
JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada penutupan perdagangan Rabu (21/10/2026), rupiah melemah 30 poin atau sekitar 0,17 persen ke level Rp18.022 per dolar AS. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) tercatat Rp17.986 per dolar AS.
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan eksternal masih membayangi pergerakan rupiah, terutama akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ekspektasi kebijakan suku bunga AS.

Risiko keamanan di sekitar Selat Hormuz menjadi salah satu perhatian pasar. Ibrahim mengutip laporan layanan pelacakan kapal Kpler yang mencatat sedikitnya 18 serangan terhadap kapal dalam kurun dua pekan. Insiden tersebut menambah kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran dan distribusi minyak dunia.
Ketegangan juga meningkat setelah kelompok Houthi mengklaim serangan terhadap sejumlah fasilitas energi dan lokasi strategis di Arab Saudi. Sementara itu, pertempuran di Yaman dilaporkan semakin sengit, memperbesar ketidakpastian kawasan.
Dari Amerika Serikat, data inflasi konsumen dan produsen September yang disebut lebih tinggi dari perkiraan turut memperkuat kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan Federal Reserve (The Fed). Inflasi yang sulit turun berpotensi membuat suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang pengetatan lanjutan.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS dan menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Investor kini mencermati pertemuan The Fed pekan depan serta sejumlah indikator ekonomi AS, mulai dari klaim pengangguran hingga aktivitas bisnis dan sentimen konsumen.
Defisit APBN dan Yield SBN Ikut Disorot
Dari dalam negeri, risiko fiskal turut menjadi perhatian. Kementerian Keuangan memperkirakan defisit APBN 2026 berada di kisaran 2,85 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), masih di bawah batas 3 persen.
Namun, outlook tersebut memperhitungkan potensi kenaikan imbal hasil surat berharga negara (SBN) tenor 10 tahun hingga sekitar 7,1 persen, lebih tinggi dibandingkan asumsi awal APBN sebesar 6,9 persen.
Dalam proyeksi pertengahan tahun, defisit APBN diperkirakan melebar dari target Rp689,1 triliun atau 2,68 persen PDB menjadi Rp734,3 triliun atau 2,85 persen PDB. Perubahan harga minyak, imbal hasil obligasi, dan sentimen investor terhadap pasar keuangan Indonesia dapat memengaruhi ruang fiskal pemerintah.
Meski demikian, pemerintah masih optimistis defisit tetap terkendali dengan mempertimbangkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang menjadi acuan dalam outlook APBN.
Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya dan berpotensi melemah ke rentang Rp18.020 hingga Rp18.070 per dolar AS.
Pergerakan rupiah selanjutnya akan dipengaruhi perkembangan geopolitik, arah kebijakan The Fed, serta persepsi pasar terhadap ketahanan ekonomi dan fiskal Indonesia. (*)







JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada penutupan perdagangan Rabu (21/10/2026), rupiah melemah 30 poin atau sekitar 0,17 persen ke level Rp18.022 per dolar AS. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) tercatat Rp17.986 per dolar AS.
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan eksternal masih membayangi pergerakan rupiah, terutama akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ekspektasi kebijakan suku bunga AS.
Risiko keamanan di sekitar Selat Hormuz menjadi salah satu perhatian pasar. Ibrahim mengutip laporan layanan pelacakan kapal Kpler yang mencatat sedikitnya 18 serangan terhadap kapal dalam kurun dua pekan. Insiden tersebut menambah kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran dan distribusi minyak dunia.
Ketegangan juga meningkat setelah kelompok Houthi mengklaim serangan terhadap sejumlah fasilitas energi dan lokasi strategis di Arab Saudi. Sementara itu, pertempuran di Yaman dilaporkan semakin sengit, memperbesar ketidakpastian kawasan.
Dari Amerika Serikat, data inflasi konsumen dan produsen September yang disebut lebih tinggi dari perkiraan turut memperkuat kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan Federal Reserve (The Fed). Inflasi yang sulit turun berpotensi membuat suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang pengetatan lanjutan.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS dan menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Investor kini mencermati pertemuan The Fed pekan depan serta sejumlah indikator ekonomi AS, mulai dari klaim pengangguran hingga aktivitas bisnis dan sentimen konsumen.
Defisit APBN dan Yield SBN Ikut Disorot
Dari dalam negeri, risiko fiskal turut menjadi perhatian. Kementerian Keuangan memperkirakan defisit APBN 2026 berada di kisaran 2,85 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), masih di bawah batas 3 persen.
Namun, outlook tersebut memperhitungkan potensi kenaikan imbal hasil surat berharga negara (SBN) tenor 10 tahun hingga sekitar 7,1 persen, lebih tinggi dibandingkan asumsi awal APBN sebesar 6,9 persen.
Dalam proyeksi pertengahan tahun, defisit APBN diperkirakan melebar dari target Rp689,1 triliun atau 2,68 persen PDB menjadi Rp734,3 triliun atau 2,85 persen PDB. Perubahan harga minyak, imbal hasil obligasi, dan sentimen investor terhadap pasar keuangan Indonesia dapat memengaruhi ruang fiskal pemerintah.
Meski demikian, pemerintah masih optimistis defisit tetap terkendali dengan mempertimbangkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang menjadi acuan dalam outlook APBN.
Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya dan berpotensi melemah ke rentang Rp18.020 hingga Rp18.070 per dolar AS.
Pergerakan rupiah selanjutnya akan dipengaruhi perkembangan geopolitik, arah kebijakan The Fed, serta persepsi pasar terhadap ketahanan ekonomi dan fiskal Indonesia. (*)