logo
Hotspot Sumatera Merosot, BMKG Ingatkan Hujan Lebat dan Angin Kencang di Riau Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kemenkes: 174 Ribu Warga Terserang ISPA, 40.363 di Antaranya Balita Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi DPRD dan Pemko Pekanbaru Sepakati APBD-P 2026 Rp3,26 Triliun, Banjir Jadi Sorota Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi UPDATE: Satu Korban Galodo Arosuka Ditemukan Tewas, Jalur Padang-Solok Masih Ter Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Melemah ke Rp17.884, Investor Cermati Arah Suku Bunga The Fed dan BI Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Sekolah di Pekanbaru Kembali Belajar Tatap Muka Terbatas Mulai Besok Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi HUT Lalu Lintas ke-71, Kapolda Riau Soroti Karhutla yang Terus Berulang: Apa Tak Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Harga TBS Sawit Riau Periode 23-29 September Turun Rp27 per Kg Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / Pekanbaru
PJJ Akibat Asap, Pembagian MBG Tetap Berjalan, Siswa Diminta Datang ke Sekolah
Meski sudah diterapkan sistem belajar daring, pelajar di Pekanbaru tetap datang ke sekolah mengambil MBG. (Foto: Istimewa)
PJJ Akibat Asap, Pembagian MBG Tetap Berjalan, Siswa Diminta Datang ke Sekolah
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: yob ayrus
Rubrik: news | 7 September 2026 | 12:22:05

PEKANBARU-Kabut asap kembali menyelimuti Kota Pekanbaru, Senin (7/9/2026). Kondisi udara yang dinilai tidak sehat membuat Pemko Pekanbaru menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi murid PAUD-SMP.

Kebijakan tersebut berlaku dua hari, Senin dan Selasa sesuai edaran Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru.

Namun, penerapan belajar dari rumah tidak sepenuhnya membuat lingkungan sekolah sepi. Sejumlah siswa tetap mendatangi sekolah untuk mengambil makanan bergizi gratis (MBG) yang telah disiapkan.

iklan-view

Kondisi ini terlihat di sejumlah sekolah di Pekanbaru. Orangtua datang mengantar anak mereka dengan membawa wadah makanan untuk menerima jatah MBG.

Salah satu pemandangan tersebut terlihat di SDN 186 Jalan Seroja, Pekanbaru. Sejumlah orangtua datang bersama anak-anak mereka ke sekolah. Sebagian membawa wadah makanan dari rumah untuk digunakan mengambil menu MBG.

Di dalam lingkungan sekolah, beberapa guru telah menunggu dengan membawa ompreng berisi makanan yang sebelumnya disiapkan untuk para siswa.

Makanan tersebut kemudian dipindahkan ke wadah yang dibawa masing-masing siswa.

Seorang ibu bernama Narti mengatakan kedatangannya ke sekolah dilakukan karena mendapat pemberitahuan untuk mengambil makanan MBG.

"Disuruh dijemput ke sekolah," ujar Narti saat ditemui di sekolah.

MBG Sudah Terlanjur Disiapkan
Pihak sekolah menjelaskan, makanan MBG pada hari tersebut telah dikirim oleh pihak dapur. Menu juga sudah selesai dimasak ketika kebijakan pembelajaran jarak jauh diberlakukan.

Karena makanan telah tersedia, pihak sekolah kemudian menginformasikan kepada siswa dan orangtua agar datang mengambil jatah MBG.

"Mau diapakan kalau tidak dijemput, makanya kami umumkan agar dijemput ke sekolah," ujar seorang guru di SDN 186.

Situasi tersebut memperlihatkan adanya persoalan teknis yang perlu disesuaikan ketika kebijakan PJJ diberlakukan secara mendadak. Di satu sisi, siswa diminta tidak mengikuti pembelajaran tatap muka karena kualitas udara yang tidak sehat.

Di sisi lain, makanan yang telah dipersiapkan tetap harus disalurkan agar tidak terbuang.

Siswa SMA dan SMK Masih Belajar Tatap Muka
Kebijakan PJJ yang diterapkan Pemerintah Kota Pekanbaru saat ini berlaku bagi peserta didik jenjang TK, SD, dan SMP.

Sementara siswa SMA dan SMK masih mengikuti pembelajaran secara langsung di sekolah. Kebijakan untuk jenjang tersebut berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Riau.

Kondisi ini terjadi ketika kualitas udara Pekanbaru kembali menjadi perhatian setelah asap akibat kebakaran hutan dan lahan menyelimuti sejumlah kawasan kota.

Pemerintah daerah sebelumnya mengambil langkah pembelajaran jarak jauh sebagai upaya mengurangi aktivitas anak-anak di luar rumah selama kondisi udara belum membaik.

Di tengah kebijakan tersebut, distribusi MBG menjadi tantangan tersendiri. Mekanisme penyaluran perlu menyesuaikan kondisi lapangan agar program tetap berjalan tanpa mengharuskan siswa datang dan berkumpul di sekolah ketika kualitas udara sedang tidak sehat.

