logo
Kanit Binmas Polsek Payung Sekaki Sambangi Kebun Daun Ubi Warga, Lahan Sempit Ja Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kabar dari Tanah Suci: Tangis Haru Jemaah Pecah Saat Dikunjungi Wawako Pekanbaru Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Bupati Afni Gandeng Eks Mendikbud Mohammad Nuh, Siak Bidik Universitas NU Pertam Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Aksi Begal Makin Brutal, Seorang Polisi Jadi Korban, Kapolda Keluarkan Perintah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi DJP Riau Sita 16 Aset Penunggak Pajak Senilai Rp2,95 Miliar di Pekanbaru, Kendar Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Tragis! Pelajar 13 Tahun Meregang Nyawa Usai Jatuh Saat Salip Dump Truck di Pala Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp20 Ribu, Buyback Ikut Melemah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Belasan Ribu Ijazah SMA-SMK Riau Mengendap di Sekolah, Kajian Ombudsman RI Temuk Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Lingkungan / Pekanbaru
Hotspot Terpantau 13 Titik, Riau Waspadai Karhutla
Hotspot di Riau kini terpantau 13 titik. (Foto: Istimewa)
Hotspot Terpantau 13 Titik, Riau Waspadai Karhutla
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: boy surya hamta
19 April 2026 | 12:47:33
PEKANBARU-Jumlah titik panas (hotspot) di Pulau Sumatera kembali meningkat. Berdasarkan pemantauan terbaru pada Minggu (19/4/2026), total terdeteksi 64 hotspot, dengan Provinsi Riau menyumbang 13 titik yang tersebar di sejumlah wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Forecaster On Duty BMKG Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Yudhistira M, mengungkapkan bahwa sebaran hotspot di Riau masih didominasi daerah pesisir dan kawasan gambut. Kabupaten Siak menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 5 titik. Disusul Kabupaten Pelalawan dengan 4 titik. “Selain itu, Indragiri Hilir terpantau 2 titik, sementara Kampar dan Dumai masing-masing 1 titik,” jelasnya. Secara keseluruhan di Sumatera, Sumatera Selatan menempati posisi tertinggi dengan 20 titik hotspot. Kondisi ini menunjukkan potensi karhutla masih cukup tinggi di wilayah tersebut. Di urutan berikutnya terdapat Aceh dengan 9 titik dan Jambi sebanyak 7 titik. Sementara itu, Sumatera Barat mencatatkan 5 titik hotspot. Provinsi lain seperti Kepulauan Riau dan Sumatera Utara masing-masing memiliki 3 titik, sedangkan Bangka Belitung terdeteksi 2 titik. Data ini memperlihatkan bahwa sebaran hotspot di Sumatera masih belum merata dan cenderung terkonsentrasi di beberapa wilayah tertentu. Riau sendiri tetap menjadi salah satu daerah yang perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama memasuki musim kering yang berpotensi memicu kebakaran. BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Langkah tersebut dinilai sebagai salah satu pemicu utama munculnya hotspot yang berujung pada kebakaran hutan dan lahan. Selain itu, pemerintah daerah bersama instansi terkait diharapkan terus memperkuat patroli dan pengawasan di wilayah rawan. Upaya pencegahan dini menjadi kunci agar jumlah hotspot tidak terus bertambah dan berdampak luas terhadap lingkungan serta kesehatan masyarakat. Dengan kondisi saat ini, sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan aparat sangat dibutuhkan untuk menekan risiko karhutla di wilayah Sumatera, khususnya di Riau yang masih menjadi perhatian utama. (tpc)

Hotspot Terpantau 13 Titik, Riau Waspadai Karhutla
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: boy surya hamta
Rubrik: lingkungan | 19 April 2026 | 12:47:33
Hotspot Terpantau 13 Titik, Riau Waspadai Karhutla
Hotspot di Riau kini terpantau 13 titik. (Foto: Istimewa)
PEKANBARU-Jumlah titik panas (hotspot) di Pulau Sumatera kembali meningkat. Berdasarkan pemantauan terbaru pada Minggu (19/4/2026), total terdeteksi 64 hotspot, dengan Provinsi Riau menyumbang 13 titik yang tersebar di sejumlah wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Forecaster On Duty BMKG Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Yudhistira M, mengungkapkan bahwa sebaran hotspot di Riau masih didominasi daerah pesisir dan kawasan gambut. Kabupaten Siak menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 5 titik. Disusul Kabupaten Pelalawan dengan 4 titik. “Selain itu, Indragiri Hilir terpantau 2 titik, sementara Kampar dan Dumai masing-masing 1 titik,” jelasnya. Secara keseluruhan di Sumatera, Sumatera Selatan menempati posisi tertinggi dengan 20 titik hotspot. Kondisi ini menunjukkan potensi karhutla masih cukup tinggi di wilayah tersebut. Di urutan berikutnya terdapat Aceh dengan 9 titik dan Jambi sebanyak 7 titik. Sementara itu, Sumatera Barat mencatatkan 5 titik hotspot. Provinsi lain seperti Kepulauan Riau dan Sumatera Utara masing-masing memiliki 3 titik, sedangkan Bangka Belitung terdeteksi 2 titik. Data ini memperlihatkan bahwa sebaran hotspot di Sumatera masih belum merata dan cenderung terkonsentrasi di beberapa wilayah tertentu. Riau sendiri tetap menjadi salah satu daerah yang perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama memasuki musim kering yang berpotensi memicu kebakaran. BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Langkah tersebut dinilai sebagai salah satu pemicu utama munculnya hotspot yang berujung pada kebakaran hutan dan lahan. Selain itu, pemerintah daerah bersama instansi terkait diharapkan terus memperkuat patroli dan pengawasan di wilayah rawan. Upaya pencegahan dini menjadi kunci agar jumlah hotspot tidak terus bertambah dan berdampak luas terhadap lingkungan serta kesehatan masyarakat. Dengan kondisi saat ini, sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan aparat sangat dibutuhkan untuk menekan risiko karhutla di wilayah Sumatera, khususnya di Riau yang masih menjadi perhatian utama. (tpc)