logo
Kanit Binmas Polsek Payung Sekaki Sambangi Kebun Daun Ubi Warga, Lahan Sempit Ja Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kabar dari Tanah Suci: Tangis Haru Jemaah Pecah Saat Dikunjungi Wawako Pekanbaru Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Bupati Afni Gandeng Eks Mendikbud Mohammad Nuh, Siak Bidik Universitas NU Pertam Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Aksi Begal Makin Brutal, Seorang Polisi Jadi Korban, Kapolda Keluarkan Perintah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi DJP Riau Sita 16 Aset Penunggak Pajak Senilai Rp2,95 Miliar di Pekanbaru, Kendar Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Tragis! Pelajar 13 Tahun Meregang Nyawa Usai Jatuh Saat Salip Dump Truck di Pala Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp20 Ribu, Buyback Ikut Melemah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Belasan Ribu Ijazah SMA-SMK Riau Mengendap di Sekolah, Kajian Ombudsman RI Temuk Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
3 Menit 21 Detik, Erupsi Gunung Marapi Sabtu Malam Terlama Sepanjang 2026
Pijar api terlihat menyala dari puncak Gunung Marapi saat erupsi Sabtu malam. Letusan berlangsung sekitar 3 menit 21 detik dan menjadi erupsi terlama sepanjang 2026.(Foto: Dharma Harisa)
3 Menit 21 Detik, Erupsi Gunung Marapi Sabtu Malam Terlama Sepanjang 2026
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: Admin
15 Maret 2026 | 06:48:43

TANAH DATAR-Gunung api aktif di Sumatera Barat, Gunung Marapi, Sabtu (14/3/2026) malam kembali mengalami erupsi. 

Letusan kali ini tercatat sebagai erupsi terlama sepanjang tahun 2026 dengan durasi 3 menit 21 detik. 

Baca Juga:

Petugas Pos Gunung Api (PGA) Marapi, Ahmad Rifandi mengatakan, erupsi terjadi pada pukul 23.29 WIB. 

“Telah terjadi erupsi Gunung Marapi pada 14 Maret 2026 pukul 23.29 WIB. Tinggi kolom abu tidak teramati,” kata Rifandi dalam keterangannya, Sabtu malam. 

iklan-view

Dikatakan, erupsi tersebut terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30,2 milimeter dan durasi sekitar 3 menit 21 detik. 

Menurut Rifandi, hingga saat ini status aktivitas Gunung Marapi masih berada pada level II (waspada). 

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung, tepatnya di Kawah Verbeek. 

Selain itu, warga yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di puncak gunung diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lahar, terutama saat musim hujan. 

“Masyarakat juga diimbau menggunakan masker untuk menghindari gangguan pernapasan akibat abu vulkanik serta melindungi mata dan kulit,” ujarnya. 

Di sisi lain, kondisi cuaca di kawasan lereng gunung dilaporkan sedang diguyur hujan. 

Wali Nagari Bukik Batabuah, Firdaus mengatakan, pihaknya terus memantau kondisi di wilayah yang berada di kaki gunung tersebut. “Kondisi hujan di sekitar Marapi. Kita berhati-hati jika ada potensi lahar dingin,” kata Firdaus. 

Sementara itu, warga yang berada sekitar 9 kilometer dari kawah, Hatta Rizal, mengaku merasakan getaran cukup kuat saat erupsi terjadi. Ia yang berada di Jorong Cangkiang, Nagari Batu Taba, Kabupaten Agam, mendengar suara gemuruh yang berlangsung cukup lama disertai kilatan api dari arah puncak. 

“Gemuruh dan kilatan apinya lama terlihat. Baru kali ini saya melihat seperti ini. Kaca rumah sampai bergetar,” ujarnya. 

Namun, karena kondisi hujan, fenomena tersebut tidak berhasil direkam menggunakan kamera telepon genggam.

Hatta berharap, aktivitas gunung tidak memicu bencana lain seperti banjir lahar atau galodo yang dapat mengancam permukiman warga di sekitar lereng gunung. (*)

Home / News
3 Menit 21 Detik, Erupsi Gunung Marapi Sabtu Malam Terlama Sepanjang 2026
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: Admin
Rubrik: news | 15 Maret 2026 | 06:48:43
3 Menit 21 Detik, Erupsi Gunung Marapi Sabtu Malam Terlama Sepanjang 2026
Pijar api terlihat menyala dari puncak Gunung Marapi saat erupsi Sabtu malam. Letusan berlangsung sekitar 3 menit 21 detik dan menjadi erupsi terlama sepanjang 2026.(Foto: Dharma Harisa)

TANAH DATAR-Gunung api aktif di Sumatera Barat, Gunung Marapi, Sabtu (14/3/2026) malam kembali mengalami erupsi. 

Letusan kali ini tercatat sebagai erupsi terlama sepanjang tahun 2026 dengan durasi 3 menit 21 detik. 

Baca Juga:

Petugas Pos Gunung Api (PGA) Marapi, Ahmad Rifandi mengatakan, erupsi terjadi pada pukul 23.29 WIB. 

“Telah terjadi erupsi Gunung Marapi pada 14 Maret 2026 pukul 23.29 WIB. Tinggi kolom abu tidak teramati,” kata Rifandi dalam keterangannya, Sabtu malam. 

Dikatakan, erupsi tersebut terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30,2 milimeter dan durasi sekitar 3 menit 21 detik. 

Menurut Rifandi, hingga saat ini status aktivitas Gunung Marapi masih berada pada level II (waspada). 

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung, tepatnya di Kawah Verbeek. 

Selain itu, warga yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di puncak gunung diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lahar, terutama saat musim hujan. 

“Masyarakat juga diimbau menggunakan masker untuk menghindari gangguan pernapasan akibat abu vulkanik serta melindungi mata dan kulit,” ujarnya. 

Di sisi lain, kondisi cuaca di kawasan lereng gunung dilaporkan sedang diguyur hujan. 

Wali Nagari Bukik Batabuah, Firdaus mengatakan, pihaknya terus memantau kondisi di wilayah yang berada di kaki gunung tersebut. “Kondisi hujan di sekitar Marapi. Kita berhati-hati jika ada potensi lahar dingin,” kata Firdaus. 

Sementara itu, warga yang berada sekitar 9 kilometer dari kawah, Hatta Rizal, mengaku merasakan getaran cukup kuat saat erupsi terjadi. Ia yang berada di Jorong Cangkiang, Nagari Batu Taba, Kabupaten Agam, mendengar suara gemuruh yang berlangsung cukup lama disertai kilatan api dari arah puncak. 

“Gemuruh dan kilatan apinya lama terlihat. Baru kali ini saya melihat seperti ini. Kaca rumah sampai bergetar,” ujarnya. 

Namun, karena kondisi hujan, fenomena tersebut tidak berhasil direkam menggunakan kamera telepon genggam.

Hatta berharap, aktivitas gunung tidak memicu bencana lain seperti banjir lahar atau galodo yang dapat mengancam permukiman warga di sekitar lereng gunung. (*)