
JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Rabu, 28 Oktober 2026. Tekanan terhadap mata uang domestik berlanjut di tengah ketidakpastian pasar global menjelang pengumuman kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan data perdagangan pada pembukaan pasar, rupiah melemah 18 poin atau 0,10 persen ke level Rp18.174 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan perdagangan Selasa (27/10) di level Rp18.156 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi setelah mata uang Garuda ditutup terkoreksi pada perdagangan sebelumnya. Data Bank Indonesia menunjukkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada Selasa berada di level Rp18.139 per dolar AS, melemah 0,13 persen dibandingkan hari sebelumnya.

Dari sisi eksternal, pelaku pasar mencermati arah kebijakan The Fed dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 27–28 Oktober 2026. Kekhawatiran terhadap kemungkinan kebijakan moneter AS yang tetap ketat berpotensi menopang permintaan dolar dan menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain itu, tingginya harga minyak dunia turut menjadi perhatian karena dapat meningkatkan biaya impor energi Indonesia. Aksi jual bersih investor asing di pasar saham domestik juga disebut sebagai faktor yang membebani pergerakan rupiah.
Dengan berbagai sentimen tersebut, perkembangan indeks dolar AS, harga minyak global, serta hasil pertemuan The Fed menjadi sejumlah faktor yang patut dicermati untuk melihat arah pergerakan rupiah selanjutnya. (*)







JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Rabu, 28 Oktober 2026. Tekanan terhadap mata uang domestik berlanjut di tengah ketidakpastian pasar global menjelang pengumuman kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan data perdagangan pada pembukaan pasar, rupiah melemah 18 poin atau 0,10 persen ke level Rp18.174 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan perdagangan Selasa (27/10) di level Rp18.156 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi setelah mata uang Garuda ditutup terkoreksi pada perdagangan sebelumnya. Data Bank Indonesia menunjukkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada Selasa berada di level Rp18.139 per dolar AS, melemah 0,13 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Dari sisi eksternal, pelaku pasar mencermati arah kebijakan The Fed dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 27–28 Oktober 2026. Kekhawatiran terhadap kemungkinan kebijakan moneter AS yang tetap ketat berpotensi menopang permintaan dolar dan menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain itu, tingginya harga minyak dunia turut menjadi perhatian karena dapat meningkatkan biaya impor energi Indonesia. Aksi jual bersih investor asing di pasar saham domestik juga disebut sebagai faktor yang membebani pergerakan rupiah.
Dengan berbagai sentimen tersebut, perkembangan indeks dolar AS, harga minyak global, serta hasil pertemuan The Fed menjadi sejumlah faktor yang patut dicermati untuk melihat arah pergerakan rupiah selanjutnya. (*)