
JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan awal pekan. Rupiah ditutup melemah 89 poin atau 0,50 persen ke level Rp17.847 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (21/9/2026), dari posisi penutupan sebelumnya Rp17.758 per dolar AS.
Pelemahan tersebut sekaligus memperpanjang tren negatif rupiah yang telah berlangsung selama delapan hari perdagangan berturut-turut. Di pasar spot, tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi sentimen global, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan eskalasi konflik di kawasan Asia Barat menjadi salah satu faktor yang membuat investor meningkatkan kewaspadaan. Pelaku pasar cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman sehingga permintaan terhadap dolar AS tetap kuat.

Situasi tersebut kembali memanas setelah kelompok Houthi Yaman mengklaim melancarkan serangan menggunakan rudal dan drone ke sejumlah lokasi di Riyadh, Arab Saudi, serta fasilitas minyak Aramco di Yanbu. Arab Saudi menyatakan pertahanan udaranya mencegat rudal yang mengarah ke Riyadh.
Ketegangan tersebut turut menjadi perhatian pasar karena kawasan Timur Tengah merupakan jalur penting bagi perdagangan energi dunia. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan harga minyak justru bergerak turun pada Senin karena pasar melihat adanya harapan diplomasi AS-Iran serta meningkatnya kembali ekspor minyak Arab Saudi. Harga Brent berada di sekitar US$101,75 per barel.
Dari sisi moneter, perhatian pasar kini beralih ke Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada Rabu (23/9/2026). Pelaku pasar mencermati langkah BI dalam merespons tekanan rupiah, inflasi, serta perkembangan kebijakan bank sentral global.
Sementara itu, tekanan dari Amerika Serikat juga masih menjadi perhatian. The Federal Reserve pada 16 September telah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4,00 persen. Pasar selanjutnya akan mencermati sinyal kebijakan The Fed menuju pertemuan berikutnya pada 27-28 Oktober.
Ibrahim memperkirakan dinamika tersebut masih akan membuat pergerakan rupiah cukup fluktuatif menjelang keputusan BI. Ia memperkirakan rupiah pada perdagangan berikutnya bergerak di kisaran Rp17.840 hingga Rp17.900 per dolar AS.
Tekanan juga tercermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR). Data Bank Indonesia menunjukkan JISDOR pada Senin berada di level Rp17.813 per dolar AS, melemah dari Rp17.745 pada perdagangan sebelumnya.
Dengan demikian, pasar kini menghadapi kombinasi sentimen eksternal dan domestik: perkembangan konflik Timur Tengah, arah harga minyak, kebijakan The Fed, serta keputusan BI pada pekan ini menjadi faktor yang berpotensi menentukan arah rupiah dalam jangka pendek. (*)




JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan awal pekan. Rupiah ditutup melemah 89 poin atau 0,50 persen ke level Rp17.847 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (21/9/2026), dari posisi penutupan sebelumnya Rp17.758 per dolar AS.
Pelemahan tersebut sekaligus memperpanjang tren negatif rupiah yang telah berlangsung selama delapan hari perdagangan berturut-turut. Di pasar spot, tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi sentimen global, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan eskalasi konflik di kawasan Asia Barat menjadi salah satu faktor yang membuat investor meningkatkan kewaspadaan. Pelaku pasar cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman sehingga permintaan terhadap dolar AS tetap kuat.
Situasi tersebut kembali memanas setelah kelompok Houthi Yaman mengklaim melancarkan serangan menggunakan rudal dan drone ke sejumlah lokasi di Riyadh, Arab Saudi, serta fasilitas minyak Aramco di Yanbu. Arab Saudi menyatakan pertahanan udaranya mencegat rudal yang mengarah ke Riyadh.
Ketegangan tersebut turut menjadi perhatian pasar karena kawasan Timur Tengah merupakan jalur penting bagi perdagangan energi dunia. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan harga minyak justru bergerak turun pada Senin karena pasar melihat adanya harapan diplomasi AS-Iran serta meningkatnya kembali ekspor minyak Arab Saudi. Harga Brent berada di sekitar US$101,75 per barel.
Dari sisi moneter, perhatian pasar kini beralih ke Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada Rabu (23/9/2026). Pelaku pasar mencermati langkah BI dalam merespons tekanan rupiah, inflasi, serta perkembangan kebijakan bank sentral global.
Sementara itu, tekanan dari Amerika Serikat juga masih menjadi perhatian. The Federal Reserve pada 16 September telah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4,00 persen. Pasar selanjutnya akan mencermati sinyal kebijakan The Fed menuju pertemuan berikutnya pada 27-28 Oktober.
Ibrahim memperkirakan dinamika tersebut masih akan membuat pergerakan rupiah cukup fluktuatif menjelang keputusan BI. Ia memperkirakan rupiah pada perdagangan berikutnya bergerak di kisaran Rp17.840 hingga Rp17.900 per dolar AS.
Tekanan juga tercermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR). Data Bank Indonesia menunjukkan JISDOR pada Senin berada di level Rp17.813 per dolar AS, melemah dari Rp17.745 pada perdagangan sebelumnya.
Dengan demikian, pasar kini menghadapi kombinasi sentimen eksternal dan domestik: perkembangan konflik Timur Tengah, arah harga minyak, kebijakan The Fed, serta keputusan BI pada pekan ini menjadi faktor yang berpotensi menentukan arah rupiah dalam jangka pendek. (*)