logo
● KKP Evakuasi Bangkai Diduga Paus di Inhil, Sampel Darah Dibawa ke Laboratorium Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● 11 Lokasi PETI Ditertibkan di Kuansing, Polisi Musnahkan 42 Rakit Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Indonesia vs Singapura: Adu Kualitas Teknik di Bawah Gemuruh GBK Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Polresta Pekanbaru Bongkar Penipuan Modus Investasi Proyek, Para Korban Alami Ke Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Rupiah Akhir Pekan Menguat Tipis, Tapi Bayang-Bayang Rp18.000 Belum Pergi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Negara Tidak Boleh Kalah Oleh Rumor: Keterbukaan Informasi sebagai Fondasi Keper Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Purnawirawan Polri Jadi Tersangka Kasus Sabu, 9 Paket Diamankan di Pelalawan, Pe Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Operasi SAR KM Virgo Masuki Hari Ketiga Belas: Sepuluh Jenazah Kembali Ditemukan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / FEATURE
Saat Antrean BBM Jadi Rezeki: Kisah Zurbainah, Penjual Pisang Molen di Pekanbaru
Zurbainah, penjual pisang molen di sekitaran di salah satu SPBU di Jalan SM Amin, Pekanbaru, Kamis (24/9/2026). (Foto: Abdul Haris/ Pekanbarutv)
Saat Antrean BBM Jadi Rezeki: Kisah Zurbainah, Penjual Pisang Molen di Pekanbaru
Editor: Arya Mahendra | Penulis: abdul haris
Rubrik: news | 24 September 2026 | 14:28:21

PEKANBARU - Pagi belum benar-benar tinggi ketika kendaraan mulai memanjang di salah satu SPBU Jalan SM Amin, Kota Pekanbaru. Mobil datang silih berganti. Sebagian sopir menunggu giliran mengisi bahan bakar minyak (BBM) solar.

Sebagian sopir lainnya tampak istirahat, menelpon keluarga, atau sekedar menikmati sebatang rokok menunggu antrean yang mengular di sisi jalan. 

Di sela barisan mobil itu, Zurbainah (27) menunggu pembeli. Ia berjualan pisang molen di sekitar SPBU. Bagi perempuan yang menghidupi tiga anak ini, antrean kendaraan bukan hanya pemandangan yang biasa 

iklan-view

Di balik panjangnya barisan kendaraan, ada peluang untuk menambah pendapatan.

“Biasanya nambah, karena mereka pada belanja. Kalau nggak, ya susah juga,” kata Zurbainah ketika ditemui jurnalis Pekanbarutv,  Kamis (24/9/2026).

Dia menuturkan telah hafal ritme tempat itu. Ketika kendaraan ramai dan antrean mengular, pembeli datang lebih banyak. 

Orang-orang yang semula hanya menunggu giliran mengisi BBM bisa saja berhenti sejenak di dekat dagangannya. Pisang molen menjadi pengisi waktu sebelum kendaraan mereka kembali bergerak.

Dalam keadaan normal, Zurbainah bisa mengantongi omzet sekitar Rp300 ribu hingga Rp400 ribu sehari. Angka itu tidak selalu sama. Ia harus memperhitungkan berapa banyak adonan yang dibawa sejak pagi.

Semakin banyak adonan yang dibawa, semakin besar pula kesempatan dagangannya habis. Tetapi membawa terlalu banyak juga berarti ada risiko makanan tersisa.

“Sehari bisa Rp300-400 ribu, tergantung juga kalau adonannya bawa banyak atau sedikit,” ujarnya.

Antrean kendaraan kemudian menjadi semacam penanda bagi penghasilannya. Saat antrean ramai, omzetnya bisa melonjak.

“Berpengaruh. Sehari bisa Rp700 ribu. Kalau nggak antre, pendapatannya lebih kurang,” katanya.

Ada selisih ratusan ribu rupiah di sana. Bagi orang yang sekadar melihat antrean dari balik kaca mobil, perbedaan itu mungkin tampak kecil. Namun bagi pedagang yang menggantungkan pemasukan harian dari makanan yang dijual satu per satu, selisih tersebut punya arti.

Zurbainah berjualan sejak pukul 07.00 WIB. Ia baru berkemas sekitar pukul 20.00 WIB. Tiga belas jam berada di ruang terbuka, menunggu kendaraan datang sekaligus menunggu pembeli.

Pekerjaan itu ia jalani sebagai seorang janda dengan tiga anak.

Tidak ada kepastian berapa banyak pisang molen yang akan terjual setiap hari. Tidak ada pula jaminan antrean kendaraan akan selalu ramai. Yang ada adalah adonan yang harus disiapkan, dagangan yang harus dibawa, dan waktu panjang yang mesti dilewati sampai malam.

Di sekitar SPBU, antrean BBM punya arti berbeda bagi setiap orang.

