logo
Sinyal Pemerintah untuk KPK: Periksa Nusron Wahid Jika Dibutuhkan dalam Kasus Su Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pendidikan Gratis dari TK hingga Kuliah Disiapkan, Pemerintah Hitung Anggaran da Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Program BSPS 2026 Berjalan, Pemprov Riau Sebut 31 Ribu Rumah Masih Butuh Bantuan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Sidang Pemerasan dan Penipuan: Saksi Pelapor Ungkap Transfer Rp35 Juta ke Terdak Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Sembilan Hari Tertekan, Rupiah Akhirnya Bangkit ke Rp17.818 per Dolar AS Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Warga Temukan Pemuda Tergantung dalam Apotek di Salo Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pemko Pekanbaru Sudah Perbaiki 34 Km Jalan Rusak, Target 55 Km Tahun Ini Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Antrean Solar Tak Kunjung Terurai, Edy Natar Duga Ada Mafia, Polda Riau: Masih K Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / KEUANGAN
Rupiah Melemah ke Rp17.884, Investor Cermati Arah Suku Bunga The Fed dan BI
Pegawai menunjukkan pecahan mata uang rupiah dan dolar AS di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Kamis (20/8/2026). (Foto: Antara)
Rupiah Melemah ke Rp17.884, Investor Cermati Arah Suku Bunga The Fed dan BI
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 22 September 2026 | 16:36:21

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (22/9/2026). Rupiah ditutup melemah 37 poin atau 0,21 persen ke level Rp17.884 per dolar AS, dari posisi perdagangan sebelumnya Rp17.847 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah terjadi ketika pasar kembali mencermati arah kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), setelah bank sentral tersebut menaikkan suku bunga acuannya pada pekan lalu.

Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelaku pasar masih mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan The Fed. Proyeksi terbaru bank sentral AS juga masih membuka ruang untuk setidaknya satu kali kenaikan suku bunga lagi hingga akhir 2026.

iklan-view

Kebijakan suku bunga yang cenderung lebih ketat berpotensi menopang dolar AS karena aset berbasis dolar menjadi relatif lebih menarik bagi investor. Penguatan dolar tersebut kemudian menjadi salah satu faktor yang menekan mata uang negara-negara emerging market, termasuk rupiah.

"Para pelaku pasar saat ini mengantisipasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh The Fed dan telah memperhitungkan kemungkinan besar akan adanya kenaikan lagi pada bulan Oktober," ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (22/9/2026), seperti dilansir antaranews.

Namun, arah kebijakan The Fed masih akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi dan indikator ekonomi Amerika Serikat. Pasar juga mencermati berbagai pernyataan pejabat The Fed untuk mendapatkan petunjuk mengenai langkah kebijakan berikutnya.

Sejumlah data ekonomi AS turut menjadi perhatian investor, termasuk data awal Purchasing Managers' Index (PMI) S&P Global serta survei Sentimen Konsumen University of Michigan untuk September.

Di sisi domestik, pergerakan rupiah juga berlangsung bersamaan dengan agenda Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22–23 September 2026. Hasil RDG menjadi salah satu faktor penting yang akan dicermati pasar karena berkaitan dengan arah kebijakan moneter BI di tengah tekanan eksternal terhadap rupiah.

Sementara itu, berdasarkan data Bank Indonesia, JISDOR pada Selasa berada di level Rp17.883 per dolar AS, naik dibandingkan posisi Rp17.813 pada hari sebelumnya. JISDOR merupakan kurs referensi harga spot USD/IDR yang disusun berdasarkan transaksi antarbank di pasar valuta asing Indonesia.

Dengan demikian, baik kurs pasar maupun JISDOR sama-sama menunjukkan tekanan terhadap rupiah pada perdagangan Selasa, di tengah perhatian investor terhadap arah suku bunga AS dan keputusan kebijakan moneter Bank Indonesia. (*)

Tags: keuangan
Home / Ekonomi
Rupiah Melemah ke Rp17.884, Investor Cermati Arah Suku Bunga The Fed dan BI
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 22 September 2026 | 16:36:21
Rupiah Melemah ke Rp17.884, Investor Cermati Arah Suku Bunga The Fed dan BI
Pegawai menunjukkan pecahan mata uang rupiah dan dolar AS di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Kamis (20/8/2026). (Foto: Antara)

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (22/9/2026). Rupiah ditutup melemah 37 poin atau 0,21 persen ke level Rp17.884 per dolar AS, dari posisi perdagangan sebelumnya Rp17.847 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah terjadi ketika pasar kembali mencermati arah kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), setelah bank sentral tersebut menaikkan suku bunga acuannya pada pekan lalu.

Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelaku pasar masih mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan The Fed. Proyeksi terbaru bank sentral AS juga masih membuka ruang untuk setidaknya satu kali kenaikan suku bunga lagi hingga akhir 2026.

Kebijakan suku bunga yang cenderung lebih ketat berpotensi menopang dolar AS karena aset berbasis dolar menjadi relatif lebih menarik bagi investor. Penguatan dolar tersebut kemudian menjadi salah satu faktor yang menekan mata uang negara-negara emerging market, termasuk rupiah.

"Para pelaku pasar saat ini mengantisipasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh The Fed dan telah memperhitungkan kemungkinan besar akan adanya kenaikan lagi pada bulan Oktober," ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (22/9/2026), seperti dilansir antaranews.

Namun, arah kebijakan The Fed masih akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi dan indikator ekonomi Amerika Serikat. Pasar juga mencermati berbagai pernyataan pejabat The Fed untuk mendapatkan petunjuk mengenai langkah kebijakan berikutnya.

Sejumlah data ekonomi AS turut menjadi perhatian investor, termasuk data awal Purchasing Managers' Index (PMI) S&P Global serta survei Sentimen Konsumen University of Michigan untuk September.

Di sisi domestik, pergerakan rupiah juga berlangsung bersamaan dengan agenda Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22–23 September 2026. Hasil RDG menjadi salah satu faktor penting yang akan dicermati pasar karena berkaitan dengan arah kebijakan moneter BI di tengah tekanan eksternal terhadap rupiah.

Sementara itu, berdasarkan data Bank Indonesia, JISDOR pada Selasa berada di level Rp17.883 per dolar AS, naik dibandingkan posisi Rp17.813 pada hari sebelumnya. JISDOR merupakan kurs referensi harga spot USD/IDR yang disusun berdasarkan transaksi antarbank di pasar valuta asing Indonesia.

Dengan demikian, baik kurs pasar maupun JISDOR sama-sama menunjukkan tekanan terhadap rupiah pada perdagangan Selasa, di tengah perhatian investor terhadap arah suku bunga AS dan keputusan kebijakan moneter Bank Indonesia. (*)

Tags: keuangan