
PEKANBARU-Pemerintah Kota Pekanbaru menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi siswa pada 7-8 September 2026. Kebijakan itu diberlakukan menyusul kualitas udara yang tidak sehat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Penerapan PJJ tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor 400.3/Disdik.Sekretaris.1/3225/2026.
Namun, pelaksanaan PJJ masih menghadapi kendala di tingkat orang tua siswa. Salah satunya keterbatasan handphone yang digunakan untuk mengikuti pembelajaran dari rumah.

Kepala SDN 192 Pekanbaru, Else Martadewi mengatakan, selama PJJ guru tidak mengalami kendala karena pembelajaran didukung jaringan internet sekolah.
Persoalan justru muncul pada orang tua siswa yang hanya memiliki satu unit handphone dan harus menggunakannya untuk bekerja secara bersamaan.
"Kalau untuk guru tidak ada kendala, karena kalau di sekolah jaringan bagus kita punya wifi sendiri. Kendala di orang tua, kalau mereka bekerja, mereka yang punya handphone satu otomatis sepulang kerja baru bisa melakukan pembuatan tugas untuk anak mereka," kata Else saat diwawancarai Pekanbaru TV di SDN 192 Pekanbaru, Pekanbaru, Senin (7/9/2026).
Kondisi tersebut membuat keterlibatan orang tua menjadi salah satu faktor penting dalam pelaksanaan PJJ.
Dikatakan, orang tua perlu aktif mengontrol aktivitas belajar anak selama berada di rumah.
Else menyebut sebagian orang tua lebih menginginkan pembelajaran tatap muka karena menilai PJJ kurang efektif. Meski begitu, orang tua tetap menerima kebijakan PJJ yang diterapkan sekolah.
"Kebanyakan orang tua maunya pembelajaran melalui offline ya karena banyak mengeluhkan PJJ kurang efektif, tetapi orang tua menyambut baik pembelajaran dari guru karena PJJ di sekolah kami tetap sesuai dengan pembelajaran," ujarnya.
Untuk menjaga proses belajar tetap berjalan, guru SDN 192 Pekanbaru menggunakan sejumlah metode pembelajaran selama PJJ.
Materi diberikan melalui video pembelajaran, voice note, tautan YouTube hingga Zoom yang disampaikan melalui grup WhatsApp kelas.
PJJ kali ini menjadi ketiga kalinya dilakukan di SDN 192 Pekanbaru akibat kabut asap karhutla.
"Ini pembelajaran jarak jauh (PJJ) SEnya sudah yang ketiga kali untuk libur kabut asap guru-guru di SDN 192 Pekanbaru melakukan PJJ melalui whatsapp grup kelas, semua kelas ada wa grup," bebernya.
Sementara itu, kebijakan PJJ tidak menghentikan distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN 192 Pekanbaru.
Program tersebut tetap diberikan kepada 393 siswa meski kegiatan belajar dilakukan dari rumah. Kata Else, makanan MBG tetap dikirim ke sekolah untuk kemudian diambil oleh orang tua siswa.
Mekanisme pengambilan itu dilakukan dengan mengikuti prosedur yang ditetapkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
"MBG didistribusikan dengan sangat lancar, orang tua datang menjemput MBG untuk anak-anaknya, hampir 90 persen orang tua menjemput MBG untuk anaknya, tapi kita tetap menyesuaikan prosedur karena dari pihak MBG setelah pengantaran 2 jam wajib diambil oleh orang tua. Sejauh ini tidak ada kendala," tukasnya. (*)







PEKANBARU-Pemerintah Kota Pekanbaru menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi siswa pada 7-8 September 2026. Kebijakan itu diberlakukan menyusul kualitas udara yang tidak sehat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Penerapan PJJ tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor 400.3/Disdik.Sekretaris.1/3225/2026.
Namun, pelaksanaan PJJ masih menghadapi kendala di tingkat orang tua siswa. Salah satunya keterbatasan handphone yang digunakan untuk mengikuti pembelajaran dari rumah.
Kepala SDN 192 Pekanbaru, Else Martadewi mengatakan, selama PJJ guru tidak mengalami kendala karena pembelajaran didukung jaringan internet sekolah.
Persoalan justru muncul pada orang tua siswa yang hanya memiliki satu unit handphone dan harus menggunakannya untuk bekerja secara bersamaan.
"Kalau untuk guru tidak ada kendala, karena kalau di sekolah jaringan bagus kita punya wifi sendiri. Kendala di orang tua, kalau mereka bekerja, mereka yang punya handphone satu otomatis sepulang kerja baru bisa melakukan pembuatan tugas untuk anak mereka," kata Else saat diwawancarai Pekanbaru TV di SDN 192 Pekanbaru, Pekanbaru, Senin (7/9/2026).
Kondisi tersebut membuat keterlibatan orang tua menjadi salah satu faktor penting dalam pelaksanaan PJJ.
Dikatakan, orang tua perlu aktif mengontrol aktivitas belajar anak selama berada di rumah.
Else menyebut sebagian orang tua lebih menginginkan pembelajaran tatap muka karena menilai PJJ kurang efektif. Meski begitu, orang tua tetap menerima kebijakan PJJ yang diterapkan sekolah.
"Kebanyakan orang tua maunya pembelajaran melalui offline ya karena banyak mengeluhkan PJJ kurang efektif, tetapi orang tua menyambut baik pembelajaran dari guru karena PJJ di sekolah kami tetap sesuai dengan pembelajaran," ujarnya.
Untuk menjaga proses belajar tetap berjalan, guru SDN 192 Pekanbaru menggunakan sejumlah metode pembelajaran selama PJJ.
Materi diberikan melalui video pembelajaran, voice note, tautan YouTube hingga Zoom yang disampaikan melalui grup WhatsApp kelas.
PJJ kali ini menjadi ketiga kalinya dilakukan di SDN 192 Pekanbaru akibat kabut asap karhutla.
"Ini pembelajaran jarak jauh (PJJ) SEnya sudah yang ketiga kali untuk libur kabut asap guru-guru di SDN 192 Pekanbaru melakukan PJJ melalui whatsapp grup kelas, semua kelas ada wa grup," bebernya.
Sementara itu, kebijakan PJJ tidak menghentikan distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN 192 Pekanbaru.
Program tersebut tetap diberikan kepada 393 siswa meski kegiatan belajar dilakukan dari rumah. Kata Else, makanan MBG tetap dikirim ke sekolah untuk kemudian diambil oleh orang tua siswa.
Mekanisme pengambilan itu dilakukan dengan mengikuti prosedur yang ditetapkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
"MBG didistribusikan dengan sangat lancar, orang tua datang menjemput MBG untuk anak-anaknya, hampir 90 persen orang tua menjemput MBG untuk anaknya, tapi kita tetap menyesuaikan prosedur karena dari pihak MBG setelah pengantaran 2 jam wajib diambil oleh orang tua. Sejauh ini tidak ada kendala," tukasnya. (*)