Bagi pengendara, ia adalah waktu yang harus dilalui sebelum tangki kembali terisi. Bagi Zurbainah, barisan kendaraan itu adalah kemungkinan: seseorang turun dari mobil, melihat dagangannya, lalu membeli.

Di antara deru mesin dan kendaraan yang bergerak perlahan, Zurbainah terus menunggu.

Sebab bagi pedagang kecil, rezeki kadang datang bukan dari tempat yang ramai saja, tetapi dari orang-orang yang sedang menunggu di dalamnya. (har)

Tags: feature
Home / News
Saat Antrean BBM Jadi Rezeki: Kisah Zurbainah, Penjual Pisang Molen di Pekanbaru
Editor: Arya Mahendra | Penulis: abdul haris
Rubrik: news | 24 September 2026 | 14:28:21
Saat Antrean BBM Jadi Rezeki: Kisah Zurbainah, Penjual Pisang Molen di Pekanbaru
Zurbainah, penjual pisang molen di sekitaran di salah satu SPBU di Jalan SM Amin, Pekanbaru, Kamis (24/9/2026). (Foto: Abdul Haris/ Pekanbarutv)

PEKANBARU - Pagi belum benar-benar tinggi ketika kendaraan mulai memanjang di salah satu SPBU Jalan SM Amin, Kota Pekanbaru. Mobil datang silih berganti. Sebagian sopir menunggu giliran mengisi bahan bakar minyak (BBM) solar.

Sebagian sopir lainnya tampak istirahat, menelpon keluarga, atau sekedar menikmati sebatang rokok menunggu antrean yang mengular di sisi jalan. 

Di sela barisan mobil itu, Zurbainah (27) menunggu pembeli. Ia berjualan pisang molen di sekitar SPBU. Bagi perempuan yang menghidupi tiga anak ini, antrean kendaraan bukan hanya pemandangan yang biasa 

Di balik panjangnya barisan kendaraan, ada peluang untuk menambah pendapatan.

“Biasanya nambah, karena mereka pada belanja. Kalau nggak, ya susah juga,” kata Zurbainah ketika ditemui jurnalis Pekanbarutv,  Kamis (24/9/2026).

Dia menuturkan telah hafal ritme tempat itu. Ketika kendaraan ramai dan antrean mengular, pembeli datang lebih banyak. 

Orang-orang yang semula hanya menunggu giliran mengisi BBM bisa saja berhenti sejenak di dekat dagangannya. Pisang molen menjadi pengisi waktu sebelum kendaraan mereka kembali bergerak.

Dalam keadaan normal, Zurbainah bisa mengantongi omzet sekitar Rp300 ribu hingga Rp400 ribu sehari. Angka itu tidak selalu sama. Ia harus memperhitungkan berapa banyak adonan yang dibawa sejak pagi.

Semakin banyak adonan yang dibawa, semakin besar pula kesempatan dagangannya habis. Tetapi membawa terlalu banyak juga berarti ada risiko makanan tersisa.

“Sehari bisa Rp300-400 ribu, tergantung juga kalau adonannya bawa banyak atau sedikit,” ujarnya.

Antrean kendaraan kemudian menjadi semacam penanda bagi penghasilannya. Saat antrean ramai, omzetnya bisa melonjak.

“Berpengaruh. Sehari bisa Rp700 ribu. Kalau nggak antre, pendapatannya lebih kurang,” katanya.

Ada selisih ratusan ribu rupiah di sana. Bagi orang yang sekadar melihat antrean dari balik kaca mobil, perbedaan itu mungkin tampak kecil. Namun bagi pedagang yang menggantungkan pemasukan harian dari makanan yang dijual satu per satu, selisih tersebut punya arti.

Zurbainah berjualan sejak pukul 07.00 WIB. Ia baru berkemas sekitar pukul 20.00 WIB. Tiga belas jam berada di ruang terbuka, menunggu kendaraan datang sekaligus menunggu pembeli.

Pekerjaan itu ia jalani sebagai seorang janda dengan tiga anak.

Tidak ada kepastian berapa banyak pisang molen yang akan terjual setiap hari. Tidak ada pula jaminan antrean kendaraan akan selalu ramai. Yang ada adalah adonan yang harus disiapkan, dagangan yang harus dibawa, dan waktu panjang yang mesti dilewati sampai malam.

Di sekitar SPBU, antrean BBM punya arti berbeda bagi setiap orang.

Bagi pengendara, ia adalah waktu yang harus dilalui sebelum tangki kembali terisi. Bagi Zurbainah, barisan kendaraan itu adalah kemungkinan: seseorang turun dari mobil, melihat dagangannya, lalu membeli.

Di antara deru mesin dan kendaraan yang bergerak perlahan, Zurbainah terus menunggu.

Sebab bagi pedagang kecil, rezeki kadang datang bukan dari tempat yang ramai saja, tetapi dari orang-orang yang sedang menunggu di dalamnya. (har)

Tags: feature