logo
● Sumpah Pemuda di Bundaran HI Memanas, 14 Ribu Polisi Kawal Aksi Mahasiswa Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● DPRD Pekanbaru Bakal Panggil Kanwil BPN Tetkait Warkah HGB 444/1971 CV.Cahaya Se Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● BEM UIR Kecam Kekerasan Polisi saat Demo Karhutla, Sejumlah Mahasiswa Terluka Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Dolar AS Tembus Rp18.184, Rupiah Dibayangi Risiko Perang dan Inflasi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Perampingan OPD Bisa Dilakukan Tanpa Mengubah Perda, Sekdaprov Riau: Cukup Ubah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● DPKP Pekanbaru Catat 166 Kasus Kebakaran hingga 20 Oktober 2026 Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Alokasi Anggaran Rp 30 Miliar untuk Delapan Daerah di Riau Penanganan Karhutla Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Polda Riau Musnahkan 100,55 Kg Sabu dan Ganja Senilai Rp149,73 Miliar Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
Mata Uang Garuda Tergelincir Tipis ke Posisi Rp18.174 per Dolar AS pada Sesi Awal
Pergerakan mata uang Garuda mengalami tekanan pada awal perdagangan hari Rabu, menyusut tipis dibanding posisi penutupan sebelumnya di pasar keuangan.
Mata Uang Garuda Tergelincir Tipis ke Posisi Rp18.174 per Dolar AS pada Sesi Awal
Editor: putrajaya
Rubrik: ekonomi | 28 Oktober 2026 | 09:30:00

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Rabu, 28 Oktober 2026. Tekanan terhadap mata uang domestik berlanjut di tengah ketidakpastian pasar global menjelang pengumuman kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Berdasarkan data perdagangan pada pembukaan pasar, rupiah melemah 18 poin atau 0,10 persen ke level Rp18.174 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan perdagangan Selasa (27/10) di level Rp18.156 per dolar AS. 

Pelemahan rupiah terjadi setelah mata uang Garuda ditutup terkoreksi pada perdagangan sebelumnya. Data Bank Indonesia menunjukkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada Selasa berada di level Rp18.139 per dolar AS, melemah 0,13 persen dibandingkan hari sebelumnya.

iklan-view

Dari sisi eksternal, pelaku pasar mencermati arah kebijakan The Fed dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 27–28 Oktober 2026. Kekhawatiran terhadap kemungkinan kebijakan moneter AS yang tetap ketat berpotensi menopang permintaan dolar dan menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain itu, tingginya harga minyak dunia turut menjadi perhatian karena dapat meningkatkan biaya impor energi Indonesia. Aksi jual bersih investor asing di pasar saham domestik juga disebut sebagai faktor yang membebani pergerakan rupiah.

Dengan berbagai sentimen tersebut, perkembangan indeks dolar AS, harga minyak global, serta hasil pertemuan The Fed menjadi sejumlah faktor yang patut dicermati untuk melihat arah pergerakan rupiah selanjutnya. (*)

Home / Ekonomi
Mata Uang Garuda Tergelincir Tipis ke Posisi Rp18.174 per Dolar AS pada Sesi Awal
Editor: putrajaya
Rubrik: ekonomi | 28 Oktober 2026 | 09:30:00
Mata Uang Garuda Tergelincir Tipis ke Posisi Rp18.174 per Dolar AS pada Sesi Awal
Pergerakan mata uang Garuda mengalami tekanan pada awal perdagangan hari Rabu, menyusut tipis dibanding posisi penutupan sebelumnya di pasar keuangan.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Rabu, 28 Oktober 2026. Tekanan terhadap mata uang domestik berlanjut di tengah ketidakpastian pasar global menjelang pengumuman kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Berdasarkan data perdagangan pada pembukaan pasar, rupiah melemah 18 poin atau 0,10 persen ke level Rp18.174 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan perdagangan Selasa (27/10) di level Rp18.156 per dolar AS. 

Pelemahan rupiah terjadi setelah mata uang Garuda ditutup terkoreksi pada perdagangan sebelumnya. Data Bank Indonesia menunjukkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada Selasa berada di level Rp18.139 per dolar AS, melemah 0,13 persen dibandingkan hari sebelumnya.

Dari sisi eksternal, pelaku pasar mencermati arah kebijakan The Fed dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 27–28 Oktober 2026. Kekhawatiran terhadap kemungkinan kebijakan moneter AS yang tetap ketat berpotensi menopang permintaan dolar dan menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain itu, tingginya harga minyak dunia turut menjadi perhatian karena dapat meningkatkan biaya impor energi Indonesia. Aksi jual bersih investor asing di pasar saham domestik juga disebut sebagai faktor yang membebani pergerakan rupiah.

Dengan berbagai sentimen tersebut, perkembangan indeks dolar AS, harga minyak global, serta hasil pertemuan The Fed menjadi sejumlah faktor yang patut dicermati untuk melihat arah pergerakan rupiah selanjutnya. (*)