
JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan. Pada perdagangan Senin (14/9/2026), rupiah ditutup di level Rp17.669 per dolar AS, melemah 58 poin atau 0,33 persen dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya.
Tekanan terhadap mata uang Garuda terjadi ketika pasar semakin mencermati arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pekan ini.
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah terutama dipengaruhi penguatan dolar AS yang didorong ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed.

"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS yang menguat oleh antisipasi kenaikan suku bunga pada FOMC minggu ini," kata Lukman.
Selain sentimen The Fed, rupiah juga menghadapi tekanan dari kenaikan harga minyak mentah dunia. Eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong kekhawatiran terhadap pasokan energi global sehingga harga minyak terus bergerak naik.
Menurut Lukman, kondisi tersebut turut membebani rupiah karena kenaikan harga minyak dapat meningkatkan tekanan terhadap kebutuhan valuta asing untuk impor energi.
Pergerakan rupiah tersebut berlangsung di tengah dinamika mata uang global. Sejumlah mata uang kawasan Asia juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS, di antaranya ringgit Malaysia yang turun 0,13 persen, dolar Singapura 0,31 persen, yen Jepang 0,63 persen, won Korea Selatan 0,30 persen, serta peso Filipina 0,24 persen.
Di negara-negara maju, euro melemah 0,52 persen, poundsterling Inggris turun 0,32 persen, dolar Australia terdepresiasi 0,52 persen, dolar Kanada melemah 0,14 persen, dan franc Swiss turun 0,29 persen.
Sementara itu, yuan China masih mencatat penguatan tipis sebesar 0,01 persen terhadap dolar AS.
Dengan kondisi tersebut, perhatian pasar selanjutnya tertuju pada hasil pertemuan FOMC. Keputusan dan sinyal kebijakan The Fed akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan arah pergerakan dolar AS dan rupiah dalam perdagangan berikutnya. (cnn)




JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan. Pada perdagangan Senin (14/9/2026), rupiah ditutup di level Rp17.669 per dolar AS, melemah 58 poin atau 0,33 persen dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya.
Tekanan terhadap mata uang Garuda terjadi ketika pasar semakin mencermati arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pekan ini.
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah terutama dipengaruhi penguatan dolar AS yang didorong ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed.
"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS yang menguat oleh antisipasi kenaikan suku bunga pada FOMC minggu ini," kata Lukman.
Selain sentimen The Fed, rupiah juga menghadapi tekanan dari kenaikan harga minyak mentah dunia. Eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong kekhawatiran terhadap pasokan energi global sehingga harga minyak terus bergerak naik.
Menurut Lukman, kondisi tersebut turut membebani rupiah karena kenaikan harga minyak dapat meningkatkan tekanan terhadap kebutuhan valuta asing untuk impor energi.
Pergerakan rupiah tersebut berlangsung di tengah dinamika mata uang global. Sejumlah mata uang kawasan Asia juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS, di antaranya ringgit Malaysia yang turun 0,13 persen, dolar Singapura 0,31 persen, yen Jepang 0,63 persen, won Korea Selatan 0,30 persen, serta peso Filipina 0,24 persen.
Di negara-negara maju, euro melemah 0,52 persen, poundsterling Inggris turun 0,32 persen, dolar Australia terdepresiasi 0,52 persen, dolar Kanada melemah 0,14 persen, dan franc Swiss turun 0,29 persen.
Sementara itu, yuan China masih mencatat penguatan tipis sebesar 0,01 persen terhadap dolar AS.
Dengan kondisi tersebut, perhatian pasar selanjutnya tertuju pada hasil pertemuan FOMC. Keputusan dan sinyal kebijakan The Fed akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan arah pergerakan dolar AS dan rupiah dalam perdagangan berikutnya. (cnn)