
PEKANBARU-Papan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di sejumlah titik Kota Pekanbaru tidak berfungsi ketika kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti kota.
Pantauan jurnalis Pekanbaru TV, papan ISPU di depan Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Pekanbaru tidak menampilkan informasi kualitas udara. Kondisi serupa juga terlihat pada papan ISPU di simpang Mal SKA, tepatnya di samping pos polisi Gurindam 5.
Padahal, papan tersebut menjadi salah satu sarana informasi bagi masyarakat untuk mengetahui kondisi kualitas udara secara berkala, terutama ketika kabut asap terus melanda.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Pekanbaru, Reza Aulia Putra mengatakan papan ISPU tersebut merupakan pemberian Kementerian Lingkungan Hidup sejak 1999.
Menurutnya, kondisi perangkat yang sudah berusia puluhan tahun membuat biaya perbaikannya tidak lagi ekonomis.
“Papan ISPU itu adalah pemberian dari Kementerian Lingkungan Hidup tahun 1999, memang kondisi perbaikannya setara jika membeli alat baru,” kata Reza saat diwawancarai jurnalis Pekanbaru TV melalui sambungan telepon pada Kamis, (8/10/2026).
Reza membeberkan, pemerintah tetap melakukan pemantauan kualitas udara meski sejumlah papan ISPU tidak berfungsi. Pemantauan tersebut dilakukan melalui perangkat pengukur kualitas udara yang berada di Tenayan Raya, Kantor Walikota Pekanbaru.
“Alat untuk menghitung ISPU itu ada di Tenayan Raya, Kantor Walikota Pekanbaru. Itu fasilitas umum dan bisa diakses publik, tetapi kelemahannya hanya mendeteksi kualitas udara yang ada di Tenayan Raya ya,” bebernya.
Kata dia, pemerintah saat ini memiliki tim yang memantau kondisi kualitas udara dengan mempertimbangkan informasi dari sejumlah instansi terkait, termasuk BMKG, BPBD dan tenaga kesehatan.
Reza bilang, meski papan ISPU tidak berfungsi, masyarakat masih tetap dapat memantau informasi kualitas udara secara daring melalui situs ISPU Net.
Di sisi lain, Reza menyebut pemerintah terus melakukan sosialisasi mengenai bahaya kabut asap kepada masyarakat. Bagi dia, ketersediaan alat pemantauan juga perlu diikuti kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan dan mencegah dampak paparan asap.
“Percuma juga alat bagus, tapi kesadaran masyarakat untuk mencegah terhadap kabut asap untuk dirinya sendiri ini juga agak susah,” pungkasnya.(*)







PEKANBARU-Papan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di sejumlah titik Kota Pekanbaru tidak berfungsi ketika kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti kota.
Pantauan jurnalis Pekanbaru TV, papan ISPU di depan Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Pekanbaru tidak menampilkan informasi kualitas udara. Kondisi serupa juga terlihat pada papan ISPU di simpang Mal SKA, tepatnya di samping pos polisi Gurindam 5.
Padahal, papan tersebut menjadi salah satu sarana informasi bagi masyarakat untuk mengetahui kondisi kualitas udara secara berkala, terutama ketika kabut asap terus melanda.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Pekanbaru, Reza Aulia Putra mengatakan papan ISPU tersebut merupakan pemberian Kementerian Lingkungan Hidup sejak 1999.
Menurutnya, kondisi perangkat yang sudah berusia puluhan tahun membuat biaya perbaikannya tidak lagi ekonomis.
“Papan ISPU itu adalah pemberian dari Kementerian Lingkungan Hidup tahun 1999, memang kondisi perbaikannya setara jika membeli alat baru,” kata Reza saat diwawancarai jurnalis Pekanbaru TV melalui sambungan telepon pada Kamis, (8/10/2026).
Reza membeberkan, pemerintah tetap melakukan pemantauan kualitas udara meski sejumlah papan ISPU tidak berfungsi. Pemantauan tersebut dilakukan melalui perangkat pengukur kualitas udara yang berada di Tenayan Raya, Kantor Walikota Pekanbaru.
“Alat untuk menghitung ISPU itu ada di Tenayan Raya, Kantor Walikota Pekanbaru. Itu fasilitas umum dan bisa diakses publik, tetapi kelemahannya hanya mendeteksi kualitas udara yang ada di Tenayan Raya ya,” bebernya.
Kata dia, pemerintah saat ini memiliki tim yang memantau kondisi kualitas udara dengan mempertimbangkan informasi dari sejumlah instansi terkait, termasuk BMKG, BPBD dan tenaga kesehatan.
Reza bilang, meski papan ISPU tidak berfungsi, masyarakat masih tetap dapat memantau informasi kualitas udara secara daring melalui situs ISPU Net.
Di sisi lain, Reza menyebut pemerintah terus melakukan sosialisasi mengenai bahaya kabut asap kepada masyarakat. Bagi dia, ketersediaan alat pemantauan juga perlu diikuti kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan dan mencegah dampak paparan asap.
“Percuma juga alat bagus, tapi kesadaran masyarakat untuk mencegah terhadap kabut asap untuk dirinya sendiri ini juga agak susah,” pungkasnya.(*)