Bagi orangtua, situasi ini juga menuntut kejelasan informasi. Ketika pembelajaran dialihkan ke rumah, mereka perlu mengetahui bagaimana makanan MBG disalurkan kepada anak tanpa harus mengabaikan tujuan utama kebijakan PJJ, yakni mengurangi paparan siswa terhadap udara yang tidak sehat. (tpc)

Home / News
PJJ Akibat Asap, Pembagian MBG Tetap Berjalan, Siswa Diminta Datang ke Sekolah
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: yob ayrus
Rubrik: news | 7 September 2026 | 12:22:05
PJJ Akibat Asap, Pembagian MBG Tetap Berjalan, Siswa Diminta Datang ke Sekolah
Meski sudah diterapkan sistem belajar daring, pelajar di Pekanbaru tetap datang ke sekolah mengambil MBG. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU-Kabut asap kembali menyelimuti Kota Pekanbaru, Senin (7/9/2026). Kondisi udara yang dinilai tidak sehat membuat Pemko Pekanbaru menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi murid PAUD-SMP.

Kebijakan tersebut berlaku dua hari, Senin dan Selasa sesuai edaran Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru.

Namun, penerapan belajar dari rumah tidak sepenuhnya membuat lingkungan sekolah sepi. Sejumlah siswa tetap mendatangi sekolah untuk mengambil makanan bergizi gratis (MBG) yang telah disiapkan.

Kondisi ini terlihat di sejumlah sekolah di Pekanbaru. Orangtua datang mengantar anak mereka dengan membawa wadah makanan untuk menerima jatah MBG.

Salah satu pemandangan tersebut terlihat di SDN 186 Jalan Seroja, Pekanbaru. Sejumlah orangtua datang bersama anak-anak mereka ke sekolah. Sebagian membawa wadah makanan dari rumah untuk digunakan mengambil menu MBG.

Di dalam lingkungan sekolah, beberapa guru telah menunggu dengan membawa ompreng berisi makanan yang sebelumnya disiapkan untuk para siswa.

Makanan tersebut kemudian dipindahkan ke wadah yang dibawa masing-masing siswa.

Seorang ibu bernama Narti mengatakan kedatangannya ke sekolah dilakukan karena mendapat pemberitahuan untuk mengambil makanan MBG.

"Disuruh dijemput ke sekolah," ujar Narti saat ditemui di sekolah.

MBG Sudah Terlanjur Disiapkan
Pihak sekolah menjelaskan, makanan MBG pada hari tersebut telah dikirim oleh pihak dapur. Menu juga sudah selesai dimasak ketika kebijakan pembelajaran jarak jauh diberlakukan.

Karena makanan telah tersedia, pihak sekolah kemudian menginformasikan kepada siswa dan orangtua agar datang mengambil jatah MBG.

"Mau diapakan kalau tidak dijemput, makanya kami umumkan agar dijemput ke sekolah," ujar seorang guru di SDN 186.

Situasi tersebut memperlihatkan adanya persoalan teknis yang perlu disesuaikan ketika kebijakan PJJ diberlakukan secara mendadak. Di satu sisi, siswa diminta tidak mengikuti pembelajaran tatap muka karena kualitas udara yang tidak sehat.

Di sisi lain, makanan yang telah dipersiapkan tetap harus disalurkan agar tidak terbuang.

Siswa SMA dan SMK Masih Belajar Tatap Muka
Kebijakan PJJ yang diterapkan Pemerintah Kota Pekanbaru saat ini berlaku bagi peserta didik jenjang TK, SD, dan SMP.

Sementara siswa SMA dan SMK masih mengikuti pembelajaran secara langsung di sekolah. Kebijakan untuk jenjang tersebut berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Riau.

Kondisi ini terjadi ketika kualitas udara Pekanbaru kembali menjadi perhatian setelah asap akibat kebakaran hutan dan lahan menyelimuti sejumlah kawasan kota.

Pemerintah daerah sebelumnya mengambil langkah pembelajaran jarak jauh sebagai upaya mengurangi aktivitas anak-anak di luar rumah selama kondisi udara belum membaik.

Di tengah kebijakan tersebut, distribusi MBG menjadi tantangan tersendiri. Mekanisme penyaluran perlu menyesuaikan kondisi lapangan agar program tetap berjalan tanpa mengharuskan siswa datang dan berkumpul di sekolah ketika kualitas udara sedang tidak sehat.

Bagi orangtua, situasi ini juga menuntut kejelasan informasi. Ketika pembelajaran dialihkan ke rumah, mereka perlu mengetahui bagaimana makanan MBG disalurkan kepada anak tanpa harus mengabaikan tujuan utama kebijakan PJJ, yakni mengurangi paparan siswa terhadap udara yang tidak sehat. (tpc)