logo
● Sumpah Pemuda di Bundaran HI Memanas, 14 Ribu Polisi Kawal Aksi Mahasiswa Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● DPRD Pekanbaru Bakal Panggil Kanwil BPN Tetkait Warkah HGB 444/1971 CV.Cahaya Se Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● BEM UIR Kecam Kekerasan Polisi saat Demo Karhutla, Sejumlah Mahasiswa Terluka Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Dolar AS Tembus Rp18.184, Rupiah Dibayangi Risiko Perang dan Inflasi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Perampingan OPD Bisa Dilakukan Tanpa Mengubah Perda, Sekdaprov Riau: Cukup Ubah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● DPKP Pekanbaru Catat 166 Kasus Kebakaran hingga 20 Oktober 2026 Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Alokasi Anggaran Rp 30 Miliar untuk Delapan Daerah di Riau Penanganan Karhutla Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Polda Riau Musnahkan 100,55 Kg Sabu dan Ganja Senilai Rp149,73 Miliar Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / RIAU
BEM UIR Kecam Kekerasan Polisi saat Demo Karhutla, Sejumlah Mahasiswa Terluka
Ratusan mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Riau, Senin (26/10/2026). Dalam aksi tersebut, massa membawa celana dalam berwarna merah sebagai simbol protes yang ditujukan kepada Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto. (Foto: Abdul Haris/ Pekanbarutv.com)
BEM UIR Kecam Kekerasan Polisi saat Demo Karhutla, Sejumlah Mahasiswa Terluka
Editor: Arya Mahendra | Penulis: abdul haris
Rubrik: news | 28 Oktober 2026 | 17:41:09

PEKANBARU - Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Islam Riau (BEM UIR) mengecam dugaan tindakan represif aparat kepolisian terhadap Presiden Mahasiswa UIR, Muhammad Ramadhanu, dan massa aksi dalam demonstrasi terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau, Senin (26/10/2026).

Insiden itu disebut menyebabkan sejumlah peserta aksi harus mendapatkan perawatan medis lebih lanjut.

Menteri Komunikasi dan Informasi BEM UIR, Muhammad Amsari mengatakan demonstrasi yang melibatkan mahasiswa dari berbagai kampus di Riau kala itu merupakan bentuk kepedulian terhadap persoalan karhutla di Riau.

Namun, ia menyayangkan dugaan tindakan represif aparat kepolisian saat mengamankan jalannya demonstrasi.

“Kami datang membawa aspirasi, bukan konfrontasi. Peristiwa ini menjadi catatan serius bagi kami dan mempertanyakan bagaimana perlindungan terhadap kami yang menyampaikan aspirasi,” kata Amsari kepada jurnalis Pekanbarutv.com pada Rabu (28/10/2026).

Menurut Amsari, kebebasan menyampaikan pendapat seharusnya dijamin dan dilindungi. Ia menilai pengamanan demonstrasi tidak semestinya dilakukan secara berlebihan, terlebih jika disertai dugaan tindakan represif terhadap peserta aksi.

“Peristiwa ini jadi perhatian serius bagi kami dan mempertanyakan bagaimana sebenarnya keamanan kami saat demo,” ujarnya.

Selain menyoroti tindakan aparat kepolisian, Amsari juga menyayangkan ketidakhadiran Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, untuk menemui mahasiswa yang berunjuk rasa.

Menurutnya, kepala daerah diharapkan dapat menemui mahasiswa untuk berdialog dan mendengarkan aspirasi yang disampaikan dalam demonstrasi tersebut.

BEM UIR Sampaikan Tuntutan

Atas peristiwa tersebut, BEM UIR menyampaikan sejumlah tuntutan terkait dugaan tindakan represif aparat kepolisian selama demonstrasi.

BEM UIR mengecam tindakan kepolisian yang disebut melakukan pembubaran massa aksi. Mereka meminta pemberian sanksi hingga pemecatan terhadap anggota kepolisian yang diduga melakukan kekerasan.

Selain itu, BEM UIR menuntut pihak kepolisian dan pemerintah memberikan bantuan moril dan materil kepada peserta demonstrasi yang menjadi korban.

Sebelumnya, bentrokan antara mahasiswa dan aparat kepolisian pecah di depan Kantor Gubernur Riau. Insiden ini menyebabkan salah satu Presiden Mahasiswa Universitas Islam Riau (UIR), Muhammad Ramadhanu terjatuh dan mendapatkan perawatan medis lebih lanjut.

Bentrokan terjadi ketika massa aksi berupaya menerobos gerbang Kantor Gubernur Riau menggunakan mobil komando.

Di tengah ketegangan, mahasiswa mendesak Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto untuk keluar dan menemui massa secara langsung.

"Kami meminta Pak SF Hariyanto untuk keluar, jumpa dengan kami. Jangan jadi pengecut," ujar salah seorang mahasiswa dalam orasinya.

Namun, hingga pukul 17.00 WIB, massa aksi masih menunggu kehadiran SF Hariyanto. Desakan tersebut terus disuarakan mahasiswa yang menginginkan aspirasi mereka didengar secara langsung oleh pimpinan Pemerintah Provinsi Riau.

