logo
Hotspot Sumatera Merosot, BMKG Ingatkan Hujan Lebat dan Angin Kencang di Riau Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kemenkes: 174 Ribu Warga Terserang ISPA, 40.363 di Antaranya Balita Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi DPRD dan Pemko Pekanbaru Sepakati APBD-P 2026 Rp3,26 Triliun, Banjir Jadi Sorota Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi UPDATE: Satu Korban Galodo Arosuka Ditemukan Tewas, Jalur Padang-Solok Masih Ter Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Melemah ke Rp17.884, Investor Cermati Arah Suku Bunga The Fed dan BI Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Sekolah di Pekanbaru Kembali Belajar Tatap Muka Terbatas Mulai Besok Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi HUT Lalu Lintas ke-71, Kapolda Riau Soroti Karhutla yang Terus Berulang: Apa Tak Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Harga TBS Sawit Riau Periode 23-29 September Turun Rp27 per Kg Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / KEUANGAN
Rupiah Loyo di Rp17.669, Tekanan Datang dari The Fed dan Timur Tengah
Ilustrasi. Rupiah loyo dalam tekanan.
Rupiah Loyo di Rp17.669, Tekanan Datang dari The Fed dan Timur Tengah
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 14 September 2026 | 16:48:35

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan. Pada perdagangan Senin (14/9/2026), rupiah ditutup di level Rp17.669 per dolar AS, melemah 58 poin atau 0,33 persen dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya.

Tekanan terhadap mata uang Garuda terjadi ketika pasar semakin mencermati arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pekan ini.

Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah terutama dipengaruhi penguatan dolar AS yang didorong ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed.

iklan-view

"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS yang menguat oleh antisipasi kenaikan suku bunga pada FOMC minggu ini," kata Lukman.

Selain sentimen The Fed, rupiah juga menghadapi tekanan dari kenaikan harga minyak mentah dunia. Eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong kekhawatiran terhadap pasokan energi global sehingga harga minyak terus bergerak naik.

Menurut Lukman, kondisi tersebut turut membebani rupiah karena kenaikan harga minyak dapat meningkatkan tekanan terhadap kebutuhan valuta asing untuk impor energi.

Pergerakan rupiah tersebut berlangsung di tengah dinamika mata uang global. Sejumlah mata uang kawasan Asia juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS, di antaranya ringgit Malaysia yang turun 0,13 persen, dolar Singapura 0,31 persen, yen Jepang 0,63 persen, won Korea Selatan 0,30 persen, serta peso Filipina 0,24 persen.

Di negara-negara maju, euro melemah 0,52 persen, poundsterling Inggris turun 0,32 persen, dolar Australia terdepresiasi 0,52 persen, dolar Kanada melemah 0,14 persen, dan franc Swiss turun 0,29 persen.

Sementara itu, yuan China masih mencatat penguatan tipis sebesar 0,01 persen terhadap dolar AS.

Dengan kondisi tersebut, perhatian pasar selanjutnya tertuju pada hasil pertemuan FOMC. Keputusan dan sinyal kebijakan The Fed akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan arah pergerakan dolar AS dan rupiah dalam perdagangan berikutnya. (cnn)

Tags: rupiah loyo
Home / Ekonomi
Rupiah Loyo di Rp17.669, Tekanan Datang dari The Fed dan Timur Tengah
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 14 September 2026 | 16:48:35
Rupiah Loyo di Rp17.669, Tekanan Datang dari The Fed dan Timur Tengah
Ilustrasi. Rupiah loyo dalam tekanan.

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan. Pada perdagangan Senin (14/9/2026), rupiah ditutup di level Rp17.669 per dolar AS, melemah 58 poin atau 0,33 persen dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya.

Tekanan terhadap mata uang Garuda terjadi ketika pasar semakin mencermati arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pekan ini.

Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah terutama dipengaruhi penguatan dolar AS yang didorong ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed.

"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS yang menguat oleh antisipasi kenaikan suku bunga pada FOMC minggu ini," kata Lukman.

Selain sentimen The Fed, rupiah juga menghadapi tekanan dari kenaikan harga minyak mentah dunia. Eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong kekhawatiran terhadap pasokan energi global sehingga harga minyak terus bergerak naik.

Menurut Lukman, kondisi tersebut turut membebani rupiah karena kenaikan harga minyak dapat meningkatkan tekanan terhadap kebutuhan valuta asing untuk impor energi.

Pergerakan rupiah tersebut berlangsung di tengah dinamika mata uang global. Sejumlah mata uang kawasan Asia juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS, di antaranya ringgit Malaysia yang turun 0,13 persen, dolar Singapura 0,31 persen, yen Jepang 0,63 persen, won Korea Selatan 0,30 persen, serta peso Filipina 0,24 persen.

Di negara-negara maju, euro melemah 0,52 persen, poundsterling Inggris turun 0,32 persen, dolar Australia terdepresiasi 0,52 persen, dolar Kanada melemah 0,14 persen, dan franc Swiss turun 0,29 persen.

Sementara itu, yuan China masih mencatat penguatan tipis sebesar 0,01 persen terhadap dolar AS.

Dengan kondisi tersebut, perhatian pasar selanjutnya tertuju pada hasil pertemuan FOMC. Keputusan dan sinyal kebijakan The Fed akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan arah pergerakan dolar AS dan rupiah dalam perdagangan berikutnya. (cnn)

Tags: rupiah loyo