setelah kegiatan berakhir. Sejumlah anak menuliskan kesan mereka dengan kata-kata seperti "seru" dan "senang", serta berharap kegiatan serupa dapat kembali dilaksanakan.

Ketua Tim FBN Kelurahan Tobekgodang, Yosivera Munthe, berharap kelas kreatif tersebut mampu memberikan pengalaman belajar yang berkesan sekaligus mempererat hubungan mahasiswa dengan masyarakat.

"Kami berharap kegiatan ini tidak hanya memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi anak-anak, tetapi juga menumbuhkan kreativitas, kepedulian terhadap lingkungan, serta kecintaan terhadap budaya lokal melalui aktivitas yang sederhana namun bermakna," ujarnya.

Program FISIP Berdampak untuk Negeri (FBN) merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat. Melalui program ini, mahasiswa FISIP Universitas Riau menghadirkan berbagai kegiatan berbasis pemberdayaan masyarakat yang dirancang agar manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh warga.

Kelas kreatif ecoprint di Tobekgodang menjadi salah satu contoh bagaimana pengabdian masyarakat tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga membangun kreativitas, kesadaran lingkungan, serta pelestarian budaya lokal sejak usia dini. Pendekatan ini diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk memanfaatkan potensi lingkungan sekitar menjadi aktivitas yang bernilai edukatif sekaligus produktif. (fer)