Terjatuhnya salah satu Presiden Mahasiswa UIR dalam bentrokan itu menjadi sorotan tersendiri. Usai bentrokan terjadi, massa aksi juga berupaya memblokade jalan di simpang Tugu Zapin. Situasi kemudian berangsur mereda setelah koordinator aksi meminta peserta demonstrasi untuk tetap kondusif. (har)

Home / News
BEM UIR Kecam Kekerasan Polisi saat Demo Karhutla, Sejumlah Mahasiswa Terluka
Editor: Arya Mahendra | Penulis: abdul haris
Rubrik: news | 28 Oktober 2026 | 17:41:09
BEM UIR Kecam Kekerasan Polisi saat Demo Karhutla, Sejumlah Mahasiswa Terluka
Ratusan mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Riau, Senin (26/10/2026). Dalam aksi tersebut, massa membawa celana dalam berwarna merah sebagai simbol protes yang ditujukan kepada Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto. (Foto: Abdul Haris/ Pekanbarutv.com)

PEKANBARU - Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Islam Riau (BEM UIR) mengecam dugaan tindakan represif aparat kepolisian terhadap Presiden Mahasiswa UIR, Muhammad Ramadhanu, dan massa aksi dalam demonstrasi terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau, Senin (26/10/2026).

Insiden itu disebut menyebabkan sejumlah peserta aksi harus mendapatkan perawatan medis lebih lanjut.

Menteri Komunikasi dan Informasi BEM UIR, Muhammad Amsari mengatakan demonstrasi yang melibatkan mahasiswa dari berbagai kampus di Riau kala itu merupakan bentuk kepedulian terhadap persoalan karhutla di Riau.

Namun, ia menyayangkan dugaan tindakan represif aparat kepolisian saat mengamankan jalannya demonstrasi.

“Kami datang membawa aspirasi, bukan konfrontasi. Peristiwa ini menjadi catatan serius bagi kami dan mempertanyakan bagaimana perlindungan terhadap kami yang menyampaikan aspirasi,” kata Amsari kepada jurnalis Pekanbarutv.com pada Rabu (28/10/2026).

Menurut Amsari, kebebasan menyampaikan pendapat seharusnya dijamin dan dilindungi. Ia menilai pengamanan demonstrasi tidak semestinya dilakukan secara berlebihan, terlebih jika disertai dugaan tindakan represif terhadap peserta aksi.

“Peristiwa ini jadi perhatian serius bagi kami dan mempertanyakan bagaimana sebenarnya keamanan kami saat demo,” ujarnya.

Selain menyoroti tindakan aparat kepolisian, Amsari juga menyayangkan ketidakhadiran Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, untuk menemui mahasiswa yang berunjuk rasa.

Menurutnya, kepala daerah diharapkan dapat menemui mahasiswa untuk berdialog dan mendengarkan aspirasi yang disampaikan dalam demonstrasi tersebut.

BEM UIR Sampaikan Tuntutan

Atas peristiwa tersebut, BEM UIR menyampaikan sejumlah tuntutan terkait dugaan tindakan represif aparat kepolisian selama demonstrasi.

BEM UIR mengecam tindakan kepolisian yang disebut melakukan pembubaran massa aksi. Mereka meminta pemberian sanksi hingga pemecatan terhadap anggota kepolisian yang diduga melakukan kekerasan.

Selain itu, BEM UIR menuntut pihak kepolisian dan pemerintah memberikan bantuan moril dan materil kepada peserta demonstrasi yang menjadi korban.

Sebelumnya, bentrokan antara mahasiswa dan aparat kepolisian pecah di depan Kantor Gubernur Riau. Insiden ini menyebabkan salah satu Presiden Mahasiswa Universitas Islam Riau (UIR), Muhammad Ramadhanu terjatuh dan mendapatkan perawatan medis lebih lanjut.

Bentrokan terjadi ketika massa aksi berupaya menerobos gerbang Kantor Gubernur Riau menggunakan mobil komando.

Di tengah ketegangan, mahasiswa mendesak Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto untuk keluar dan menemui massa secara langsung.

"Kami meminta Pak SF Hariyanto untuk keluar, jumpa dengan kami. Jangan jadi pengecut," ujar salah seorang mahasiswa dalam orasinya.

Namun, hingga pukul 17.00 WIB, massa aksi masih menunggu kehadiran SF Hariyanto. Desakan tersebut terus disuarakan mahasiswa yang menginginkan aspirasi mereka didengar secara langsung oleh pimpinan Pemerintah Provinsi Riau.

Terjatuhnya salah satu Presiden Mahasiswa UIR dalam bentrokan itu menjadi sorotan tersendiri. Usai bentrokan terjadi, massa aksi juga berupaya memblokade jalan di simpang Tugu Zapin. Situasi kemudian berangsur mereda setelah koordinator aksi meminta peserta demonstrasi untuk tetap kondusif. (har)