
JAKARTA-Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, Rabu (28/10/2026), diwarnai ketegangan di pusat Ibu Kota. Aksi demonstrasi bertajuk #IndonesiaSadar yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama aliansi masyarakat sipil di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, mendapat pengawalan ketat aparat kepolisian.
Berdasarkan pantauan di lapangan pada pukul 16.30 WIB, massa yang telah berkumpul sejak pukul 14.00 WIB tidak dapat mendekati Patung Selamat Datang. Akses utama Jalan MH Thamrin dan Jalan Jenderal Sudirman ditutup menggunakan kendaraan taktis, kawat berduri, serta barisan polisi antihuru-hara.
Penyekatan dan rekayasa lalu lintas juga dilakukan di sejumlah titik, mulai dari Jalan Imam Bonjol, kawasan Monas, Tugu Tani, hingga sekitar Gedung DPR/MPR RI. Pengendara diimbau mencari jalur alternatif.

Kapolda Metro Jaya mengerahkan 14 ribu personel gabungan untuk mengamankan dua titik utama aksi, yakni kawasan DPR/MPR dan Bundaran HI.
Demonstrasi tersebut merupakan kelanjutan aksi pada 20 Oktober 2026 di Tugu Tani. Massa yang tergabung dalam gerakan Selamatkan Daulat Rakyat (SADAR) membawa agenda bertajuk "Lima Perintah Rakyat".
Kepala Departemen Kajian Strategis BEM UI 2026, Namora Siahaan, mengatakan Bundaran HI dipilih sebagai ruang ekspresi pemuda untuk menyampaikan aspirasi.
"Kami ingin menegaskan bahwa Sumpah Pemuda bukan hanya seremoni, tapi soal keberanian melawan ketertindasan," ujarnya di lokasi.
Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan lima tuntutan. Mereka mendesak pemerintah menetapkan status bencana nasional atas karhutla dan bencana ekologis di Kalimantan, NTT, Papua, dan Sumatera.
Selain itu, massa meminta APBN lebih berpihak kepada rakyat, mengevaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih, menurunkan biaya pendidikan, serta memeratakan lapangan kerja.
Mereka juga menuntut penghentian penyalahgunaan hukum untuk kepentingan kekuasaan, pemberantasan KKN, perlindungan kebebasan berpendapat, serta penghentian militerisasi ruang sipil.
Hingga pukul 17.00 WIB, massa masih bertahan di sisi selatan dan barat Bundaran HI. Mereka bergantian menyampaikan orasi dari mobil komando. Aksi berlangsung damai dan tertib.(arf)







JAKARTA-Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, Rabu (28/10/2026), diwarnai ketegangan di pusat Ibu Kota. Aksi demonstrasi bertajuk #IndonesiaSadar yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama aliansi masyarakat sipil di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, mendapat pengawalan ketat aparat kepolisian.
Berdasarkan pantauan di lapangan pada pukul 16.30 WIB, massa yang telah berkumpul sejak pukul 14.00 WIB tidak dapat mendekati Patung Selamat Datang. Akses utama Jalan MH Thamrin dan Jalan Jenderal Sudirman ditutup menggunakan kendaraan taktis, kawat berduri, serta barisan polisi antihuru-hara.
Penyekatan dan rekayasa lalu lintas juga dilakukan di sejumlah titik, mulai dari Jalan Imam Bonjol, kawasan Monas, Tugu Tani, hingga sekitar Gedung DPR/MPR RI. Pengendara diimbau mencari jalur alternatif.
Kapolda Metro Jaya mengerahkan 14 ribu personel gabungan untuk mengamankan dua titik utama aksi, yakni kawasan DPR/MPR dan Bundaran HI.
Demonstrasi tersebut merupakan kelanjutan aksi pada 20 Oktober 2026 di Tugu Tani. Massa yang tergabung dalam gerakan Selamatkan Daulat Rakyat (SADAR) membawa agenda bertajuk "Lima Perintah Rakyat".
Kepala Departemen Kajian Strategis BEM UI 2026, Namora Siahaan, mengatakan Bundaran HI dipilih sebagai ruang ekspresi pemuda untuk menyampaikan aspirasi.
"Kami ingin menegaskan bahwa Sumpah Pemuda bukan hanya seremoni, tapi soal keberanian melawan ketertindasan," ujarnya di lokasi.
Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan lima tuntutan. Mereka mendesak pemerintah menetapkan status bencana nasional atas karhutla dan bencana ekologis di Kalimantan, NTT, Papua, dan Sumatera.
Selain itu, massa meminta APBN lebih berpihak kepada rakyat, mengevaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih, menurunkan biaya pendidikan, serta memeratakan lapangan kerja.
Mereka juga menuntut penghentian penyalahgunaan hukum untuk kepentingan kekuasaan, pemberantasan KKN, perlindungan kebebasan berpendapat, serta penghentian militerisasi ruang sipil.
Hingga pukul 17.00 WIB, massa masih bertahan di sisi selatan dan barat Bundaran HI. Mereka bergantian menyampaikan orasi dari mobil komando. Aksi berlangsung damai dan tertib.(arf)