
JAKARTA - Setelah sembilan hari perdagangan berturut-turut berada di bawah tekanan, rupiah akhirnya berbalik arah. Mata uang Garuda ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (23/9/2026).
Mengacu pada data pasar, rupiah di pasar spot menguat 66 poin atau 0,37 persen ke level Rp17.818 per dolar AS, dari posisi penutupan sehari sebelumnya Rp17.884 per dolar AS. Penguatan ini menjadi yang pertama setelah rupiah melemah selama sembilan hari perdagangan beruntun.
Penguatan rupiah juga tercermin dari kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Pada Rabu, JISDOR berada di level Rp17.803 per dolar AS, menguat Rp80 atau sekitar 0,45 persen dibandingkan posisi sehari sebelumnya Rp17.883.

Pergerakan positif rupiah terjadi bersamaan dengan keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 22–23 September 2026.
Keputusan tersebut memperpanjang periode penahanan suku bunga acuan selama tiga bulan berturut-turut. Sebelumnya, BI menaikkan BI Rate secara agresif dengan total 100 basis poin pada Mei dan Juni 2026, masing-masing dari 4,75 persen menjadi 5,25 persen dan kemudian 5,75 persen.
BI menyatakan keputusan mempertahankan suku bunga tersebut merupakan bagian dari strategi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal. Kebijakan moneter juga diarahkan untuk menjaga inflasi tetap dalam sasaran sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Menariknya, penguatan rupiah terjadi ketika mayoritas mata uang kawasan Asia justru bergerak melemah terhadap dolar AS.
Selain rupiah, penguatan juga dicatat peso Filipina yang naik sekitar 0,12 persen. Sementara itu, sejumlah mata uang utama Asia mengalami tekanan, dengan won Korea Selatan menjadi salah satu yang mengalami pelemahan terdalam, disusul yen Jepang, baht Thailand, dolar Singapura dan rupee India.
Di pasar global, indeks dolar AS justru masih berada dalam tren penguatan. Indeks yang mengukur kinerja dolar terhadap sejumlah mata uang utama dunia tersebut naik sekitar 0,23 persen ke level 100,83.
Kondisi ini membuat penguatan rupiah pada perdagangan Rabu menjadi perhatian, karena terjadi ketika dolar AS masih relatif kuat dan tekanan terhadap sebagian besar mata uang regional belum sepenuhnya mereda.
Dengan keputusan BI mempertahankan BI Rate 5,75 persen dan rupiah mulai keluar dari tekanan sembilan hari berturut-turut, pasar kini mencermati apakah penguatan tersebut akan berlanjut pada perdagangan berikutnya atau kembali menghadapi tekanan eksternal. (kci)




JAKARTA - Setelah sembilan hari perdagangan berturut-turut berada di bawah tekanan, rupiah akhirnya berbalik arah. Mata uang Garuda ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (23/9/2026).
Mengacu pada data pasar, rupiah di pasar spot menguat 66 poin atau 0,37 persen ke level Rp17.818 per dolar AS, dari posisi penutupan sehari sebelumnya Rp17.884 per dolar AS. Penguatan ini menjadi yang pertama setelah rupiah melemah selama sembilan hari perdagangan beruntun.
Penguatan rupiah juga tercermin dari kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Pada Rabu, JISDOR berada di level Rp17.803 per dolar AS, menguat Rp80 atau sekitar 0,45 persen dibandingkan posisi sehari sebelumnya Rp17.883.
Pergerakan positif rupiah terjadi bersamaan dengan keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 22–23 September 2026.
Keputusan tersebut memperpanjang periode penahanan suku bunga acuan selama tiga bulan berturut-turut. Sebelumnya, BI menaikkan BI Rate secara agresif dengan total 100 basis poin pada Mei dan Juni 2026, masing-masing dari 4,75 persen menjadi 5,25 persen dan kemudian 5,75 persen.
BI menyatakan keputusan mempertahankan suku bunga tersebut merupakan bagian dari strategi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal. Kebijakan moneter juga diarahkan untuk menjaga inflasi tetap dalam sasaran sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Menariknya, penguatan rupiah terjadi ketika mayoritas mata uang kawasan Asia justru bergerak melemah terhadap dolar AS.
Selain rupiah, penguatan juga dicatat peso Filipina yang naik sekitar 0,12 persen. Sementara itu, sejumlah mata uang utama Asia mengalami tekanan, dengan won Korea Selatan menjadi salah satu yang mengalami pelemahan terdalam, disusul yen Jepang, baht Thailand, dolar Singapura dan rupee India.
Di pasar global, indeks dolar AS justru masih berada dalam tren penguatan. Indeks yang mengukur kinerja dolar terhadap sejumlah mata uang utama dunia tersebut naik sekitar 0,23 persen ke level 100,83.
Kondisi ini membuat penguatan rupiah pada perdagangan Rabu menjadi perhatian, karena terjadi ketika dolar AS masih relatif kuat dan tekanan terhadap sebagian besar mata uang regional belum sepenuhnya mereda.
Dengan keputusan BI mempertahankan BI Rate 5,75 persen dan rupiah mulai keluar dari tekanan sembilan hari berturut-turut, pasar kini mencermati apakah penguatan tersebut akan berlanjut pada perdagangan berikutnya atau kembali menghadapi tekanan eksternal. (kci)