logo
● Koalisi Sipil Tantang Substansi Ranperda Lingkungan Riau, Green Policing Diminta Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● 65 Orang Jadi Tersangka, Karhutla Riau Hanguskan 3.394 Hektare Lahan, Pelalawan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Pajak Sawit Rp 23 Miliar Tak Disetor, Pemasok TBS asal Pelalawan Ditahan Kajari Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Puluhan Peserta Ikuti Pekan Riset Internasional 2026 di UIN Suska Riau Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Satreskrim Polres Kampar Bongkar Penimbunan Solar Bersubsidi, 308 Liter Disita Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Perketat Pengawasan Disiplin Internal, Polda Riau Periksa Kendaraan Personel Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● KPK Limpahkan Berkas Perkara Suhardiman Amby ke Jaksa, Sidang di Pekanbaru Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Menteri Pertanian Copot Belasan Pegawai Buntut Kasus Pengoplosan Beras SPHP Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
Mata Uang Garuda Tergelincir Tipis ke Posisi Rp18.174 per Dolar AS pada Sesi Awal
Pergerakan mata uang Garuda mengalami tekanan pada awal perdagangan hari Rabu, menyusut tipis dibanding posisi penutupan sebelumnya di pasar keuangan.
Mata Uang Garuda Tergelincir Tipis ke Posisi Rp18.174 per Dolar AS pada Sesi Awal
Editor: putrajaya
Rubrik: ekonomi | 28 Oktober 2026 | 09:30:00

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Rabu, 28 Oktober 2026. Tekanan terhadap mata uang domestik berlanjut di tengah ketidakpastian pasar global menjelang pengumuman kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Berdasarkan data perdagangan pada pembukaan pasar, rupiah melemah 18 poin atau 0,10 persen ke level Rp18.174 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan perdagangan Selasa (27/10) di level Rp18.156 per dolar AS. 

Pelemahan rupiah terjadi setelah mata uang Garuda ditutup terkoreksi pada perdagangan sebelumnya. Data Bank Indonesia menunjukkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada Selasa berada di level Rp18.139 per dolar AS, melemah 0,13 persen dibandingkan hari sebelumnya.

iklan-view

Dari sisi eksternal, pelaku pasar mencermati arah kebijakan The Fed dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 27–28 Oktober 2026. Kekhawatiran terhadap kemungkinan kebijakan moneter AS yang tetap ketat berpotensi menopang permintaan dolar dan menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain itu, tingginya harga minyak dunia turut menjadi perhatian karena dapat meningkatkan biaya impor energi Indonesia. Aksi jual bersih investor asing di pasar saham domestik juga disebut sebagai faktor yang membebani pergerakan rupiah.

Dengan berbagai sentimen tersebut, perkembangan indeks dolar AS, harga minyak global, serta hasil pertemuan The Fed menjadi sejumlah faktor yang patut dicermati untuk melihat arah pergerakan rupiah selanjutnya. (*)

Home / Ekonomi
Mata Uang Garuda Tergelincir Tipis ke Posisi Rp18.174 per Dolar AS pada Sesi Awal
Editor: putrajaya
Rubrik: ekonomi | 28 Oktober 2026 | 09:30:00
Mata Uang Garuda Tergelincir Tipis ke Posisi Rp18.174 per Dolar AS pada Sesi Awal
Pergerakan mata uang Garuda mengalami tekanan pada awal perdagangan hari Rabu, menyusut tipis dibanding posisi penutupan sebelumnya di pasar keuangan.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Rabu, 28 Oktober 2026. Tekanan terhadap mata uang domestik berlanjut di tengah ketidakpastian pasar global menjelang pengumuman kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Berdasarkan data perdagangan pada pembukaan pasar, rupiah melemah 18 poin atau 0,10 persen ke level Rp18.174 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan perdagangan Selasa (27/10) di level Rp18.156 per dolar AS. 

Pelemahan rupiah terjadi setelah mata uang Garuda ditutup terkoreksi pada perdagangan sebelumnya. Data Bank Indonesia menunjukkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada Selasa berada di level Rp18.139 per dolar AS, melemah 0,13 persen dibandingkan hari sebelumnya.

Dari sisi eksternal, pelaku pasar mencermati arah kebijakan The Fed dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 27–28 Oktober 2026. Kekhawatiran terhadap kemungkinan kebijakan moneter AS yang tetap ketat berpotensi menopang permintaan dolar dan menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain itu, tingginya harga minyak dunia turut menjadi perhatian karena dapat meningkatkan biaya impor energi Indonesia. Aksi jual bersih investor asing di pasar saham domestik juga disebut sebagai faktor yang membebani pergerakan rupiah.

Dengan berbagai sentimen tersebut, perkembangan indeks dolar AS, harga minyak global, serta hasil pertemuan The Fed menjadi sejumlah faktor yang patut dicermati untuk melihat arah pergerakan rupiah selanjutnya. (*)